Cerpen Rudi Fahrizal Putra (Serambi Indonesia, 27 Oktober 2019)

Ernest Hemingway ilustrasi Istimewa.jpg
Ernest Hemingway ilustrasi Istimewa

Tak pernah kuduga sebelumnya, aku akan bertemu dengan seseorang yang memiliki nama persis sama dengan nama penulis idolaku: Ernest Hemingway. Awalnya aku tak percaya saat ia menyebutkan namanya, tapi setelah ia memperlihatkan KTP, akhirnya aku yakin kalau ia memang sedang tidak berkelakar.

“Bagaimana ceritanya kau bisa mendapatkan nama yang keren begitu?” tanyaku.

“Ayahku yang memberikannya. Ia adalah seorang pengagum Ernest Hemingway.”

“Ooh.. kalau begitu pastilah ayahmu seorang penulis juga kan? Boleh kutahu siapa dia?”

“Sayangnya bukan, dia cuma pegawai kantoran yang kebetulan suka membaca cerita. Seumur hidupnya, ia tak pernah menulis satu cerita pun.”

“Sayang sekali…”

Begitulah perkenalan kami yang terasa datar dan singkat, di hari orientasi mahasiswa baru yang melelahkan. Sejak awal pertemuan kami, aku telah merasa cocok dengannya. Ia lah satu-satunya temanku dikampus yang sering kuajak berdiskusi. Wawasan dan pengetahuannya luas. Di samping itu, ia juga menggemari dunia sastra sepertiku. Tidak rugi orangtuanya memberinya nama salah satu penulis paling hebat di muka bumi ini. Tapi, berbeda dengan Ernest Hemingway asli yang lebih banyak bergelut dengan karya-karya fiksi, temanku yang satu ini ternyata lebih tertarik pada tulisan-tulisan non fiksi. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa ternyata ia adalah seorang idealis. Kurasa, ia akan menjadi warna tersendiri bagi hidupku. Bagi perjalanan panjangku menempuh pendidikan di universitas kebanggaan kami ini.

***

Baru dua semester berjalan, Ernest telah berbicara tentang perubahan. Tak jarang, muka para dosen pun dibuat merah padam olehnya. Ernest tak segan mengkritik apa pun yang tak sesuai dengan idealisme yang dianutnya. Gaya bicaranya yang lantang, membuatku berpikir bahwa suatu saat nanti anak ini akan menjadi aktivis terkenal di kampusku. Selama ini, Ernest memang sangat antusias berbicara tentang sistem pendidikan di negeri ini yang menurutnya sudah sangat bobrok. Ia berkata, sudah saatnya pendidikan kita direformasi atau bahkan, kalau perlu direvolusi. Jika tidak, katanya, lihat saja ke depannya, kehancuran yang lebih parah akan siap menunggu. Pada suatu kesempatan, sengaja kutanyakan hal itu kepadanya agar aku bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang pemikirannya.

“Kau tahu apa?” Katanya membalas pertanyaanku. “Semester lalu, saat aku hendak mengurus beasiswa, kepala jurusan kita marah padaku, karena pada surat keterangan aku lupa membubuhkan gelar Ph. D. di belakang namanya.”

“Susah payah aku berjuang mendapat gelar itu, dan kau tanpa menaruh sedikit pun rasa hormat, seenak jidatnya melupakannnya.” Kata Ernest menirukan ucapan dosen kami itu.

“Begitulah warna pendidikan kita sekarang ini. Gelar dikejar hanya agar dihormati. Bukan untuk mengabdi pada negeri!” Lanjut Ernest lagi.

“Tapi, seharusnya kau tidak menggeneralisasi keadaan pendidikan di negeri kita hanya karena pengalamanmu dengan kepala jurusan. Sikap beliau itu sama sekali tidak mewakili nilai-nilai pendidikan di negeri kita,” kataku mencoba membantah. Ernest menatapku seakan merasa heran.

“Ah, kau ini kawan. Tentu saja tak sesederhana itu aku mengambil kesimpulanku itu. Tidakkah kau sadari keadaan negeri kita ini? Tak perlu jauh-jauh kau pergi. Cukup ke kantor pemerintahan untuk mengurusi keperluan administrasi atau apa saja. Lihatlah bagaimana mereka melayanimu. Kurasa kau tahu sendiri maksudku.”

Aku pun terdiam karena paham maksud Ernest. Ia tengah bericara tentang korupsi. Memang, di negeri ini, yang namanya korupsi, baik itu kecil maupun besar, memang sudah dianggap hal yang biasa saja. Di setiap instansi selalu saja ada celah untuk mendapat pelayanan yang lebih cepat. Tentu saja dengan menyelipkan sedikit uang pemulus kepada mereka yang bertugas. Memang terlihat seperti hal yang remeh-temeh. Tapi aku mengerti apa yang dipikirkan Ernest. Bukan sekadar kegiatan mereka yang menjadi persoalan, melainkan karakter yang melekat di diri mereka. Harus diakui, sebagian besar masyarakat di republik ini entah sadar atau tidak, memang punya mental yang tidak baik. Mental curang. Sudi melakukan apa pun hanya demi kepuasan pribadi.

