Cerpen Dul Abdul Rahman (Suara Merdeka, 27 Oktober 2019)

Lipstik Plastik ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Lipstik Plastik ilustrasi Suara Merdeka

“Perempuan tidak akan rela jadi istri pertama. Bila ada istri pertama berarti ada istri kedua, ketiga, dan seterusnya. Seorang istri tidak rela suaminya berpoligami, karena ia akan jadi istri pertama. Biasanya istri kedua yang disayang. Kalau suami telanjur poligami, istri pertama berharap suaminya menikah lagi, biasanya istri terakhir yang disayang, istri kedua dicuekin, istri pertama dihormati. Biasanya istri pertama mengusahakan suaminya menikah lagi, maka istri terakhir disayang, istri ketiga dilupakan, istri kedua terbuang, istri pertama jadi pahlawan.”

Nisa menutup rapat-rapat catatan ibunya. Ia tidak begitu memahami makna kalimat-kalimat itu. Ia berada di rumah seorang diri. Biasanya ibunya pulang kerja larut malam, bahkan dini hari. Nisa ingin belajar bersolek. Ia mencari bedak ibunya. Ia mengira ada bedak dalam lipatan kertas itu. Ia pernah melihat ibu guru di sekolah membawa bedak dibungkus kertas.

“Kamu cantik, Nisa, seperti ibumu.”

Entah apa maksud kepala sekolah memujinya tadi pagi. Yang jelas Nisa senang. Ternyata banyak yang mengenal ibunya, mengenal kecantikan ibunya. Maka malam ini Nisa ingin sekali memakai parfum ibunya, biar banyak lagi lakilaki memuji kecantikannya. Nisa bangga banyak laki-laki menyapa. Biasanya laki-laki yang menyapa berusia seperti ibunya. Nisa bangga dan senang. Ia bercita-cita, kelak ingin bekerja seperti ibunya, lalu dipuji banyak lawan jenis, meski Nisa tak tahu persis apa pekerjaan ibunya. Buat Nisa, ibunya benar-benar baik dan bertanggung jawab.

“Ibu bekerja demi kau, Anakku, karena ayahmu telah pergi.”

Tiap kali Nisa bertanya ke mana ayahnya pergi, ibunya selalu diam dan sedih. Nisa tak mau melihat ibunya sedih. Nisa sangat sayang ibunya. Nisa rela melupakan ayahnya, karena kasih sayang ibunya sudahlah cukup.

Baca juga: Insiden di Jalan Kirik – Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

Nisa terus memelototi kosmetik ibunya. Tak ada bedak. Yang berjejeran hanyalah puluhan lipstik dengan merek berbeda. Nisa tersenyum. Ia melihat bibir ibunya menonjol pada setiap lipstik yang ia buka penutupnya. Nisa tak heran ibunya tak punya bedak, karena memang pipi ibunya selalu ranum tanpa make-up. Kalau soal bibir, memang selalu ia melihat bibir ibunya berbeda setiap hari, tetapi tetap seksi.

Nisa terus membuka dan mencoba lipstik ibunya. Lipstik pertama berwarna netral, lipstik yang kedua belas berwarna merah marun. Nisa mencoba lipstik ketiga belas sekaligus lipstik terakhir, tapi ia sangat kaget karena lipstik terakhir agak aneh. Setelah ia coba, bibirnya terasa menebal seperti dilapisi plastik.

***

Nisa memang masih gadis kecil, tapi suaranya, goyangannya, pun desahannya seperti motor empat tak yang memacu adrenalin para pengunjung untuk berhip-hop. Para pengagum berat Nisa benar-benar menikmati suguhan Nisa. Kebanyakan berumur paruh baya yang semestinya cocok jadi ayah Nisa.

Gadis kecil Nisa sangat senang dan bangga. Kini ia benar-benar bisa mengikuti jejak ibunya yang menyanyi dari bar ke bar. Dan tentu Nisa sangat mengidolakan ibunya. Seluruh gerakgeriknya berkiblat pada ibunya. Pun parfum dan kosmetik lain, ia melirik ibunya, termasuk lipstik kesayangan ibunya.

