Cerpen Komala Sutha (Denpost, 10 November 2019)

Perempuan Beraroma Ibu ilustrasi Ni Putu Laras Purnamasari - Denpostw.jpg
Perempuan Beraroma Ibu ilustrasi Ni Putu Laras Purnamasari/Denpost

Sudah seringkali aku mencumbui Rosmala—perempuan seusia Ibu—yang kerap datang ke apartemenku. Tak jarang kami menghabiskan waktu bersama, seharian penuh. Ia lebih banyak mendengar ceritaku ketimbang menuturkan kisah hidupnya. Aku pun sebenarnya tak pernah menceritakan kisah hidupku—terlebih masa laluku.

Setiap kali kami bertemu, aku lebih banyak bercerita tentang Nur—gadis yang kucinta dalam dua tahun ini. Sebelum  aku mengenal Rosmala.

“Tak apa-apa kalau aku… menceritakan lagi tentang hubunganku dengan Nur?” tanyaku suatu ketika di hari Minggu. Ia datang setiap  Minggu pagi dan baru keluar apartemen saat matahari sudah condong ke barat. Senin hingga Sabtu tak ada pertemuan karena ia sibuk di perusahaan yang dimilikinya. Sesekali kami saling berkirim pesan pendek.

Kepalanya pelan menggeleng. Lalu menyandar di dada telanjangku.

“Tidak, tentu saja…”

“Kukira kau keberatan…”

Kembali kepalanya menggeleng, seulas senyum menghiasi bibirnya.

“Tidak, sama sekali tidak…”

“Atau mungkin bosan mendengarnya…”

“Tidak juga…”

“Atau…” sengaja kugantung ucapanku yang baru satu kata.

“Atau apa?” matanya yang sedikit sipit melirikku.

“Kau…   mungkin cemburu.”

Ia diam. Tidak menggeleng apalagi mengangguk. Hanya kudengar helaan nafasnya.

“Teruskan saja ceritamu tentang Nur. Aku tak apa-apa.”

“Sungguh?”

Kepalanya mengangguk. Pelan. Seperti terkesan dipaksakan atau tak ikhlas. Aku mengenalnya dalam setahun ini. Jadi sedikitnya tahu kapan ia sedang cemburu atau tidak. Tapi, kusadari pengertiannya yang begitu dalam padaku.   Juga kesetiaannya menemani hari-hariku yang kerap digigit sepi. Terlebih saat Nur sering tiba-tiba menjauhiku dan memilih lebih dekat dengan teman lelaki lainnya.

Rambutnya yang harum menyentuh hidungku. Kuhirup.  Tanganku membelainya perlahan. Lalu bibirku sertamerta mencium rambutnya. Tepat ubun-ubunnya Kulihat ia merasakan kenyamanan. Begitu juga denganku. Selalu merasa nyaman saat berdekatan dengannya.

Baru setahun aku mengenalnya. Pertemuan pertama di sebuah Bank, berkenalan lalu melanjutkan percakapan di telepon  dan terkadang menjadi rutinitas. Hingga akhirnya kami sering janjian bertemu. Di luar. Di kafe, restoran, bioskop atau hotel berbintang. Lalu selanjutnya, ia yang menghampiriku ke apartemen. Kemudian kami mengobrol. Dan aku yang banyak  mendominasi pembicaraan. Tentu saja mengenai Nur juga cinta kasih kami yang terkadang samar. Orang tuanya tak merestui kami karena dianggapnya aku berasal dari keluarga tak jelas.

Rosmala, tak banyak memintaku untuk menceritakan asal-usulku. Ia lebih banyak memahami. Diam. Menanggapi ceritaku. Dan setelah itu, setelah aku merasa puas meluapkan kegalauan asmaraku dengan Nur, kami—aku dan Rosmala—suka bercumbu di atas tempat tidur. Cumbuan hangat yang berakhir pergumulan hebat disertai desahan nikmat dari bibir kami.

