Cerpen Tri Hartati (Pontianak Post, 10 November 2019)

Rahasia Cinta ilustrasi Pontianak Postw
Rahasia Cinta ilustrasi Pontianak Post 

Membawa perasaan patah hati ke tepi sungai adalah hal pertama yang Fanny lakukan. Mengundang dua sahabatnya, duduk menatap hamparan air yang tenang. Memesan es lidah buaya, jus mangga, jus alpukat, dan jagung bakar kesukaannya.

“Kau ceritalah, Fan. Kami mau dengarkan segala kegalauan yang kau tulis di blog.”

Diana membuka obrolan karena dilihatnya Fanny hanya asyik dengan gadgetnya.

“Oh, iya mestilah aku mau cerita,” Fanny tergagap.

“Kau tuh cantik, Fan. Kenapa mesti mengalami patah hati?” pertanyaan Della membuat Fanny menatapnya.

“Kalau aku tahu jawabannya, pasti nggak segalau ini, Del!”

Della jadi salah tingkah mendengar ucapan Fanny. Ia segera mengambil gelas jus alpukatnya. Mesti berhati-hati menghadapi orang patah hati. Tak sesederhana itu dampak orang patah hati. Bahkan setahun yang lalu ia pun pernah merasakan patah hati.

“Sudah berapa hari kau tak makan?” Diana bertanya serius.

“Aku makan, kok.”

“Nampak kurus soalnya.”

Baca juga: Lisa dan Percakapan dengan Hantu-hantu – Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 06 Oktober 2019)

Della teringat lagi, ia tak bisa memamah nasi. Tak berlebihan memang lagu-lagu patah hati dinyanyikan dengan perasaan sedih luar biasa.

“Begini…,” kata-kata Fanny menggantung.

Diana dan Della meletakkan gadgetnya. Siap mendengarkan cerita Fanny.

“Kau lihat perahu sekarang tanpa layar, bukan? Tapi, tetap bisa berlayar. Sedangkan aku ibarat perahu tanpa layar, namun tak bisa berlayar sama sekali.”

Entah apa sebenarnya yang ingin dikatakan Fanny. Diana dan Della tetap bertahan dengan rasa penasarannya. Dibiarkan sahabatnya itu bercerita lebih dahulu.  Mereka berdua mesti berhati-hati dan lebih baik irit bicara.

“Begitulah hidupku sekarang.”

Angin di tepian sungai Kapuas menjadi rasa tersendiri bagi ketiga gadis itu. Sulit dipahami perasaan Fanny yang lebih suka bercerita lewat tulisan. Kedua sahabatnya hanya bisa menemani, tapi tak bisa mengorek lebih jauh apa yang sekarang sedang diderita Fanny.

Baca juga: Titisan Arwah Mbah Kubro – Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 01 September 2019)

“Fan, kami seperti orang bodoh di hadapanmu. Selama tujuh tahun bersahabat denganmu, apakah kau pernah cerita tentang seseorang? Tapi, kami tak pernah memaksamu. Kami mengerti, kau lebih suka bercerita dengan angin, hujan atau apalah itu….”

“Benar, Fan. Kau itu seperti peti harta karun yang kuncinya kau pegang sendiri. Biarpun kami sangat menginginkan melihat apa isi di dalamnya, kami tak akan berani merebut darimu. Menunggu dan terus menunggu sampai kau memberikan kuncinya pada kami,” Della menimpali kata-kata Diana.

“Lucunya, sekarang kau cerita patah hati. Tanpa kami tahu kisah sebelumnya….” Diana menghentikan ucapannya.

Senja telah hadir. Hiruk pikuk pelancong menikmati segala yang disuguhkan tepian sungai raksasa itu. Anak-anak kecil menyeret-nyeret tangan ibunya meminta balon, sosis bakar, jagung bakar, dan makanan bergula-gula yang warna warni.

“Aku cantik ya, Del?” Fanny menunjukkan wajahnya pada Della. Diana menjadi khawatir. Kenapa Fanny yang kalem bertingkah aneh.

“Sudah kupuji berkali-kali. Karena kau sendiri yang sering menanyakannya,” Della merenggut.

“Saat kau patah hati, apakah kau bisa tersenyum?”

“Aku?” Della menunjuk dirinya sendiri. “Kau sudah lupa ya, aku bahkan sakit tipes, karena beberapa minggu hanya makan berapa kali.”

Baca juga: Hikayat Kunang-kunang di Kepala Seno – Cerpen Kak Ian (Pontianak Post, 28 Juli 2019)

Diana diam-diam membaca keanehan di sana. Karena Fanny bukanlah sosok yang mudah menyerah dengan apapun. Wataknya keras kepala. Berprinsip dan mandiri.

