Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

Selamat Pagi Nona Magpie ilustrasi Koran Tempow.jpg
Selamat Pagi Nona Magpie ilustrasi Koran Tempo

Aku suka menyapa Nona Magpie setiap pagi dan menanyakan apa kabar dunia. Keluarga wanita itu satu-satunya yang berlangganan koran harian dan majalah di lingkungan kami. Satu-dua kali aku melihatnya membaca koran atau majalah di teras rumahnya. Lagi pula, dia bukan orang yang membuat orang sungkan menyapanya.

Nona Magpie juga sering menyirami bunga di halaman depan rumahnya setiap pagi. Biasanya pukul tujuh. Ia punya lantana, zinnia, dan adenium yang ditanam di dekat pagar. Selain itu, ada alamanda yang tumbuh dengan begitu indah di bagian pojok halamannya. Dibanding tetangga lainnya yang menanam bunga itu, alamanda milik Nona Magpie yang paling terawatt—tetangga lain membiarkan alamanda mereka tumbuh hingga begitu tinggi. Wanita itu juga punya satu petak khusus di bagian tengah halamannya untuk bunga matahari. Biasanya, setelah menyirami bunga-bunga di dekat pagar, ia akan berdiri menatap bunga matahari miliknya. Pada saat itulah aku biasa menyapanya.

Hari ini aku menyapa Nona Magpie. Seperti biasa, wanita itu sedang menatap bunga matahari miliknya. Saat keluar rumah, aku pikir hari Senin kali ini punya langit yang terlalu cerah. Biru dan hampir tidak ada awan. Kemarin aku sama sekali tidak keluar rumah dan menghabiskan hari Minggu untuk tidur-tiduran. Mungkin aku melewati satu-dua kabar penting yang terjadi di dunia. “Selamat pagi, Nona Magpie,” kataku menyapanya. Wanita itu tersenyum.

Nona Magpie selalu tersenyum setiap kali aku menyapanya. Senyumnya tidak benar-benar simetris. Tapi kilau rambutnya pada pukul tujuh pagi (atau sekitar itu) akan menahan siapa saja untuk betul-betul memperhatikan hal itu. “Selamat pagi, Ben,” katanya padaku. Ia menaruh tangannya di balik punggung.

“Apa kabar dunia hari ini, Nona Magpie? Apa ada hal baru?”

“Yah, kau tahu, Ben. Hari ini para pekerja pabrik sepertinya akan melakukan demonstrasi di Jalan Pabean. Mereka sepertinya sudah benar-benar muak,” katanya.

“Wah, sepertinya aku harus mengambil jalan putar.”

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

“Mungkin tidak. Itu belum jelas. Tapi kalaupun mereka benar-benar berkumpul di jalan itu, mungkin akan mulai sekitar pukul sebelas,” ujar Nona Magpie sambil memindahkan tangannya, menyilang di depan dada.

“Baiklah. Terima kasih, Nona Magpie,” kataku.

“Sama-sama, Ben.”

“Bunga matahari itu semakin tinggi saja. Pagi yang cerah,” kataku. Aku melambaikan tangan dan berjalan pergi.

Percakapan rutin—atau kurang tepat jika disebut begitu, karena kadang aku tidak keluar rumah atau tidak bertemu dengannya karena harus pergi keluar kota– dengan Nona Magpie itu selalu membuatku percaya bahwa hal-hal yang mungkin terjadi akan berjalan seperti seharusnya.

