Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 November 2019)

Lelaki di Pekuburan ilustrasi Lelaki di Pekuburan - Suara Merdekaw.jpg
Lelaki di Pekuburan ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka 

Tanah pekuburan ini menggersang, banyak daun menguning, bahkan berguguran tak teratur. Bunga kamboja yang beberapa hari lalu mekar pun saat ini rontok berserakan ke mana-mana. Bahkan beberapa helai menutup nisan persis di bawahnya

Matahari masih menjatuhkan panas ke bumi. Panas pada siang begini pasti sangat terasa di kulit. Namun tidak dengan lelaki tua itu. Sejak tadi dia bersimpuh di salah satu makam di pekuburan ini. Sekejap kemudian berpindah ke makam lain di dekatnya. Barangkali dia sudah berpindah tiga kali. Ya, lelaki itu, entah siapa namanya, beberapa minggu ini selalu kutemui di pekuburan ini.

Beberapa minggu ini, bahkan hampir setiap hari, aku tak melewatkan waktu untuk mengunjungi pekuburan ini. Tentu bukan tanpa tujuan. Anakku, ya anakku, tiga minggu lalu dimakamkan di pekuburan ini. Aku sempatkan setiap hari menengok dan mendoakan anak wedokku, sebelum kerja atau sepulang kerja. Pernah pagi-pagi buta aku sudah berada di pekuburan ini, tentu dengan membawa doa dan kerinduan yang semalaman sedemikian membuncah.

Lelaki itu masih duduk bersimpuh di salah satu makam. Mukanya pucat setengah menekuk. Aku tahu ia menyembunyikan kesedihan. Namun ia berusaha tegar. Dia kurus tinggi, pakaian sederhana, sesederhana senyumnya.

Kembali angin menerpa kami berdua. Ya, di pekuburan tak terlalu luas ini hanya ada kami berdua. Rasanya pengunjung hari-hari di pekuburan ini hanya kami.

Kudekati lelaki setengah baya itu. Sudah beberapa hari ini aku ingin tahu tentang dia; barangkali kami bisa saling sapa dan berbagi cerita. Aku yakin dia punya cerita tentang pekuburan ini. Aku pun demikian. Aku juga punya cerita karena tempat ini kini jadi tempat favorit untuk selalu kukunjungi.

“Pak,” kataku membuka percakapan.

Lelaki itu belum menjawab. Barangkali dia sedang berdoa. Kutunggu beberapa saat. Setelah ia menghela napas panjang, kulanjutkan sapaanku. Aku yakin dia sudah mengakhiri doa.

“Apakah saya mengganggu Bapak? Bolehkah saya duduk di sini?”

Aku pun sudah selesai berdoa dan membersihkan makam anakku. Lelaki itu mendongak, tetapi tidak menggeser duduk. Ia tersenyum, meski agak memaksakan diri. Namun aku tahu senyum itu tulus. Aku pun membalas dengan senyum. Barangkali aku yang justru agak memaksakan senyumku. Ya, sejak anakku meninggal, aku tidak lagi banyak tersenyum seperti dulu. Aku tidak tahu penyebabnya. Rasanya kok tidak alasan lagi untuk tersenyum.

Lelaki itu masih menatapku. Tatapan lembut, meski agak kering. Aku tak peduli. Lantas aku duduk di sampingnya. Sekejap kemudian lelaki itu menyulut rokok yang tinggal separuh dan mengisapnya dalam-dalam. Kepulan asap membubung membentuk pulau-pulau kecil yang beterbangan.

“Saya lihat Bapak selalu di pekuburan ini ketika saya datang ke sini,” aku membuka percakapan setelah kami duduk berdampingan.

Lelaki itu kembali menghela napas panjang. Ia lantas menyalamiku dan menyebutkan nama. Suwondo. Nama khas Jawa yang sederhana.

“Mas Banu kini rajin ke pekuburan ini ya?” Lelaki yang kemudian kukenal dengan sapaan Pak Wondo itu membuka percakapan. Aku agak terkejut. Ternyata Pak Wondo sudah mengenalku.

“Pak Wondo sudah mengenal saya, eh maaf, mengenal nama saya?” tanyaku sekenanya menutupi keterkejutan.

