Cerpen Tin Miswary (Serambi Indonesia, 03 November 2019)

Pensiun ilustrasi Istimewa.jpg
Pensiun ilustrasi Istimewa 

Matahari di ufuk timur sedang berkemas-kemas. Sebentar lagi ia akan segera menyapa bumi yang masih diliput kegelapan. Ia akan keluar perlahan seperti langkah perawan di malam pertama. Dia akan menampakkan wujudnya sejengkal demi sejengkal agar manusia tidak terkejut. Matahari tidak seceroboh manusia yang selalu ingin cepat-cepat; cepat besar, cepat kaya, cepat pandai dan cepat kawin.

Seperti matahari di balik ufuk, Pak Majid juga sudah berkemas-kemas. Laki-laki berusia setengah abad itu sudah lengkap dengan pakaian dinasnya. Dia mondar-mandir di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Matanya tertuju pada jam bulat warna putih yang tertempel di dinding ruang makan. Jarum panjang pada angka dua belas dan jarum pendek pada angka enam. Kedua jarum itu membentuk garis tegak lurus. Sementara jarum kecil warna merah terus berdetak memutar. Sesekali Pak Majid juga memelototi jam Seiko warna keemasan di tangannya untuk memastikan tidak ada yang salah dengan waktu.

“Ini sudah telat. Cepat sedikit!” Sudah bertahun-tahun kalimat yang keluar dari mulut Pak Majid itu masuk ke telinga istrinya sampai-sampai kuping itu pun sudah kebal. Istri Pak Majid segera menyajikan nasi dan lauk di meja makan. Tanpa menunggu istrinya duduk, Pak Majid segera melahap hidangan di hadapannya sampai tandas. Kemudian dia bangkit dan menuju pintu. Sebelum keluar dia menoleh ke belakang. “Segera bangunkan si Agam. Kalau dia telat sekolah, aku yang malu,” seru Pak Majid sembari keluar dan menaiki Kijang Super yang dibelinya sebulan lalu setelah meminjam uang di bank.

Istri Pak Majid yang baru saja duduk di meja makan terpaksa bangkit dan menuju kamar si Agam. Pak Majid dan istrinya terlambat punya anak setelah sebelumnya sempat berobat ke mana-mana. Agam adalah anak satu-satunya yang dimiliki keluarga itu. Agam menjalani pendidikannya di sebuah SD di kampungnya. Anak itu sekarang baru duduk di kelas lima.

Perubahan pada sosok Pak Majid terjadi sejak lima tahun belakangan. Persis sejak ia diangkat sebagai kepala sekolah setelah beberapa kali merengek. Dia merengek pada kepala dinas melalui seorang pengawas sekolah yang dikenalnya. Sebelum menjadi kepala sekolah, Pak Majid dikenal sebagai guru paling malas di sekolahnya. Tak jarang dia terkena mutasi karena sering kedapatan bolos di warung kopi.

Setelah diangkat sebagai kepala sekolah, Pak Majid ditugaskan di sebuah SD di kampung lain. Jarak dari kampungnya ke kampung itu sekira enam kilometer. Sejak saat itulah sosok Pak Majid yang rajin bolos tapi ramah kepada semua orang berubah menjadi sosok yang disiplin, garang dan kadang-kadang licik. Sejak saat itu pula dia selalu berangkat ke sekolah jam enam pagi ketika matahari belum sempurna terbit. Perubahan itu membuat istrinya harus bangun lebih awal demi memastikan lambung Pak Majid terisi sebelum berangkat.

Dulu, sebelum menjadi kepala sekolah, Pak Majid sering membantu istrinya di dapur. Dia mencuci piring, menggoreng ikan dan sesekali menanak nasi. Dia juga tidak keberatan menjemur pakaian yang sudah dicuci istrinya. Aktivitas itu sering kali ia lakukan di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. “Aku memang pegawai negeri, tapi di rumah aku tetaplah suami bagimu dan ayah bagi anakku,” demikian kata Pak Majid pada istrinya yang melarang suaminya itu membantunya agar ia tidak terlambat ke sekolah.