Suatu kali Nona Magpie pernah menceritakan padaku bahwa di belahan dunia lain sebuah gereja berusia ratusan tahun habis terbakar. Orang-orang penting di dunia bersedih dan segera memutuskan mengumpulkan donasi untuk melakukan rekonstruksi. Walaupun rekonstruksi butuh puluhan tahun, orang-orang penting itu siap mengeluarkan uang sebanyak apa pun untuk memangkas waktu yang dibutuhkan. Obrolan tentang itu membuatku merasa, terbakar atau tidaknya gereja itu, tidak akan berarti lebih buruk atau lebih baik. Selalu ada orang yang siap mengatasi hal-hal semacam itu, dan selalu ada kebakaran yang bisa terjadi kapan saja. Itu sama dengan apa yang aku rasakan hari ini. Maksudku, seandainya hari ini benar-benar terjadi demonstrasi atau tidak, hal itu tidak berarti ada yang lebih buruk atau lebih baik. Aku pikir itu karena cara Nona Magpie menceritakan hal-hal itu kepadaku setiap kali aku menyapanya. Tapi, aku pikir itu juga karena Nona Magpie punya rambut yang bagus.

Jika sedang panen biji bunga matahari, Nona Magpie memang sering menyuling biji-biji itu menjadi minyak. Minyak biji bunga matahari memang bagus, apalagi untuk rambut. Dia pernah memberi sebotol padaku. Walaupun begitu, aku tidak pernah memakai minyak yang diberikan Nona Magpie di rambutku. Mungkin wanita itu tahu. Tapi kami tidak pernah membicarakannya.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Aku pikir Nona Magpie berumur lebih tua dariku–sampai sekarang aku tidak yakin. Aku pernah bertanya kepadanya dan dia hanya tersenyum. Satu-satunya yang membuatku berpikir dia lebih tua dariku adalah karena dia tersenyum ketika aku menanyakan itu. Tapi itu bukan masalah. Lagi pula, karena itulah aku memanggilnya nona—kami sudah mengobrol tentang itu dan dia sepertinya setuju. Sambil berjalan, aku melihat langit begitu biru. Pagi ini hampir tidak ada awan.

Satu-dua ekor burung gereja terbang dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dari pohon-pohon itu, mereka melesat ke halaman rumah orang-orang, ke atap-atap. Sedikit agak ke kanan dari jarak pandanganku, cukup tinggi sampai hanya terlihat seperti noktah, ada sekelompok burung merpati sedang terbang. Sayup aku bisa mendengar suara kalung merpati itu. Mendengar bunyi itu, entah kenapa aku membayangkan biji jagung. Bukankah merpati memakan biji jagung?

Aku ingat Nona Magpie membenci burung. Atau mungkin kurang tepat kalau aku menyebutnya seperti itu. Hanya, burung–entah burung apa—kadang mematuk bunga mataharinya dan dia selalu mengusir burung-burung itu. Kadang, kalau aku melihatnya sedang mengusir burung-burung, aku merasa dia melakukannya dengan emosi yang meledak-ledak. Kecuali itu, Nona Magpie hampir selalu terlihat tenang. Misalnya ketika satu-dua kali aku melihatnya membaca koran atau majalah. Nona Magpie akan terlihat seperti segelas susu segar yang minta diminum.

Aku melihat jam tanganku. Pukul 07.40. Aku terus saja berjalan. Saat sampai di persimpangan aku melihat ke arah Jalan Rampai. Aku membayangkan harus mengambil jalan putar. Jalan itu lumayan jauh dan membayangkannya saja membuatku lelah. Kalaupun hari ini ada demonstrasi, Nona Magpie bilang itu akan terjadi pukul sebelas. Aku percaya kepadanya dan tetap berjalan menuju Jalan Pabean.

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Sambil berjalan, aku membayangkan deretan pabrik di Jalan Pabean. Tempat itu seperti punya pabrik untuk seluruh benda yang ada di dunia. Nona Magpie pernah bercerita kepadaku bahwa para pemilik pabrik jarang membuat kontrak dengan para pekerjanya. Mereka melakukan itu untuk menghindari tuntutan memberikan gaji penuh. Hal itu membuat sebagian besar pekerja menerima gaji di bawah seharusnya. Hanya sebagian kecil yang menerima gaji sesuai dengan standar atau lebih. Walaupun begitu, orang-orang yang menerima gaji lebih adalah orang-orang yang dibenci oleh orang-orang yang menerima gaji sedikit. “Mereka bertingkah seperti boleh mengatur pekerja lain,” kata Nona Magpie kepadaku waktu itu.

