Cerpen Irul S. Budianto (Denpost, 27 Oktober 2019)

Kisah Puk dan Cip yang akan Menikah ilustrasi I Made Dwi Karang Prasetya - Denpost (1).jpg
Kisah Puk dan Cip yang akan Menikah ilustrasi I Made Dwi Karang Prasetya/Denpost

EMAK tak habis pikir. Puk, anak perempuan satu-satunya sampai sekarang belum juga mau menikah. Meski Emak sudah seringkali dan tak bosanbosannya menyuruh Puk agar segera berumah tangga, menikah dengan lelaki pilihannya, tapi hasilnya tetap nihil

Bagi Puk sendiri, permintaan Emak yang nyaris terdengar setiap hari sepertinya hanya dianggap angin lalu. Tak begitu dihiraukan. Meski Puk sendiri menyadari usianya sekarang sudah mendekati 30 tahun, tapi anehnya setiap kali disuruh menikah atau ditanya soal itu jawabannya selalu terdengar enteng: belum waktunya!

“Menikah itu perkara gampang, Mak. Itu masalah sepele. Jika aku mau dan bilang sama Cip, mengajaknya menikah, pasti ia akan segera melamarku. Itu pasti,” ucap Puk suatu hari di hadapan Emak.

“Kalau begitu mau menunggu apa lagi? Ingat usiamu, Puk. Emak tak ingin kamu dikatakan perawan kasep oleh orang-orang di kampung ini,” sahut Emak dengan mimik serius.

Mendengar perkataan Emak seperti itu Puk justru tersenyum tipis. Seperti yang sudah-sudah, Puk lalu memberikan jawaban enteng: belum waktunya!

***

Cerita pendek yang kubuat malam ini sengaja kutinggalkan sejenak. Tak tahan dengan suasana panas di ruangan yang biasa kugunakan untuk menulis, aku pun melangkah pelan mendekati arah jendela dan membukanya. Semilir angin malam pun langsung menerobos masuk ke ruangan. Terasa begitu segar dibandingkan sebelumnya.

Setelah beberapa saat berdiri di depan jendela sambil menikmati suasana dan sepinya malam, aku pun kembali lagi ke tempat semula. Duduk menghadap laptop.

“Mengapa malam-malam begini jendelanya dibuka?” kata Murni, istriku yang tiba-tiba masuk ruangan tempat aku mengerjakan cerita pendek dan kemudian duduk di sampingku.

“Tak betah dengan suasana panas di ruangan ini.”

Murni diam sejenak. Matanya lalu memandang laptop di depannya. Tulisanku yang baru dapat beberapa baris diperhatikan dengan seksama.

“Sejak tadi menulis baru dapat ini?”

“Ya, memang baru dapat beberapa baris itu.”

Murni kembali diam, tapi pandangannya tetap tertuju pada laptop. “Mas, setiap kali menulis cerita pendek mengapa selalu mengangkat tema cinta? Apa tak ada tema lainnya yang sekiranya lebih menarik?”

“Apa salah jika aku mengangkat tematema cinta? Bukankah cinta itu universal dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Cinta tak bisa disepelekan begitu saja. Manusia tak bisa hidup tanpa cinta. Sebaliknya, manusia akan bisa hidup dengan tenang dan bahagia jika bersanding dengan yang namanya cinta.”

“Iya, aku paham. Tapi dengan mengangkat tema seperti ini apa tidak malu dengan penulis-penulis lainnya? Bukankah sekarang banyak penulis yang mencoba menggarap tema-tema yang kadang aneh dan lebih menarik? Juga dibarengi dengan gaya penulisan yang menakjubkan?”

“Mengapa harus malu? Penulis itu punya kebebasan berekspresi. Bebas mengangkat tema apa saja sesuai keinginannya.”

Murni diam sejenak. Matanya kembali tertuju pada laptop. “Membuat nama tokoh mengapa hanya Puk dan Cip, apa tak ada nama lainnya yang lebih menarik. Bagaimana pula cerita Puk dan Cip nanti?” katanya kemudian sembari memandangiku lekat-lekat.

Aku tertawa sambil memandangi Murni. Apa yang dikatakannya memang benar. Soal nama tokoh dalam cerita aku memang sering memilih sekenanya.

“Hanya nama tokoh dalam cerita saja mengapa harus repot-repot dipikirkan sampai pusing. Dan perkara tokoh Puk dan Cip dalam cerita itu nantinya akan jadi menikah atau tidak, aku tak bisa menjawabnya sekarang. Bagaimana cerita kedua tokoh itu nanti tergantung imajinasiku.”

Murni lalu diam, tak bertanya lagi. Sesaat kemudian berjalan pelan meninggalkan ruangan tempat aku mengerjakan cerita pendek malam ini. Tak lama kemudian aku pun kembali asyik dengan tuts-tuts laptop. Melanjutkan cerita yang kubuat malam ini.

