Cerpen Wahyu Indro Sasongko (Solo Pos, 10 November 2019)

Mencuri Istri ilustrasi Hengki Irawan - Solo Posw
Mencuri Istri ilustrasi Hengki Irawan/Solo Pos 

Laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan amarah ketika mendengar suaraku mengucap salam. Hanya dengan memakai kain sarung, Yusron, seorang juragan tembakau di Sidowangi, keluar dari balik pintu rumahnya. Raut wa jahnya memerah, penuh emosi. Begitu keluar, ia langsung menggebrak meja. Sebilah parang tergenggam di tangannya. Yusron marah karena anak gadisnya, Wulan, dibawa lari Tohar, anak keluarga Saman. Padahal, Wulan sudah dijodohkan dengan anak juragan tambak asal Muncar.

“La po kon teka mrene? Ndi arek iku? Kon mrene! Tak tugel gulune! Jancuk!” teriak Yusron sembari mengacung-acungkan parang di tangan.

Melihat gelagatnya, aku mundur menjaga jarak. Berjaga-jaga apabila ia kalap dan tak bisa mengendalikan rasa marah. Sedangkan istrinya, Marni, dengan susah payah terus memegangi lengan suaminya itu. Tetapi ia seperti tidak peduli dengan semua perkataan Marni, bahkan sekalipun air mata telah terurai di wajah istrinya, Yusron masih dikuasai emosi. Para tetangga juga tak kalah panik, mereka berusaha ikut menenangkannya.

Malam sebelumnya, keluarga Saman juga geger karena Tohari tiba-tiba membawa seorang anak gadis pulang ke rumah. Keduanya datang meminta restu menikah. Apa boleh buat, setelah melalui negosiasi alot, mereka pun direstui. Setelah itu, dengan wajah kebingungan Saman datang ke rumahku. Ia memohon dan memintaku menjadi colok bagi keluarganya.

Ia tahu aku memiliki hubungan dekat dengan keluarga calon istri anaknya. Cukup lama aku berpikir untuk menyetujui permintaan Saman. Karena aku paham, Yusron memiliki sifat keras kepala sejak muda dan selain itu, kadang ia bukan orang yang bisa berpikir panjang. Aku ingat, pernah suatu hari ia terlibat pertengkaran dengan seseorang karena salah paham dan perkelahian itu berakibat fatal. Tindakan Yusron yang melampaui batas membuatnya harus mendekam di dalam penjara. Aku pikir, seusai menjalani hukuman, Yusron akan berubah. Namun ternyata aku salah.

Baca juga: Senyuman Delima – Cerpen Rosi Ochiemuh (Solo Pos, 03 November 2019)

Malam itu, Saman membawaku ke rumahnya. Di sana aku melihat Wulan. Perempuan itu sedikit sumringah meski raut mukanya penuh kecemasan. Jemarinya menggengam erat tangan Tohari yang duduk dengan balutan perban menutup kedua mata. Aku tanya tentang kondisinya, Tohari menundukkan wajahnya. Ia mengatakan, matanya tidak akan bisa disembuhkan. Mendengar jawabannya, dadaku bergetar. Hatiku merasa seperti ditikam pisau tajam. Wulan semakin erat menggenggam tangannya mencoba menguatkan.

Pasangan itu kemudian mulai bercerita, mencoba menjelaskan, dan memberi alasan tentang langkah nekat mereka. Sedangkan aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, meski aku tidak bisa menyangkal ada sedikit ragu di dalam hatiku.

“Kalian sudah yakin dengan keputusan ini? Sebab kalian akan menghadapi tantangan besar,” tanyaku pada Tohari dan Wulan.

Pasangan itu mengangguk, meski pelan tetapi penuh keyakinan.

“Saya siap menghadapi apapun keputusan Bapak. Sekalipun tidak lagi dianggap anak, saya tidak peduli. Keputusan saya sudah bulat. Saya mencintai Mas Tohari apa pun keadaannya, sama seperti ia memperlakukan saya selama ini,” jawab Wulan meyakinkanku.