Pak Wondo hanya tersenyum. “Saya menyaksikan dan mendoakan ketika putri Mas Banu dimakamkan di sini,” ujar lelaki itu. Dia memainkan rokok di tangan, memutar-mutar mengitari jemari. Sejurus kemudian ia sudah berbicara lagi, pelan. ìSaya lihat waktu itu Mas Banu sangat terguncang. Ada kesedihan yang membuncah.î Lelaki itu menatapku.

Aku masih terdiam. Dalam diam, aku kembali teringat beberapa minggu lalu ketika anakku kuantar ke tempat ini. Kembali angin menerpa kami. Suara gesekan dedaunan dalam riuh angin menimbulkan bunyi irama mendayu.

“Maaf, kalau perkataan saya membuat Mas Banu sedih,” ujar Pak Wondo berupaya menetralkan suasana.

“Bukan salah Pak Wondo,” aku menjelaskan keadaanku supaya lelaki itu tidak terlalu merasa bersalah. “Saya ikhlas, sangat ikhlas karena semua sudah ada yang mengatur.”

Pak Wondo tersenyum. “Saya paham, sangat paham keadaan Mas Banu,” ujar Pak Wondo setelah kami terdiam beberapa lama. Pandangan kami pun bersirobok. “Saya juga pernah mengalami keadaan seperti itu, bahkan….” Pak Wondo terdiam.

Ada nada berat dalam tuturannya. Suaranya bergetar, tetapi hanya sekejap. ìSaya ditinggal dua orang anak dalam waktu tidak lama, bahkan istri saya akhirnya juga meninggalkan saya,î tutur Pak Wondo, berupaya tegar sambil menunjuk tiga gundukan tanah yang berdekatan.

Aku terkejut. Untuk beberapa saat, aku tak bisa omong apa-apa. Tiga orang yang dicintai Pak Wondo kini sudah meninggalkan selamanya. Pantas Pak Wondo sering bersimpuh bergantian di tiga makam itu. Lelaki setengah baya itu melanjutkan cerita tentang dua anaknya yang tidak bisa bertahan hidup karena perbedaan rhesus darah antara Pak Wondo dan istri. Pak Wondo memiliki rhesus positif, sedangkan istrinya memiliki rhesus negatif. Namun Pak Wondo tidak lantas berpikir itu kutukan atau dosa besar yang harus dia tanggung. Ia menggangap semua sudah ada garisnya.

Aku tertunduk mendengar cerita Pak Wondo. Lelaki tinggi kurus itu lelaki paling tegar yang pernah kujumpai. Aku jadi malu. Bahkan aku pernah merasa paling menderita. Perasaan itu selalu menghantuiku. Anak kami satu-satunya telah diminta kembali oleh Sang Pemilik Sejati. Pak Wondo kelihatannya tahu kegelisahanku. Ia menepuk punggungku untuk sekadar menguatkan.

Kami pun berjanji selalu bertemu di pekuburan ini untuk berbagi dan menguatkan, setiap hari. Ya, setiap hari.

***

Hari ini aku menyambangi pekuburan pagipagi, bahkan sebelum sinar matahari kelihatan. Masih remang-remang, tetapi pada musim kemarau seperti sekarang sudah kelihatan terang. Sisasisa gelap sudah terusir oleh semburat kemerahan di sudut langit. Kokok ayam masih terdengar satusatu. Pagi yang tentrem. Aku segerakan melangkah memasuki kawasan pekuburan. Setumpuk doa sudah kubawa dalam hati. Kerinduan semalam ingin segera kutumpahkan ke pusara anakku.

Sepi. Pekuburan sepagi ini tentu belum ada yang menyambangi. Nah, aku datang lebih pagi dari Pak Wondo. Beberapa hari ini Pak Wondo selalu hadir lebih dulu. Ia bahkan acap kali sudah membersihkan separuh makam.

Ternyata dugaanku keliru. Dari kejauhan sudah kulihat sesosok lelaki tinggi kurus tengah membungkuk membersihkan makam. Ah, ternyata Pak Wondo sudah lebih dulu berada di pekuburan. Kami memang tidak bersapa lebih dulu, kecuali saling lempar senyum. Biarlah Pak Wondo menyelesaikan doa lebih dulu. Aku pun demikian. Aku ingin menyelesaikan tugasku dulu, membersihkan makam anakku dan berdoa untuk ketenteraman jiwanya. Meski sebenarnya tidak ada yang perlu kusapu lagi karena hampir setiap hari aku meluangkan waktu untuk bersih-bersih di pekuburan ini.