***

Sudah lama Puk dan Cip menjalin hubungan asmara. Terlihat mesra sekali dan seakan tak bisa dipisahkan lagi. Saking cintanya kepada Puk, seringkali Cip menyatakan keinginannya untuk segera bisa melamarnya. Tapi jawaban yang diterimanya selalu sama : belum waktunya! Jawaban yang sama seperti setiap kali ditanya Emak soal kapan akan menikah.

“Cip, aku minta urungkan saja keinginanmu yang akan menikahiku,” ucap Puk dengan mimik serius suatu malam saat Cip berkunjung ke rumahnya.

Seketika Cip tersentak kaget begitu mendengar perkataan Puk yang tak pernah diduga sebelumnya itu. Puk kemudian ditatap lekat-lekat dengan dada yang bergetar hebat. Cip tak tahu mengapa Puk tiba-tiba punya keinginan seperti itu.

“Urungkan keinginanmu yang akan menikahiku.”

“Apa alasannya kamu tiba-tiba bisa berkata seperti itu?” tanya Cip dengan suara agak bergetar.

“Jangan tanya apa sebabnya. Pokoknya urungkan saja keinginanmu yang ingin menikahiku.”

“Ini jelas tak masuk akal. Kita yang sudah lama berjalan bersama dan saling mencintai, mengapa tiba-tiba kamu ingin putus tanpa alasan yang pasti.”

“Cinta memang kadang tak masuk akal. Cinta kadang sulit dipahami. Aku memutuskan itu hanya karena mengikuti takdir cinta. Bukankah kamu juga paham bahwa cinta tak selamanya harus bersatu dan memiliki?”

“Itu namanya kamu sewenang-wenang memainkan cinta. Dengan alasan takdir atau istilah lainnya, kamu sengaja mengubur cinta yang seharusnya dijunjung tinggi dengan etika dan pemahaman yang benar.”

“Itulah cinta. Kadang memang sulit diterjemahkan. Sulit dilogika.”

Dada Cip semakin bergolak. Ia tak habis pikir mengapa Puk yang selama ini dicintainya tiba-tiba bersikeras ingin memutuskan hubungan yang telah lama dijalani bersama. Tanpa alasan yang jelas dan ingin meninggalkan dirinya begitu saja.

***

“Rul!”

Jari-jemariku yang tengah asyik menulis cerita pendek seketika berhenti ketika tibatiba terdengar suara yang memanggilku dari arah jendela yang masih terbuka. Aku menoleh. Di luar jendela terlihat seorang lelaki yang tengah berdiri dan menatapku dengan pandangan penuh kemarahan.

“Rul, kamu jangan mentang-mentang jadi penulis lalu membuat cerita sesuka hatimu. Kamu jangan ngawur!”

“Kamu siapa dan apa maksudmu?” tanyaku pada sosok di luar jendela.

“Aku, Cip, tokoh dalam ceritamu. Kamu jadi penulis jangan sewenang-wenang! Aku dan Puk yang sebenarnya saling mencintai dan sebentar lagi akan menikah dan tinggal menunggu waktu saja, mengapa tiba-tiba harus berpisah tanpa alasan yang jelas. Dasar penulis goblok, penulis ngawur!”

“Masalah kamu akan menikah dengan Puk atau tidak, itu urusanku. Aku yang berhak menentukan.”

“Apakah nasib tokoh seperti aku ini bisa kau buat sesuka hatimu, mengikuti emosi pribadimu?”

“Tokoh-tokoh di dalam ceritaku memang harus menuruti kemauanku. Aku punya hak menentukan nasib tokoh di dalam cerita yang aku buat.”

“Tidak bisa! Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Cerita itu terkesan kau paksakan. Kamu telah membuat nasibku tak jelas dan aku minta kamu segera meralat tulisanmu, agar aku dengan Puk jadi menikah.”

“Tidak bisa. Aku sebagai penulis tak bisa diintervensi oleh siapa pun. Apalagi oleh tokoh-tokoh sepertimu.”

“Keparat! Kalau begitu kamu perlu diberi pelajaran agar tak sewenangwenang jadi penulis.”

Setelah berkata demikian Cip lalu melompat jendela dengan penuh kemarahan. Sesaat setelah berada di depanku, tangannya langsung berkelebat cepat menghantam wajahku bertubi-tubi dan disusul kakinya menendang dadaku dengan sekuat tenaga. Seketika aku limbung, perlahan pandanganku menjadi gelap dan sesaat kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

“Mas, mengapa tidur di sini?!”

Aku terkejut ketika Murni membangunkanku sambil tangannnya memegangi pundakku.

“Kalau tidur di kamar, Mas.”

Murni kupandangi sekilas. Aku baru sadar kalau aku sudah tertidur sewaktu mengerjakan cerita pendek malam ini. Sampai bermimpi tokoh dalam ceritaku protes dan marah kepadaku.

 

Irul S Budianto lahir di Boyolali, 22 Juli. Selain cerpen, juga menulis puisi dan esai sastra-budaya. Tersiar di beberapa media. Kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah.

Ilustrasi cerpen karya I Made Dwi Karang Prasetya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali.