Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Padang Ekspres, 27 Oktober 2019)

Cantik Itu Relatif ilustrasi Istimewa-.jpg
Cantik Itu Relatif ilustrasi Istimewa

Nara membetulkan kacamatanya yang melorot ketika membaca sebuah brosur di tangannya. Di dalam brosur tersebut jelas tertulis “KONTES KECANTIKAN NASIONAL 2019”. Selama ini memang dia belum pernah mengikuti kontes semacam itu. Yang ada justru perlombaan di bidang akademik. Berbagai gelar mampu dia raih dengan mudah, karena memang ia langganan juara kelas. Maka tak heran jika teman-teman sekelas sering mengajaknya belajar kelompok.

Sama seperti halnya malam ini, Nara akan belajar kelompok di rumah Kia. Dia terlihat bersemangat karena bisa sekalian belajar make-up dengan Kia. Kia yang tak lain adalah salah satu murid paling cantik di kelas itu terkenal pintar memoles wajah, walaupun hanya minimalis. Selama masih dalam batas wajar, guru-guru mampu memaklumi dan tak pernah menegurnya.

Tepat pukul 7, Nara sampai di rumah Kia. Kia terlihat cantik meski hanya memakai setelan sederhana. Tak lupa dandanan simpel menghias wajahnya. Hal itu sontak saja membuat Nara semakin kagum.

“Kia, kamu kok bisa cantik begitu, sih? Jago make-up lagi!” puji Nara sesaat setelah dia dipersilakan masuk oleh Kia.

Yang dipuji hanya tersenyum simpul. Seolah-olah itu bukan hal yang istimewa bagi Kia.

“Cantiknya seorang cewek itu relatif lho, Ra?” timpal Kia kemudian.

“Maksud kamu?”

“Ya relatif. Jadi kamu bisa bilang aku cantik, belum tentu orang lain berpendapat sama dengan kamu.”

“Eh, benarkah?” Nara terperangah.

“Iyalah. Memangnya kenapa, sih? Kok kayaknya dari tadi kamu nggak puas sama jawabanku?”

“Oh, nggak. Nggak apa-apa kok. Ya sudah, kita belajar sekarang, yuk!”

Kia masih menatap Nara untuk beberapa saat sambil membuka buku-buku yang sudah tertata di meja. Sedangkan Nara hanya sanggup menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Kegugupan itu tak kunjung hilang sampai belajar kelompok selesai. Nara pun mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Kia: bagaimana caranya berdandan.

***

Esok harinya, saat Nara sampai di gerbang sekolah, dia tak sengaja menabrak salah satu murid yang ternyata adalah Arga, si ketua OSIS. Nara mengaduh kesakitan dan Arga pun refleks membantunya berdiri.

“Kamu nggak apa-apa, Ra?” tanya Arga kemudian sambil menatap Nara, memastikan semua baik-baik saja.

“Eh, nggak kok. Nggak apa-apa. Cuma lecet sedikit. Nanti aku mampir ke UKS, deh!” terang Nara.

“Syukurlah kalau begitu. Eh, tapi ngomong-omong, kenapa kamu nggak pakai kacamata?”

“Oiya, aku lupa, Ga!” Nara menepuk jidatnya.

“Kok bisa sampai lupa, sih? Pasti buru-buru, ya? Ya sudah, hati-hati jalannya. Aku mau ke kelas dulu.”

Nara hanya mengangguk pelan seiring Arga yang melenggang pergi. Sebenarnya bukan karena lupa, tapi memang dari rumah dia sengaja meninggalkan kacamatanya di atas meja. Hari ini dia bertekad untuk tidak memakai kacamata, bahkan mungkin untuk seterusnya. Baginya, memakai kacamata membuat dia kelihatan lebih tua dan kuno.

Bukan hanya berusaha menanggalkan kacamata saja. Seiring hari berlanjut, Nara mulai keasyikan melakukan diet ketat. Sampai ibunya sering marah-marah lantaran dia ketahuan tidak sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Alhasil, beberapa kali dia sempat pingsan mendadak. Kalau ditanya, alasannya selalu lupa atau buru-buru.

Tak cukup sampai di situ, Nara juga ketagihan ke mal sepulang sekolah. Lalu tak lupa ke salon seminggu sekali. Semua itu dia lakukan semata-mata agar menunjang penampilannya. Pokoknya harus perfect sebelum kontes kecantikan berlangsung. Lambat laun, tanpa sadar dia menjadi boros bukan main.

***

“Nara!” panggil Kia dari kejauhan.

Nara menoleh sekilas dan mulai berjalan agak lambat di sepanjang koridor kelas.

“Ra, kamu jadi bayar buku kumpulan soal-soal ujian, kan?”

“Ma, maaf, Kia. Aku belum ada uang.”

Lho, katanya hari ini? Yang belum bayar tinggal kamu dan Bu Yayuk tadi minta tolong sama aku untuk menagih kamu.”

Nara hanya diam tanpa bisa membalas pernyataan Kia.

“Kamu nggak biasanya begini, deh! Dulu kamu selalu tercepat kalau urusan membayar buku. Dulu kamu selalu selesai duluan kalau disuruh mencatat. Tapi sejak kamu nggak pakai kacamata, kamu jadi sering tertinggal, Ra. Beberapa kali teman-teman juga sempat lihat kamu jalan di mal dan belanja nggak jelas. Nggak cuma itu, kamu juga ke salon akhir-akhir ini. Ya, kan? Duh, Ra! Jangan bilang kamu lebih mementingkan itu semua daripada prestasimu selama ini!” lanjut Kia dengan wajah sebal.

Nara mematung saat Kia menyudahi percakapan dan meninggalkannya sendirian. Mungkin di dalam pikirannya sedang menggantung pertanyaan: haruskah dia berhenti dan kembali seperti dulu lagi, atau tetap lanjut dengan mengikuti kontes yang bahkan belum pernah dia juarai itu.

Memang, setelah semua yang dia lakukan beberapa hari ini telah membuat teman-teman banyak memuji kecantikannya. Tapi tak jarang ada yang menyayangkan hal itu karena nilai-nilainya agak menurun.

Dalam pikiran yang sedang berkecamuk itulah, tiba-tiba Nara merasa kalau keadaan di sekitarnya seperti berputar. Dia berjalan sempoyongan sebelum sampai di depan kelas. Tepat setelah kaki kanannya menjejak ruang kelas, tubuh mungilnya limbung dan jatuh di atas lantai.

Semua murid mulai mengerumuninya dan membawa ke UKS. Tapi Nara tak kunjung sadar. Untuk itulah, dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Syukurlah, setelah satu jam berlalu, Nara mulai sadar. Bu Yayuk dan beberapa murid ikut serta termasuk Kia dan Arga. Namun yang diperbolehkan masuk ke dalam ruang perawatan hanya dua orang. Bu Yayuk dan Kia menawarkan diri.

“Aku sudah dengar soal kontes kecantikan itu, Ra. Kamu nggak usahlah ikut kontes itu. Menurutku kamu malah jadi orang lain. Arga juga bilang, kalau kamu sudah sembuh, jangan lupa pakai kacamata. Katanya kamu lebih cantik begitu, Ra,” bisik Kia di telinga Nara.

Tak terasa air mata Nara meleleh seiring senyum tulus Bu Yayuk. Sedangkan dibalik jendela, Arga terlihat melambaikan tangan. Samar-samar dari bahasa bibirnya seolah berucap: Cantik itu relatif.

 

Semarang, 29 Agustus 2019