Cerpen M. Joenoes Joesoef (Serambi Indonesia, 10 November 2019)

Larynx, illustration
Mega Merah Dwinta ilustrasi Istimewa 

BERAWAL tiga bulan lalu. WAKTU SUBUH. Saat itu saya dengar isyarat masuknya SMS di ponsel saya. SMS untuk saya biasanya dari perusahaan tempat saya bekerja, untuk keperluan koordinasi, karena saya sedang bertugas di luar kota. Tetapi, SMS ini agaknya bukan dari perusahaan, karena hari masih begitu dini

Dan memang, SMS itu tak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan saya. Bahkan dengan diri saya sendiri. “Diana, ke mana saja kamu? Sudah tiga hari ini tak ada senoktah warta pun yang kuterima dari kamu. I missed you very much. Segera hubungi aku pada kesempatan pertama, ya? Jangan bikin aku was-was dan menderita. DMP.”

Jelas ini SMS yang tersesat. Ditujukan kepada orang lain, tetapi karena adanya kesalahan teknis atau apa, jadinya masuk ke ponsel saya. Tidak mengganggu, sebetulnya. Tinggal dihapus, bereslah. Tetapi, dari susunan kata-katanya, nampak betul si pengirim sangat mengharapkan tanggapan “Diana”. Maka saya ambil putusan, tersesatnya SMS itu perlu diberitahukan kepada si pengirim, supaya dia tak sia-sia menanti. Saya pun bikin balasan, “Hai! Saya sudah terima pesan Anda. Sesuai dengan harapan Anda, saya hubungi Anda pada kesempatan pertama. Tetapi, maafkan, kalau saya akan kecewakan Anda, karena saya bukan Diana. Pesan Anda tersesat ke ponsel saya. Agar maklum. Faqri Fakhri.”

Segera datang balasan, “Mohon maaf sebesar-besarnya, Bung Faqri Fakhri, atas ketidaknyamanan yang terjadi. By the way, nama Anda begitu “mempesona” dan “menggoda”. Karena maknanya bukankah “Kemiskinanku adalah kebanggaanku”? Bagaimana caranya Anda menjelaskan “kebanggaan” atas “kemiskinan” Anda itu? Apa itu bukan sesuatu yang absurd? He-he-he, saya jadi usil, ya? Menambah dosa! Tetapi, ah, Anda pasti masih mau memaafkan, ya? Salam, Dwinta Maharani Pusporini.”

Pikir saya, kocak—dan usil—juga rupanya si pengirim SMS ini, Dwinta Maharani Pusporini (yang tak pelak lagi, tentu seorang wanita). Lihat saja cara dia mengutak-atik makna nama saya, yang saya sendiri tak pernah acuhkan. Nama itulah yang diberikan oleh orang tua, ya, sudah, terima dan pakai saja. Tak perlulah rasanya saya mengusutnya sampai berdetil-detil. Tetapi tidak demikian rupanya bagi Dwinta Maharani Pusporini. Ha, Dwinta Maharani Pusporini!? Tiba-tiba saya tersentak sendiri. Rasanya ini bukan nama yang asing buat saya. Di mana saya pernah bersinggungan dengan nama ini? Ah, ya, saya segera ingat pada beberapa novel metro-pop yang pernah saya baca. Dan penulisnya Dwinta Maharani Pusporini. Tetapi rasanya tidak bisa buru-buru disimpulkan, nama yang sama itu milik orang yang sama pula. Maka saya terdorong sekali untuk mendapat kepastian tentang hal ini. Segera saya luncurkan pesan, “Dwinta yang baik, terimakasih sudah menaruh perhatian atas nama saya. Terus terang, saya sendiri luput mengusutnya. Nama itu sudah saya sandang sejak lahir. Jadi, pakai sajalah. Tetapi, Dwinta, ada yang lebih krusial dari omongan sepele tentang nama saya. Ini tentang nama Anda sendiri. Begini. Saya sudah baca beberapa novel metro-pop, yang nama penulisnya sama dengan nama Anda. Terus terang, novel-novel itu enak dibaca dan cukup bermakna juga, lebih dari hanya sekadar bacaan pengisi waktu. Tetapi, sebagai laki-laki, saya kadang-kadang kesal juga, karena laki-laki di situ selalu dipojokkan, selalu digambarkan sebagai sumber segala macam kebusukan dan ketidakberesan dalam kehidupan seorang wanita. Tidak pernah ada sedikit pun kebaikan pada laki-laki. Apa memang betul begitu? Rasanya ini agak lebay, ya? Oke, kita stop bicara tentang itu. Yang saya mau tanya, apakah Anda dan Dwinta Maharani Pusporini yang satu lagi itu adalah orang yang sama?”

