Cerpen Indah Darmastuti (Tribun Jabar, 10 November 2019)

Penghalau Kematian ilustrasi Tribun Jabarw
Penghalau Kematian ilustrasi Tribun Jabar

Gagak itu berkaok-kaok lagi. Melayang rendah di atas atap-atap rumah warga desa, lantang menggemakan pekik kematian. Setiap yang mendengar akan menebak-nebak tanpa berani menyebut nama siapa yang akan meninggal esok atau esoknya lagi.

Kesiur angin membawa bau maut berembus menerobos dinding-dinding rumah, menyisir selingkar tepi hutan. Gagak hitam terus terbang melayang di tengah malam, terasa mencekam seperti sedang berlangsung adu kekuatan sihir. Malam yang persis sama pernah terjadi beberapa minggu lalu menjelang kematian Wan Kalipo.

Saat pagi pada hari itu, Wan Kalipo masih membersihkan makam leluhurnya di perbatasan antara hutan dan desa. Lalu pada malamnya gagak hitam berkaok terbang rendah di atas atap-atap rumah penduduk desa dan paginya Wan Kalipo terserang angin duduk lalu meninggal dalam perjalanan menuju puskesmas. Tak ada tanda apa pun pada tubuhnya.

Baik Wan Saguli atau Wan Paluka sama-sama berpendapat kalau gagak yang berkaok-kaok pada malam sebelumnya itu yang mematuk nyawa Wan Kalipo. Karena bulan sebelumnya juga ada kejadian hampir sama. Suara gagak tak henti-henti berkaok sepanjang malam, lalu pada sorenya, La Pidati sudah menjadi janda karena Wan Batipo suaminya, didapati sakaratul maut setelah jatuh tersungkur di dekat jembatan penghubung dengan desa tetangga.

Dan malam ini, gagak itu kembali terbang rendah mengintari atap-atap rumah penduduk desa, berkaok-kaok mencengkeram hati. Setiap penduduk rasanya ingin bersembunyi dari tatapan tajam si gagak dan berkelit dari paruhnya yang lancip siap mematuk nyawa. Tetapi ke mana harus bersembunyi? selain menduga dan mengira-ira akan siapa lagi yang esoknya dimangsa gagak.

Suara gagak itu masih meneror, setiap penduduk yang mendengar makin meringkuk saling berdekatan sambil menekan dada seolah melindungi nyawa. Tetapi tiba-tiba di tengah malam gulita itu, di sela kaok gagak hitam terdengar suara denting-denting kecapi, lamat-lamat dan saling menelan keheningan.

Tak ada satu pun penduduk yang melihat kalau di tepi hutan La Mintari terus menari. Matanya terpejam ketika tangan dan tubuhnya menarikan tari penyembahan pada pemilik jagad dan penyembuhan bagi entah siapa yang sekarat. Dia tak pernah tahu, selain isyarat dari pekak suara gagak.

Petikan kecapi ayahnya mendenting menyayat kalbu terdasar. Baik La Mintari maupun ayahnya sama-sama terpejam, sementara gagak hitam masih berkaok-kaok melayang terbang rendah dalam kegelapan menjelajah atap-atap rumah. Kini sayup-sayup suara gagak berseling padu dengan suara denting kecapi. Sayup dan semakin sayup lalu menghilang.

Esoknya, esoknya dan esoknya lagi tak ada kabar kematian. Tetapi berganti dengan suara-suara saling tanya dan menerka-nerka siapa bermain kecapi yang mengusir gagak. Tak seorang pun tahu. Termasuk Wan Faisi, lelaki muda tampan idola para lajang yang selalu menanti datangnya Sabtu pertama dalam selapan atau tigapuluh lima hari.

Karena pada Sabtu pertama dalam selapan itu, penduduk desa akan berkumpul di kaki bukit, duduk bersama tanpa alas menyatu dengan bumi, mengadakan sembah puja atas sumber-sumber air yang tetap deras mengalir walau kemarau ganas meranggas. Tak jarang, pada pertemuan seperti itu para lajang menemukan kekasih pujaan.

Tetapi sudah beberapa kali acara selapanan terlampaui, belum terdengar Wan Faisi meminang gadis. Karena Wan Faisi sebenarnya sudah menambat hati pada La Mintari bukan saat upacara sembah syukur, tetapi saat La Mintari pertama kali datang lalu menjadi warga desa ini.

Rambut La Mintari panjang hampir mencapai pinggang, sehitam bulu-bulu gagak. Manik matanya juga hitam tajam, hidung dan bibirnya mungil memenjarakan setiap mata yang melihat, hingga Wan Faisi dan para bujang tak butuh waktu lama untuk terpikat.

