Cerpen Rosi Ochiemuh (Solo Pos, 03 November 2019)

Senyuman Delima ilustrasi Hengki Irawan - Solo Posw.jpg
Senyuman Delima ilustrasi Hengki Irawan/Solo Pos 

Teriakan di pagi itu menerjang telinganya bersama ketukan pintu yang keras menggertak membangunkan dia dari tidur yang tenang. Hanya di waktu tidur, dia merasa hidup dan jadi manusia bahagia. Dengan tidur itu pula dia bisa menyusun cerita hidup yang indah dari mimpi-mimpi dan menciptakan bahagia sendiri.

“Lima! Bangun! Dua puluh menit terlewat!” teriak tuannya. Lelaki tua itu menggerutu, padahal dia baru tiba di rumah pagi itu.

Delima mengucek mata, pelan-pelan dia bangkit dari tempat tidur. Kamarnya selalu dikunci dari dalam, juga jendelanya. Karena ingat selalu pesan tuannya, “Setiap sore menjelang senja, jangan lupa kau tutup semua pintu dan jendela. Meski ada aku atau tidak ada aku!”

Pertama-tama dia buka pintu kamar. Gegas menuju ruang dapur untuk memasak, karena lelaki tua itu sudah minta sarapan pagi. Lelaki tua itu membawakan sekantong besar belanjaan. Di dalamnya terdapat beberapa jenis sayuran, ikan bawal, cabai, bumbu dapur, tomat, dan bawang. Tidak ada minyak goreng, pikirnya. Berarti hari ini dia tidak memasak dengan minyak goreng. Semua akan dimasak tanpa minyak, mungkin dibuat rebusan, ikan pepes atau ikan bakar saja. Dia mesti tanya lagi tuannya.

“Masak seperlunya saja. Tapi ikannya dimasak semua sekalian untuk makan siangku. Ikannya dibakar dan buatkan sambal mentah beserta rebusan sayuran. Nasinya kau pakai beras merah,” sahutnya dari balik pintu dapur berkacak pinggang. Delima mengangguk, dan berusaha memasak cepat.

Baca juga: Rambut Marlin – Cerpen Rosi Ochiemuh (Radar Mojokerto, 02 September 2018)

Pukul lima lewat tiga puluh menit, Delima sudah bekerja di dapur. Setelah memasak, dia akan mencuci semua pakaian, menyetrika pakaian lelaki tua itu, membersihkan kamar, ruang tamu, teras, dan halaman. Sebisa mungkin tidak menimbulkan berisik di telinga si lelaki tua. Karena setelah sarapan pagi dan minum secangkir kopi dan mengisap kreteknya, lelaki tua itu akan tidur di kamar khususnya. Tidur sampai siang menjelang sore, setelah bangun dia akan pergi lagi.

Katanya, dia bekerja dan memiliki berbagai usaha. Mulai dari kios pakaian jadi sampai kios-kios di pasar itu hampir setengahnya milik Rohman—si lelaki tua itu. Tetapi Delima tidak mengerti, kenapa untuk pekerjaan rumah tangga dan sebagainya, lelaki tua itu sangat pelit menyewa satu pembantu rumah tangga. Apalah artinya dia menikah dengan lelaki yang kata ibu dan ayahnya, akan dijamin kehidupannya lahir dan batin.

***

Delima menikah dengan lelaki tua itu yang sudah empat kali menikah dan cerai. Lelaki itu biasa dipanggil warga sekitar Bang Rohman. Seharusnya Delima memanggilnya Pak Rohman, bukan Bang Rohman. Usia lelaki itu sebaya dengan usia ayahnya. Mungkin karena dia orang terpandang dan punya usaha di mana-mana, maka warga di tempat tinggalnya menghormati layaknya pahlawan.

Baca juga: Kekasih dari Bulan – Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)

Kenapa Delima menikah dengannya? Alasannya klise, selalu sama di kehidupan pelik mana pun. Ayah Delima memiliki utang uang dan utang budi. Jadi ketika tak sanggup lagi melunasi utang uangnya karena kehabisan cara, maka ayahnya menawarkan Delima—anak pertamanya untuk dijadikan istri. Berharap Delima bisa hidup lebih bahagia daripada gadis-gadis lain di kampungnya.