Dwinta Maharani pun menjawab, “Senang betul rasanya bertemu dengan Anda, Bung Faqri, orang yang telah suka membaca buku-buku saya. Ya, memang sayalah yang menulis novel-novel metro-pop itu. Sampai saat ini, sebetulnya saya belum berani beranjak dari pendapat saya sendiri, semua yang saya tulis itu baru punya nilai sekadar sebagai bacaan pengisi waktu. Ternyata Anda malah sudah punya apresiasi yang lebih tinggi dari itu. Terima kasih yang amat sangat. Sekaligus maafkan saya, kalau terkesan, saya selalu memojokkan laki-laki belaka. Ya, apa boleh buat! Soalnya, apa yang saya tulis itu adalah refleksi dari pengalaman pribadi selama ini. Tetapi Anda jangan lalu patah hati, dong! Saya sendiri tetap yakin, masih banyak laki-laki yang baik. Salah seorangnya mungkin Anda sendiri, he-he-he!”.

Saya pernah membaca profil Dwinta Maharani Pusporini sebagai penulis. Usianya sudah mendekati setengah abad. Sekitar dua puluh tahun diatas usia saya. Bagaimana saya harus menyapanya? Saya pikir, pantaslah kalau saya pakai “Ibu”. Dan itulah yang saya lakukan, ketika kami bertukar SMS pada subuh hari berikutnya. Apa yang terjadi?

“Saya memang mulai tua,” tulis Dwinta. “Tetapi itu tidak serta merta memberi hak kepada Anda untuk menyapa saya dengan “Ibu”. Saya protes keras dan menuntut Anda mencabut kembali sapaan itu, he-he-he! Mengapa? Kata “Ibu”, buat saya, tidak hanya sekadar sapaan. Tetapi sekaligus menunjukkan status seorang wanita in optima forma. Punya suami. Lalu menjadi ibu. Bagaimana dengan saya sendiri? Status itu tidak akan pernah saya capai, sampai kapan pun. Saya jauh dari layak dan patut untuk disapa dengan “Ibu”. Oleh karena itu, Anda boleh menyapa saya dengan apa saja, Bung Faqri, kecuali “Ibu”. Ini tuntutan! Kalau Anda tidak penuhi, Anda akan segera berhadapan dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu, he-he-he!”.

Maka saya pun memutuskan menyapanya dengan “Mbak” saja (terlepas dari umumnya sapaan itu ditujukan kepada para PRT). Dan arus SMS subuh itu pun mengalir dengan lancar. Dan Dwinta yang memang dominan jadi pengambil inisiatif. Hal yang mudah dimengerti. Pengalamannya sebagai penulis membuatnya selalu mudah membahas tentang apa pun. Dan saya menerima kenyataan itu dengan legawa. Sebagai orang muda, masih sedikit sekali pengetahuan dan pengalaman yang dapat saya refleksikan. Mau bicara tentang keadaan sekitar, daerah tempat saya bertugas ini tidak terlalu menarik atau seksi. Sedikit sekali yang bisa dibicarakan. Jadi, biarlah Dwinta yang ambil prakarsa, saya hanya sekadar menambah-nambahi atau malah cuma menikmati.

Pada suatu pagi, dia menulis, “Faqri, seusai salat Subuh tadi, aku bermanja-manja dengan memberikan kesempatan kepada diriku untuk melakukan sesuatu yang jarang sekali kulakukan: duduk di depan jendela kamarku (yang ada di lantai tujuh). Jendela yang luas itu langsung menghadap ke timur. Dan apa yang kusaksikan? Wajah langit di timur sana dipenuhi mega merah kekuning-kuningan. Lalu, menyembullah bola merah matahari, makin membesar, makin meninggi, dengan lambat tapi pasti mengusir kegelapan. Sudah berapa lamakah matahari menjalankan tugas rutinnya mengusir kegelapan itu? Kekuatan dan kekuasaan macam apakah yang telah menggerakkan sang matahari itu secara begitu ajeg? Tidak bisa tidak, pastilah Allah Yang Maha Besar. Allahu Akbar! Faqri, jangan pernah melupakan kekuatan, kekuasaan dan kebesaran Allah, ya?”