Dulu, sebelum menjadi kepala sekolah, Pak Majid dikenal ramah dengan tetangga dan warga sekitar. Dia juga sangat aktif dalam kegiatan musyawarah dan gotong-royong di kampung. Bahkan ketika di kampung digelar kenduri, Pak Majid tak segan-segan untuk bolos sekolah demi meramaikan kenduri. Di tempat kenduri segala dikerjakannya mulai dari memasang tenda, mencuci piring, mengatur bangku, memanggang ikan sampai menjamu tamu-tamu yang datang. “Walau pun aku pegawai negeri, namun aku tetaplah makhluk sosial,” demikian kata Pak Majid suatu hari. Dengan keyakinan itulah dia kerap mendapat hadiah alpa dari atasannya di sekolah. Semakin banyak kenduri maka semakin banyak pula dia libur.

Dulu, sebelum menjadi kepala sekolah, Pak Majid dikenal sebagai sosok yang riang dan selalu gembira. Pak Majid sangat dekat dengan murid-muridnya meskipun ia sendiri sering bolos. Dia juga begitu akrab dengan semua kolega-koleganya di sekolah. Tidak ada seorang guru pun yang menjadi musuhnya. “Di sini kita seperti satu keluarga. Kalau ada satu yang sakit, yang lain juga akan merasa sakit. Kalau aku bolos, kalian yang gantikan. Besok kalian yang bolos aku yang gantikan,” demikian kata Pak Majid pada teman-temannya di sekolah. Satu-satunya orang yang paling dibenci Pak Majid di sekolah hanyalah kepala sekolah karena ia sering dimarahi atasannya itu. Bahkan beberapa kali Pak Majid pernah dimarahi di depan murid-muridnya.

Tapi, itu dulu. Duluuuuu….sekali.

Kini, sejak menjabat sebagai kepala sekolah, Pak Majid sering memarahi istrinya, khususnya di pagi hari. “Kamu harus mengerti dengan kondisi suamimu ini. Aku ini kepala sekolah. Tidak boleh terlambat,” demikian ceramah Pak Majid pada istrinya yang kadang-kadang kebingungan dengan sikap suaminya. Belum lagi istrinya menanak nasi, Pak Majid sudah mengamuk dan meminta istrinya menggoreng ikan. Baru saja istrinya mencuci belanga, Pak Majid sudah merepet dan meminta kuah segera dipanaskan. Bahkan si Agam, satu-satunya anak yang ia miliki juga sering kena semprot oleh Pak Majid hanya karena anak itu berlama-lama di kamar mandi.

Sejak menjabat kepala sekolah di usianya yang sudah tak muda lagi, Pak Majid juga telah menjadi sosok asing di kampungnya sendiri. Saat digelar rapat di menasah pada malam hari, Pak Majid tidak pernah hadir. Dia berdalih harus tidur lebih awal sebab besok harus berangkat sekolah pagi-pagi sebelum matahari sempurna terbit. Demikian pula ketika ada kenduri di kampung, dia hanya datang seperti tamu yang jauh. Biasanya dia datang ke rumah kenduri sepulang dari sekolah dan sampai di sana dia langsung makan dan kemudian kembali pulang. “Aku ini pegawai negeri. Aku ini kepala sekolah. Aku digaji oleh negara untuk bekerja dengan disiplin. Jadi, mana mungkin aku bantu-bantu kenduri,” demikian kata Pak Majid ketika ada orang kampung yang memprotes sikapnya.

Sejak menjabat sebagai kepala sekolah dan sering mendapat penghargaan dari dinas pendidikan, Pak Majid tidak lagi memiliki teman di sekolah. Dia sering memarahi murid-muridnya yang tidak memakai sepatu. Pak Majid takut akreditasi sekolahnya merosot gara-gara murid yang tidak terlihat rapi. Dia juga kerap memarahi guru-guru yang terlambat datang dan menghardik guru-guru yang cepat pulang. “Kita ini pegawai negeri sudah digaji oleh negara. Jangan ada lagi yang pura-pura sakit, pura-pura lemas dan malas mengajar. Kalian semua harus disiplin. Sebagai atasan aku berhak mengajari kalian,” demikian pidato Pak Majid di hadapan guru-guru. Satu-satunya guru yang tidak dimarahi adalah bendahara sekolah yang sering membantunya membuat laporan dana sekolah. Pak Majid tidak mau laporan keuangannya bermasalah walau pun ia sering membeli barang yang tidak berwujud.

***

Sepuluh tahun kemudian.