“Kau sebenarnya menyembunyikan apa dari kami, Fan?” Diana tak tahan untuk bertanya lebih tegas.

***

Orang yang sulit jatuh cinta sepertiku di dunia ini sangatlah menderita. Karena sekali jatuh cinta, aku menjatuhkan hati ini setelah melakukan pertimbangan sangat sulit; berdiri dalam kegelisahan, tersenyum tanpa ada yang tahu; dan menulis sebanyak mungkin.  Dan pada akhirnya setelah sepakat dengan yang ditawarkan, aku menyambut hatinya juga tanpa pernah berpikir akan kehilangannya suatu saat.  Memutuskan jatuh cinta adalah hal tersulit dalam hidupku. Karena, sama artinya aku membuka hatiku untuk orang yang sekiranya dialah satu-satunya yang ingin mendampingiku selama hidupku. Aku pecandu kisah cinta pertama.

Waktu berjalan sangat indah. Bahkan ingin mengulang-ngulang hari kemarin. Kata-kataku, kata-katanya seolah aku catat di diary paling tersembunyi. Hanya aku dan dia yang memiliki kuncinya, tak ingin berbagi apapun dengan orang lain. Setiap pagi kami menyirami taman-taman di ujung istana, menyambut matahari hangat dan bergegas menjemput impian. Karena, segala rencana adalah rahasia, sedangkan rahasia itu sangat indah bagi kita.

Detak jam pun kita hitung bersama. Antara aku dan dia hanya waktu yang akan mempertemukan dengan indah. Maka kesabaran adalah pintu menuju tempat yang kita sudah bangun bersama.

Baca juga: Rahasia Kayu Bakar – Cerpen Dodi Goyon (Pontianak Post, 03 Februari 2019)

“Kubaca tulisanmu di blog. Kudiamkan kau sampai berbulan-bulan untuk tidak bertanya, Fan!” Della membacakan tulisan Fanny yang ditulis di blog.

Fanny diam saja. Ia bahkan menunduk menekuri kakinya yang digerak-gerakkan. Sesekali menghela nafas.

“Jatuh cintanya kapan, putusnya kapan…hanya lihat tulisan di blog kau yang aku mengira hanya fiktif belaka, sampai akhirnya kau WhatsApp kami berdua untuk mendengarkan cerita patah hatimu,” Diana tak kalah kesal.

Sampai akhirnya aku menyadari, keputusan paling bodoh sepanjang hidup adalah jatuh cinta dan diungkapkan sebelum waktunya. Harusnya aku tetap menyembunyikan kunci hatiku dan tak membiarkan siapapun membukanya.

Semua hal yang kutakutkan terjadi. Aku dibayang-bayangi perasaan bersalah, tak setia dengan ikrarku sendiri yang disaksikan bintang dan bulan. Bahkan aku menitipkan kata-kata itu di lautan yang tak pernah kering. Mereka semua akhirnya menuntut kegagalanku. Berteriak setiap jam berdentang dua belas kali pada malam saat aku sudah tak ingin mengulang hari kemarin. Saat aku sendiri yang pergi pamit dengan kata-kata paling tersusun rapi. Tapi, tetap saja hatiku patah…

Baca juga: Datuk Muara Sungai – Cerpen E. Widiantoro (Pontianak Post, 20 Januari 2019)

“Siapa, dia?” Della menantang mata Fanny, berusaha meminta jawaban.

“Apa aku salah jika saat itu menjatuhkan hati pada orang yang bertahun-tahun sudah kukenal?” Sekarang Diana yang mengangkat kepalanya lebih tegak.

“Kami semua mengenalnya?” Diana seakan-akan ingin menarik kerah baju Fanny, mengancam supaya secepatnya mengatakan siapa orangnya.

“Ya…” Jawab Fanny pendek.

“Oh, tidak!” setengah berteriak Della langsung menutup mulutnya sendiri.

“Mungkinkah kami tahu…?” Diana menyenderkan punggungnya kembali ke bangku.

“Begitulah….” Fanny tak menangis.

Angin di tepian Kapuas semakin kencang. Membawa sedikit demi sedikit kegelisahan Fanny. Senja kali ini sudah mulai dibingkai olehnya dan hendak dibawanya pulang. Esok dia akan mengajar dengan tenang. Membawa anak-anak didiknya berkeliling dunia lagi dengan imajinasi hasil membacanya. Dan malamnya ia akan asyik menari-nari dengan kata-kata yang puitis. Semua akan baik-baik saja tentunya. Ia kan mencoba memunguti hatinya yang berjatuhan dan berserakan.