Dalam hitungan menit kami sudah saling mendekat. Tampaknya Pak Wondo sudah menyelasaikan doa, aku pun demikian. Lelaki itu melempar senyum. Rokoknya masih separuh di tangan. Kini, bahkan ia membawa termos dan dua gelas. Ia menyodorkan kepadaku segelas kopi hangat. Aku ragu. Aku belum berniat menerima. Tampaknya Pak Wondo tahu keraguanku.

“Sengaja aku bawa kopi ini untuk teman kita ngobrol. Aku tahu Mas Banu pasti datang di pekuburan ini,” kata Pak Wondo membuka percakapan.

Aku terima kopi itu, tetapi belum berniat menyerutup. Kupengangi gelas itu dengan kedua telapak tanganku. Ada rasa hangat mengalir. Dalam hitungan detik kuseruput kopi hangat itu.

Kami pun lantas berbagi cerita untuk saling menguatkan. Ya, aku dan Pak Wondo memiliki nasib hampir sama, ditinggalkan orang yang sangat kami cintai. Aku banyak belajar dari Pak Wondo, terutama belajar ikhlas. Sebenarnya aku pun sudah ikhlas, bahkan ketika bunga-bunga tabur di makam belum sepenuhnya mengering. Kami lantas membersihkan seluruh pemakaman, tidak hanya makam anakku dan anak istri Pak Wondo. Kami sudah menganggap pekuburan ini rumah kedua. Kami pun berjanji selalu berbagi cerita di pekuburan ini.

Beberapa hari, aku dan Pak Wondo selalu bertemu di pekuburan di pojok desa ini. Kami sudah seperti saudara. Namun selalu Pak Wondo lebih dulu datang di pekuburan ini. Aku penasaran. Suatu hari habis subuh aku ke pekuburan. Kubawa lampu senter karena belum sepenuhnya terang. Lagi-lagi Pak Wondo sudah berada di situ. Selalu ia tersenyum menyambutku. Agaknya ia tahu kepenasaranku.

***

Hari ini aku lupa hari keberapa perjumpaanku dengan Pak Wondo. Aku jadi lebih semangat ke pekuburan karena di sana ada teman berbagi. Bahkan kadang-kadang kami bisa seharian di pekuburan. Aku menduga, pasti Pak Wondo sudah hampir selesai membersihkan makam anak dan istrinya. Aku memang agak telat, agak kesiangan.

Kumasuki pekuburan dengan hati gembira karena akan bertemu anakku, meski hanya dalam doa. Sepi. Tidak ada suara apa pun. Biasanya paling tidak ada suara sapu yang digerakkan Pak Wondo untuk mengusir daun-daun kering yang berguguran di tanah makam. Aku celingukan mencari Pak Wondo. Tak ada. Ah, kali ini aku menang; aku lebih dulu hadir di pekuburan daripada Pak Wondo. Akhirnya aku bisa juga datang lebih awal daripada Pak Wondo.

Namun sejurus kemudian datang orang-orang dalam kebisingan. Mereka membawa perlengkapan untuk menggali kubur. Ah, ternyata hari ini ada yang akan dimakamkan di pekuburan ini. Orangorang itu dengan cekatan mengukur dan mencangkul tanah makam. Lo, yang dicangkuli kok persis di samping makam istri Pak Wondo? Padahal, Pak Wondo sering berangan-angan: kalau meninggal, ia ingin dimakamkan di pekuburan ini, dekat makam anak-anaknya dan di samping makam istrinya.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kepada salah seorang penggali kubur itu. Ia masih diam. “Siapa yang meninggal?” tanyaku lagi pada penggali kubur lain.

“Pak Suwondo,” jawabnya pelan, hampir tak terdengar.

Namun aku sangat jelas mendengar jawaban itu. Pak Wondo meninggal? Aku hampir tak percaya, tetapi kemudian aku ingat kata-katanya ketika itu bahwa ia sudah pasrah kapan pun dipanggil Sang Pemilik Hidup. Masih kata Pak Wondo, Tuhan tak pernah memberi kabar ketika akan memangil. Hari ini ternyata giliran Pak Wondo. Tak terasa air mataku menetes. Aku kehilangan teman berbagi di pekuburan ini.

 

Lembah Bulusari, September 2019

Hari B Mardikantoro, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Advertisements