Cerpen Hendy Pratama (Denpost, 03 November 2019)

Sebotol Bir di Kedai Air Mata ilustrasi I Wayan Kelvin Udiyasa - Denpostw.jpg
Sebotol Bir di Kedai Air Mata ilustrasi I Wayan Kelvin Udiyasa/Denpost 

ADA sebuah kedai sederhana di pelosok. Kedai yang terletak jauh dari kota. Di kedai itu, orang-orang biasa menghabiskan seluruh air matanya. Mereka bersandar pada tiang-tiang penyangga, menyesap kopi, lalu menyebarluaskan keputusasaan. Tidak banyak yang tahu tempat itu. Sebab, hanya orang-orang tertentu yang mendapat wangsit melalui mimpi—dan mereka akan berjalan dengan goyah, serta air mata yang berlinang untuk menuju ke tempat yang disebut sebagai Kedai Air Mata.

***

Malam ini, aku berkunjung ke sana. Bukan. Tentu bukan karena aku sedang putus asa, melainkan mengantar temanku, Ken, yang baru saja diputusi pacarnya. Tadi pagi, Ken menelepon. Katanya, ia ingin mengajakku ke sebuah kedai. Kukira, kami hanya sekadar bersantai. Atau, Ken ingin curhat kepadaku. Tapi, Ken bilang, ia ingin menghabiskan seluruh kesedihannya, lalu menggantinya dengan secangkir kopi. Aku belum paham maksud Ken—sebelum kami benar-benar sampai ke kedai itu.

“Aku mau pesan kopi.” Ken berkata lirih, padaku. Lalu, ia menangis pada sebuah baskom meteran yang terletak di atas meja kedai. Aku baru sadar kalau seluruh meja di kedai ini selalu dilengkapi dengan baskom meteran kecil.

“Aku juga sama,” ucapku, pada Ken.

Ken menoleh. “Aku pesan kopi juga,” jelasku. Kupikir, Ken masih belum mengerti kalimatku.

“Kau tak akan dapat apa-apa!”

“Maksudnya?” tanyaku, bingung.

Ken tak menjawab. Ia mengajakku menuju meja kasir. Di sana, Ken memberikan baskom meteran kecil pada kasir. Lalu, seorang gadis cantik yang menjadi kasir mengukur air di dalam baskom meteran.

“Kau dapat Kopi Hujan,” kata kasir.

“Apa aku tak dapat yang lebih enak dari itu?” protes Ken, memandang wajah gadis cantik penjaga mesin hitung itu.

“Menangislah. Ratapi nasibmu. Maka, kau akan dapat bir!”

Kemudian, Ken mengajakku duduk di salah satu meja dengan membawa segelas Kopi Hujan. Lelaki berwajah kusut itu—Ken—meneguk kopinya di meja nomor sembilan. Aku melihatnya. Seolah ia begitu menikmati secangkir kopi aneh itu. Di sisi lain, seakan-akan, lelaki yang berteman akrab denganku sejak SMA itu, sedang menikmati kesedihan dan keputusasaanya.

Selama menemani Ken, otakku dipaksa mencerna seluruh keanehan kedai. Ornamen kedai cukup berseni. Aku mengamati para pengunjung bersandar pada tiang penyangga di meja mereka masing-masing. Mereka meluapkan kesedihan. Ada yang menangis tersedu-sedu dengan air mata yang mengucur deras, ada yang menangis normal, dan ada pula yang memaki-maki, mengamuk, menendang tiang penyangga, memukul meja, dan memekik keras. Setidaknya, terdapat sembilan pengunjung dengan kesedihan yang berbeda-beda.

Aku memandang sisi lain di kedai ini. Selain kudapati bunga mawar hitam layu yang tergantung di tiap penjuru, seluruh ornamen kedai terbuat dari kayu jati berwarna hitam—aku dapat merasakan serat kuat kayu jati hanya dengan sekali sentuh. Di beranda, ada banyak payung hitam yang tergantung. Payung-payung itu disusun sedemikian rupa, hingga tampak arstistik. Cukup berseni dan mewah, juga aneh.

