Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 03 November 2019)

 

Hikayat Emak Pepot yang Berjalan Kaki Puluhan Kilometer untuk Menunaikan Sebuah Janji ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Hikayat Emak Pepot yang Berjalan Kaki Puluhan Kilometer untuk Menunaikan Sebuah Janji ilustrasi Tribun Jabar

 

AZAN Subuh belum berkumandang ketika Emak Pepot sudah selesai mandi dan merapikan tas cokelatnya. Tak lupa, dia menjejalkan dompet biru tua ke dalamnya. Di dalam dompet itu, dia menyimpan e-KTP dan kertas undangan untuk memilih kepala desa.

“Emak benar-benar mau pulang?” tanya Enet, menantunya yang baru saja melahirkan dua minggu lalu. Dalam remang rumah papan yang berdiri di tengah kebun karet ini, Emak Pepot mengangguk.

“Cuma sehari,” sahutnya. “Besok emak balik lagi.”

“Tapi Bang Konik belum timbang getah, Mak. Nanti dia tak punya uang buat ongkos emak.”

Emak Pepot mengibaskan tangan. “Tak usah risau. Emak punya.”

Menantunya itu mendesah, lirih. “Cuma pilihan kades, Mak. Hilang satu suara, tak masalah lah. Toh, tak mungkin ada yang kalah jadi kades hanya gara-gara kurang satu suara.”

“Eehh,” Emak Pepot lekas menyahut. “Kata siapa? Dulu pernah, waktu Kades Tam melawan Mat Taser. Bedanya cuma satu suara. Kades Tam lebih satu. Coba kalau yang satu itu milih Mat Taser, dia yang jadi kades. Bukan Kades Tam.”

Seketika menantunya senyap.

“Bukan itu saja,” suara Emak Pepot melunak. “Emak tak enak hati. Emak sudah terima uang dan janji akan coblos fotonya pas pemilihan. Eh, tiba-tiba pas hari H, emak tak pilih. Itu artinya emak ingkar janji. Ingkar janji itu dosa. Kau tahu sendirilah, emak ini sudah tua. Sebentar lagi mati, kalau banyak dosa, alamat masuk neraka emak nih. Aduh, celakalah.”

Enet semakin senyap. Dia tak dapat bersuara lagi. Dia tahu betul watak ibu mertuanya. Keras kepala dan teguh pendirian. Sekali dia mengatakan A, maka dia akan melakukannya. Terlebih bila sudah urusan janji. Pernah dulu, Emak Romlah berutang lima puluh butir kelapa untuk menikahkan anak bungsunya. Emak Romlah berjanji akan membayarnya jika ibu mertuanya membutuhkan kelapa-kelapa itu. Kapan pun. Saat teman masa kecil ibu mertuanya, Emak Mendung hendak mengaqiqah cucunya dan hendak meminjam lima puluh butir kelapa, ibu mertuanya itu menagih Emak Romlah. Petang pagi dia mengingatkan Emak Romlah, sampai-sampai perempuan itu tak berkutik. Tak bisa menghindar. Dan pada akhirnya mencari pinjaman pada orang lain, lantaran dia benar-benar belum punya uang untuk membeli kelapa sebanyak itu.

Enet berkali-kali mengatakan pada ibu mertuanya itu, “Janganlah ditagih macam itu, Mak. Kasihan. Emak sudah macam rentenir saja. Saban petang pagi ke rumahnya.”

“Lah, dia sendiri janji seperti itu, Net.” Sahut ibu mertuanya.

Waktu itu, Konik, suaminya memberi kode agar dia menyudahi saja debat kusir dengan ibu mertuanya itu. Sebagai anak semata wayangnya, Konik paham betul watak dan tabiat emaknya. Dia tahu, tak ada guna bagi istrinya untuk membuat emaknya mengubah sifat. Perihal janji dan utang-piutang, emaknya memang begitu. Keras dan tegas.

“Ya sudah, Mak,” Enet mengalah. “Emak sembahyang subuhlah dulu. Nanti kubangunkan Bang Konik untuk mengantar emak ke jalan raya.”

Emak Pepot hanya mengangguk-angguk tanda setuju.

***

PAGI masih gelap ketika Emak Pepot mencium pipi dan kening cucu pertamanya yang masih berwarna merah itu. Bayi mungil yang masih terlelap itu sedikit menggeliat, tapi dia tak membuka matanya.

“Nenek balik dusun sebentar, ya,” bisiknya, seolah bayi itu paham dengan apa yang dia ucapkan. “Jangan nakal dan nangis terus. Jangan buat emakmu repot. Nenek sebentar. Selesai milih kades, besok nenek balik lagi.”

