Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 27 Oktober 2019)

LOP ilustrasi Emmy Go - Kompasw.jpg
LOP ilustrasi Emmy Go/Kompas 

1

Seorang mantan bromocorah meninggal sebagai orang pintar. Desa Sepi yang biasa tenang itu mendadak jadi hiruk-pikuk dikerubuti mereka yang ingin memberi penghormatan terakhir. Nama Bolong memang telah melambung menembus mancanegara sebagai pakar pengobatan alternatif.

Puluhan tahun yang lalu, Bolong pernah tersohor sebagai momok yang paling biadab. Karena ia telah memakan manusia hidup-hidup.

Apakah itu hanya kemasan bahasa, bagian dari sihirnya untuk menghipnotis penduduk agar tak berani melawan, entahlah. Tak ada yang pernah buka mulut mengungkapkan misterinya.

Ketika keluar dari penjara, Bolong sempat kelimpungan beberapa tahun. Terpental ke sana-kemari bersama keluarganya mencari tempat berteduh. Tapi di mana-mana, ia ditolak. Siapa yang berani mengambil risiko, hidup memelihara macan?

Aku sudah putus asa! Saat itu, kami nyaris mau bunuh diri. Istri dan kedua anakku yang masih kecil, sudah setuju. Habis daripada tak ada harapan, katanya menceritakan masa lalunya.

Tapi malam itu, mendadak ada tsunami. Kami tunda dulu bunuh diri untuk menolong mereka.

Ternyata banyak anak kecil jadi yatim piatu. Tidak ada yang peduli, karena semua sibuk ngurus nasibnya sendiri. Akhirnya terpaksa kami ngurus dan keterusan sampai sekarang.

Baca juga: Wakyat – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 28 April 2019)

Untung juga ada tsunami, kalau tidak, kami sudah mati. Berkat itulah, kami diizinkan tinggal setelah bersumpah tobat. Aku diawasi terus siang-malam agar tidak kambuh. Memang dulu bekas-bekas anak buahku sering datang mengajak membahas proyek. Kontan aku tolak. Aku tak suka proyek-proyekan lagi. Aku sudah kenyang makan batu.

Sekarang anak-anak itu sudah waktunya ngisi perut. Mereka berhak kenyang, menentukan nasibnya sendiri. Jangan sampai aku gondeli. Aku tidak mau mereka makan manusia seperti aku.

Mereka tidak boleh nyontek aku. Untuk tidak menambah dosaku yang sudah tidak bisa ditebus, aku ajari mereka kebajikan. Bukan karena aku ingin diampuni, tapi untuk mencegah mereka mengikutiku.

Tapi apa yang terjadi? Saat kepergianku justru jadi momentum reuni, mengumpulkan mereka kembali yang sudah berserak dalam masyarakat. Balik lagi menyulut api untuk mengibarkan bendera hitam.

 

2

Entah datang dari mana kepintarannya, Bolong telah banyak menyembuhkan orang. Memberikan solusi yang tepat yang dengan jitu membukakan pintu mereka yang minta dibantu. Dan untuk itu, ia tak minta imbalan apa-apa. Tidak juga berharap akan dipuji atau menuntut dihormati sakti.

Semua itu kebetulan yang lebih banyak diciptakan oleh kesungguhan kalian sendiri, yang bertekad keluar dari perangkap itu, kata Bolong selalu dengan rendah hati.

Bukan hanya itu yang membuat kehadiran Bolong makin seru. Bolong sama sekali tak pernah menarik riak ombak ketenarannya untuk mencuci masa lalunya.

Baca juga: Amnesti – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 16 September 2018)

Aku dulu bandit. Sekarang pun tetap bandit. Meskipun sudah sempat menjalani hukuman, tidak berarti aku jadi bersih. Aku tetap bekas bromocorah. Hukuman itu pembayar dosa bukan membuat mentalku suci! Aku tidak mungkin menghapus yang sudah terjadi. Aku juga bukan orang pintar. Aku hanya bola polos di atas meja bilyar, untuk menggasak bola bernomor masuk lubang.

Tapi apa daya semua keterangan Bolong itu jadi tak penting. Karena yang kemudian berkibar, ketenaran Bolong jadi katrol pamor pemutih semua kejahatannya Mantan anak buahnya pun keluar dari sarangnya dan dengan berani unjuk gigi bahwa mereka tetap ada dan tak takut untuk terus beraksi.

 

3

Saya hadir tetapi terpaksa minggir. Hormat saya pada Bolong berbeda dengan luapan magma yang menggelegak mendobrak dada para sahabat lamanya. Mereki terbakar oleh kobaran solidaritas satu nasib dalam penjara. Mereka bukannya sedih, tapi malah beringas. Ingin bangkit lagi setelah menahun tersekap kebekuan mendalam.

Entah dapat halusinasi, lamat-lamat kuping saya menangkap senandung Bendera Hitam. Itu lagu anonim yang dinyanyikan oleh seorang superstar dangdut yang melejit jadi lagu kebangsaan para narapidana.

