Cerpen Anwar Nasyaruddin (Fajar, 10 November 2019)

Doti Sianida ilustrasi Fajarw.jpg
Doti Sianida ilustrasi Syahrizal/Fajar 

Lamat-lamat aku merasakan tengah terbaring di sebuah ranjang. Di sekujur tubuh terasa sakit dan berat. Perlahan aku membuka mata, terlihat langit-langit berwajah putih bersih, ada AC menempel di dinding, hembusannya terasa semilir. Aku mencoba melihat ke arah kaki, dibalut gips, demikian pula kedua tanganku. Ada botol infus dan kantung darah tergantung di kiri dan kanan ranjang dan selangnya ke arah tanganku.

Aku melihat anakku di samping ranjang, menatap wajahku dengan sedih, dan ketika melihatku tersadar, terdengar ia memanggil istriku. “Amma, Tetta sudah sadar !”

Aku mendengar suara kaki mendekat dan melihat istriku tersenyum sedih dan menyentuh dahiku. Aku berusaha tersenyum membalasnya.

“Aku berada di mana?” Tanyaku lirih.

“Ada ki di ruangan ICCU Daeng. Dua hari ki tidak sadar, karena kecelakaan,” jawab istriku pelan.

Perlahan-lahan pikiranku menerawang.

“Saudara Baso, sejak hari ini perusahaan memberhentikan saudara sebagai karyawan,” ketus manajer umum perusahaan di ruangannya, sambil menyerahkan surat pemberhentianku.

Sebenarnya aku ingin menolak menerima surat tersebut, dengan alasan bahwa tuduhan penggelapan uang perusahaan adalah Ëtnah. Tapi manajer umum tidak menerima semua alasanku.

Baca juga: Senja di Bukit Gojeng – Cerpen Dul Abdul Rahman (Fajar, 29 September 2019)

Kantor tempat aku bekerja—sebuah perusahaan distributor obatobatan, tiba-tiba melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap diriku. Aku dituduh menggelapkan uang perusahaan cukup besar, sehingga konsekuensinya aku harus diberhentikan. Untungnya, aku tidak diadukan ke polisi, seandainya itu terjadi, semakin celakalah aku.

Akhirnya aku meninggalkan kantor perusahaan itu dengan perasaan sedih, lunglai dan penuh kemarahan. Sedih memikirkan nasib keluargaku selanjutnya, lunglai karena ketika aku meninggalkan perusahaan aku belum makan, dan marah karena aku merasa dikhianati oleh salah seorang teman sesama karyawan di perusahaan itu.

Manruddin, begitu nama bendahara perusahaan yang telah mengubur karierku. Sejak  setahun terakhir, laporan keuanganku diubah agar terjadi selisih pembayaran. Aku dianggap merekayasa laporanku, uang yang aku setor ke bagian keuangan dari hasil tagihan di daerah tidak sesuai dengan yang seharusnya. Dasar selisih itu dijadikan tuduhan aku memanipulasi keuangan dan menjadi alasan pula aku dipecat.

Seminggu setelah aku mengurung diri di rumah, aku menyampaikan kepada istriku bahwa aku akan keluar kota dengan alasan untuk menenangkan diri. Padahal aku ke sebuah dusun kecil di sebelah timur Gunung Bawakaraeng, untuk menyalurkan kemarahanku. Di dusun itu aku mendengar ada seorang dukun yang biasa membantu orang yang mengalami kesulitan dalam menjalani hidup ini. Perjalananku menggunakan sepeda motor. Aku membutuhkan waktu empat jam hingga sampai di dusun tersebut.

Baca juga: Menjadi Martir Bukan Perkara Gampang – Cerpen Ken Hanggara (Fajar, 22 September 2019)

Ternyata dukun yang aku harapkan untuk melaksanakan rencana halusku mencelakai orang dengan cara Doti, tidak bisa membantuku. Persyaratan yang ia minta tidak sanggup aku penuhi, di samping berat, juga meminta bantuan makhluk dari dimensi lain.

Akhirnya aku pulang dengan kecewa. Namun, aku mendapat pengetahuan tentang cara kerja doti, untuk itu aku akan melakukan dengan caraku.

Sesampainya di kotaku, aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mencari penginapan sederhana yang agak sepi dari keramaian. Sengaja memilih penginapan sederhana karena kemampuan keuangan terbatas, lagi pula aku ingin keadaannya tidak hingar-bingar, sehingga rencanaku bisa terlaksana dengan tenang dan lancar.