Seperti hari ini. Hari Minggu ini. Ia pun terlelap. Menjelang sore segera bergegas keluar dari apartemen. Aku pun kembali menikmati kesendirianku. Aku menyukai Rosmala meskipun belum menjurus pada perasaan cinta. Cinta sesama lawan jenis.

Usiaku dua puluh empat tahun. Ijazahku sarjana ekonomi yang tak punya pekerjaan hingga hari ini. Ya, aku pengangguran. Malah ditambah kata ‘berat’. Pengangguran berat.  Aku tak minat kerja. Kerja bagiku membuat lelah dan hanya mendatangkan masalah. Aku tak perlu mencari uang karena ayahku setiap bulan selalu mentransfer uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk hidupku seorang yang belum memiliki tanggungan hidup. Dengan uang tersebut; aku bisa menyewa apartemen megah, makan enak dan membeli keperluan hidup tanpa harus memperhitungkan jumlahnya.

Pernah Rosmala datang  dengan memberikan tawaran uang. Tidak, dengan segera kutolak. Mungkin Rosmala berpikir, aku lelaki yang berprofesi gigolo atau minimalnya ‘piaraan’ tante-tante. Sehingga butuh uang. Padahal sama sekali tidak. Aku tak pernah punya masalah dengan uang. Aku juga bukan gigolo atau piaraan tante-tante Meskipun Rosmala pantas aku anggap ‘Tante”. Dan meskipun aku lebih menganggapnya Ibu. Ya, terkadang jika kami sedang bercinta, aku merasakan sedang bercumbu dengan ibuku. Namun rasa itu segera kutepiskan.

Selama merasakan menjadi lelaki normal yang butuh seks, sekali pun aku tak pernah bersetubuh dengan makhluk bernama perempuan. Tidak dengan Nur atau perempuan-perempuan lain yang pernah menjadi pacarku.

Dengan Rosmala, entah mengapa tiba-tiba aku sangat berhasrat. Padahal ia pun bukan tipe perempuan haus seks meskipun konon tak bersuami. Tak banyak aku mengenal hidupnya, ia pun seperti enggan bercerita. Seperti halnya aku.

Suatu ketika aku pernah berpikir ingin mencintai Rosmala, ingin menjadikannya kekasih. Tapi, entahlah rasa   enggan lebih kuat ketimbang apa yang kupikirkan. Apa karena usianya yang terpaut jauh dariku? Mungkin ya atau tidak. Usianya berkisar 45 tahun, sementara aku baru dua puluh empat. Jauh sekali bukan? Makanya kusimpulkan usianya sama dengan usia Ibu. Mungkin. Karena aku juga tak bisa memastikan berapa usia ibuku. Ayahku tak pernah memberitahukannya. Ayahku tak suka aku bertanya tentang Ibu. Seolah ingin mengubur dalam-dalam masa lalu bersama Ibu hingga aku pun tak diperkenankan bertanya sedikit pun. Bahkan tentang apa pun.

Ibuku—perempuan yang tentunya pernah mengandung dan melahirkanku—yang tiba-tiba pergi meninggalkanku dan ayahku. Entah alasan apa. Waktu kecil pernah aku mengira ibuku sudah meninggal. Tapi ketika Ayah membawa perempuan ke rumah dan memperkenalkannya sebagai ‘Ibu’,aku beranggapan ia ibuku. Tapi tak lama, perempuan itu tak ada lagi di rumahku. Pergi setelah bertengkar hebat dengan Ayah. Lalu datang lagi perempuan lain, memintaku memanggilnya ‘Ibu’. Pergi lagi. Datang yang baru. Begitu dan begitu hingga aku malas menghitungnya, sudah berapa orang perempuan yang tinggal di rumahku dengan gelar ‘Ibu’.

Usia remaja, aku baru diberitahu kalau ibuku pergi seminggu setelah aku dilahirkan ke dunia. Menurut Ayah, ibuku tak sayang aku dan Ayah. Kalau sayang, tak mungkin meninggalkan kami dan pasti kembali. Ayah melarangku bertanya lagi tentang Ibu. Ia pun berhasil menanamkan benih kebencianku pada Ibu. Kebencian yang semakin hari semakin bertambah hingga sering aku mengutuknya. Mengutuk perempuan yang menyebabkan aku ada di dunia.

