Cerpen Sumiati Al Yasmine (Analisa, 23 Oktober 2019)

Dedaunan Gugur di Sesayup Sepertiga Malam ilustrasi Alwie - Analisa.jpg
Dedaunan Gugur di Sesayup Sepertiga Malam ilustrasi Alwie/Analisa

SUNYI menggumam di antara perbatasan waktu, sunyi itu pula yang mengajarkan tentang kesendirian, tentang rindu yang tak sempurna, tentang airmata yang tak mengering, tentang pedih yang acapkali lindap begitu saja, namun ia sering kembali untuk mencipta luka dalam hati, berulang kali menangis dalam pilu, tetap saja airmata itu akan menjadi milikku, airmata yang kerapkali ingin kusembunyikan dari tatapan kedua matanya, padanya ada cinta yang selalu ada, bersandar di pundaknya membuat ketakutanku menghilang, segala kesederhanaan yang ada pada dirinya membuatku belajar untuk mampu menatap matahari tanpa gentar. Kusentuh kedua telapak tangannya ketika ia tidur, kedua tangannya kasar dan jauh dari kelembutan, keriput di wajahnya terlihat jelas dari singgungan kedua pipinya, rambutnya kini beruban secara merata, lelaki tua yang tak pernah menggerutu dalam hidupnya, dialah ayah, lelaki yang paling kuhormati dan kubanggakan.

Ayah adalah ibuku demikianlah ia memerankan tugasnya di setiap harinya. Lelaki baik hati itu dengan sabarnya membimbingku dalam masa tumbuh kembangku, ia harus merelakan dan mengikhlaskan perempuan yang paling ia cintai untuk pergi selama-lamanya ketika melahirkanku, rasa kehilangan yang membuatnya tak pernah berhenti menangis di sepertiga sujudnya ketika ia rindu pada ibu, padahal keluarga pihak ibu berkenan mengasuhku ketika aku baru dilahirkan ke dunia ini, namun ayah menolaknya, baginya perjuangan untuk membesarkanku adalah bukti ketulusan cintanya pada ibu.

Ketika ibu telah tiada, ayah tak ada niat untuk menikah lagi, baginya waktu dan hatinya hanyalah untukku. Masa-masa sulit yang ia hadapi tak membuatnya putus asa, bahkan ketika ayah bekerja aku selalu ikut dengannya, nasib baik masihlah berpihak kepadanya, ayah bekerja di bengkel milik teman karibnya, sementara istri teman karibnya itu belumlah dikaruniai buah hati karena mandul, melihat ayah yang bekerja sembari menggendongku membuat nurani keibuannya terpanggil, ia sering membawaku ke rumahnya yang tak jauh dari bengkel milik suaminya, suaminya juga tak keberatan jika istrinya mengisi waktu kesendiriannya dengan bermain denganku, hal itu malah membuatnya bahagia, tentulah kehadiranku di rumahnya menjadi penawar kerinduannya tentang kehadiran seorang anak di dalam rumahnya.

Baca juga: Cinta Tak Pernah Salah – Cerpen Hodland JT Hutapea (Analisa, 16 Oktober 2019)

Ayah tak kenal lelah bekerja tanpa pernah menyerah, ia tak lagi memikirkan kondisi kesehatannya sendiri, ia harus bekerja keras mengingat kebutuhan hidup semakin menantang, ia ingin melihatku menjadi orang yang sukses dengan belajar, sesusah apa pun perjuangannya dalam mencari nafkah tak pernah sekalipun tergurat dari lisannya sebuah keluhan. Seperti itulah ayah tak bisa tinggal diam jika bengkel sunyi dari pelanggan, ia berpikir keras bagaimana caranya bisa mendapatkan uang tambahan agar biaya sekolahku tidak terkendala. Terlebih sekarang aku sudah belajar di bangku perguruan tinggi, ia harus berupaya lebih sinergi dalam bekerja, terbukti jika hari minggu saja ayah tak pernah ada di rumah padahal bengkel libur, nyatanya ayah menjadi buruh cuci piring di rumah makan, terkadang ia tak segan-segan menawarkan diri untuk menjadi tukang kebun di rumah pak Zainal, beliau merupakan saudagar yang kaya raya yang tinggal tak jauh dari rumahku.

Ayah juga tak sungkan untuk mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi untuk dijual ke penadah di perbatasan kota, ayah juga menjual koran, menjadi penyumbat kelapa di kebun kelapa milik tuan Idris, menjadi kuli panggul di pasar induk, menjadi kuli patri perkakas rumah tangga, bahkan menjadi tukang parkir, pekerjaan apa pun itu ayah lakukan untuk memperoleh penghasilan, malu! Apakah aku malu memiliki ayah sepertinya? Samasekali tidak, aku bahkan bangga pada ayah, sesulit apa pun kehidupan pantang bagi ayah untuk meminta belas kasihan dari orang lain, bagi ayah bekerja lebih mulia dari pada meminta, biar saja pekerjaan itu dinilai sebelah mata dan dinilai rendah oleh orang lain, pekerjaan yang halal tak akan menjadikan dirinya hina dan buruk, bagi ayah perjuangan bekerjanya membuatnya bangga karena dengan lelahnya ia mampu menghantarkan anak kesayangannya menuju muara kesuksesan bernama belajar, bagi ayah dengan melihatku menjadi pribadi yang berilmu dan berpendidikan adalah anugerah kebahagiaan yang sempurna dalam hidupnya.

Aku tak akan pernah lupa tentang nuansa siang kala itu, ketika aku pulang kuliah, dari kejauhan kulihat ayah tengah sibuk menjadi tukang parkir di supermarket, dengan handuk yang melekat di pundaknya ia seka buliran keringat yang jatuh di pelipis keningnya, melihatnya bekerja dengan penuh semangat membuatku harus bermental kuat dalam belajar, aku berlari menyusuri tepian jalanan, aku tak peduli ketika teman-temanku melihat apa yang aku lakukan, aku juga tak mau ambil pusing jika teman-teman kuliahku mengetahui kalau ayah jadi tukang parkir, aku terus berlari, aku ingin memeluk ayah, hanya itu yang ada dalam pikiranku.

“Ayah! Ayah….!”

“Peri kecilku…..”

Baca juga: Pusara Hari Esok – Cerpen Bono Emiry (Analisa, 13 Oktober 2019)

“Segeralah pulang, istirahatlah, setelah selesai sholat, ulanglah pelajaran kuliahmu.”

“Ayah selalu mengingatkan agar aku tidak lupa istirahat, lantas kapan ayah istirahat?” kuseka keringat ayah yang berjatuhan di pelipis keningnya dengan ujung kerudungku.

“Kau tak perlu khawatir, ayah akan baik-baik saja, ayah akan selalu kuat untukmu,” sahut ayah dengan lembut.

“Kau lihat langit itu, terlihat gagah bukan? Seperti itulah ayah, dengan gagahnya ayah akan selalu menjadi ayah yang hebat untukmu.”

“Ayah tak hanya gagah dan hebat, tapi ayah juga istimewa di dalam hatiku,” ucapku penuh girang, kupeluk ayah dengan erat, kutahan tangisku, agar pias rintihannya tidak terdengar di telinga ayah, lelaki tua yang kupeluk saat ini tak pernah berhenti memikirkan tentang kebahagiaanku, seluruh waktunya ia habiskan untukku, sampai ia lupa memaknai arti bahagia untuk dirinya sendiri, sampai ia lupa menciptakan kebahagiaannya sendiri ketika ia merasa kesunyian dan kehilangan….

***

Kenangan itu muncul dan tenggelam di dalam gelegar otakku, aku masih ingat perkataan ayah bahwa ia akan selalu menjadi ayah yang kuat dan gagah untukku, segagah langit yang mengangkasa tinggi, itu dulu, kini ayah sering sakit-sakitan, kesehatannya tak lagi sinergi, ia lebih senang menyendiri, melihatnya terbaring lemah membuat separuh hidupku mati rasa, asam lambung ayah bertambah kronis, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berbaring di ranjangnya, namun ia selalu meyakinkan aku bahwa segalanya akan membaik seperti sedia kala.

Keceriaan ayah tak lagi paripurna saat ini, tapi bila di hadapanku ia berusaha untuk tampil prima dan menutupi rasa sakitnya, ia kerapkali menolak jika diajak berobat ke rumah sakit, tapi kekerasannya seketika luluh dan mencair ketika melihatku memohon sembari menangis, itulah senjata andalanku jika mengajak ayah berobat ke rumah sakit, alhamdulillah di samping kuliah aku juga mengajar di beberapa bimbel, lumayanlah uangnya bisa kutabung, dari uang tabunganku aku bisa memeriksakan ayah ke rumah sakit.

Ayah sering bercerita kepadaku, bercerita tentang mimpinya, kerapkali ia bermimpi tentang ibu, dalam mimpinya ibu terus saja memanggil-manggil namanya, melambai-lambaikan tangannya ke arah ayah, mendengarkan cerita ayah aku berusaha untuk tegar, dengan sekuat tenaga kutahan riak airmataku agar tak tumpah di tempias pipiku, kasihan ayah tentunya ia merindukan kehadiran ibu, kerinduan yang sampai terbawa-bawa ke dalam mimpinya. Aku masih bisa bernafas lega, sekalipun ayah sakit, tak pernah kulihat ia melalaikan sholatnya, sesakit apa pun ia tetap melaksanakan kewajibannya tersebut, hal itulah yang membuat hatiku nyaman dan damai.

Baca juga: Tragedi Asap – Cerpen Gigih Suroso (Analisa, 09 Oktober 2019)

Sudah hampir satu bulan ayah sakit, tubuhnya bertambah kurus tak berisi, ayah yang tak pernah membersihkan bingkai foto ibu yang ada di ruangan tamu, mendadak ia begitu rajin membersihkan bingkai foto tersebut agar tidak berabu, ayah berbeda, mengapa ia terlihat berbeda? Seharian penuh berdiam diri di kamar, sesekali kulihat ia tertawa, tak jarang pula ia menangis, untung saja paman Sulaiman pemilik bengkel tempat di mana ayah bekerja terbilang sering menjenguk ayah demikian pula istrinya, sedikit banyaknya ayah terhibur, untuk itulah beberapa hari ini aku izin tak masuk mengajar bimbel lantaran harus menjaga ayah secara penuh. Bila ayah bercengkerama denganku, ia kerapkali menceritakan teman-temannya bahkan saudara-saudaranya yang sudah meninggal, padahal ayah sudah menceritakannya berulang kali kepadaku, ketika sore menjelang ayah memintaku untuk menemaninya duduk lesehan di ruangan tamu, ayah bilang akan ada tamu yang datang ke rumah ini, oleh sebab itu aku tak boleh meninggalkannya sendirian. Hampir setiap hari ia mengatakan kepadaku akan ada tamu istimewa yang akan datang  ke rumah, tapi entah siapa tamu istimewa yang dimaksud oleh ayah.

“Sudah kau siapkan tikarnya, gelar saja tikarnya di ruangan tamu, pindahkan kursinya di sudut ruang tamu saja, jangan lupa untuk melebihkan memasak nasi dan lauk pauknya, agar tamu yang datang bisa ikut makan di rumah ini,” ayah menatapku dengan tatapan yang layu.

“Siapa tamu yang akan datang ke rumah kita?”

“Sabarlah nak, tak akan lama lagi ia akan datang, kau harus selalu ada bersama ayah, ayah akan ikut pergi bersamanya.”

“Sudahlah ayah, tak akan ada tamu yang datang ke rumah ini, lebih baik ayah istirahat di dalam kamar, bukankah kita kemarin sudah menunggu tamunya lama sekali, tapi tamu yang diharapkan tak kunjung datang,” ucapku dengan gigir suara yang lemah.

“Kau saja yang istirahat, ayah akan tetap duduk di sini.”

Mendengar perkataan ayah membuat hatiku pilu, spontan kuhapus bulir airmataku yang tumpah di sekatan pipiku, diam-diam aku terisak dalam kenelangsaanku, hatiku bergetar, siapakah gerangan tamu yang sedang ayah nantikan? Tamu istimewa yang ia rindukan, tamu yang begitu ia harapkan kehadirannya, melihat ayah duduk di kursi dengan tatapan kosongnya, membuatku tak kuasa untuk berhujan airmata kembali.

Baca juga: Mak Yat – Cerpen Fachrul Rozi (Analisa, 15 September 2019)

Hari ini ayah menolak untuk minum obat, padahal pesan dokter, ayah harus meminum obatnya secara teratur agar asam lambungnya cepat pulih, ia bersikeras menolak saat aku membujuknya untuk minum obat, kata ayah keadaannya sudah lebih membaik sehingga tak perlu lagi meminum obat. Padahal kenyataannya ayah tak bisa bangkit dari kamarnya, serasa tulang sulbinya ngilu dan rapuh, walau pun keadaan ayah bertambah tak berdaya, ia selalu ingat waktu sholat dan menunaikannya sepenuh hati sembari terbaring lemah di ranjangnya, tetap saja gerakan sholatnya tak selincah beberapa hari yang lalu, aku rindu sholat berjamaah di rumah bersama ayah. Kudengar ia melafadzkan kalimat istighfar dan dzikrullah dengan ketulusan, hingga terlihatlah rembesan airmata menitik dari kedua matanya yang mulai cekung. Bibir ayah pucat pasi, kantung matanya semakin pekat.

