Cerpen Miftachur Rozak (Radar Mojokerto, 03 November 2019)

Desas-desus Pak Lurah ilustrasi Radar Mojokertow
Desas-desus Pak Lurah ilustrasi Radar Mojokerto 

“Mimpi apa semalam, Kang Jalal?”

“Mimpi Pak Lurah mati!” sambil menjawab pertanyaan dari Wagiman; Kang Jalal yang baru saja sampai warung, langsung duduk dan memesan secangkir kopi ke Wagiman.

Sinar mentari kian merekah. Menyusup pada sela-sela jendela warung kopi milik Wagiman. Burung prenjak yang bertengger pada pohon mangga, depan warung ­free wifi kian nyaring terdengar. Kicauanya seramai para penikmat kopi yang nongkrong di warung tersebut. Warung favorit untuk ngopi saban pagi, sebelum mereka pergi ke sawah; ataupun siang hari dikala melepas lelah sepulang dari sawah. Selain kopi, warung tersebut juga menyediakan sarapan dan juga rokok eceran. Jadi, selain bisa sarapan, mereka juga bisa menikmati kopi dan merokok sembari bercerita tentang togel, untuk menghibur diri.

Sementara orang-orang yang mendengar jawaban tentang mimpi Kang Jalal itu langsung membuka kitabnya. Kitab tafsir 1001 mimpi. Kitab bergambar dengan angka-angka keberuntungan yang menyertainya. Mereka yakin, bahwa mimpi Kang Jalal pasti tembus. Seperti hari-hari biasanya, mimpi Kang Jalal tidak jauh dari angka yang tertera pada kitab tafsir 1001 mimpi. Kalau tidak empat angka, ya dua angka. Bisa juga angkanya dibalik atau dibaca dari belakang. tergantung keberuntungan masing-masing orang.

Wah, itu mimpi yang bagus kang, pasti tembus”, gumam Lek Narto sembari meramal dan mengotak-atik angka yang berkaitan dengan gambar orang mati.

“Iya, nomer bagus itu. Nanti malam pasti tembus. Coba Lek Narto saja yang pasang.” Sahut Wagiman sembari mengaduk kopi pesanan Kang Jalal.

“Bagus gimana? Wong mimpi Pak Lurah mati kok bagus. Bagaimana jika nanti Pak Lurah mati beneran?” sambil menyulut rokok dan menghisapnya, Kang Jalal melanjutkan bicaranya.

“Pak Lurah itu masih banyak hutang janji sama kita. Jadi, jangan sampai mendoakan dia mati. Rugi nanti kita. Lihatlah, jalan-jalan desa masih banyak yang berlubang; lihat pula, saluran irigasi yang belum merata; belum lagi, pembagian sembako yang masih belum sesuai dengan penerimanya. Enak saja mau mati, wong janjinya yang dulu waktu mencalonkan lurah belum dilaksanakan.”

Semua orang yang berada di warung Wagiman melongo melihat cerita Kang Jalal. Ada juga yang manggut-manggut seakan setuju dengan cerita Kang Jalal. Memang Kang Jalal adalah sosok orang yang selalu menjadi panutan semua orang di desa. Selain mimpinya sering tembus, Kang Jalal adalah sosok masyarakat yang memunyai rasa sosial kepada masyarakat yang tinggi.

Dulu, Kang Jalaln juga pernah diusulkan untuk menjadi kepala desa oleh masyarakat. Namun Kang Jalal menolak. Ia lebih memilih menjadi petani biasa, dan selalu bisa menghibur diri di warung Wagiman diwaktu siang ketika lelah menggarap sawahnya. Lelaki berumur 50 tahun dengan tubuh yang besar, serta berkumis tipis itu adalah seorang pemberani dalam hal mengkritik kinerja pemerintahan desa. Hingga para pemuda dan tokoh masyarakat selalu segan dengannya. Mereka menilai, sosok Kang Jalal adalah orang yang mampu menjadi kepala desa. Namun beliau tidak berambisi dan menolak atas usulan itu.

“Jika Pak Lurah mati, nanti kan sudah ada gantinya Kang Jalal?” sambil tertawa Lek Narto bergurau kepada Kang Jalal.

“O… ngawur kamu. Sampai kapanpun aku tidak mau menjadi lurah.” Tukas Kang Jalal sambil membuka matanya lebar-lebar kearah Lek Narto. Hingga semua orang yang di warung diam.

“Dari pada aku jadi lurah, lebih baik aku jadi dukun saja. Yang setiap malam mimpi. Terus mimpi saya tembus dan kalian menang togel. Lha, kalian pasti senang kan, kalau mimpi saya tembus?” Kang Jalal tertawa lalu menyeruput kopi.

