Cerpen Aljas Sahni H (Suara Merdeka, 10 November 2019)

Bulu-Bulu Gemetar ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdekaw.jpg
Bulu-Bulu Gemetar ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Pohon kelapa besar dan tinggi. Pelepah nyiur menjuntai-juntai dan beberapa buah kelapa hijau menantang liur untuk mengalir. Di tubuh kekar pohon itu terdapat tupai yang tertatih-tatih memanjat.

Kaki tupai itu tampak pincang. Tupai itu berjuang mencapai puncak. Sebelum tupai itu mencapai tujuan, kubidik dengan senapan, dan kutembak mati.

Gedebuk! Suara tanah dihantam mayat tupai itu membuatku tertawa penuh kemenangan. Aku berniat berbaik hati pada tupai itu. Aku tak tega bila melihat tupai itu setiap hari memanjat dari pohon ke pohon lain dengan kaki pincang. Lebih baik kubunuh. Ya, mati adalah pilihan tepat bagi tupai itu.

Tanpa nyawa, tupai itu tak payah bersusah-susah lagi. Dengan kematian, tupai itu akan sedikit berguna. Dagingnya dapat mengurangi berisik dalam perutku.

Aku mengambil bangkai tupai itu. Darah mengalir dari tubuh yang terkena peluru. Melihat itu, bulu-bulu di sekujur tubuhku gemetaran. Hanya ada satu bulu tangguh yang kerap menyemangati. Ialah bulu hidung yang kubiarkan panjang melihat dunia luas.

Baca juga: Lelaki di Pekuburan – Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 November 2019)

“Bagus! Kau sungguh baik hati, rela menembak tupai itu agar hidupnya tak lagi sengsara,” bisik si bulu hidung.

Mendengar itu aku tersenyum dan yakin aku memang baik hati. Ia benarbenar berbeda dari bulubulu lain. Ia bulu favoritku. Bulu yang kurawat sepenuh cinta.

***

“Bersainglah. Ingat! Anakku tak boleh kalah,” tutur Ayah agak mengancam.

Kalimat itu pun mengakar di dalam tempurung kepalaku. Aku tak mau membuat ayahku malu. Seperti kata Ayah, aku akan bersaing sampai denyut nadi terakhir. Aku akan berlomba-lomba dengan handai tolan untuk mencapai puncak. Aku akan menghalalkan segala cara untuk menang dan tak membuat ayahku malu.

Perihal bersaing itu sudah kulakukan semenjak sekolah. Pada malam sebelum ujian, kubuat beberapa contekan. Esoknya, aku dapat mengisi soal-soal ujian secara remeh-temeh. Mata teman-teman berkedip padaku, memberiku isyarat tubuh agar kuberikan mereka contekan.

Tentu, dengan amat berbaik hati, kulempar lembar jawaban pada mereka. Mereka amat senang, sepertiku yang juga senang memberikan mereka contekan. Dengan gegas mereka menyalin jawabanku ke lembar jawaban. Ujian-ujian berikutnya pun begitu. Aku dengan sukaria memberikan lembar jawabanku pada mereka.

Baca juga: Lipstik Plastik – Cerpen Dul Abdul Rahman (Suara Merdeka, 27 Oktober 2019)

Selepas ujian, setelah nilai diumumkan, mereka yang semula senang dan berbaik hati padaku, berbalik arah: geram padaku. Mereka meradang, menatapku nyalang. Nilai mereka rendah, sedangkan aku tinggi. Ya, sudah pasti, sebab lembar jawaban yang kuberikan pada mereka adalah jawaban salah yang kuisi asal-asalan. Selepas mereka mencontek, kuubah pada jawaban yang benar. Aku cerdik bukan?

O, barangkali karena kecerdikan itulah aku jadi babak belur. Mereka mengeroyokku, mengataiku, bahkan meludahiku sebagai teman makan teman. Namun aku tak peduli. Terdengar suara dari lubang hidungku yang gelap. Kupikir itu kutu, ternyata bulu hidungku yang masih balita. “Tenang, jangan menyerah!” pekiknya dari tempat gelap. “Aku akan selalu ada untukmu.”

Mendengar itu, api pun makin membara di dadaku. Sementara itu, bulu-bulu lain gemetaran. Aku tak peduli pada bulu lain. Andai mereka bukan bulu, sudah kugerus habis. Aku menghormati bulu hidung yang senantiasa ada untukku, sehingga aku tak enak hati bila melenyapkan teman seperbuluannya.

“Terima kasih, Bulu Hidung. Aku janji! Aku akan merawatmu hingga mati,” ujarku.

Baca juga: Insiden di Jalan Kirik – Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

Karena suara bulu hidung itulah, aku menjadi tak pernah gentar bersaing. Kesalahan di sekolah menengah akhir kuulang lagi dan lagi di bangku kuliah. Karena itu aku dijauhi banyak teman. Karena itu pula, selulus kuliah aku menjadi pemburu ulung.

Aku bukan tidak melamar pekerjaan kantoran. Aku pernah melakukan itu. Namun setiap kali aku melamar pekerjaan, pasti HRD menyuruhku mencukur bulu hidung yang menjuntai keluar. Tentu aku marah mendengar itu. Ia telah menghina temanku si Bulu Hidung. Kuhajar HRD itu hingga mulutnya tak lagi mengatakan katakata sampah seperti itu lagi.