Nampaknya mantan anak buah Bolong serasa berada di rimba Sherwood bersama Robin Hood. Mungkin mereka mengidentifikasi dirinya sebagai begal budiman yang merampok orang kaya, untuk derma bagi kaum miskin.

Baca juga: Maling – Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 03 Juni 2018)

Para mantan narapidana itu juga tak rela duka kami, sahabat-sahabat baru almarhum, terlalu dekat. Seakan takut kebangkitan mereka bisa terkontaminasi oleh pikiran kami yang mereka anggap lawan. Tapi saya tak ingin mengganggu. Saya memahami perasaan mereka yang tak mau membuang peluang itu. Tapi meskipun menyisih, saya tak ingin dihapuskan. Karena kita semua bersama bagian dari nasi rames dalam satu piring untuk selamanya.

Lalu saya cari istri Bolong. Dia sedang melipat pakaian-pakaian yang ditinggalkan suaminya. Sesuatu yang sebetulnya bisa dilakukan lain waktu. Kenapa mesti dilakukan saat penguburan suaminya? Pasti ada sesuatu.

Saya yakin dia sedang menghindar. “Maaf,” katanya mendahului, “Saya sudah tegur mereka. Ini bukan penjara, tapi mereka tetap saja menyanyikan itu. Saya kan jadi malu pada tamu-tamu yang layat.”

“Kami maklum, Bu. Persahabatan itu lebih kuat dari persaudaraan. Saudara belum tentu sahabat.”

“Tapi itu kan dulu. Bapak sudah bukan pengusung bendera hitam lagi, Mas tahu, itu, kan?”

“Ya.”

“Kami sudah tua. Almarhum selalu bilang mau menghabiskan sisa hidupnya untuk menolong orang. Kenapa mereka selalu datang?”

“Berarti pengaruli Bapak masih kuat, Bu.”

“Almarhum pernah bilang mereka semua berharap balikan mendesak dia jadi corong.”

Baca juga: Boko – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 22 April 2018)

“Bapak, Bu?”

“Ya. Tapi almarhum tidak meladeni.”

“Sekarang kesempatan mereka memaksakannya.”

Perempuan yang sedang duka itu mengusap air matanya. Aku tak sanggup melihat. Tapi mencoba menenangkannya, sebelum melangkah mundur.

“Kami paham, Bu.”

 

4

Seorang yang tak mau disebutkan namanya, tapi mudah diduga siapa dia, menulis surat pembaca:

“Saya tak mewakili siapa pun. Tapi saya merasa saya memaparkan apa yang ingin disampaikan oleh banyak orang. Terutama oleh mereka yang sudah sempat ditolong oleh almarhum. Saya beruntung belum pernah berutang budi oleh kebaikannya, jadi tak bisa dicurigai sebagai iklan murahan. Tetapi seorang manusia biadab yang telah menganibal manusia tak berdosa meskipun alasannya sedang kerasukan setan, hanya pantas dihukum mati.

Dan memang sudah dipenalti begitu. Tapi keajaiban terjadi. Setelah dia dieksekusi dan tim dokter sudah menyatakan dia secara medis, klinis, mati, tetapi ketika liang lahatnya mau diuruk, mendadak dia bangun dan hidup lagi. Setelah perdebatan bertahun-tahun dengan hasil tetap buntu, apakah dia perlu ditembak mati sekali lagi, dia mati secara alami.

Baca juga: Nio – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 24 September 2017)

Kebingungan kita pun senyap. Tapi mendadak sekali lagi terjadi keajaiban. Malam hari ada yang mendengar suara dari kuburnya. Ketika dibongkar ternyata dia masih hidup. Sejak itu, hukum tidak lagi menyentuhnya. Dia hidup bebas seperti kita semua. Dan yang sangat mengagumkan, almarhum dari makhluk biadab yang menyantap manusia hidup-hidup, berubah total, menjadi warga yang santun, kooperatif, selalu membantu, menolong, mendorong kita semua untuk berbuat baik, toleran, mengamalkan gotong-royong dan hidup damai dalam berbeda.

Almarhum sama sekali bukan bajingan biadab yang sudah makan orang hidup-hidup itu. Hanya tubuhnya memang itu-itu juga. Tapi jangan salah, almarhum adalah orang pintar yang sudah menolong nyawa ribuan orang. Satu kalimat saja yang ingin saya ucapkan dengan lirih supaya jangan berbau provokasi: “Mbok jangan melupakan sejarah, Bo!”

 

Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Emmy Go, pernah belajar melukis Chinese painting di Beijing Art School tahun 2010, mengikuti workshop di Australia 2002, dan belajar melukis kepada pelukis palet terkenal, Mozes Misdy, tahun 1984-1992. Emmy juga telah berpameran sejak tahun 1991 dan kemudian diteruskan dengan pameran-pameran di sejumlah galeri di Jakarta, Semarang, Surabaya, Australia, Malaysia, dan Thailand.

Advertisements