Kesepakatan terjadi dengan cepat, tanpa bertanya sedikit pun perasaan gadis itu lagi. Namun, entah mengapa gadis itu tidak punya kekuatan besar untuk memberontak. Berontak dari segala ambisi dan manipulasi lelaki tua dan ayahnya.

“Ayah minta kau mematuhi perintah ayah. Menikah dengan lelaki pilihan kami. Demi kami, demi adik-adikmu, Delima. Kau harapan kami.”

“Bukannya kami tak sayang, kepadamu, Nak. Tapi, ibu dan ayah telah kehabisan cara untuk bisa membayar utang-utang kita pada Bang Rohman. Belasan tahun hutang itu, selepas kau lahir.”

Baca juga: PAITUA – Cerpen Aljas Sahni (Solo Pos, 06 Oktober 2019)

Delima menunduk, air mata jatuh satu per satu ke lantai karena perkataan memelas ayah dan ibunya. Andai saja dia tidak dilahirkan sebagai perempuan, pikirnya. Sudah pasti dia akan bekerja keras dan utang-utang kedua orangtuanya bisa lunas di tangannya. Sayang, dia cuma seorang perempuan.

Hari-hari dijalani olehnya seperti di tempat asing dan berat. Betapa berat pertama kali menjadi istri orang yang tak dikenal. Apalagi jadi istri lelaki yang sudah tua yang sudah makan asam garam. Waktu itu dia sangat takut pertama kali berada dalam kamar lelaki itu. Rumah sebesar itu hanya ditinggali oleh lelaki tua dan dirinya. Hanya satu tukang kebun tiap pagi datang merapikan halaman rumah, lalu selesai bekerja dia pulang.

Malam pertama pengantin yang sering dibahas oleh teman-temannya dulu sewaktu masih sekolah. Kini dia akan merasakan itu. Badannya mulai panas dingin, mukanya pucat pasi meski lipstik dan bedak tebal menutupi, tetap serupa mayat hidup. Diam duduk sambil memeluk lutut di atas ranjang, dan menunggu apa saja yang akan dilakukan lelaki tua itu padanya di malam pertama.

Apa yang terjadi rupanya malam pertama bukanlah serupa itu, tubuh bertemu tubuh, kulit bertemu kulit. Lelaki tua itu masuk ke kamar dan mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian biasa. Duduk di bangku meja rias sambil bercermin memandangi penampilannya. Delima melihatnya aneh. Namun, lelaki tua itu sadar jika ada seseorang memerhatikan dia dalam kamarnya. Barulah lelaki tua itu mendekati pelan-pelan dengan pandangan seadanya.

Baca juga: LELAKI YANG MENGGALI SERIBU LAHAD – Cerpen Tiqom Tarra (Solo Pos, 29 September 2019)

Delima makin panas dingin, dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua tubuhnya kaku, dia belum ganti pakaian pengantinnya sejak siang. Pelukan pada dua lututnya makin kencang. Lelaki tua itu makin dekat dan duduk di sampingnya di atas ranjang dengan dua kaki yang masih terpancang di lantai.

“Namamu Delima, bukan? Kupanggil saja, Lima. Pas sekali, panggilan itu buatmu. Sesuai dengan namamu dan memang kau adalah istriku yang kelima,” ucapnya. Delima sedikit bernapas lega, namun masih tidak nyaman saat berada dekat lelaki tua itu yang napasnya masih mengembus.

“Delima, malam ini dan seterusnya kamu tidur di kamar di dekat dapur. Tolong buatkan aku minuman jahe dan susu hangat sekarang, jangan terlalu manis. Besok kamu cuci semua pakaianku yang ada di balik pintu kamar dan di keranjang pakaian kotor dekat kamar mandi. Kamu harus tahu semua bagian luar dalam rumah ini. Karena sebentar lagi, kamu yang akan mengurus rumah ini. Mengerti?” ujarnya.