Tanpa penjelasan dari Ernest, aku pun mulai menyadari, sejak di sekolah dasar pun, sistem pendidikan di negeri ini telah memaksa setiap peserta didik untuk lebih menghargai hasil ketimbang proses. Anak didik diarahkan untuk bersaing merebut nilai tinggi dalam semua mata pelajaran, padahal karakteristik dan kecerdasan setiap anak itu beda-beda. Hanya secuil anak dengan intelegensia di atas rata-rata yang mampu memenuhi standar kompetensi macam itu. Tidak heran, kalau akhirnya mereka lebih memilih jalan pintas untuk memecahkan masalah. Nyontek pun menjadi tradisi di setiap sekolah.

Aku teringat dengan cerita guru matematikaku sewaktu SMA dulu. Dengan bangganya ia memberitahu kami, para siswanya, tentang profesi sampingannya sebagai penyusun skripsi mahasiswa-mahasiwa yang terlalu bodoh dan malas untuk bisa menulis skripsinya sendiri. Katanya, ia bisa mendapatkan upah hampir 5 juta rupiah hanya untuk satu skripsi. Baru sekarang aku sadar, bahwa guruku itu secara tidak langsung telah membenarkan praktik kecurangan di depan kami. Bagaimana mungkin pekerjaan memalsukan karya cipta bisa dipamerkan dengan bangga di depan kami para peserta didiknya. Sudah jelas, beliau mendiktekan kepada kami, uang lebih penting ketimbang moralitas.

“Bayangkan kawan,” kata Ernest lagi setelah terdiam sesaat. “Selama dua belas tahun kita dididik untuk bermental curang seperti itu. Untuk mengejar kepentingan pribadi dengan cara apa pun, sekalipun itu dengan cara yang menyimpang dari etika. Selama dua belas tahun itu pula apa yang kita pelajari dari sekolah itu mengendap di pikiran bawah sadar kita. Perlahan-lahan membentuk karakter kita. Maka, tak usah heran kalau di negeri ini korupsi sudah mendarah-daging dan menjadi budaya.”

“Lantas, menurutmu apa yang harus kita perbaiki dari sistem pendidikan ini?”

“Sistem evaluasinya. Peserta didik harus diajari untuk menghargai sebuah proses yang jujur ketimbang hasil yang baik tapi didapat dengan cara-cara yang menyalahi etika. Mata pelajaran pun harus dikurangi. Dan lagi, pengembangan bakat dan minat juga mesti menjadi bagian dari kurikulum.” Jawabnya mantap seolah sudah mempersiapkannya sejak lama.

“Tentu saja tak mudah memperbaiki sebuah bangunan yang sudah bobrok begini,” lanjutnya lagi. “Tapi dari sana lah kita harus memulainya. Tidak bisa tidak, pendidikan merupakan suatu hal yang paling menentukan karakter anak-anak bangsa ini ke depannya. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan baik. Terutama kaum perempuan. Sebab merekalah pendidikan paling awal bagi setiap generasi manusia.”

Ernest tiba-tiba berhenti bicara. Kami terpaksa menghentikan percakapan kami karena dosen yang kami tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya tiba juga. Sebelum memulai kuliah, dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan itu lebih dulu meminta maaf kepada kami atas keterlambatannya. Kemudian tanpa basa-basi ia pun langsung menyilakan kelompok yang harus maju mempresentasikan makalah mereka minggu ini. Tiga orang temanku pun maju membawa alat-alat presentasi mereka. Tapi aku tak semangat mendengar kuliah dari mereka. Semua juga tahu, mereka hanya membacakan makalah hasil copy-paste dari internet, dengan sedikit penjelasan di sana sini. Kuliah hari itu terkesan monoton, tanpa benar-benar ada diskusi yang menarik hatiku.

***

Selalu saja ada kesempatan untuk mengobrol dengan Ernest Hemingway saat jam mata kuliah dimulai. Sebab, sedikit sekali dosen yang datang tepat waktu. Lagi pula, hari ini suasana mendung, bahkan sudah mulai turun gerimis. Biasanya, tak ada dosen yang datang ke kelas kalau cuacanya tidak mendukung seperti ini. Kudekati Ernest yang tengah menulis entah apa di buku catatannya.

“Apa kau menulis cerpen?” Celetukku.

“Oh, bukan. Meski namaku sama dengan penulis idolamu, bukan berarti minatku terhadap sastra pun harus sama besar dengannya.” Jawab Ernest berkelakar.