Baca juga: PAITUA – Cerpen Aljas Sahni (Solo Pos, 06 Oktober 2019)

Mulut Yusron masih terus mengeluarkan sumpah serapah dan makian. Bahkan, aku pun tak luput jadi sasaran kemarahan dan kekesalannya. Saat ini, aku berpikir, sebagai orang tua tentu akan merasa sangat kecewa, ketika semua rencana yang dibuat untuk anak semata wayangnya hancur berantakan. Mungkin juga Yusron merasa, harga dirinya sebagai orang tua telah diinjak oleh darah dagingnya, dan sebagai seorang yang punya nama, ia menganggap Tohari tidak pantas menikah dengan Wulan.

Ia belum juga mau tenang, walau aku terus mengingatkannya untuk lebih bersabar. Dan setelah beberapa saat, aku melihat emosi Yusron sedikit reda. Meski rasa kecewa di wajahnya belum bisa hilang sepenuhnya.

“Sabar, Sron. Aku datang ke sini untuk berembug,” kataku dengan hati-hati.

Cukup lama ia diam. Tak memberi jawab. Beberapa saat kemudian, ia menganggukan kepala dengan sedikit terpaksa. Marni mempersilakan aku masuk, sembari memberi tanda kepada Yusron agar menyerahkan parang kepadanya. Kemudian berjalan meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Beberapa tetangga yang dari tadi mengerumuni kami, menunggu di luar, sebagian di antaranya kembali ke rumah.

“Sron, kau tentu sudah tahu maksud kedatanganku ke rumahmu malam ini. Bukan maksudku mencampuri urusan keluargamu. Semua ini aku lakukan karena terpaksa. Aku yakin, kau pasti hafal sifatku. Aku datang, sebab Wulan tidak tahu kepada siapa ia harus meminta bantuan. Kau tentu juga sudah tahu, anakmu itu bukan orang lain bagiku. Ia sudah kuanggap seperti anakku,” kataku membuka pembicaraan dengannya.

Baca juga: LELAKI YANG MENGGALI SERIBU LAHAD – Cerpen Tiqom Tarra (Solo Pos, 29 September 2019)

Yusron menatapku. Rasa kesal masih jelas menggurat di wajahnya. Ia menyalakan rokok di tangan. Kepulan asap keluar, meliuk dari bibirnya. Dari belakang Marni datang membawa dua gelas kopi, lalu duduk bersama kami. Marni menatap Yusron, kemudian perlahan ia menggengam tangan suaminya.

“Kon gak weruh piye isinku. Arep tak delikna ning ndi raiku iki!” kata Yusron dengan nada tinggi.

Hatinya kembali terbakar emosi, dan kemudian ia juga kembali memakiku berkali-kali. Mendengar itu, aku memilih diam. Tentu ini bukan hal mudah. Kesabaranku benar-benar diuji menghadapi situasi ini. Terlebih, ketika Yusron mengeluarkan kata-kata kasar, aku harus memasang kuping tebal. Dalam pikiranku hanya ada satu tujuan, mencari jalan agar Yusron mau menerima Tohari sebagai menantu.

“Aku minta tolong kau sedikit bersabar. Aku tidak akan meminta lebih darimu. Kau sudah banyak membantuku. Kau orang baik. Tapi malam ini, aku hanya minta kau memikirkan masa depan Wulan,” kataku. Lalu, kuambil segelas kopi di atas meja. “Kita berdua sudah tidak lagi muda. Umur kita semakin hari semakin menua. Cepat atau lambat, kita akan mati. Generasi akan berganti. Kita tidak abadi, Sron. Apa lagi yang kita cari?” ucapku.

Baca juga: Setelah Hari Celaka – Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 22 September 2019)

“Anak itu tahu apa soal masa depan?” tanya Yusron. Ia kembali menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya panjang-panjang. Yusron menceritakan sebuah kejadian padaku, saat acara batokan digelar, anak laki-laki Haji Azis membeli semua dagangan anaknya. Wulan sudah menerima uang pembelian air limun darinya. Menurut Yusron, itu sebagai tanda anaknya bersedia menerima perjodohan.