“Ayo, Mak,” panggil Konik yang sudah di atas motor tuanya yang mengeluarkan suara berisik. Emak Pepot tak menyahut, hanya mengambil tasnya dan menuruni tangga kayu. Menantu dan cucunya melepas kepergian mereka dari teras rumah.

Motor Konik meliuk-liuk di jalanan tanah yang membentang di antara ribuan pohon karet. Emak Pepot berpegangan erat-erat. Setengah tahun setelah menikah, Konik membawa istrinya untuk menyadap karet di daerah Beringin ini. Di kampungnya, Emak Pepot tidak punya lagi kebun karet. Dulu, dia punya sebidang kebun karet, ada lima ratus batang pohonnya. Namun kebun itu dia jual lantaran dia butuh uang untuk biaya pesta pernikahan Konik. Cukup banyak orang kampung mereka yang menyadap karet di daerah sini. Sudah berkali-kali pula Konik membujuk emaknya untuk ikut bersama mereka, lantaran dia kerap khawatir kalau emaknya sakit tanpa ada yang menjaga, tetapi emaknya keras kepala. Dia tak ingin pergi, meninggalkan rumah warisan almarhum suaminya. Alasannya klise tetapi menikam, “Rumah yang lama ditinggal lebih cepat lapuk lantaran kesepian.”

***

SUDAH hampir satu jam Emak Pepot berdiri di bawah pohon jambu Simpang Belimbing, berkali-kali dia memanjangkan leher. Memastikan jika bis milik Romzi yang biasanya membawa penumpang dan sembako dari Muara Enim muncul. Hanya bis ini satu-satu yang menuju kampungnya. Tak ada bis lain. Tadi, setelah Konik menghilang ditelan pohon karet, sebuah bis melintas dan Emak Pepot menumpang sampai di Simpang Belimbing.

“Balik ke mana, Mak?” tanya seorang laki-laki berumur empat puluh tahunan. Dia mengenakan jaket hitam kusam merk motor Jepang. Helm hitamnya tak kalah kusam dengan jaket itu. Seolah penanda sudah begitu lama mereka di jalanan.

“Tanah Abang. Nunggu bis Romzi. Sudah lewat belum?” Emak Pepot memastikan. Biasanya bis itu akan lewat sekitar pukul sembilan pagi.

“Ooh, bis Romzi tidak narik hari ini, Mak.”

“Hei, kenapa?” emak Pepot mengerutkan kening. “Rusak, kah?”

“Bukan,” sahut lelaki itu. “Hari ini Tanah Abang pilihan kades, jadi tak ada penumpang. Dia tak narik. Kemarin dia bercakap-cakap denganku.”

“Ya Alloh…,” desis Emak Pepot, bingung.

“Naik ojekku saja, Mak,” tawar laki-laki itu.

Emak Pepot menatap motor butut yang ditunggangi lelaki di depannya.

“Berapa?” tanyanya, dengan suara lesu.

“Enam puluh ribu.”

“Oooi, mahalnya.” Emak Pepot terlonjak.

“Tanah Abang jauh, Mak.” Ujarnya. “Dua puluh kilo lebih dari sini.”

“Tak dua puluh ribu saja?” tawar Emak Pepot.

“Aih, mati, Mak. Motor ini minum bensin bukan air kencing.”

Emak Pepot menyeringai, memamerkan giginya yang tinggal beberapa saja. “Emak tak ada uang,” sahutnya. “Ya sudahlah, emak jalan dikit-dikit sajalah. Kalau-kalau nanti ada motor atau mobil yang lewat dan bisa ditumpangi. Sambung-sambung. Lama-lama sampai juga,” ujarnya sembari meninggalkan tukang ojek yang menatapnya dengan pandangan takjub.

***

EMAK Pepot meletakkan tas cokelatnya di atas kepala, berusaha menghalau terik matahari yang semakin garang. Dia tak tahu, sudah berapa lama dia berjalan. Beberapa kali dia menoleh, kalau-kalau ada motor atau mobil yang mengarah kepadanya. Namun nihil. Dia menghitung desa-desa yang dilewati. Jika dia tak salah, tinggal dua desa. Telapak kakinya terasa pedas dan panas. Juga lutut dan betisnya. Ajaibnya, hari ini tak satu pun motor atau mobil yang melintas. Seolah semua sudah membuat janji untuk tidak menuju ke Tanah Abang.

“Perjalanan ini tak seberapa,” desaunya. “Cuma dua puluh kilo. Dulu, kami sering membantu hajat sanak saudara di dusun-dusun yang jauh. Berjalan ramai-ramai sejak subuh buta,” menghibur diri sendiri.