Di sisi jalan yang berlainan dari tempatku ada sekelompok pekerja yang juga berjalan menuju Jalan Pabean. Mereka memang biasa berjalan berkelompok seperti itu. Tapi rasanya pagi ini jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Di jarak yang agak jauh dari batas pandanganku, hampir seperti noktah, ada lebih banyak kelompok orang yang berjalan beramai-ramai. Pada jam begini sebagian besar orang biasa berjalan ke arah yang sama—barat. Hanya ada beberapa orang yang berjalan berlawanan. Aku berjalan melewati beberapa pekerja yang berhenti untuk mengikat tali sepatu mereka. Tali sepatu para pekerja itu kadang bisa lepas. Mereka biasa membeli sepatu obral yang sering dijual di pinggir jalan. Dari kejauhan aku melihat seseorang datang dengan sepeda ke arah timur.

Pesepeda itu adalah satu-satunya loper di Kota M–dia sangat mudah ditandai dengan sepeda dan perawakannya yang kurus. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa nama loper itu. Beberapa kali aku ingin menanyakan itu ke Nona Magpie tapi tidak pernah jadi. Loper itu, yang perawakannya begitu kurus sampai kadang-kadang aku membayangkannya terhempas dari sepedanya sendiri karena tertiup angin, selalu mengayuh sepedanya dengan begitu kencang. Selain koran, loper kurus itu membawa majalah gaya hidup dan majalah pertanian—aku pernah bertanya tentang ini ke Nona Magpie. Nona Magpie berlangganan majalah pertanian.

Aku sendiri hampir tidak pernah membahas soal pertanian dengan Nona Magpie. Walaupun di halaman wanita itu ada begitu banyak bunga, aku tidak pernah membicarakan bunga-bunga itu dengan serius. Kadang aku memuji bunga-bunga milik Nona Magpie. Namun sejak awal—tanpa disengaja—pujianku soal bunga-bunga selalu ada di ujung percakapan kami. Karena itu, membahas bunga-bunga membuatku merasa harus berpisah dengan Nona Magpie dan menghentikan obrolan. Kadang, jika melihat atau memikirkan sembarang bunga sekalipun, perasaan itu sering muncul dalam diriku.

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

Aku tidak tahu apakah loper kurus itu biasa mengobrol dengan Nona Magpie atau tidak setiap kali dia mengantar koran dan majalah. Aku pikir dia pasti mengobrol satu-dua hal. Apalagi keluarga Nona Magpie adalah satu-satunya pelanggan di lingkungan kami. Aku jarang berpapasan dengan loper kurus itu. Dia sering mengantar koran dan majalah lebih siang.

Sambil terus berjalan aku membayangkan apa yang mungkin sedang dilakukan Nona Magpie. Aku sering bertanya-tanya, apa mungkin dia masih di halaman rumahnya setiap kali selesai mengobrol denganku. Menyirami lantana, zinnia, dan adenium. Barangkali dia sedang menyiangi alamanda miliknya agar tidak tumbuh terlalu tinggi. Atau mungkin, masih berdiri melihat bunga matahari. Di depanku para pekerja masih berjalan bergerombol.

Kami terus berjalan ke barat. Para pekerja yang berjalan agak jauh masih terlihat seperti noktah. Langit begitu biru. Pagi ini hampir tidak ada awan. Aku menoleh ke belakang. Aku pikir loper kurus itu mungkin sudah sampai di rumah Nona Magpie sekarang. Barangkali, mereka sedang membicarakan satu-dua kabar penting yang sedang terjadi. Atau mungkin mereka sedang membicarakan bunga-bunga milik wanita itu.

 

Bayu Pratama lahir di Aik Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Advertisements