Cerpen Hendy Pratama (Radar Banyuwangi, 27 Oktober 2019)

Ibu Ingin Jadi Kunang-Kunang ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Ibu Ingin Jadi Kunang-Kunang ilustrasi Radar Banyuwangi 

IBUKU ingin jadi kunang-kunang malam ini. Seperti dian-dian kerdil yang terbang ke penjuru. Menghampar ke sawah dan ladang. Ke sekitar pemukiman kampung yang dingin dan terpencil. Meski cahayanya tak selebat bulan atau setajam matahari, Ibuku tak mempermasalahkannya. Katanya, kampung butuh itu, walau sekelebat sekalipun.

Aku tercenung ketika Ibu menyampaikan hasrat ganjilnya itu padaku. Ia duduk di sampingku dengan muka hampa. Kosong. Tak menampakkan ekspresi apa pun. Kira-kira sekitar jam dua belas malam. Aku tidak tahu pasti jam berapa pada saat itu. Yang kutahu, hawa dingin menyeruak, mencuri kehangatan tubuhku melalui kisi-kisi jendela ruang tamu yang belum tertutup sempurna, sebelum menyelinap ke lubang kulitku.

Sebelum keinginannya itu masuk ke telingaku, aku lebih dulu curiga padanya. Berkali-kali kutawari ia teh panas sebagai penawar dingin. Namun, tidak sekalipun menerimanya. Seperti ada seseuatu yang mencuri seleranya. Tidak biasanya ia begitu. Matanya yang sayu tampak serius.

“Aku ingin jadi kunang-kunang,” begitu ucapnya. Memecah hening malam.

Tentu aku bingung bukan main. Ingin sekali aku berbicara banyak padanya. Terutama tentang keinginan ganjilnya itu. Tetapi, kata-kataku lebih dulu tersangkut di tenggorokan. Entah karena apa.

Sebenarnya, Ibuku bukan orang yang aneh. Di kampung, ia terkenal supel, mudah bergaul dan selalu ceria. Ia akrab dengan ibu-ibu sekampung. Bila kutanya nama ibu yang membeli sayurnya—yang datang menumpang mersi dan terbilang jarang kutemui, ibu hafal namanya. Bahkan, penduduk yang baru pindah dari kota jauh, Ibu segera tahu indentitasnya. Ya. Ibuku memang terkenal di mata penduduk sebagai penjual sayur keliling yang gemar mencari isu seperti awak media.

Ibuku tahu gosip terbaru. Pernah ketika kutemani ia keliling menjual sayur, ia memberitahuku tentang percekcokan antara Pak Mudakir dengan istrinya. Kata Ibu, Pak Mudakir itu hidung belang. Tiap malam pergi ke kota untuk beli jajan. Burungnya suka kelimpungan bila tak masuk ke sarang.

“Duit-duit Pak Mudakir lenyap untuk jajan. Istrinya, Bu Khofifah, tidak kebagian jatah. Hsstt… Bu Khofifah, kan, doyan ke mal. Apa pun yang dijumpainya langsung dibeli. Terakhir kali Ibu lihat, ia beli baju baru yang warnanya mencolok. Pasti mahal. Dan, karena kurang jatah itulah, ia cekcok dengan Pak Mudakir,” sentil Ibu.

Aku hanya mengangguk, tidak selera.

“Mungkin, Pak Mudakir kepergok. Lagian, siapa pula yang tidak curiga. Tiap malam kerap kali keluar ke kota dan menjelang subuh baru pulang. Apa yang ia lakukan kalau tidak bercumbu dengan wanita-wanita murahan.” Ibu masih mengungkit-ungkit masalah itu, sedangkan aku hanya mengangguk-angguk, tidak selera. Aku memang tidak selera dengan gosip-gosip. Entah karena aku bukan perempuan atau karena apa, aku tidak tahu.

***

Ibu berubah sejak satu tahun yang lalu ketika terjadi percekcokan hebat antara dirinya dengan Bapak. Belum kuketahui apa sebabnya. Hanya saja, Ibu tidak suka bila Bapak berteman akrab dengan Pak Mudakir.

“Kamu mau jadi hidung belang juga. Hahh?!” sentak Ibu, sambil berkacak pinggang.

“Siapa pula yang mau jadi hidung belang? Aku dengan Mudakir cuma membangun bisnis,” sanggah Bapak.

“Ya, bisnis sewa-menyewa pelacur!”

Alis Bapak bertaut dan giginya gemeletukan. Tangannya menggengam angin. Keras dan erat. Mata Bapak membidik tubuh Ibu.

