Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 10 November 2019)

Pak Sagi ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Pak Sagi ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

PAK Sagi belum melaksanakan ibadah umrah dan haji. Padahal hidupnya tergolong makmur sebagai petani. Sawahnya 2 hektare. Semua anaknya juga sudah berkeluarga dan hidup makmur.

Sudah banyak tetangga yang mendesak Pak Sagi agar segera melaksanakan umrah, kalau berhaji dianggap terlalu berat dan harus antre cukup lama. Tapi Pak Sagi seperti tidak punya keinginan untuk melaksanakan ibadah tersebut.

“Kalau memang tak punya uang untuk umrah atau haji, Pak Sagi bisa mengiris sawah. Kalau sawah satu kotak saja dijual sekarang, sudah lebih dari cukup untuk ongkos umrah dan haji.”

Pak Sagi menggeleng mantap. Tak pernah dirinya punya keinginan untuk mengiris sawah.

“Pak Sagi makin tua, sudah seharusnya mengiris sawah. Dengan berkurangnya sawah, berkurang pula kesibukan bertani. Itu sesuai dengan kondisi Pak Sagi yang makin tua. Tenaga Pak Sagi pasti juga tidak lagi sekuat ketika masih muda, kan?!”

Baca juga: Mata, Air, Hujan – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 20 Oktober 2019)

Pak Sagi tetap tidak mau menjual sebagian sawahnya.

Ketika mendengar Pak Sagi sering didesak tetangga agar segera beribadah umrah atau haji, anak-anaknya malah ikut-ikutan merayunya agar menjual semua sawah. Mereka pun menyatakan siap menjamin hidup Pak Sagi selanjutnya setelah sawah dijual.

“Bapak memang sudah tua. Sudah waktunya menikmati hidup dan banyak beribadah. Tak usah khawatir. Bapak bisa tinggal bersama saya atau bersama adikadik.” Anak sulungnya mencoba merayu.

“Ada kamar khusus sudah saya siapkan untuk Bapak kalau memang ingin tinggal bersama saya. Dan sebaiknya Bapak memang tinggal bersama saya, karena rumah saya dekat dengan masjid. Setiap hari Bapak bisa ikut salat berjemaah di masjid.” Si bungsu juga merayu.

Tapi Pak Sagi tak bisa dirayu-rayu seperti itu. Hidupnya akan dihabiskan untuk bertani, karena di desanya hanya dia satu-satunya warga yang tetap hidup sebagai petani. Warga lain semua sudah tidak layak disebut sebagai petani karena sudah menjual semua sawah. Bahkan, sawah dua hektare miliknya kini menjadi satu-satunya sawah yang ada di desanya, karena sawah-sawah lain sudah dikapling-kapling menjadi perkampungan baru.

Baca juga: Perempuan Hybrid – Cerpen Pensil Kajoe (Kedaulatan Rakyat, 06 Oktober 2019)

Di desanya, kecuali Pak Sagi, semua petani memang sudah menjual sawahnya untuk biaya umrah atau haji, sisanya untuk menyambung hidup dengan menumpang di rumah anak. Dalam hal ini, semua anak petani memang tidak mau menjadi petani.

Di mata anak-anak petani, sekarang menjadi petani makin sengsara karena sering gagal panen akibat serangan hama atau kekeringan. Lebih baik bekerja sebagai buruh pabrik yang tiap pekan atau tiap bulan memperoleh upah untuk makan sehari-hari. Tiap menjelang Lebaran juga menerima THR. Kalau sakit bisa berobat gratis di klinik milik perusahaan.

Karena menjadi petani satu-satunya di desanya, Pak Sagi makin sering dirayu tetangga atau kerabat dan anak-anaknya untuk segera menjual sawahnya. Dalam hal ini, mereka berperan sebagai calo. Lazimnya sebagai calo dalam jual beli sawah, mereka akan menerima imbalan dari pihak pembeli.

Memang, sudah seperti hukum tidak tertulis, setiap pembeli sawah akan memberikan imbalan kepada semua pihak yang telah berhasil merayu warga untuk menjual sawah. Sedangkan harga sawah biasanya makin mahal jika sudah dibeli oleh tangan pertama untuk dijual lagi kepada tangan kedua dan seterusnya.

Baca juga: Durna Edan – Cerpen Yus R. Ismail (Kedaulatan Rakyat, 15 September 2019)

Diam-diam Pak Sagi punya rencana membuat surat wasiat: Dirinya akan menjadi petani sampai akhir hayat. Dan begitu dia meninggal dunia, sawah miliknya akan diwakafkan untuk membangun pondok pesantren, sisanya untuk belajar bertani bagi santri-santri agar kelak mereka bisa menjadi petani. Karena itu, diamdiam Pak Sagi menemui seorang sahabatnya di desa sebelah yang menjadi ulama untuk diajak ke Kantor Notaris untuk membuat surat wasiat.

Sepulang dari Kantor Notaris, Pak Sagi tiba-tiba pergi entah ke mana. Semua anak, kerabat dan tetangga tidak tahu ke mana Pak Sagi pergi. Baru sepekan kemudian, ada berita duka bahwa Pak Sagi wafat di Tanah Suci ketika sedang umrah. Jenazahnya akan dimakamkan di Tanah Suci. Mereka pun kemudian tahu bahwa Pak Sagi berangkat umrah dengan biaya uang tabungan, dan semua sawahnya telah diwakafkan… ❑-g

 

Kota Wali, 2019

Asmadji As Muchtar. Lahir di Pati, 06-07-1961. Dekan FIK Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah. Banyak menulis cerpen, esai dan puisi yang dimuat di sejumlah media.