Selama ini, kami memang belum sampai membicarakan hal-hal yang agak terlalu bersifat pribadi. Seperti di mana Dwinta berdiam, misalnya. Tetapi dengan pemeriannya tentang kamarnya yang berada di lantai tujuh, saya pikir, tentulah dia berdiam di apartemen atau yang semacam itu.

Dalam laluan waktu, saya mulai merasa, ada banyak hal yang rupanya tak ingin dibicarakan oleh Dwinta. SMS subuhnya lebih banyak membicarakan secara spontan hal-hal yang dilihatnya, didengarnya atau dipikirkannya pada saat dia menuliskan SMS itu. Saya pikir, dia adalah jenis (perempuan) yang suka berceloteh dan mengharapkan orang mendengarkannya. Kalau benar begitu, saya memang pasangan yang cocok. Saya memang orang yang lebih suka mendengar. Dan memang tak terlalu bisa cerita.

Sifat Dwinta yang agak tertutup makin saya rasakan, ketika suatu hari saya coba telpon langsung, hendak meminta konfrmasi mengenai sesuatu yang disebutnya dalam SMS kirimannya. Panggilan itu justru dijawabnya dengan SMS, “No phone call, please!”. Saya merasakan, ada aroma gusar dalam pesan Dwinta itu.

Tiga hari kemudian, saya terima pula SMS subuh Dwinta, yang sangat antusias menyaksikan tersembulnya mega merah mengiringi terbitnya matahari di timur sana. Tetapi penutup SMS itu membuat saya jadi bertanya-tanya, “Faqri, dalam dua subuh ke depan ini aku tak akan mengunjungimu. Kalau pada subuh ketiga aku masih belum juga berkunjung, hubungi 085717208065. Tentu kamu akan tahu lebih banyak tentang diriku. Salam hangatku selalu, Faqri. Takkan kulupakan kehangatan persahabatan denganmu selama ini. Dwinta Maharani Pusporini.”

***

Dan subuh ini, masih belum ada SMS dari Dwinta, padahal batas tiga hari itu telah berakhir. Maka tak ayal lagi segera saya kirim pesan melalui nomor yang diberikannya itu, tanya, ada apa dengan dirinya. Tidak lama kemudian, di luar dugaan saya, bukan penanda SMS masuk yang saya dengar, tetapi panggilan langsung. Dan berasal dari 085717208065.

“Mbak Dwinta?” saya menyambut dengan antusias.

“Bukan, Pak. Saya Martiani. Nomor yang Bapak kirimi SMS itu adalah nomor saya.”

“Tetapi kata Mbak Dwinta……….”

“Jadi Ibu Dwinta yang memberikan nomor ini kepada Bapak?!?”

“Betul!”

“Aneh sekali perlakuan Ibu Dwinta ini. Kapan tepatnya itu dilakukan, Pak?”

“Tiga hari yang lalu, selepas waktu Subuh.”

Subhanallah! O, ya, Pak, sebelum berlanjut, baik saya beritahukan, saya dokter yang merawat Ibu Dwinta.”

“Merawat?!? Jadi Mbak Dwinta sedang dirawat!?”

“Betul, sudah sejak enam bulan yang lalu. Di Rumah Sakit Hati Suci, Pak.”

Masya Allah! Apa sakitnya, Dok?”

“Kanker larynx, Pak. Dan sudah lanjut. Pita suaranya sudah tidak berfungsi. Maka beliau tak lagi bisa bicara. SMS itu menjadi salah satu cara beliau berkomunikasi. Malah sampai membentuk jaringan pertemanan segala. Bapak agaknya menjadi salah seorang dari jaringan itu. O, ya, maaf, siapa nama Bapak?”

“Faqri.”

“Nah, Pak Faqri, saya merasa sedang dihadapkan kepada suatu misteri besar, karena tindakan Ibu Dwinta memberikan nomor saya kepada Bapak.”

“Mengapa begitu, Dok?!?”

“Karena menjelang tengah hari pada hari beliau memberikan nomor telpon saya kepada Bapak, beliau koma.”

Subhanallah! Sampai saat ini, Dok?”

“Tidak!”

“Jadi beliau sadar kembali?!?”

“Tidak! Beliau meninggal bakda Magrib, pada hari itu juga.”

 

M. Joenoes Joesoef, kelahiran Ulee Lheue 24 Juni 1938. Tinggal di Bekasi.