Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 03 November 2019)

Seseorang yang Kusebut Kekasih ilustrasi Medan Posw.jpg
Seseorang yang Kusebut Kekasih ilustrasi Medan Pos 

Menjadi kekasihmu ternyata tidak mudah. Sesekali aku harus menjadi dewasa, untuk memahami bahwa kau lelaki yang punya ego tinggi. Sesekali aku harus menjadi pemarah, untuk mengarahkanmu agar tidak berlaku gila. Dan sesekali aku harus menjadi yang mengalah, untuk memastikan bahwa hubungan kita akan baik-baik saja. Melakoni kesemuanya ternyata tidak mudah. Tapi karena aku mencintaimu, kuyakinkan padamu bahwa aku mampu.

Barangkali belakangan ini kita sering berkutat dengan emosi. Bukan, bukan karena cinta kita semakin menipis. Bukan pula karena rasa kita yang kian terkikis. Namun karena jarak dan intensitas temu yang tak kunjung bertamu. Membuat retinaku kewalahan menuangkan rindu. Sementara cangkirnya sedang berada di tempat yang jauh. Aku paham bahwa cinta kita bukanlah cinta usia remaja. Yang harus selalu bersama kemana-mana. Atau selalu pergi berdua menyulam bahagia. Cinta kita tidak lagi berada di tempat itu. Dia harus mendewasa dengan jarak dan waktu yang terus beradu.

Sering kita bertengkar meributkan hal-hal kecil. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu atas kejadian rusuhnya hatiku. Yang nyatanya sering kuucapkan bahwa aku kehilangan waktumu. Pun aku kehilangan wadah rinduku. Dan kamu selalu menanggapinya dengan diksi yang salah. Salah menurut pandanganku. Membuat kita kembali beradu emosi. Kembali mengundang perih padahal saat itu rindu tengah membumbung tinggi.

Aku yang berisik, bertemu kamu yang diam. Tengkar kita tidak selesai. Berlanjut ke hari berikutnya. Inginku menyelesaikan segalanya sebelum fajar tiba. Sementara kamu didera lelah yang tak berkesudahan, bersebab ragamu yang kian letih di makan hari. Bukan aku tak paham tentang sibuknya kamu dan pekerjaan itu. Tapi sebagai perempuan, aku hanya tidak ingin hariku terlewatkan tanpa kamu. Aku hanya ingin kamu ada, meski hanya lima menit. Setidaknya hariku tidak kosong karena kealpaan raut wajahmu.

Tapi pola pikir lelaki merusak segalanya. Kamu beranggapan bahwa berbicara dan menyelesaikan tengkar dengan letih yang dipaksakan, hanya akan melahirkan perdebatan. Jika warasku utuh, barangkali aku menerima saranmu. Untuk menyudahi percakapan kita malam itu dan berakhir dengan pejam dan senyum terkembang. Nyatanya, aku sendiri kesulitan mewaraskan diri ketika dihinggapi emosi.

Ah, barangkali kita adalah sepasang kekasih yang tahan diterpa emosi. Meski sesekali saling melubangi dada, nyatanya kita berusaha kembali mengobatinya. Kamu obati lukaku. Aku obati lukamu. Kemudian, untaian maaf akan kembali memenuhi gendang telinga, dan bermuara di dalam dada.

Ratusan hari aku menjadi kekasihmu. Aku menyadari bahwa menjadi sempurna bukanlah tujuan utama. Sebab telah banyak pula luka-luka di dadamu bersebab ulahku. Meski semua kulakukan tanpa sengaja, tetap saja itu menimbulkan bekas yang tak mudah hilang. Maafmu selalu tumpah di tubuhku. Untukku, kamu lebih banyak mengalah. Men- galah untuk aku yang selalu ingin memenangkan pendapat. Mengalah untuk aku yang egois dan mudah menangis.

Barangkali tengkar kita selalu dapat melahirkan cinta. Sebab debit perasaanku kian bertambah, ketika aku mendengarmu marah-marah. Meski kesal, aku menyadari satu hal. Bahwa rasaku tidak hilang hanya karena kamu menyebalkan.

“Bisa nggak sih satu hari aja, nggak bikin aku marah-marah?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Nggak bisa!” jawabmu datar. “Itukan sudah keahlianku,” tambahmu lagi.

“Terus saja lakukan, buat aku muak dan ingin meninggalkan semuanya!” ancamku lagi. Kali ini terdengar lebih serius.

“Coba saja kalau berani!” kamu malah balik mengancamku.

“Jangan menyesal, ya!” tegasku.

“Kamu yang akan menyesal nanti,” bantahmu. Membuat aku kewalahan melancarkan serangan balik.

“Jangan sampai menyesal jika tidak ada lagi yang membuatmu kesal, namun kemudian membujukmu dengan sangat dalam seperti aku,” tambahmu. Kali ini aku yang ciut. Sial!

“Di luar sana mungkin banyak yang suka kamu. Tapi tidak akan ada yang mencintai kamu seserius aku!” ungkapmu. Kurasakan jemarimu mengelus kepalaku. Mendinginkan emosi yang sempat mendidih.

Begitulah. Tengkar kita selalu bisa menumbuhkan cinta. Tengkar kita selalu mampu membuat aku ingin meninju rahangmu kuat-kuat,untuk kemudian mendekapmu dengan sangat erat.

Teruntuk kamu; seseorang yang tak ingin aku ganti.

Bila suatu hari nanti tengkar menampar kesabaran kita. Jauh lebih keras dari yang pernah kita rasakan. Bertahanlah, sebab cinta kita tidak dibangun dari lapuknya kesetiaan. Bila suatu hari nanti amarah mengguncang sudut dada kita. Jauh lebih kuat dari yang pernah kita rasakan. Menguatlah, sebab cinta kita selalu dibangun dengan saling memaafkan.

Teruntuk kamu; seseorang yang kusebut kekasih.

Menyetialah, sebab kamu adalah muara segala perasaan cinta. Sebab kamu adalah gumpalan rindu dalam bentuk nyata. Sebab kamu, aku selalu ingin mengakadkan rasa. Hingga rumah kita satu, hingga bahtera kita utuh.

 

Nanda Dyani Amilla. Penulis adalah ALUMNI FKIP UMSU, 2018. Pengajar di SMPN 1 Sunggal.

 

Advertisements