Kemudian orang-orangpun ikut tertawa oleh gurauan Kang Jalal.

“Sudah-sudah, jangan membahas Pak Lurah, kasihan dia. Nanti tersendak atau tersandung kakinya.” Orang-orang malah tertawa mendengar Kang Jalal berbicara.

“Ya sudah, nanti siang atau besok pagi kita lanjutin lagi ngopinya. Saya tak nyari pupuk dulu. Padiku di sawahan sudah minta fitamin.” Setelah membayar semua kopi dan jajan orang-orang di warung, Kang Jalal bergegas meninggalkan warung. Beberapa orangpun juga ikut keluar dari warung untuk beraktivitas ke sawah.

***

Sehari setelah perbincangan mengenai mimpi Kang Jalal, ternyata kabar bahagia datang dari Lek Narto. Dengan raut wajah yang teramat bangga, juga sambil tertawa terbahak-bahak, Lek Narto mengumumkan: bahwa semalam ia menang togel. Mimpi Kang Jalal tentang Pak Lurah meninggal tembus. Namun ia hanya memasang dua angka saja. Hanya nomor tentang orang meninggal.  Jadi, hanya menang beberapa rupiah saja. Tidak banyak.

“Silahkan memesan kopi semua. Biar saya saja yang membayar.” Lek Narto mentraktir semua orang yang ada di warung.

“Memangnya kamu menang berapa lek?” tukas Kang Jalal sambil tersenyum melihat tingkah Lek Narto.

“Walah, tidak banyak kang. Tapi cukup kok kalau untuk mentraktir teman-teman semua. Ayo, Kang Jalal juga pesan sarapan sekalian, biar saya yang traktir.”

“Sudah-sudah, terimakasih. Saya tidak lapar.”

“Loh. Kenapa, Kang? Tenang saja. Ini bukan uang hasil korupsi. Ini uang togel. Dan yang saya buat untuk pasang togel murni uang saya sendiri. Bukan uang rakyat.”

Semua orang di warung tertawa mendengar ocehan Lek Narto yang sok bijak itu. Kang Jalalpun ikut tertawa dan menimpali ocehan Lek Narto.

“Iya-iya Lek, wes terserah Lek Narto saja ngomong apa. Yang penting saya sudah bayar kopi saya sendiri. Sudah ya, selamat bersenang-senang di warung, saya pamit pulang dulu. Saya ngantuk, semalam kurang tidur.”

“Jangan lupa kasih kabar tentang mimpimu yang bagus ya Kang?”teriak Lek Narto sembari melepas Kang Jalal yang meninggalkan warung.

Saat itu, memang wajah Kang Jalal kelihatan sangat lelah. Seperti kurang tidur. Seperti banyak pikiran. Entah apa yang ia pikirkan. Hingga raut wajahnya tidak seperti biasanya.

***

Sesampainya di rumah, Kang Jalal langsung duduk bersandar di kursi teras rumah. Pandangannya lurus keatap, dan matanya berkedip jarang-jarang. Seakan memikkirkan sesuatu yang berkecamuk dalam pikirannya. Mbak Sulis, istri Kang Jalal yang baru saja selesai menjemur pakaian di depan rumah, tiba-tiba mengagetkan Kang Jalal. “Kang, jangan melamun saja. Kang Jalal lagi mikirin apa sih, kok raut wajahnya tidak seperti biasanya?”

Setelah menghela napas dalam-dalam, Kang Jalalpun bercerita perihal mimpinya semalam. Bahwa ia tidak bisa melanjutkan tidurnya setelah didera oleh mimpinya.

Sungguh seperti nyata mimpinya. Ia melihat Pak Lurah sedang diseret banjir. Dan Pak Lurah seperti tenggelam, namun masih bisa teriak-teriak minta tolong. Sedangkan Kang Jalal tidak bisa menolongnya. Entah kenapa dalam mimpi itu, Kang Jalal tidak bisa menolong Pak Lurah.

”Sungguh mimpi itu seperti nyata Dek.” Pungkas Kang Jalal pada istrinya.

Di sela-sela perbincangan Kang Jalal dengan istrinya itu, tiba-tiba Lek Narto dari kejauhan berteriak-teriak memanggil Kang Jalal.

“Kang Jalal, Kang Jalal. Gawat kang. Gawat.”

“Ada apa Lek?, pelan-pelan saja ngomonggnya”

“Gawat Kang. Pak lurah dibawa polisi Kang.”

“Loh. Lha kenapa?”

“Menurut info, Pak lurah menggelapkan dana desa. Dana pembangunan desa.”

 

Miftachur Rozak (Bang Jack). Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya dimuat Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang. Facebook di Miftachur Rozak