Risa, ibu Nisa, mulai sakit-sakitan. Padahal, kalau ditilik dari tubuhnya, sesungguhnya ia tampak segar-bugar dengan tubuh masih sintal dan menantang adrenalin kaum lelaki. Risa tak kuasa menahan gumpalan luka hati yang menggerogoti jiwanya. Jiwa yang perih yang telah diperas lelaki. Tentu saja lelaki yang paling tega memerihkan hatinya adalah ayah Nisa yang telah meninggalkan dia dan anak semata wayang, Nisa. Kalau tidak ada Nisa yang selalu menyejukkan batinnya, mungkin ia sudah mengakhiri kembara hidupnya.

Awalnya para penggemar Risa sangat kehilangan, tetapi kemunculan Nisa sungguh membuat mereka menemukan sosok pengganti yang serupa. Risa memang sudah menjadi primadona di bar-bar itu. Biasanya setiap pengunjung selalu mendaulat perempuan itu membawakan sebuah lagu. Sungguh, peran itu sekarang dipegang Nisa. Setiap pengunjung kelihatan histeris bila Nisa mengobrak-abrik panggung. Entah fantasi dan sensasi apa yang para pengunjung rasakan, padahal Nisa masih anak kecil dan polos.

Baca juga: Menembak Mati Tujuh Orang – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

Nisa sangat menikmati profesinya. Ia tidak kikuk meliuk-liuk mempertontonkan tubuh, karena ia sungguh menganggap orang-orang yang dihibur serupa ayahnya. Nisa tidak segan-segan memeluk dan menciumi penonton. Ia tak tahu sesungguhnya para penonton yang umumnya kaum bapak merasakan fantasi luar biasa bila dicium dan dipeluk Nisa.

***

Risa berselonjor malas. Akhir-akhir ini badannya terasa sakit. Ia harus beristirahat dari segala aktivitas sebagai penyanyi karaoke dari bar-bar. Beruntung, Nisa bisa menggantikan sehingga koceknya tak pernah kering. Sebagai penyanyi bar, Risa bukanlah perempuan murahan yang menjual tubuh kepada lelaki hidung belang. Ia hanya menjual suara karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan ya untuk menopang hidup bersama putrinya. Atau, kalau terpaksa, ia harus meladeni pria, sesungguhnya ia bukan perempuan murahan. Ia sekadar mengikuti perasaan hati. Ia juga manusia biasa yang punya hasrat.

Risa mendesah dalam, seolah ingin mengembuskan segala duka dan penyesalan yang menggelora dalam jiwa. Awalnya ia mengira lakilaki yang menikahinya sepuluh tahun silam lakilaki baik dan bertanggung jawab. Risa tak punya syakwasangka tempo itu. Ia benar-benar mabuk kepayang oleh rayuan maut laki-laki itu sehingga mau saja menjadi istrinya. Risa tak tahu sesungguhnya ia hanyalah istri kedua. Nasi sudah jadi bubur. Risa baru tahu suaminya lelaki buaya darat yang lupa daratan ketika menikah lagi dengan perempuan lain.

“Saya tak rela dimadu.” Risa mengultimatum suaminya kala itu. Ia tidak tahu hanyalah istri kedua. Ketika tahu segalanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi untuk menghalangi suaminya menikah lagi karena istri pertama sudah merestui. Risa bukanlah pelabuhan rindu suaminya. Ia hanyalah pelabuhan nafsu.

Baca juga: Magi – Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

Risa menengadah. Matanya menyapu seluruh langit-langit rumah. Ketika pandangannya menancap ke sebuah foto anaknya, Nisa, hatinya seperti menggemuruh, bercampur resah, cinta, dan dendam. Ia tak bisa mengingkari Nisa hasil persekutuan cintanya dan sang suami, lelaki yang telah melukainya. Ia sangat benci laki-laki itu. Amatlah benci.

Ketika ia melihat Nisa, seperti ada siluet senyum laki-laki itu. Haruskah ia juga membenci Nisa? Ketika ia menatap mata Nisa, seperti biji matanya yang menempel di situ. Haruskah ia membenci diri sendiri? Sesungguhnya ia tidak membenci Nisa. Ia amat mencintainya, meski di wajah itu ada lukisan wajah yang dia benci. Ia pun tidak membenci diri sendiri. Bahkan ia punya pengharapan untuk membesarkan anak semata wayangnya. Yang ia benci adalah perjalanan hidupnya.

Risa melemah. Ia seperti mencoba mengalah kepada takdir yang menimpa. Lalu, ada cerah yang membias di wajah kala ia berpikir jernih: sesungguhnya ia dan anaknya adalah dua sosok perempuan yang sangat kuat. Mereka mampu menopang hidup, tanpa bersandar pada kaum laki-laki. Risa tersenyum. Seperti ingin mengejek masa lalunya.

***

“Ibu! Aku ingin mencoba lipstik ini,” Nisa membuka penutup lipstik primadona ibunya. Ia ingin sekali memakai lipstik itu agar wajahnya benar-benar mirip ibunya.

“Pakai saja yang lain, Nak. Lipstik itu belum cocok buatmu,” Risa menahan napas. Ia berharap anaknya mengikuti sarannya. Ia memang susah menjelaskan alasan lain mengapa lipstik itu tidak boleh dipakai.

Baca juga: Sayup Tifa Mengepung Humia – Cerpen Massha Guissen (Suara Merdeka, 29 September 2019)

“Tapi, Ibu, sepertinya aku cantik dengan lipstik ini,” Nisa ngotot sambil melotot pada ibunya.

“Lipstik itu khusus perempuan dewasa.”

“Kan aku sudah dewasa, Bu.”

“Belum.”

“Tapi banyak om menciumku sehabis menyanyi.”

“Itu ucapan terima kasih.”

“Tapi, Ibu, lipstik ini untuk….”

“Sudahlah, Sayang, pakai saja lipstik lain ya.”

Nisa mengikuti kehendak ibunya. Ia memang harus berdandan secepatnya. Malam ini ia mendapat jatah menyanyi di sebuah bar terkenal. Ibulah manajernya. Sejak Nisa bisa menggantikan, Risa tak aktif lagi menyanyi. Ia hanya memantau anak perempuannya yang kini menginjak usia belasan tahun. Biasanya Risa tidak tampil di panggung. Ia hanya memantau dari luar. Ia sungguh menyayangi Nisa, sehingga tidak mau terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan pada anaknya.

Malam ini banyak benar tetamu yang hadir di bar itu. Risa memperhatikan anaknya dari jauh. Entah, Risa merasa jenuh dengan situasi bar seperti ini. Yang membuat dia senang hanyalah suara anaknya yang sungguh memukau. Meski masih gadis kecil, Nisa benar-benar menantang adrenalin para pengunjung untuk berjoget ria. Para pengunjung yang didominasi pria paruh baya itu benar-benar merasakan sensasi baru kali ini. Suara Nisa memang seksi. Mungkin para pria paruh baya itu membayangkan bercinta dengan Nisa laiknya menyantap hidangan setengah matang.

Dari kejauhan Risa melihat banyak pria paruh baya mendekati Nisa. Betapa Risa terkejut karena pria-pria itu mencium bibir Nisa. Risa baru percaya omongan Nisa dulu, banyak om mengecup bibirnya.

Baca juga: Mayat Gugat – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 22 September 2019)

“Bagaimanapun mencium bibir bukan ucapan terima kasih,” Risa membatin. Ia berjanji akan menghukum para laki-laki hidung belang yang menciumi bibir Nisa sebagaimana ia lakukan pada laki-laki yang sering mengecup bibirnya.

“Besok malam, Nisa harus memakai lipstik plastik,” Risa menggerutu dari kejauhan sambil mengawasi Nisa yang terus diciumi om-om. Lipstik plastik adalah lipstik racikan Risa yang membuat bibir begitu tebal dan seperti dilapisi plastic, sehingga antara bibir dan bibir tidak begitu bersentuhan. Risa khawatir bila tidak memakai lipstik plastik, Nisa akan terlena oleh keindahan sentuhan bibir dan bibir. (28)

 

2018-2019

–– Dul Abdul Rahman, lahir di Tibona, Bulukumba. Dia sudah menulis 15 buku sastra, antara lain Pohon-pohon Rindu (2009), Terbunuhnya Sang Nabi (2017), Pada Sebuah Perpustakaan di Surga (2018). Email: dulabdul@gmail.com.

Advertisements