Saat aku  sedang menghadapi dilema, aku merutuki nasibku sendiri. Hati kecilku merindukan Ibu tapi di sisi lain aku membencinya. Kusesali kelahiranku. Kusesali juga aku terlahir dari rahim perempuan yang jahat seperti ibuku.

Ayah berganti lagi istri. Entah untuk yang keberapa kali dan aku mulai muak. Aku memilih pergi dari rumah. Sendirian di apartemen. Berpacaran dengan Nur. Dan bertemu dengan Rosmala—perempuan yang kupastikan seusia dan mungkin secantik Ibu. Perempuan yang kupastikan tentu saja bukan ibuku. Ya, Rosmala bukan ibuku. Aku harus meyakininya. Ia perempuan lain. Perempuan yang sering kucumbu. Perempuan yang sering kuajak bercinta di atas tempat tidur. Aku hampir mencintainya tapi tak bisa. Pernah lagi kucoba. Tetap tak bisa. Jika aku mampu mencintainya, aku tak akan menolak untuk menjadikannya istriku. Menemaniku hari-hariku. Karena dia membuatku nyaman. Dengannya, aku mampu  menghilangkan kesumpekan dan kegundahan hati. Sayangnya, aku belum bisa mencintainya.

Sementara Nur, perempuan yang memang kucintai. Aku pun ingin menikahinya– hanya kendalanya– orang tuanya kurang merestui  kami. Sementara Nur  tak ada pengorbanan sedikit pun untuk mempertahankan hubungan kami.

“Menurut Papa dan Mamaku… kamu anak dari keluarga tak jelas,” begitu kata Nur, polos.

“Tak jelas bagaimana, karena aku tinggal di apartemen sendirian?” aku menatapnya. “Kan ayahku jelas ada… mau kuperkenalkan pada orang tuamu biar mereka percaya?”

“Oh, tidak perlu…” ucapan Nur pendek tak membuatku puas. Jika sudah begitu, kami tak bicara selama beberapa minggu. Dan hanya  Rosmala tempatku mengadu. Jika saja cintaku pada Nur bisa dipindahkan pada Rosmala, aku tak masalah. Aku senang. Aku terima. Tak   apa-apa meski ia seusia Ibu.

Sudah dua  Minggu pagi Rosmala tak datang ke apartemen. Nomor kontaknya pun tiba-tiba tak aktif. Tak seperti biasa, aku mendadak gelisah. Padahal aku juga sedang ingin mengadu. Apa lagi kalau bukan soal Nur. Selain itu, aku mulai merindukannya. Merindukan Rosmala.

Hari Minggu keempat Rosmala baru datang. Ia bermanja-manja padaku. Dan aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Kucumbu sampai ia puas. Dan seperti biasa kami menikmatinya di atas pembaringan.

“Ada masalah apa lagi dengan Nur?” tanyanya. Kami masih berbaring. Kuhela nafas sesaat. Baru saja mulutku mau terbuka, ponsel di atas meja bergetar. Dengan malas, aku bangkit dari tempat tidur. Membaca pesan pendek dari Ayah. Entahlah, apakah aku senang atau tidak membacanya. Renal, jika kau ingin bertemu dengan ibu kandungmu, maka Ayah akan segera mempertemukan kalian.

Dadaku berguncang hebat saat Ayah langsung mengirim sebuah foto perempuan. Perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan perempuan yang kini masih telanjang dan berbaring di atas tempat tidurku.***

 

Bandung, 26 Februari 2019

Komala Sutha lahir di Bandung, 12 Juli 1974. Menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat di berbagai media massa dan terhimpun dalam sejumlah antologi
Ilustrasi cerpen merupakan lukisan karya Ni Putu Laras Purnamasari, dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali.