Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

Nikolaus Pu’u Pau ilustrasi Koran Tempow.jpg
Nikolaus Pu’u Pau ilustrasi Koran Tempo

Belakangan ini, Nikolaus Pu’u Pau dilanda frustrasi akut. Punya harta melimpah, punya seekor sapi betina beserta 3 anaknya, babi 3 kandang, juga kebun sayur seluas lapangan basket di belakang rumah, ternyata bisa bikin seseorang putus asa juga. Demikianlah, seperti kata Pastor Benediktus dalam tiap khotbahnya, harta tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.

“Ibu, bapak, saudari, saudara, dan anak-anakku yang terkasih dalam Kristus. Kebahagiaan itu sesuatu yang aneh. Dia bisa lahir dari macam-macam sebab. Seseorang bisa sangat bahagia, misalnya, hanya karena cintanya diterima oleh orang yang sejak lama dia incar. Lain contoh, orang bisa sangat happy, hanya karena gajinya cair tepat waktu. Jadi, harta, kekayaan, uang, kebun yang luas, juga ternak yang banyak, tak selamanya bisa buat seseorang baha….”

Sebelum mengucap habis kata “bahagia” itu, Nikolaus Pu’u memaki Pastor Benediktus dalam hatinya. “Pastor sial. Tiap minggu kerjanya hanya sinis, sinis, dan sinis. Tahu apa kau soal kebahagiaan, hah, Pastor mata duitan?”

“Berbahagialah dalam Allah, umatku sekalian!” lanjut Pastor Benediktus tanpa peduli pada apa yang sedang Nikolaus pikir dan katakan kepada dirinya sendiri. “Caranya, sederhana saja. Dalam gereja ini ada beberapa kotak kolekte. Isilah. Isilah dari hatimu. Semua itu untuk Tu…”

“Bene sial. Pastor sial…,” Nikolaus melanjutkan marah-marah dalam hati. “Habis sinis, minta uang atas nama Tuhan!”

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Beginilah yang terjadi tiap Minggu pagi: Nikolaus akan keluar rumah seorang diri tanpa mengajak istri dan anaknya, sebelum ke gereja dia berbelok ke arah sebuah kontrakan, dari sana dia memboncengkan seorang janda yang ditinggal pergi suaminya sebelum keduanya punya anak–karena memang suaminya mandul dan tidak kuat, juga cepat keok dalam berhubungan seksual–tepat di pintu gereja dia akan mencelupkan jarinya pada tempat air berkat, memercikkan air itu pada muka selingkuhannya, lalu masuk dan mengambil tempat duduk di pojok kiri. Tiap ditanya oleh Suster lugu yang cantik, mengapa wajah perempuan itu diperciki air berkat, Nikolaus selalu menjawab:

“Tidak semua kita bersih!”

Suster kagum bukan main pada jawaban Nikolaus. Nikolaus sungguh-sungguh meniru salah satu ucapan Yesus pada malam perjamuan terakhir bersama para murid-Nya. Alasan lain, dan yang mestilah lebih kuat, yang membuat Suster itu harus kagum pada Nikolaus ialah memang hanya itu satu-satunya cara agar anak-anak yang tinggal di asrama Susteran tetap dapat jatah sayur dan daging segar dari Nikolaus. Suster tahu bahwa kemungkinan besar itu selingkuhan Nikolaus, tapi Suster sudah sejak lama diajarkan untuk tidak boleh menuduh tanpa adanya bukti yang kuat dan pasti. Lebih lagi, keberlangsungan hidup asrama Susteran ada juga di tangan Nikolaus. Diam, dan jangan cari sial.

Dari bangku di pojok kiri itulah, saat Pastor Benediktus berkhotbah, Nikolaus memaki Pastor itu dalam hatinya. “Bene sial. Pastor sial….” Tak terhitung sudah berapa kali Nikolaus mengucapkannya. Kadang-kadang, Nikolaus memaki sambil meremas paha putih montok selingkuhannya. Saat memaki dan meremas, Nikolaus kadang pula membayangkan apa yang akan dia lakukan usai misa tak berguna ini: cepat-cepat masuk ke kontrakan selingkuhannya, gesit-gesit mengunci pintu, menyibak terusan tipis selingkuhannya, menurunkan secara kasar celana dalam selingkuhannya, lalu menerkam seganas mungkin seperti babi-babi miliknya yang diberi makan saat sedang lapar-laparnya. Tiap minggu, dalam gereja, selingkuhannya selalu tak kuasa menahan sakitnya diremas Nikolaus, laki-laki kurus, ompong, yang punya 4 ekor sapi gemuk.

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Meski begitu, tidak tiap pulang gereja Nikolaus akan menerkam dengan brutal selingkuhannya itu. Kadang-kadang, dia hanya menurunkan selingkuhannya—biasa dia disapa: Cin—di depan kontrakannya, lalu menghilang entah ke mana. Cin tak pernah mencari tahu apalagi bertanya langsung, ke mana Nikolaus pergi, bila sepulang dari gereja dirinya tidak ditiduri dengan buas oleh Nikolaus. Intinya, jatah yang disiapkan oleh istri Nikolaus untuk kolekte, selalu jatuh ke tangannya: entah diisi dalam tas, entah pula diselip secara nakal oleh Nikolaus di belahan dadanya saat umat yang lain sedang konsentrasi mendengar Pastor Benediktus berkhotbah. Pernah suatu ketika, aksi liar Nikolaus itu kedapatan oleh seorang anak SD. Anak itu kaget, karena yang dia tahu, hanya balita yang di mana pun dapat dengan bebas memegang bagian dada ibunya.

