Cerpen Hendy Pratama (Fajar, 27 Oktober 2019)

Veteran ilustrasi Fajar Makassarw.jpg
Veteran ilustrasi Syahrizal/Fajar Makassar 

TIADA yang menduga bahwa seorang kakek yang saban hari duduk di teras sebuah rumah tua merupakan seorang veteran. Orang-orang—yang melintas di depan rumahnya—hanya melihatnya sebagai lelaki renta yang saban hari hanya mematung di kursi goyang. Seperti menunggu maut menjemput. Sesekali, dengan langkah terhuyung, ia menghampiri sangkar perkutut. Lalu, bersiul girang, seolah sedang mengajaknya berbicara.

Tidak ada siapa pun di rumah itu, selain Mbah Suwondo seorang. Iya, begitulah para tetangga memanggilnya. Sehari-hari, Mbah Suwondo mempertahankan hidupnya melalui belas kasih orang lain. Satu-dua tetangga tak jemu membawakannya serantang makanan. Dan, kadang-kadang juga sedompol pisang. Namun, kebanyakan tetangga memilih tak acuh. Bahkan, tidak tahu bahwa Mbah Suwondo merupakan veteran perang Jepang.

“Ia seorang kakek yang menyedihkan,” tutur Kaji Moekijat. “Tidak ada siapa pun di rumahnya. Istrinya sudah meninggal dunia di moncong senapan. Mmm… kira-kira puluhan tahun lampau ketika Jepang masih merampok hasil panen pribumi.”

Dan, bila ditanyai tentang ke manakah perginya cucu-cucu Mbah Suwondo, salah seorang tetangga separuh baya, yang mengaku mengenal veteran itu, akan jawab, “Veteran itu tidak mempunyai seorang pun cucu. Sinah, istrinya, ditembak mati pada usia dua puluh tahun. Tentu saja ia mati sebelum sempat memberikan Mbah Suwondo keturunan.”

Tersebab mengetahui kisah pilu veteran itulah, Kaji Moekijat, salah seorang tetangga Suwondo, rela mendermakan separuh hartanya untuk menghidupi kakek yang menyedihkan itu. Ialah yang rajin membawakan makanan melalui tangan istrinya saban pagi, siang, dan sore. Kadang kala—di luar kesibukan mengurus tambak dan menyirami sepetak sawah, Kaji Moekijat juga menemani Mbah Suwondo di halaman.

“Aku takut bila Suwondo jadi sinting, lantaran menganggap perkutut sebagai seorang manusia,” cemas Kaji Moekijat.

Tentu saja, seandainya Kaji Moekijat sedang sibuk mengurus pekerjaannya, sehingga tidak sempat mengajak Mbah Suwondo haha-hihi, veteran tua itu pasti bersiul di hadapan sangkar perkutut. Matahari terbit di wajahnya ketika mendapati burung abu-abu kehitaman itu mengepakkan sayapnya, seolah memahami bahasa siulan Mbah Suwondo.

Saking girangnya, mendapati perkutut itu berkepak, Mbah Suwondo pernah tertumus karena sebilah tongkatnya terlepas. Tentu, ia membutuhkan bantuan orang lain. Ia payah menggerakkan ranting tangannya, kaki-kakinya, buat berdiri. Kaji Moekijat pernah melihat Mbah Suwondo gelosotan di malam yang lembap.

“Aku serupa seekor ikan yang lepas ke daratan,” sedih Mbah Suwondo.

***

Suatu waktu, Kaji Moekijat pernah mendapati Mbah Suwondo menangis. Betapa melihat seorang kakek menangis merupakan peristiwa paling memilukan. Hati Kaji Moekijat bagai disayat sebilah pisau. Ia tidak tega dan demi membuat Mbah Suwondo kembali girang, Kaji Moekijat menanyakan kegundahan hati veteran tua itu.

“Aku menunggu Izrail memukul tengkukku, lalu melemparku ke neraka,” aku Mbah Suwondo ketika Kaji Moekijat menyelidikinya.

“Mbah Suwondo tidak boleh mengatakan hal itu.”

“Aku seperti dilahirkan hanya untuk menyusahkanmu belaka.”

“Saya tidak merasa begitu, Mbah.”

Mbah Suwondo dan Kaji Moekijat duduk di teras sebuah rumah tua. Bunyi perkutut dan kesiur angin saling menyahut. Daun-daun beterbangan dan ranting-ranting menari-nari. Gumpalan awan mendung, membuat hamparan jingga tampak temaram, selaras dengan kehidupan veteran tua itu. Usianya, barangkali, tinggal sehasta antara senja dengan petang.

“Malam itu, aku berharap Shodanco Jepang melempar pelor ke dahiku, atau ke hati, dan bila perlu, tepat mengenai jantungku. Sialnya, tentara terkutuk itu justru membunuh Sinah, yang tentu saja tidak berdaya dalam membalas serangan.”

“Justru, karena Mbah Suwondo masih hidup, sejarah kelam Indonesia-Jepang pada masa perang dapat dituturkan secara pasti.”

“Aku bukan guru sejarah!” sanggah Mbah Suwondo. “Aku hanya berharap mati saat itu, dan tidak menyusahkan kamu seperti sekarang ini.”

Mbah Suwondo memandang seekor perkutut yang beterbangan dalam sangkar. Ia merasa tak ubahnya seperti perkutut malang itu. Saban hari, Mbah Suwondo hanya hinggap di kursi goyang, sembari menanti Kaji Moekijat atau tetangga dermawan lain melempari dirinya makanan. Tubuhnya yang rapuh tidak dapat beranjak ke mana-mana. Tentu saja ia merasa hidup dalam sangkar usia. Dunia yang tidak ia kenali.

“Aku hanya ingin mati dan mati. Apakah Izrail perlu digaji untuk mencabut nyawaku Dan, seandainya ia tak kunjung datang, apakah aku mesti mencabut diriku sendiri?” sedih Mbah Suwondo. Air matanya membentuk sungai pada kerut pipinya.

Kini, Mbah Suwondo sedang berperang melawan usia. Sekali-kali, ia membayangkan sebilah samurai atau semoncong senapan menusuk jantungnya. Atau, ia mati ketika terjatuh dari kursi goyang, dengan kepala yang membentur sebongkah batu.

Kaji Moekijat kerap kali menasihati veteran tua itu supaya tidak lagi bersedih. Tapi, nasihat demi nasihat yang menyusup ke telinga Mbah Suwondo tak ubahnya serupa kesiur angin yang tidak pernah dihiraukan.

“Aku ingin mati dan dianugerahi pahlawan. Bukan sebagai orang tua sinting yang tak berdaya dan tidak diacuhkan,” ungkap Mbah Suwondo, berkobar. Dan, diselingi dengan teriakan ‘merdeka’ berulang kali, menandakan ajal tinggal sepelemparan batu. ***

 

Madiun, 2019

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Pegiat komunitas sastra Langit Malam. Bukunya, Heliofilia.