Diana dan Della sudah menunggu lama. Sampai senja benar-benar berakhir Fanny tak juga memberikan tulisannya yang terakhir, penegasan tentu saja.

Baca juga: Desa yang Menangis – Cerpen Sriwiyanti (Pontianak Post, 27 Januari 2019)

Di perjalanan ketiganya diam. Della menyetir mobilnya dengan tenang. Sampai akhirnya ketiganya berpisah.

Tulisan akan kukirimkan pada kalian pukul dua belas malam. Chat WhatsApp Fanny penuh tanda tanya kepada Della dan Diana.

Fanny tetap saja misterius. Tapi apa boleh buat bagi Diana dan Della. Rasa penasaran yang tinggi menyerang mereka berdua.

Pukul 10 malam tulisan itu sudah dikirimkan oleh Fanny. Barangkali ia sendiri yang tak sabar untuk memberitahukan semua pada kedua sahabatnya.

Adalah Andra. Sejak tujuh tahun yang lalu, bang Andra mendekatiku. Tanpa pernah mengajakku bertemu selain di rumahmu, Della, ia sesekali menelpon. Berbicara banyak hal. Tentang buku-buku yang baru dibaca dan menceritakan aktivitasnya di rumah sakit. Sesibuk itu, semenjak ia semester enam, koas dan akhirnya bekerja di RS. Aku hanya menganggapnya sahabat yang nyaman untuk ngobrol atau diskusi hal serius. Ia pun tak pernah menyatakan apapun dan aku bersyukur tak pernah mengharapkan lebih, kalian tentu tahu prinsipku. Sampai akhirnya kita bertiga selesai kuliah juga, dan hari-hariku sebenarnya disemangati olehnya. Kumerasa disayangi dengan tulus, diperhatikan dan diarahkan dengan caranya. Aku juga tak perlu memikirkan hal lainnya, kegalauan di malam minggu dan lain-lain. Cukup diperhatikan olehnya. Tentu kau tahu, Della, saat di meja makan rumahmu, aku betah berlama-lama ngobrol dengan bang Andra. Karena, itulah kesempatan untuk bertatap muka. Indah bukan?

Baca juga: Sorrowful Month – Cerpen Silvia (Pontianak Post, 07 Juli 2019)

Diana, Della…kalian tahu apa yang membuatku patah hati pada akhirnya? Karena ternyata bang Andra menyatakan perasaannya padaku tiga bulan yang lalu. Dan semua itu membuat suasana justru berbeda. Aku menjadi ketakutan akan kehilangan dan saat berbicara padanya aku tak bisa jadi diri sendiri. Aku tak siap. Saat menulis pun aku menjadi tidak konsentrasi. Dan aku pun akhirnya tak mau menerima telpon darinya bahkan tak membalas WhatsApp nya. Aku patah hati sendirian… karena menyalahi prinsip, bahwa aku ingin seseorang menyatakan perasaannya saat ia membawa sebuah cincin. Tentu saja langsung melamarku. Dan akhirnya kisah hidupku bahagia. Begitu saja.

***

“Bang Andra, cincinnya sudah ada kan? Mama dan Papa juga pastikan sudah siap ya. Hari ini kita ke rumah Fanny pukul 10 pagi, aku sudah merencanakannya juga dengan orangtuanya. Kuharap di hari Minggu ini Fanny sudah mandi dari pagi, kalau nggak bakalan malu dia.”

Della terkikik sendiri. Andra tertawa.

“Abang dan Fanny nih hebat ya menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun. Kami nggak tahu sama sekali, sampai akhirnya kisah ini pun terjadi. Aku ikut berbahagia, Bang. Aku sangat mengenal Fanny, dia gadis yang baik. Pastilah bang Andra lebih tahu dari kami.” Andra mengangguk.

“Ayo, Bang. Segera kita mengobati hatinya Fanny.”

 

Pontianak, Oktober 2019

Tri Hartati tergabung dalam komunitas kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Kalimantan Barat. Menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Bahasa Mandarin, FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak. Puisinya terbit di Dinamikanews, Redaksi Apajake, Pontianak Post, Suara Pemred, dan koran Malaysia, Utusan Borneo. Buku puisi yang telah terbit adalah Sepi yang Menjadi Kisah (Seruni, 2013). Bersama para penulis Kal-Bar menerbitkan buku antologi puisi Bayang-bayang Tembawang (Pijar, 2015), dan antologi cerpen bersama teman-teman FLP Kal-Bar Mutiara Cinta di Pelangi Khatulistiwa (Stain Press 2013), Langit Bumi Arwana (Pijar, 2015). Penulis dapat dihubungi melalui Tlp/ Whatsapp: 085291478387 atau email: zhenli_yan1120@yahoo.com