“Iya. Aku tahu cerita itu. Tetapi saat itu Wulan menerima karena kamu memaksanya. Semalam ia bercerita padaku. Ia sudah dewasa, menurutku biarkanlah ia sendiri memilih calon suami berdasarkan pilihan hatinya. Sron, orang tua itu ibarat busur. Sebisa mungkin, kita pasti akan berusaha mengarahkan anak panah yang kita lepaskan agar tepat sasaran. Namun, setelah anak panah itu lepas dari busur, ia sudah tidak bisa kita kendalikan. Ia sendiri yang akan membawa takdirnya, demikian juga anak-anak kita, termasuk juga dengan persoalan cinta mereka,” kataku.

Mendengar ucapanku itu, ia terlihat kesal, tenggorokan Yusron seperti tercekat, tapi tidak bisa mengingkari kebenaran.

“Sron, sedari kecil kita sudah saling mengenal. Jatuh bangun, suka duka dalam hidup, kita sudah sama-sama tahu. Aku mengerti perasaanmu, tentang bagaimana kamu begitu memikirkan masa depan anakmu. Kekhawatiranmu tentang hidup anak turunmu. Sama halnya dengan dirimu, aku juga memikirkan semua hal itu pada anakku. Itu tidak salah. Tetapi satu hal yang aku ingin kamu ingat, Sron. Tidak semua dalam hidup selalu tentang harta. Dulu, kau pernah mengatakan itu padaku. Anak-anak itu bukan kita. Mereka punya jalan hidup sendiri dan jalan itu tidak akan sama seperti yang kita lalui. Dan selain itu, aku harap kamu tidak lupa tentang bagaimana dulu perjalananmu menjadikan Marni sebagai istri,” kataku.

Baca juga: Muslihat Seekor Domba – Cerpen Adam Yudhistira (Solo Pos, 08 September 2019)

Kini Yusron terlihat termenung. Tatap matanya menerawang entah ke mana. Tangannya kembali mengambil sebatang rokok, kemudian menyulutnya. Di atas meja, kopi di hadapannya perlahan menjadi dingin. Mungkin pita-pita ingatan di kepala Yusron kembali berputar, mengingat bagaimana dulu aku menemaninya menghadapi orang tua Marni.

Tentang kisahnya dulu ia habis dimaki-maki calon mertuanya karena nekat nyolong Marni. Tentang bagaimana dulu ia ditolak. Diusir karena statusnya yang pernah masuk penjara meski bermaksud melindungi Marni. Bahkan, pernah suatu kali mertuanya sampai mengatakan jika ia tak lebih seperti binatang.

Saat itu, Yusron merasa harga dirinya sebagai laki-laki hancur, runtuh, merasa segala yang diperjuangkannya terasa sia-sia. Perlakuan orang tua Marni membuat Yusron frustasi dan hampir membuatnya bunuh diri. Beruntung saat itu ada Pak Rosyid, sesepuh warga yang bersedia menjadi colok. Orang tua itu butuh seminggu untuk membuat suasana menjadi cair, dan akhirnya Yusron dapat menjadikan Marni sebagai istri.

Meski sudah mendapat restu, waktu itu Yusron masih harus bersabar, menanti hati orangtua istrinya luluh. Tak cukup sepekan. Meski sudah menikah hampir sebulan, orang tua Marni masih menyimpan kesal karena anaknya dibawa lari. Namun, seiring dengan waktu, Yusron berhasil menjadi laki-laki yang meluluhkan hati mertuanya.

Baca juga: Prahara di Ujung Renjana – Cerpen Zhyla Ismi (Solo Pos, 15 September 2019)

Mengingat kejadian itu, bibir Yusron terlihat bergetar. Matanya berkaca-kaca.Tak lama kemudian, ia tersedu. Ia memelukku sembari mengatakan maaf padaku. Air mata membasahi wajahnya, menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena sudah mengusir dan berbuat kasar pada Wulan. Dalam pelukan itu, Yusron berjanji akan memberi restu dan mau menerima Tohari sebagai menantu. Mendengar ucapan itu, aku merasa lega. Sekaligus bahagia.

Namun, aku heran ketika tiba-tiba wajahnya berubah muram. Yusron menundukkan kepala. Aku mendengar, suaranya terbata-bata saat mengatakan sesuatu tentang Tohari. Cerita yang membuat dadaku sesak, kepalaku serasa meledak, darahku menjadi berdesir lebih cepat. Tanganku segera memeluk Yusron dengan erat, lalu sebilah belati tajam aku tusukkan ke lambungnya secara perlahan.