Cerpen Bagus Sulistio (Radar Banyumas, 27 Oktober 2019)

Kutukan Keturunan Bajak Laut ilustrasi Radar Banyumas.jpg
Kutukan Keturunan Bajak Laut ilustrasi Radar Banyumas

Tidak ada laut yang ganas bagi kakekku. Laut hanya kumpulan air yang diperintahkan untuk bergerak mengikuti kodrat-Nya. Jika kalian sudah sering berkecimpung di dunia perlautan, entah menjadi nelayan bahkan menjadi bajak laut, kalian akan tahu rumus pergerakan laut. Aku pernah diberitahu kakek rumus agar bisa bertahan hidup sangat lama di laut, akan tetapi belum pernah aku terapkan. Aku memilih menjadi makhluk daratan.

Nasab kelautan sudah mendarah daging di keluargaku. Namun darah laut berhenti di tubuh ayahku yang berprofesi menjadi pedagang di kota besar. Sebenarnya kakek marah mengetahui ayah tidak menjadi manusia laut, nasi sudah menjadi bubur, ayah sudah terlanjur menikah dengan ibuku yang berprofesi sebagai pedagang di kota besar juga.

“Kau sudah berdosa memutuskan hubungan dengan laut. Lihat saja kutukan nenek moyang kita kepada anak cucumu,” begitu akhir ceritanya jika ayah ditanya tentang kisah kakek. Aku tak tahu kutukan apa yang dimaksud kakek, ayah pun sama demikian. Katanya, dulu beliau keburu ketakutan ketika dihardik semacam itu. Yang jelas aku dan ayah berusaha menjauhi laut agar kutukan yang kakek lontarkan tidak menimpa kami.

***

Toko yang ayahku rintis kini semakin besar. Di beberapa daerah juga ada cabang dari toko ayahku. Karyawan yang dipekerjakan ada puluhan bahkan ratusan. Tidak ada kerjaan yang berat untuk ayahku, ia hanya sesekali datang ke toko pusat dan cabang memantau perkembangan keuangan. Begitu pula dengan ibuku. Sedangkan aku tinggal duduk manis segala yang diinginkan pasti terwujud.

Saking besarnya toko ayahku, banyak dari toko lain ingin bermitra dengan toko kami. Menurut mereka, keuntungan mudah diperoleh jika ada jalinan bekerja sama. Tentu toko kami tidak akan mau rugi.

Berbagai macam toko mengajukan diri untuk bekerja sama. Mulai dari toko kebutuhan sehari-hari hingga toko yang menjual emas. Banyaknya toko yang mendaftar membuat ayahku bingung. Ia tidak mungkin menolak mentah-mentah ajakan toko-toko yang mencalonkan diri. Berhati-hati ayahku memilih dan ia mengajukan persyaratan agar bisa bekerja sama.

“Aku ingin mutiara laut. Barangsiapa diantara kalian mempunyai mutiara laut, toko kita akan bekerja sama.”

“Sulit untuk mendapatkan mutiara, jika dapat untuk apa mutiara itu? Aku punya berlian. Bagaimana kalau diganti dengan berlian saja,” seru salah satu dari mereka.

“Tidak. Aku ingin mutiara.”

Sebagian besar dari mereka memutuskan mundur dari keinginannya. Resiko untuk mencari berlian sangat besar. Mereka tidak mau gagal dengan sia-sia. Tapi sebagian lagi tetap bertahan walaupun harus berpikir keras dan mengeluarkan peluh dingin.

Ayahku tersenyum picik ketika mereka sudah keluar dari ruangan. Tangannya yang dilipat di depan dada mengartikan sesuatu.

“Sebenarnya apa yang Ayah rencana lain?” tanyaku penasaran.

“Lihat saja besok anakku. Yang jelas toko kita akan semakin besar.”

Berita tentang kematian para pencari mutiara tersebar. Aku baru memahami apa yang dipikirkan ayahku setelah kejadian ini. Benar apa yang dikatakannya, hilangnya pesaing-pesaing membuat toko kami semakin besar. Toko yang pemiliknya mati di laut dibeli oleh ayahku. Sehingga toko kami ada dimana-mana dan bertambah banyak.

Jangan tanyakan perihal uang di keluargaku. Kami bisa tidur beralaskan uang jika kami mau. Puluhan toko yang diambil hasilnya, ratusan karyawan yang mengabdi untuk kami, dan masih banyak lagi kesenangan dunia yang tidak mungkin orang lain miliki ada di keluargaku. Hingga datang seseorang lelaki kurus kering datang tanpa memakai baju.