Nikolaus segera menasihati anak itu, “Lihatlah ke arah altar. Datang misa itu tidak boleh lihat kiri lihat kanan. Jadilah anak Yesus yang baik!”

Anak itu mengangguk. Nikolaus lega. Cin membetulkan BH-nya yang telanjur bergeser akibat ulah Nikolaus.

Dari kontrakan Cin, Nikolaus menuju kandang sapinya. Kandang ini lumayan jauh dari rumahnya. Sapi-sapi Nikolaus dijaga oleh seorang remaja laki-laki yang berhenti sekolah saat duduk di bangku SMP kelas 2. Remaja itu tampan, kulitnya putih, rambutnya halus, juga pinggul yang selalu bikin liur Nikolaus turun-naik. Saat remaja itu berjalan ke arah kandang, Nikolaus menikmati pinggul muda itu. Saat sapi-sapinya kenyang, Nikolaus minta jatah pada anak buahnya itu. Dalam pondok tempat remaja itu istirahat, Nikolaus sudah tanpa sehelai benang pun. Remaja itu dia perintahkan untuk menjilat seluruh bagian tubuhnya, dan harus lebih lama di bagian selangkangannya. Saat adegan tersebut selesai, dan perut remaja itu kempis karena ditindis Nikolaus dari belakang, Nikolaus kadang menangis. Rasa frustrasi kembali menyelimuti hati dan kepalanya. Nikolaus pulang dengan sebuah tepukan pada pantat remaja itu, dan beberapa lembar uang. Rp 400 ribu.

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

Sambil mengendarai sepeda motornya pulang, Nikolaus merenung betapa sudah empat bulan ini hujan tak pernah turun. Rumput-rumput bagi sapi makin sulit didapat. Beberapa tetangganya sudah mulai menelepon sopir mobil tangki yang menjual air. Krisis air pelan-pelan melanda kabupatennya. Daun-daun pohon mengering, kebakaran hutan sudah dua kali terjadi dalam bulan ini. Meski suka memaki Pastor Benediktus, menerkam Cin dengan ganas sepulang misa, dan menyodok anak buahnya selepas memberi sapi makan, Nikolaus punya kesadaran ekologis yang terbilang kuat. Bunga-bunga di rumahnya hijau dan segar. Anaknya tak kelihatan kurus, juga istrinya tetap montok kendati hampir setahun ini tak pernah diajaknya untuk bercinta.

“Saya kurang enak badan, tidak bersemangat untuk main!” jawab Nikolaus datar, tiap kali istrinya mengelus-elus dengan manja punggungnya.

Nikolaus memarkir sepeda motornya di garasi. Motor Pastor Benediktus sudah lebih dahulu ada di situ. Nikolaus cepat-cepat masuk ke rumah. Pintu kamar anaknya terbuka. Darah segar berceceran di lantai. Anaknya tewas, dengan pisau masih tertancap di perut. Pikiran Nikolaus kacau. Segera dia berlari ke arah kamarnya. Didobraknya pintu itu, dan dia mendapati Pastor Benediktus sedang memerkosa istrinya. Perut buncit Pastor Benediktus sedang menindih dengan kasar tubuh istrinya. Sebuah tali terlilit pada leher istrinya. Terkejut akan kehadiran Nikolaus, Pastor Benediktus menarik tali itu. Lidah istri Nikolaus menjulur, meronta beberapa saat, lalu diam tak bergerak.

“Demi Allah yang Kudus, keluarga ini penuh dosa dan kutuk. Enyahlah engkau, Nikolaus!” Pastor Benediktus membuat tanda salib di perut istri Nikolaus, “Berbahagialah bersama para Orang Kudus di surga, Pelacur!”

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

Badan Nikolaus mendadak lemas. Dia terduduk tak berdaya. Pastor Benediktus pergi meninggalkan rumahnya. Saat bisa kembali berdiri, tetangga Nikolaus datang memberi tahu bahwa remaja penjaga sapi Nikolaus telah mati mengenaskan. Buah pelirnya pecah setelah ditanduk sapi betina milik Nikolaus. Nikolaus coba menghubungi Cin, tapi nomor di luar jangkauan. Cin telah pergi bersama suaminya–adik kandung Pastor Benediktus–yang tiba-tiba muncul di depan kontrakan. Suster lugu yang cantik itu menelepon Nikolaus. Suara imut dari seberang terdengar seperti sambil menangis. Asrama Susteran terbakar. Uang untuk melunasi utang sayur milik Nikolaus ikut ludes di dalamnya. Tak jauh dari asrama yang hangus itu, ada sepeda motor Pastor Benediktus.

Saat frustrasi menyerang Nikolaus dan saat dia hendak berteriak minta tolong pada Tuhan, lonceng berbunyi tiga kali. Saya kaget. Ketua kelas memanggil saya di ruangan guru. Sudah saatnya saya masuk kelas, memulai pelajaran. Matikan laptop, cerita ini akan saya lanjutkan nanti. 

 

Reinard L. Meo, guru SMA. Tinggal di Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Buku puisi perdananya berjudul Segala Detikmu (Bawah Arus, 2016).

Advertisements