Tidak lama berselang, aku memandang Ken. Seberes menyesap Kopi Hujan, ia mengambil batang kebahagiaan di dalam sakunya. Ia menyalakan macis, menyulut “batang kebahagiaan” itu. Asap mengepul. Mulutnya mirip cerobong pabrik. Kalau sudah begitu, ia tampak lebih tenang dan bahagia. Wajahnya kembali bersinar bagai matahari baru bangun tidur.

“Kau sudah lama ke sini?” Aku yang sejak tadi dibikin bingung dengan keanehan ini sontak bertanya. Memaksa Ken memberikan penjelasan terhadap apa yang tidak dapat kuterima dengan akal sehat.

“Belum,” jawab Ken, nadanya lemah. “Ini pertama kalinya aku berkunjung ke sini. Kemarin malam, aku bermimpi. Seseorang mendatangiku. Kulitnya keriput, rambutnya ranggas dan berwarna putih. Ia seperti utusan Tuhan yang ditugaskan untuk menjawab segala keputusasaanku.”

“Ia memberitahumu tempat ini?”

“Tepat.” Ken menyeletuk. “Pada mulanya, aku tak percaya dengan wangsit itu. Mana mungkin, ada kedai yang alat pembayarannya ialah air mata? Mana mungkin ada tempat yang menjual kebahagiaan dengan kesedihan?”

Mendengar penjelasan Ken, aku tercenung. Berupaya mencerna setiap kalimatnya. Sampai saat Ken menghabiskan seluruh “jatah kebahagiaannya” di dalam cangkir, aku masih belum percaya. Hingga Ken mengajakku pulang.

Kata Ken, kedai ini akan tutup menjelang fajar. Dan, buka kembali saat keramaian telah tenggelam. Sebelum kedai ini benar-benar tutup—dan matahari menyembul dari timur, aku mengekor Ken. Sembilan langkah menjauh dari kedai, aku menengok ke belakang. Tak kutemui kedai itu lagi. Hanya ada pohon trembesi dan semak belukar.

***

Selama di rumah, aku menceritakan seluruh kejadian janggal yang kualami bersama Ken ke Isabel, istriku. Tak ada yang dilakukan oleh Isabel selain menggeleng-geleng, seolah menganggap itu hanya bualan. Isabel menatapku. Satu kalimat keluar dari mulutnya. “Ken menipumu!”

“Maksudmu?”

“Mungkin, kau hanya mengigo. Semalam, kau tertidur pulas di sampingku. Aku melihatmu menceracau dengan mata te-pejam. Kucoba membangunkanmu, tapi kau tak jua bangun. Akhirnya, kubiarkan kaumenceracau sampai matahari terbit,” jelas Isabel yang sontak menambah kebingunganku.

“Apa kauserius?”

“Aku serius!”

Isabel merapikan piring, menuang sayur asem ke salah satu rantang di atas meja, di bawah tudung saji yang menganga.

“Kau harus paham. Kesedihan itu tak pernah ada. Ken juga tak pernah keluar rumah. Hanya saja, aku acap kali mendapatinya melamun sendirian di beranda rumahnya, sejak ia diputuskan oleh perempuan mata duitan itu,” imbuh Isabel.

Aku masih bingung. Semalam, jelas-jelas aku mengekor Ken menuju kedai. Aku melihat dengan jelas. Ken mengendarai motor bututnya menuju hutan, jauh dari kota. Aku dan Ken melewati rimbun semak belukar, pohon-pohon tinggi menjulang, kulat setinggi mata kaki, dan udara lembap, serta suara jangkrik yang sahut-menyahut. Itu semua nyata, aku merasakannya.

Bahkan, aku dan Ken hampir terjerembap ke mulut jurang. Sebab, lampu depan di motor Ken tidak dapat menembus embun yang membentuk halimun. Setelah beberapa jam mengemudi, akhirnya kami tiba di depan kedai. Ratusan kunangkunang mengungkung kulit kedai. Aku dan Ken sesegera mungkin turun dan memarkir motor.