Aku menyiapkan bahan-bahan ritualku. Dato-dato aku buat sendiri dari kain dan di dalamnya aku masukkan kapas. Racun serangga aku beli dari toko pertanian. Darah hewan semangkuk aku beli di Pamolongan. Kemenyan dan tempurung kelapa aku beli di pasar tradisional. Aku ambil segenggam tanah kuburan dari pemakaman umum, dibungkus dengan kain kafan.

Baca juga: Senyum Ranum Gadis Chrysanthemum – Cerpen Faris Al Faisal (Fajar, 30 Juni 2019)

Setelah aku yakin cukup segala kebutuhan, aku memulai ritual Doti pada malam Jumat Kliwon. Bagi sebagian orang Jawa, memercayai bahwa malam Jumat Kliwon merupakan malam keramat, karena para makhluk halus keluar dari sarangnya. Walaupun aku lakukan ritual di malam Jumat Kliwon, bukan berarti aku akan meminta bantuan makhluk halus, aku sudah bertekad mengandalkan kemampuanku.

Aku menunggu sampai lewat tengah malam, karena disaat itu dimensi ruang dan waktu menipis dan cenderung melebur.

Aku membakar kemenyan dalam tempurung kelapa, bau harum khas kemenyan menyebarkan suasana magis. Dato-dato aku dudukkan sebagai simbol Manruddin  aku siram dengan darah hewan bercampur dengan tanah

kuburan. Selanjutnya racun serangga yang aku maknai sebagai racun sianida aku siramkan pula ke datodato, sambil berkonsentrasi dengan menurunkan kesadaranku dari beta ke  alfa, terus menurun sampai theta. Di kesadaran inilah aku melihat Manruddin sedang duduk minum kopi di kantin kantor bersama beberapa orang. Tiba-tiba ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Setelah dua jam aku terbenam dalam kesadaran alfa-theta, perlahan lahan aku kembali ke kesadaran beta dan menyelesaikan ritualku.

Baca juga: Pabrik di Seberang Jalan – Cerpen Mufa Rizal (Fajar, 07 Juli 2019)

Jam sebelas siang aku terbangun di penginapan, dikejutkan suara dering telepon genggamku. Aku melihat nama Arman, bekas teman kantorku.

“Halo,” kataku.

“Baso, kamu mungkin belum dengar? Manruddin tadi dibawa ke rumah sakit dan menghembuskan napas terakhirnya di perjalanan. Ia mendadak sesak napas di kantin ketika sedang minum kopi. Menurut dokter yang memeriksanya, ia keracunan arsenik. Tapi ketika diperiksa kopi yang diminum, tidak mengandung racun. Mayatnya masih ada di rumah sakit, kabarnya akan diautopsi. Kami teman-teman masih di rumah sakit ini.” Jelas Arman.

“Aku turut berduka dan bersedih mendengar kabar ini,” kataku tenang.

Hari itu juga dengan perasaan senang aku segera meninggalkan penginapan, pulang ke rumah menemui istri dan anakku yang sudah merindukanku.

Ketika keluar dari penginapan, tiba-tiba aku terhempas dari atas sepeda motor. Aku merasa melayang-layang di udara, dan melihat tubuhku di bawah tergeletak bersimbah darah tidak jauh dari sepeda motorku yang rusak parah. Aku melihat pula sebuah mobil sedan ringsek kap depannya. Orang-orang berlarian berkerumun, selanjutnya mengangkat tubuhku ke sebuah pete-pete untuk membawa ke rumah sakit.

Aku mendengar suara langkah-langkah mendekat. Aku menoleh, sejumlah orang berpakaian putih sudah mengelilingi ranjangku. Salah seorang di antara mereka menjelaskan kondisi tubuhku kepada yang lain. Dari penjelasan itu aku paham, ternyata tubuhku sudah mengalami beberapa kali operasi untuk menyambung dan membetulkan kondisi tulang-tulangku yang patah-patah. Dan akan dilakukan operasi lagi.

“Ya, Allah, ampunilah dosadosaku,” gumamku sedih.

 

Catatan:

Doti: Guna-guna.

Tetta: Panggilan ayah dalam suku Makassar.

Daeng: Panggilan kakak.

Dato-dato: Boneka kecil menyerupai manusia.

Pamolongan: Tempat Pemotongan hewan.

 

Anwar Nasyaruddin, penulis, dan editor. Tinggal di Gowa.