“Juragan! Aku sudah dapat apa yang kau inginkan. Bolehkah tokoku bekerja sama dengan toko milik Tuan?” ujar lelaki kurus itu.

“Mana? Coba kulihat!” ayahku merenggut sebutir bola putih dari genggaman lelaki kurus. Ia mengamati betul bola kecil berwarna putih. Debu yang menempel di bola dari tangan lelaki kurus tetap saja tidak mengurangi keindahan bola tersebut.

“Dapat darimana mutiara ini?” tanyanya dengan nada tinggi. Lelaki kurus itu menelan ludah karena ketakutan. Mulutnya bergeming. Belum sempat ia menjadi ayahku terus memojokkan, “Kalau kau ceritakan bagaimana cara mendapatkan mutiara ini, aku akan terima tawaran untuk bermitra.”

Ada sesuatu hal yang menahan di tenggorokannya. Untuk mengucapkan satu barang dua kata saja, ia kelihatan kesulitan, “Anu Tuan, saya pergi ke pantai barat. Menurut orang-orang di sana sumber dari mutiara. Dan kini terbukti Tuan.”

Kisah yang diceritakan lelaki kurus membakar semangat ayahku. Ia berkeinginan mendapatkan mutiara lebih banyak. Tidak ada yang bisa mencegah bahkan melarang. Aku, anaknya tidak dapat berbuat apa-apa. Terkadang aku hanya bisa membantu menyiapkan bekal untuk perjalanannya ke pantai barat. Ayahku pergi sendirian ke pantai barat sendiri. Ia tidak mau ada orang selain dirinya tahu tentang tempat itu.

***

Hampir sebulan ayah tidak pulang. Toko-toko terbengkalai. Aku dan ibu tidak bisa mengurusnya. Para karyawan banyak yang melakukan korupsi. Kami hampir bangkrut. Sebagian besar karyawan yang kinerjanya kurang baik, kami pecat. Satu persatu toko kami jual untuk menyambung hidup. Tinggal satu toko yang tersisa, toko yang dulu ayahku rintis sejak muda.

“Ayahmu kemana ya Nak?” ibu memandang ke arah langit yang teduh. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan yang amat lebat. “Kalau seperti ini terus kita bisa jadi gelandangan.”

“Tenang Bu. Pasti Ayah akan pulang membawa mutiara yang banyak.”

Rintik hujan mulai turun. Angin bertiup cukup kencang tapi hanya dapat menerbangkan kertas dan daun yang jatuh saja. Lama-kelamaan hujan semakin lebat dan deras. Kami meneduh di dalam toko menunggu hujan berhenti atau pelanggan yang datang.

Dari kejauhan terlihat seseorang menghampiri toko kami. Ia tidak memakai payung. Kepalanya telanjang tanpa ditutupi sesuatu. Semakin dekat aku semakin memahami siapa yang datang. Orang yang baju dan celananya basah kuyup itu adalah lelaki kurus yang dahulu datang ke toko ini membawa sebutir mutiara. Tidak ada yang berubah dari dirinya, ia tetap menjadi pria yang kurus.

“Tuan, saya membawa sebuah berita penting,” ucapnya sembari mengigil. Bibirnya biru menandakan ia sudah lama terkena air hujan. Kami tidak tega melihatnya seperti itu. Kuperintahkan ia menggantikan pakaiannya yang basah dengan pakaian ayahku. Secangkir teh hangat dan kudapan kusajikan kepada pria kurus itu.

“Ada berita apa sehingga Bapak mau jauh-jauh datang kesini?” tanyaku.

“Ini tentang ayahmu Tuan.”

“Ada apa dengan ayahku? Apakah ia selamat? Apakah ia mendapatkan banyak mutiara?”

Lelaki kurus itu tidak langsung menjawab. Ia menyeruput teh yang disajikan. Pandangannya sejenak dilempar ke arah langit yang sedang menjatuhkan air. Hembusan nafas panjang keluar dari hidungnya seperti segala udara yang berada di paru-paru keluar seluruhnya.

“Iya beliau memang mendapatkan mutiara banyak, tapi…”

“Tapi apa?”

“Saat beliau menepi dan akan membawa pulang mutiara-mutiaranya, segerombolan bajak laut menghajarnya hingga tewas. Hampir seluruh mutiara yang didapatkan dirampas. Kecuali yang satu ini,” ia menyodorkan sebutir bola kecil berwarna merah pekat.

 

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Nomor Hp/WA 085725125034. Facebook: Bagus Sulistio. Email: bagussulistio98@gmail.com