Belum sempat aku mengamati, kepalan tangan Bapak lebih dulu bikin pilu. Pipi Ibu jadi sasarannya. Dan itu tidak hanya sekali. Bapak melakukannya berulang kali, meskipun itu di luar nalar, di luar kesadarannya sebagai kepala keluarga. Aku melihatnya seperti singa menemui mangsa. Tiada ampun, tiada belas kasih. Ukurannya ialah kepuasan.

“Kalau itu maumu, baiklah. Aku akan memenuhi hasratmu itu. Jadi hidung belang nomor satu dengan membangun bisnis pelacuran!” tukas Bapak sebelum kakinya dikayuh pergi meninggalkan rumah.

Perasaanku teraduk. Sebenarnya, aku ingin menolong Ibu. Mana tega melihatnya babak belur sampai ke ulu hati begitu. Tetapi, aku juga tidak suka dengan Ibu yang gemar menduga-duga. Prasangkanya sungguh keterlaluan.

“Kau lihat, Bapakmu sudah jadi buaya,” celetuk Ibu. Tentu ia tidak dapat fasih berbicara. Mulutnya sedikit lebam. “Sekarang ini, manusia tidak menjadi manusia seutuhnya. Sejatinya, kita ini hewan yang menyamar. Dan, kita belum tahu, hewan apa yang bermukim di dada kita.”

Aku membersihkan luka-luka di wajah Ibu dengan sesobek kain basah. Hanya itu yang dapat kuperbuat, selain menyimak perkataannya.

“Aku sudah bosan jadi lalat,” ungkap Ibu. Mukanya datar, alisnya sedikit terangkat, dan sesekali tampak menahan perih. “Siapa pula yang tidak bosan jadi penyebar gosip, hahh?! Aku juga ingin jadi orang baik. Pengin insaf.”

Angin malam itu berhasil memenuhi ruangan. Sesekali surai-surai jendela tersibak. Berayun-ayun. Membuat tubuhku menggigil dan ngilu. Ingin sekali aku menutup jendela. Tetapi, Ibu lekas melanjutkan pembicaraannya.

“Aku tidak ingin jadi lalat yang justru membuat kampung jadi tambah gelap. Aku ingin jadi kunang-kunang saja. Paling tidak, petani-petani di kampung kita dapat jalan, dapat penerangan sekadar memeriksa padi-padinya. Mereka tidak lagi jatuh tertumus karena salah menapak di pinggir pematang. Atau, bila seseorang sedang berada di sawah atau ladang, ia tahu arah jalan.”

Maklum. Kampungku kecil dan terpencil. Jauh dari kota, jauh dari gemerlap metropilitan. Penerangan menjadi barang langka. Listrik sulit masuk. Untuk urusan cahaya, kami memakai dian dan petromaks.

***

“Bagaimana cara Ibu jadi kunang-kunang?” tanyaku kemudian.

Semenjak pertanyaan itu terucap, Ibu tidak berkata apa pun lagi. Ia lebih banyak diam. Kelakuannya juga berubah, tidak lagi ngerumpi. Tidak ada gosip yang disebar. Kupikir, Ibu tidak lagi menjadi seekor lalat. Justru para tetangga yang mengambil alih perannya. Menggosipkan Ibu diceraikan suaminya. Ibu dianggap punya lelaki simpanan dan menemuinya ketika selesai menjual sayur berkeliling. Para tetangga menduga, Ibu singgah di rumah lelaki simpanan.

Ya. Ibu sekarang memang jarang pulang. Kuhitung sudah sejak tujuh hari yang lalu. Tetapi, aku tidak percaya bila Ibu bercumbu dengan lelaki lain yang bukan Bapak. Itu gosip murahan, menurutku.

Malam ini, aku hanya ditemani Bu Khofifah. Nyatanya, dugaan bahwa Bu Khofifah matre dan suka berbelanja tidaklah benar. Tiap pagi dan sore ia menengokku sekadar menyapa dan memberi serantang makanan dan kadang-kadang setangkup pisang.

Tengah malam ini, aku melihat langit berhambur bintang. Sejibun orang berduyun-duyun ke sawah dan ladang. Aku melihat dari beranda. Dan setelah tiba di sana, kutemui binatang-binatang kerdil menyala, ke sana-kemari, seperti bintang yang salah tempat. Orang-orang dan petani serta peladang tercenung lama. Mengamati fenomena langka itu.

Di tengah ketakjuban dan nyala cahaya, sekelebat kudapati seorang perempuan memegang tangan laki-laki, keluar dari balik kerumunan. ***

 

Pudin Coffee, 2019

Hendy Pratama, lahir 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam, Syawirasa, Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan relawan di pesantren literasi Omah Shoro. Karya-karyanya tersebar di sejumlah media.