“Sekarang, bawa semua pakaianmu ke kamarmu. Sebulan sekali, kau akan dapat jatah uang bulananku. Lalu setiap hari kau harus masak masakan yang sudah kutentukan bahannya.” Delima terkejut pada ucapan lelaki tua itu.

Baca juga: Setelah Hari Celaka – Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 22 September 2019)

Lelaki tua itu memperistrinya, tetapi perkataannya membuat dia seperti pembantu rumah tangga. Tidak tampak ketertarikan padanya sama sekali. Saat bicara pun Rohman tidak melihat ke wajahnya. Padahal Delima termasuk gadis yang menarik, itu kata teman laki-lakinya di sekolah.

Dia turun dari ranjang, menenteng tas besar miliknya dan keluar dari sana. Yang sebenarnya kamar itu sangat besar, lebih besar tiga kali dari kamarnya di rumah. Saat dia mendapati kamar yang disebut lelaki tua itu, dekat dapur. Kamar itu tak ubahnya kamar yang ada di rumahnya. Kecil, sempit dan memang hanya cukup untuk dirinya sendiri.

***

Terhitung dua tahun Delima tinggal bersama Rohman. Gadis itu merasakan hari-harinya kian berat dan menyiksa. Sejak dia bangun tidur sampai akan tidur lagi, dia terus bekerja mengurus lelaki tua itu dan rumahnya. Delima bukanlah gadis sembarangan seperti teman-temannya yang tak pernah pegang kerjaan rumah, apalagi harus membantu orangtua. Delima adalah gadis yang ringan tangan dan patuh. Namun, dia pun merasa salah terpilih lahir dan hidup bersama orangtuanya. Sejak dia lahir, kehidupannya selalu sulit. Tinggal di rumah kecil dan sempit, juga sering mengalah pada adik-adiknya.

Baca juga: Muslihat Seekor Domba – Cerpen Adam Yudhistira (Solo Pos, 08 September 2019)

Kadang dia bertanya, kenapa dia bisa bertahan dalam kehidupan seperti itu. Yang kata teman-temannya, sangat memprihatinkan. Dia tidak bisa seperti teman-temannya bersenang-senang selama bersekolah. Karena dia tahu, liku orang tuanya mencari uang untuk sekolahnya dan makan sehari-hari. Sampai akhirnya, dia putus sekolah juga, tak sampai melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Rohman makan dengan lahapnya. Sarapan pagi yang berat dan Delima teringat waktu dia masih tinggal dengan orangtuanya, sarapan pagi hanya seadanya. Singkong rebus dan teh tubruk tanpa gula. Lelaki tua itu jika sedang makan tidak pernah menawarkan Delima untuk makan bersamanya. Selepas dia makan, barulah Delima akan memakan sisa yang dia masak.

Rohman masuk ke kamarnya lalu berbaring di ranjang dan tidur dengan tenang. Delima senyum sendiri, bersamaan dengan pekerjaan rumahnya yang telah selesai. Dia duduk di kursi goyang depan teras, tempat biasa lelaki tua itu duduk. Sambil berhitung dari satu sampai dua puluh, seolah-olah main petak umpet. Lalu dia pergi ke kamar lelaki tua itu, membuka pintu kamar dan masuk ke dalam sana. Mendekat pada tempat tidurnya. Dirabanya kening dan urat nadi tuannya. Tubuh lelaki tua itu dingin membiru, dari mulutnya keluar cairan putih berbusa. Detak nadinya sudah berhenti.

Baca juga: Prahara di Ujung Renjana – Cerpen Zhyla Ismi (Solo Pos, 15 September 2019)

Delima tertawa kecil, lantas berkata sendiri, “Tidurlah selamanya, Pak Tua. Kamar ini jadi tempatmu membusuk di sini. Aku sudah bebas dan memiliki semuanya, iya, semuanya.”

Baru kali ini Delima tertawa panjang. Serasa lepas dari belenggu panjang. Sebelum itu, Delima selalu mengulur-ulur niat terpendamnya yang direncanakan untuk menaruh sesuatu yang kejam pada makanan juga minuman lelaki tua itu, demi sebuah kebebasan. Barulah disaat ini niatnya terlaksana dengan sempurna. Sesempurna hati dan jiwanya sekarang. (*)