Sore itu, Pak Majid duduk di beranda rumahnya. Rumah itu lumayan luas untuk sekelas mantan pegawai negeri seperti Pak Majid. Ada lima kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang dapur dan satu ruang tamu. Di bagian samping rumahnya yang megah itu ada garasi. Di dalamnya terparkir mobil Kijang Super warna hitam yang sudah renta dimakan usia. Pekarangan rumah itu juga luas. Ada banyak bunga di sana.

Entah untuk siapa rumah besar itu dibangun sementara anaknya cuma satu. Tapi Pak Majid memang keras kepala. Nasihat istrinya untuk membangun rumah sederhana dan membeli beberapa petak sawah tak pernah didengarnya. “Aku ini pegawai negeri. Kepala sekolah lagi. Kapan aku ke sawah?” demikian ocehan Pak Majid pada istrinya sepuluh tahun tahun lalu.

Pak Majid duduk di kursi rotan. Di samping kanannya juga ada meja dari kayu yang di atasnya dilapisi kaca hitam. Pak Majid terlihat asyik membaca kembali beberapa lembar penghargaan yang sempat diperolehnya dulu. Sertifikat kepala sekolah berprestasi dan piagam kepala sekolah teladan tampak menumpuk di meja itu. Di kertas berharga itu tertulis nama Doktorandus Sabrun Majid. Tersenyum-senyum dia memandangi kertas-kertas yang sudah menguning itu. Dipeluk ciumnya kertas itu dengan bangga. Istri Pak Majid yang menyaksikan pemandangan itu dari balik pintu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Pak Majid sudah pensiun dari pegawai negeri lima tahun lalu. Kini usianya sudah enam puluh lima tahun. Rambutnya sudah memutih dan dia juga tampak begitu lemah. Setiap berjalan ia harus dipapah oleh istrinya. Sementara si Agam baru saja menyelesaikan kuliah dan ingin segera kawin. Hanya istrinya dan Si Agam yang setia menemani Pak Majid di usia senjanya.

Pada suatu hari ia menggelar kenduri perkawinan si Agam. Diundangnya orang-orang kampung, guru-guru di sekolahnya dulu dan juga pejabat-pejabat dinas pendidikan yang sering dikunjunginya di hari raya. Namun di luar dugaannya, kenduri hari itu begitu sepi. Banyak makanan terbuang, piring kotor menumpuk dan sendok berserakan. Orang-orang kampung datang ke kenduri Pak Majid hanya untuk makan dan kemudian pulang dengan alasan mereka harus ke sawah, ke kedai, ke kantor dan seterusnya. Sementara kolega dan bawahannya di sekolah tak satu pun yang hadir, kecuali bendahara sekolah yang dulu membantunya menyulap laporan. Pejabat dinas pun tidak ada yang tampak jidatnya. Bagi mereka Pak Majid hanyalah orang-orang biasa dari sekian banyak orang yang serupa dengannya. Hari itu, Pak Majid terduduk layu di kursinya sembari menatap beberapa familinya yang membersihkan halaman, memungut sampah, mencuci piring dan membongkar tenda.

Di lain hari Pak Majid bersama istrinya pergi ke kantor pos untuk mengambil gaji pensiun. Di sana dia bertemu orang-orang yang dulu dikenalnya tapi tak satu pun menyapanya. Mereka adalah kolega dan guru-guru di sekolahnya yang juga sudah pensiun. Beberapa kali Pak Majid sempat melihat bekas bawahannya itu saling berbisik dan tersenyum saat mereka berpapasan dengannya.

Pak Majid terus memeluk sertifikat, piagam dan penghargaan yang pernah didapatnya selama menjadi kepala sekolah. Istrinya yang sedari tadi berdiri di pintu kemudian melangkah ke arah suaminya. Dipeluk dan dicium suaminya itu. Wajah istrinya terlihat sendu. “Aku sudah pensiun dan aku juga sudah tua, Mar.” Istrinya hanya tersenyum mendengar namanya disebut setelah sekian tahun nama itu tak pernah terucap dari mulut Pak Majid.

Matahari perlahan terbenam dan azan pun berkumandang di pucuk-pucuk menara. “Aku sudah pensiun,” ulang Pak Majid pada istrinya. “Iya,” jawab sang istri sembari mengangguk dan kemudian memapah suaminya ke dalam rumah di ujung senja yang telah hilang.

 

Bireuen, 23 September 2019

Tin Miswary. Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, pemulung buku tua.