“Lebih baik, kauurusi saja pesanan mebel dari tetangga, daripada menceritakan sesuatu di luar nalar,” sahut Isabel, membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk, menurutinya.

“Atau, kau pergi ke dokter buat berobat. Menanyakan pada sarjana kesehatan itu: ‘mengapa selama lima tahun menikah, kita tak pernah dikaruniai anak?’ Jangan-jangan kau bermasalah,” celetuk Isabel kemudian.

Aku bergeming, menelan kata-katanya. Isabel pergi, menuju dapur. Satu langkah beranjak, ia memutar badan, menatapku. Lantas berketus, “Jangan bahas kedai itu lagi. Kesedihan itu tak pernah ada, seperti halnya rahimku yang tak pernah mengandung.”

“Mengapa masih membahas itu lagi?” tanyaku, gusar.

Kali ini, Isabel beranjak ke arahku, urung ke dapur. Aku tahu, ia pasti akan naik pitam—seperti sebelumnya, ketika aku dan Isabel membicarakan perihal anak di teras rumah, di bawah hujan yang menabuh atap. Sembari menunjuk, Isabel berketus, “Lihatlah dirimu! Kau sudah tua. Siapa yang bakal meneruskan genmu? Siapa yang akan memahat kayu-kayumu? Siapa yang hendak mengirim mebel ke rumah-rumah para pemesan? Kita butuh keturunan!”

Kata-katanya tenggelam di telingaku.

***

Seminggu setelah kejadian aneh itu—dan Isabel yang masih membasah perihal anak, aku mendapati dunia kian kejam. Di bawah lampu yang memijar, aku memergoki Isabel sedang berduaan dengan lelaki lain. Hal itu sontak membuatku murka. Dua jam sebelum ia pergi meninggalkan rumah, ia pamit hendak mengurusi pesanan mebel—padahal, selama ini, akulah yang mengurusi seluruh pesanan. Ternyata, ia selingkuh di rumah lelaki buaya. Lelaki anjing. Lelaki setan. Lelaki terkutuk. Lelaki laknat. Kemarahanku memuncak petang itu juga.

Aku mengambil barang-barang yang ada di dalam kamar lelaki laknat itu; asbak, sebotol parfum, guci, jam beker, sebingkai foto, sebotol miras, remote tv. Seluruh barang kulempar ke arah lelaki laknat. Ia sempat menghindar, tetapi beberapa barang berhasil mengenainya. Setelah tertumus, aku memukulnya. Hingga, pecahan botol miras menusuk hidupnya.

Isabel melarikan diri.

Aku melempar pecahan botol miras yang masih tersisa ke Isabel. Praaakk. Pecahan botol minuman setan itu mengenai tembok, ia selamat. Kulihat ia berlari ke beranda rumah. Isabel pergi meninggalkan rumah lelaki laknat. Pada akhirnya, aku hanya bisa terduduk di bawah lampu beranda yang menjilat kegelapan.

***

Malam ini, tidak kujumpai bulan bersinar terang. Aku berjalan dengan batang kaki goyah. Mengetuk pintu rumah salah seorang teman yang amat kukenal. Pintu terbuka. Ia melihatku kuyu. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku. Ia seperti sudah tahu maksudku. Kami pun akhirnya pergi.

Aku dan ia berjalan menerobos keheningan jalan. Melewati mulut jurang dan pohon-pohon yang menjulang. Hingga sampai pada barisan pohon trembesi, semak belukar yang rimbun. Aku turun dari motor, menggenggam erat tangan sahabatku.

Dengan langkah terhuyung, aku menuju suatu tempat, di mana kunang-kunang seperti menuntun langkahku. Di tempat itu, tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi tangisan, tak ada lagi air mata. Sebab, aku dapat menukar seluruh kesedihanku dengan sebotol minuman yang sangat lezat. Bir. Aku dapat bir dari seluruh air mataku. []

 

2017-2018

Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun. Heliofilia adalah buku kumpulan cerita pendeknya yang akan terbit.

Ilustrasi cerpen karya I Wayan Kelvin Udiyasa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), IKIP PGRI Bali.

Advertisements