“Eh, ini juga demi utang janji.” Ucapnya lagi. “Kalau-kalau aku mati sehari atau dua hari ini, setidaknya aku tak punya utang-piutang dan urusan yang belum selesai dengan sesama manusia. Kalau dosa ke Alloh, bisa minta ampun dan tinggal Dia mau ampuni atau tidak. Lah, kalau dengan manusia? Kata guru Taibeng dulu, kalau orangnya tak ridho, mau naik haji puluhan kali juga, Alloh tak akan ridho.”

Emak Pepot semringah saat mengingat ucapan guru ngajinya dulu. Langkahnya terasa kembali ringan. Dia kembali mengayun tungkai kaki, melupakan rasa pedas dan panas di telapak kaki dan lutut serta betis yang terasa diganduli batu.

***

SAAT Emak Pepot memasuki kampungnya, orang-orang sudah turun dari masjid dan langgar, usai menunaikan salat zuhur. Matahari sudah melewati ubun-ubun. Telapak kaki Emak Pepot terasa panas dan perih, bau karet terbakar dari sandalnya menguar, menggelitik hidung. Dia semakin menggenjot langkah ketika terdengar pengumuman dari pengeras suara.

“Mohon perhatian. Kepada seluruh warga Desa Tanah Abang, yang belum menggunakan hak pilihnya dalam pilkades, panitia masih menunggu sampai pukul satu siang. Lima belas menit lagi. Lewat jam satu, TPS ditutup. Terima kasih.”

Emak Pepot mencengkram kuat jari jemari kakinya di telapak sandal, melangkah segegas mungkin. Dia agak tersengal saat sampai di depan TPS. Seorang laki-laki muda berperawakan tegap dan berpakaian linmas, yang dikenali sebagai anak lanangnya Liman, menyambutnya dengan senyum.

“Cepat, Nek. Sudah mau tutup,” sambutnya. “Bawa undangan milihnya?” tanyanya sembari mempersilakan masuk.

Emak Pepot sigap membuka tas yang sejak tadi disampirkan di bahu kanannya. Dia mengobok-obok isi tas, mencari dompet biru tuanya. Tangan keriputnya yang berpeluh dan berdebu menarik kertas undangan yang dilipat rapi dan berhimpitan bersama e-KTP dan KIS dari pemerintah. Emak Pepot menyodorkannya pada petugas yang segera menuliskan namanya di dalam daftar yang sejak tadi dipegangnya, seorang petugas lagi menyerahkan kartu suara yang masih terlipat.

“Coblosnya di sana ya, Mak,” terangnya. Emak Pepot hanya mengangguk. Dia menjepit tasnya di bawa ketiak sembari berjalan menuju bilik mencoblos. Emak Pepot sempat mendongak ke arah barisan kursi rotan yang diduduki para calon kades. Kelima calon melempar senyum, ramah. Emak Pepot mengangguk, takzim.

Di bilik suara, Emak Pepot membuka lipatan kertas suara. Dia menghirup napas. Setelah perjalanan yang sangat jauh, akhirnya dia akan menunaikan janjinya. Janji pada calon kades yang sudah dengan sangat baik hati memberinya uang lima puluh ribu. Uang itulah yang dia gunakan untuk pergi ke tempat anaknya, membantunya bersalin dan menjaga cucunya itu.

Tangan kanan Emak Pepot mengambil paku yang diikatkan pada seutas tali. Dia sekali lagi tersenyum melihat kelima foto calon kades itu. Dengan sangat mantap, Emak Pepot mencoblos foto calon kades nomor urut satu. Lalu nomor urut dua, tiga, empat dan lima. Semuanya dia coblos. Senyumnya mengembang. Emak Pepot lega bukan kepalang. Dia sudah menunaikan janjinya. Janji pada para calon kades yang dengan sangat baik hati sudah memberinya uang dan meminta padanya untuk mencoblos foto mereka ketika di bilik suara, ketika diam-diam, satu per satu di antara mereka menemuinya beberapa minggu lalu.

“Aku sudah tak punya janji lagi,” desisnya sembari melipat kertas suara dan memasukannya ke dalam kotak. Saat dia keluar TPS, Emak Pepot masih sempat melempar senyum pada kelima calon kades yang masih duduk di kursi rotan. Bau angus sandal karet Emak Pepot begitu menyengat, memenuhi TPS.[]

 

Pali, 01 April 2019

Guntur Alam, menulis cerita pendek di koran sejak 2010. Buku kumpulan cerita pendeknya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2015. Sekarang dia menetap di kampung halamannya. Bisa diajak mengobrol via Twitter di @AlamGuntur.