Selesai aku menyuapin ayah makan, mulailah ia bercerita kembali tentang ibu, banyak sekali yang mereka bicarakan tentang diriku, ayah bilang aku cantik seperti ibu, satu hal yang membuat jantungku berdebar dengan haluan ritmis yang kencang, saat ayah mengatakan padaku, katanya malam ini ibu akan kembali mengunjungi ayah, Illahi Robbi apa yang ayah katakan kepadaku membuatku sangat takut, aku takut kehilangan seseorang yang berarti, rasa kehilangan yang membuatku tak bisa tidur, semua pikiranku tercurahkan untuk ayah, kumohon Ya Robbi Izzati, lindungilah ayahku. Waktu terus melengser di peraduan malam, aku enggan berjauhan dari ayah, kuelus kedua tangannya, ia kerapkali tersenyum dengan leluasa ketika kucium kedua tangannya dengan lembut, ayah menyuruhku untuk mendekatkan posisi dudukku ke arahnya, ia memintaku untuk mendekatkan kedua telingaku ke mulutnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu hal kepadaku.

“Ayah tak punya harta yang bisa diwariskan, ayah hanya berpesan padamu, jadilah orang yang kaya dengan melaksanakan kewajiban sholat, sesungguhnya itu adalah kekayaan yang mahal harganya.”

“Kau akan selalu menjadi peri kesayanganku, ayah menyayangimu karena Allah,” sesayup angin merintih, kutatap ayah dengan penuh tajam, airmataku menjadi lagu penghantar di denting malam yang kian merayap pada gulitanya.

“Tidakkah kau mendengar ada yang mengetuk pintu?”

“Sama sekali tidak ada yang mengetuk pintu, sebaiknya ayah tidur, malam sudah semakin larut, tidurlah ayah…..”

“Ayah tidaklah mengantuk, ayah sudah berjanji pada ibumu, ayah akan menunggu kehadirannya malam ini,” tangisanku mengucur pilu, perkataan ayah membuatku semakin takut, ketakutan yang membuat debar jantungku berkecamuk.

Baca juga: Surat yang Tak Terbalas – Cerpen Anju Lubis (Analisa, 08 September 2019)

Malam bertaut pada kesunyiannya, sunyi yang tak mampu dipenggal, sunyi yang tak mampu dibinasakan, dalam sunyi ada doa yang kumuarakan kepada Illahi Robbi, bermohon perlindungan teruntuk ayah yang kucintai. Aku tetap setia mendampingi ayah, mendengarkan ceritanya dengan cermat, kali ini cerita ayah terbata-bata, karena ayah bercerita dengan menahan isak tangis yang perih, ayah mengatakan bahwa ia melihat dirinya sendiri di depan pintu, itulah sebabnya ayah kerapkali mendengarkan suara ketukan pintu secara gamblang, ia bertemu dengan dirinya sendiri, mereka saling menatap dalam diam, beradu pandang dengan erat, airmataku bertambah memuncak, getir kepedihanku mencincang ruas hatiku tanpa ampun, malam ini airmataku melesat tajam tanpa bisa kutahan.

“Bantu ayah untuk berwudhu, tak akan lama lagi tamu yang dinanti akan segera datang.”

“Ayah ingin menyambut kedatangannya setelah usai melaksanakan qiyamulail,” ayah tersenyum, seakan ia begitu bahagia karena tamu yang dinantikannya akan segera datang, bahagianya bukan kepalang.

“Ayah menyayangimu tanpa pernah lelah.” Dengan penuh kasih ayah mencium keningku, ia tersenyum tanpa beban, ia semakin girang bukan kepalang ketika aku telah selesai membantunya berwudhu, perlahan ia mulai mangangkat tangan untuk bertakbir, samar-samar aku bisa mendengarkan suara ayah membaca doa iftitah dan surat al Fatihah di rakaat pertama, aku duduk di sudut kamarnya, memperhatikannya dengan seksama, hingga aku mulai tersadar, tak lagi kudengar suara ayah, mulutnya tak lagi bergerak, seakan ia sedang tertidur dengan pulas, kedua mataku telah penuh dengan embun airmata, jantungku berdegub dengan larik-larik keperihan, aku bangkit dari tempat dudukku, bergegas kudekati ayah di tepian ranjangnya, kusentuh pundaknya dengan lembut, berulang kali aku memanggilnya, tetap saja ia enggan membuka kedua matanya.

Kuarahkan tanganku dan menempelkan jari telunjukku tepat ke arah hidung ayah, aku terperanjat bukan kepalang, ayah tak lagi bernafas, persendian kedua kakiku menggeletar, seakan langit runtuh di atas ubun-ubun kepalaku, kepedihan menghantam labirin jantungku dengan bertubi-tubi, gelembung-gelembung airmata berjatuhan dari kelopak mataku, tangisanku meradang…..

Aku mengamati pias wajah ayah sepenuh hati, bingkai wajahnya terlihat damai, ayah pergi dengan bahagia, senyum­annya rupawan, ada duka yang mengental di bumi, ada kisah yang telah usai.

Kuntum angin berkerumun, dedaunan gugur di sesayup sepertiga malam, senyap…. ***

Advertisements