“Haha, tapi kau harus mencoba mendalami sastra, Ernest. Kau tahu? Banyak perubahan besar yang diawali oleh sastra. Multatuli melalui Max Havelaarnya, berhasil membuat Belanda merasa malu hingga akhirnya penguasa kolonial itu memberlakukan politik balas budi di negeri ini. Sekolah-sekolah didirikan untuk pribumi sehingga kebodohan pun perlahan-lahan bisa ditamatkan. Ketika semakin banyak pribumi yang tersadarkan, semangat nasionalisme pun tak bisa dibendung. Itulah cikal-bakal kemerdekaan kita,” terangku panjang lebar.

“Kau benar, bahkan Tirto Adhi Soerjo, yang mendapat julukan Sang Pemula dari Pramoedya Ananta Toer juga mengawali sejarahnya dengan menulis cerita di koran-koran,” tambah Ernest.

“Bahkan, kampus tempat kita bernaung sekarang, Ernest, adalah hasil jerih payah seorang sastrawan juga. Dialah Ali Hasjimi, mantan gubernur daerah kita, sekaligus rektor pertama universitas kebanggaan masyarakat kita ini.”

Ernest tersenyum melihat semangatku saat menyinggung soal sastra. Ia tahu, minatku pada bidang satu itu, bahkan telah melampaui mahasiswa fakultas sastra di kampus kami.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Nanti akan kita buktikan siapa di antara kita yang akan menjadi penerus mereka-mereka itu. Aku, si Ernest Hemingway ini, atau kau,” Katanya memberi semangat.

“Oke, kita lihat saja,” jawabku.

***

Sejak mendapat tantangan dari Ernest, aku menjadi semakin bersemangat mengembangkan minatku pada sastra. Aku pun mulai memberanikan diri mengirim karya-karyaku ke meja redaksi surat kabar. Hanya karya biasa tentang percintaan ala remaja. Kuakui, aku memang belum mampu menciptakan karya-karya hebat yang dapat membawa perubahan seperti milik Pramoedya Ananta Toer. Tapi setidaknya, aku sudah berusaha menghasilkan karya sendiri. Dua minggu kemudian, dua puisi yang kukirimkan itu dimuat di surat kabar kenamaan di kota kami. Aku senang bukan kepalang. Kuceritakan itu pada Ernest, dan ia hanya mengucapkan selamat. Katanya, ia telah tertinggal selangkah dariku.

Mungkin aku memang lebih maju di bidang sastra ketimbang Ernest Hemingway, tapi di bidang akademik, jelas dia lebih unggul. Dia bisa lulus tepat waktu. Tepat pada semester kedelapan, ia berhasil menyelesaikan studinya. Sementara aku, mungkin harus menunggu barang dua tahun lagi agar bisa lulus. Meski begitu, aku tak begitu menyesalinya karena pencapaianku di bidang sastra sudah mulai menunjukkan hasil.

Hari ini, aku mendapat undangan dari Ernest, dan beberapa teman satu angkatanku yang akan diwisuda. Aku datang dengan setelan terbaikku untuk menyaksikan mereka tersenyum di hari yang paling mereka nanti-nantikan selama ini. Tapi setibanya di gedung tempat berlangsungnya acara, aku tak melihat Ernest. Barangkali dia bakal datang terlambat, pikirku. Kuhampiri teman-temanku yang sudah siap dengan setelan toga mereka masing-masing. Aku pun memberi ucapan selamat kepada mereka.

Aku duduk di salah satu bangku undangan, melihat satu per satu peserta wisuda dipanggil ke atas panggung. Dengan gusar aku memikirkan Ernest, anak itu belum tampak sedari tadi. Apa ia akan melewatkan momen yang paling dinanti-nantikan oleh setiap mahasiswa ini? Kucoba menghubunginya lewat ponsel. Tak ada jawaban.

Akhirnya giliran Ernest pun tiba, saat namanya dipanggil, seisi ruangan terasa hening. Yang dipanggil tak ada di tempat, bahkan tak ada satu pun keluarga yang datang dan bisa dimintai penjelasan. Kulihat seorang laki-laki dengan pakaian batik mendatangi MC. Ia tampak membisiki sesuatu ke telinga wanita yang menjadi MC itu. Hatiku semakin was-was. Dan benar juga, kerisauanku akhirnya terjawab setelah tak lama kemudian, sang protokol dengan wajah mengiba mengumumkan berita yang membuat jantungku seakan berhenti. Ruangan hening sekali lagi. Beberapa orang memasang wajah tidak percaya. Seorang peserta wisuda bernama Ernest Hemingway dikabarkan baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan. Tepat saat keberangkatannya menuju acara wisuda yang mesti diikutinya saat itu.

 

Rudi Fahrizal Putra, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh. Menulis puisi dan cerpen.