Semenjak itu aku memutuskan menjadi pemburu saja. Kutembaki hewan-hewan itu agar terisi perut berisikku ini. Sebagai pemburu ulung, tentu aku tak mau ada orang ikutikutan memburu. Biarlah aku seorang diri di hutan ini. Orang lain jangan. Bila ada pemburu lain, predikat pemburu ulung pun pergi dariku.

Untuk mewujudkan itu, kumainkan siasat bagus. Kukatakan pada pemburu-pemburu lain yang hendak masuk ke hutan ini: hutan ini berhantu. Mereka pun bergidik ngeri dan enyah dari gerbang hutan. Hantu memang barang menakut-takuti paling benar.

Kalau masih ada yang berani masuk, akan aku takut-takuti dengan suara-suara dan boneka berambut panjang yang kupasang di dahan-dahan pohon. Kini, kulihat yang serupa boneka berambut panjang sedang menjauh. Kupikir perempuan itu adalah hantu atau boneka hantuku yang menjadi hantu sungguhan.

Baca juga: Menembak Mati Tujuh Orang – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

Namun makin dekat aku padanya, kian yakin ia benar-benar hantu yang bergentayangan dalam tempurung kepalaku. Kuketahui ia perempuan dari desa sebelah yang baru tampak kecantikannya. Aku jatuh cinta padanya, dan tak hanya aku yang jatuh cinta padanya.

“Ingat! Anakku tak boleh kalah.” Kalimat ayahku itu kembali terngiang di kepalaku. Aku tak boleh kalah dan saat ini aku akan bersaing untuk mendapatkan perempuan itu. Terima kasih, Ayah. Meski kau sudah mati, kata-katamu tetap abadi di hati ini.

Bermodal dukungan dari bulu hidung, aku siap bersaing. Kugunjingkan perempuan itu yang tidak-tidak. Kudekati pemudapemuda yang juga mengincarnya bahwa perempuan itu jelmaan hantu. Dengan mudah mereka pun percaya. Sebab, perempuan itu memang tinggal seorang diri di rumah kumuh mengerikan. Tak ada yang tahu ke mana ayah dan ibunya, sehingga mereka pun percaya dengan gosip yang kusebarkan.

“Sebentar lagi aku menang. Aku akan membuktikan,” ucapku pada bulu hidung.

Ia pun mengiyakan. Aku meminang perempuan itu. Seperti sudah kuduga, ia pun menerima pinanganku. Sudah kupastikan aku memang akan segera menang dalam persaingan ini.

Baca juga: Magi – Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

Akan aku buktikan pada mereka, aku lelaki jantan yang akan segera menikah dengan perempuan cantik. Kelak, aku akan memiliki puluhan anak sebagai bukti aku benarbenar jantan. Atau begini saja, pada malam pertama nanti akan kuundang mereka untuk menonton keperkasaanku yang tiada tanding. Ah! Itu terlalu tabu.

Pernikahan pun berlangsung. Aku tak punya uang untuk membuat pesta besar-besaran, sehingga cukup penghulu dan dua tiga saksi untuk memeriahkan pernikahan kami. Kala kami sudah seratus persen sah, kukecup keningnya, kubisiki telinganya, “Persiapkan dirimu nanti malam. Akan kudaki dua gunung sekaligus.”

Ia tersenyum menyeringai.

Akhirnya temanku bertambah, selain bulu hidung yang telah menemani sejak dulu, kini aku juga punya seorang istri. Istriku cantik, begitulah kata orang-orang. Pongah pun menjalari sekujur tubuhku. Aku tahu, istriku memang cantik dan lelaki jantan takkan membuat istri cantik terlalu lama menunggu. Aku jadi tak sabar menunggu malam lekas datang.

Malam ini, keperkasaanku kupertaruhkan. Angin menyelusup ke celah bajuku, menciptakan dingin yang amat. Dingin malam ini sungguh berbeda, dingin karena angin dan dingin sebab memandang wajah jelita istriku. Ia memegang tanganku, mengedipkan mata, tanda ia sama: butuh kehangatan.

Baca juga: Sayup Tifa Mengepung Humia – Cerpen Massha Guissen (Suara Merdeka, 29 September 2019)

Kubopong tubuh istriku. Kendati berat, tetap kubopong, karena kejantananku sedang kupertaruhkan. Kumasuki bilik yang telah disiapkan. Binatang-binatang malam bernyanyi dan pohon-pohon menari-nari. Bersamaan dengan itu, telah kucumbu istriku dengan kata-kata menagih.

Ia pun terbuai oleh kata-kataku. Kami berpelukan dan berciuman. Malam ini terasa hanya milik kami berdua. Cepat-cepat kutanggalkan pakaianku, membuktikan pada dunia, aku sungguh jantan. Tak hanya itu, kutanggalkan pula pakaian istriku. Sampai di celana dalamnya, bulu-buluku gemetar. Begitu pun bulu hidungku, ikut-ikutan gemetar, melihat pemandangan meloyokan itu. Sudah kupandangi dengan saksama, tetapi tetap tak kutemukan lubang yang kucari selama ini. Semua datar. Seketika tubuhku melemah. Aku seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Sialan, aku sudah kalah sebelum mulai. (28)

 

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta, anggota literasi Iyaka dan salah seorang pendiri Sanggar Becak.