Para lajang tahu itu, tetapi tetap tenang karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda kalau La Mintari berkenan dikehendaki. Mereka masih berkawan sebagai adanya seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Dan para lajang masih berlomba terampil membuat sesaji untuk upacara sembah syukur demi menarik perhatian Wan Faisi. Sementara Wan Faisi sudah berketetapan hati mengarah pada La Mintari.

Meski tahu Wan Faisi tak terbelokkan, para lajang itu tak mampu membenci La Mintari, karena pada setiap laku, tutur kata, juga cara berkawan bagus semua adanya. Para bujang hanya berani berkasak kusuk tanpa sanggup menggoda La Mintari.

Lalu di upacara sembah puja pada selapanan itu, saat para lajang dan para bujang berkumpul dengan para tua-tua seluruh desa, mereka melakukan sembah lebih lama karena merasa perlu menyampaikan pada leluhur apa yang menjadi hati mereka. Mereka memohon perlindungan setelah mengalami dan menyaksikan kejadian aneh dan kematian beberapa warga.

Di kesempatan itu Wan Faisi kerap mencuri-curi lihat pada La Mintari ketika gadis itu menangkup tangan, memejam mata kusyuk menunduk bertatap muka dengan bumi. Kakinya bersimpuh, rambut tergerai melambai-lambai oleh embusan angin yang turun dari bebukitan.

Wan Faisi tersentak tatkala tiba-tiba La Mintari mendongak dan berpapas dengan matanya, tetapi kemudian hati Wan Faisi mengembang ketika La Mintari terngirim senyum penuh rahasia.

Usai upacara selapanan itu hari-hari berlalu seiring dengan menipisnya rasa khawatir  warga desa. Sudah lama, sangat lama warga tak lagi gelisah karena setiap ada suara gagak berkaok terbang rendah di atas atap-atap rumah, selalu ada sayup bunyi kecapi, yang pasti akan menghalau, menggagalkan niat gagak untuk mematuk nyawa penduduk. Terbukti tak ada lagi tangis duka meski gagak bersuara hingga serak.

Penduduk selalu bahagia dan tenang tentram mendengar suara kecapi yang mereka yakini dimainkan oleh para leluhur sebagai penghiburan warga desa dan menjadi jawaban atas sembah puja serta permohonan pada setiap upacara selapanan. Tak lagi was-was hati penduduk jika surup senja turun lalu malam merayap.

Tetapi malam itu, Wan Faisi pulang terlalu larut dari kota seperti biasa ia lakukan setiap akhir bulan. Ada pertemuan yang sering dia datangi di kota dan tanpa canggung pulang seorang diri melintasi jalanan desa, mengintari sisi kiri desa lalu menikung menyisir tepi hutan.

Tiba-tiba seperti terbang ia mendengar suara kecapi dari dekat, seperti terbang manakala matanya menangkap sosok gadis yang sangat ia kenali menari begitu indah. Pelan sekali gerak tubuhnya, dan ia mendongak, melihat gagak hitam melayang-layang di atasnya.

Wan Faisi terduduk dan terus menatap La Mintari menari. Meliuk, menunduk, tengadah dalam iringan suara kecapi ayahnya dan gemerisik daun-daun kering dan patah ranting-ranting. Ia menyaksikan betapa tubuh La Mintari penuh mantra, gerakannya adalah doa-doa.

Kini ia tahu, suara kecapi itu bukan dimainkan oleh para leluhur seperti yang didesas desuskan warga. Dan tarian La Mintari lah yang menghalau niat gagak mematuk nyawa karena mungkin gagak itu terpesona dan teralihkan perhatian demi melihat La Mintari menari.

Manakala seluruh penduduk desa terbuai oleh lamat denting kecapi, ia terpana saat  menyadari bahwa mereka berdua lah pemegang rahasia maut di desa ini. Panjang umur engkau Wan Ayodya dan La Mintari kekasih hati, desis suara Wan Faisi diserap lunas angin malam.

Ia terus bersembunyi dan sekecil mungkin melakukan gerakan agar tak tertangkap mata oleh La Mintari atau ayahnya. Hingga ayah dan anak itu duduk bersimpuh berdampingan sejenak, lalu beranjak meninggalkan tepi hutan seiring dengan lenyapnya suara gagak.

Pada esoknya, pecah sudah tangis ayah dan ibu Wan Faisi demi melihat warga menggotong mayat anaknya yang mereka temukan di tepi hutan. Gagak yang semalam berkaok-kaok itu kembali mencari mangsa. Kali itu, warga sungguh kaget karena melihat pada dada Wan Faisi ada cabikan luka berwarna biru seperti bekas patukan paruh yang tajam berjumlah tujuh. []

 

Indah Darmastuti menulis cerita-cerita pendek. Beberapa karyanya dimuat media massa. Salah satu kumpulan ceritanya berjudul Makan Malam Bersama Dewi Gandari. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.