Cerpen Uniawati (Rakyat Sultra, 21 Oktober 2019)

Kupanggil Dia Wesa ilustrasi Istimewa.jpg
Kupanggil Dia Wesa ilustrasi Istimewa 

Mobil yang kutumpangi perlahan menepi di kiri jalan lalu berhenti tepat di depan rumah ibu. Sementara itu, di sisi lain, iring-iringan ojek pengangkut gabah petani menderu sedikit terseok berlalu menjauhi pandanganku. Kudapati halaman rumah ibu disesaki hamparan gabah yang sedang dijemur di atas karoro [1]. Tampak ibu sedang mengaduk gabah menggunakan setangkai kayu yang pada ujungnya dipasang melintang sepotong kayu kecil bergerigi. Tatkala melihat aku turun dari mobil, ibu segera menyenderkan kayu itu lalu sedikit berlari menyongsongku.

“Kenapa terlambat, Nak?”

“Macet ki, Bu. Ada demo tadi di depan kantor gubernur,” jawabku.

Setelah membayar ongkos mobil, aku berlalu menuju rumah sambil memanggul ransel. Di depan, ibu menenteng kardus berisi oleh-oleh.

“Bapak ke mana, Bu?” tanyaku sambil membuka ikatan tali sepatu.

“Pergi sawah, Nak,” jawab Ibu.

Kulangkahkan kaki meniti anak-anak tangga rumah panggung kami. Telah cukup lama aku baru menginjakkan lagi kaki di rumah ini. Terakhir kali saat seorang kerabat dekat menikahkan anak semata wayangnya, 3 tahun yang lalu. Di antara waktu itu, hanya ibu dan bapak yang kerap berkunjung di tempatku bertugas. Padatnya kerjaan di kantor tidak memungkinkan untukku mengambil cuti panjang yang dapat kugunakan untuk pulang ke kampung halaman. Barulah pada musim ini, pengajuan cutiku dapat disetujui atasan sehingga kerinduan akan rumah dan sejuta kenangan yang membersamainya mewujud dalam satu kata: pulang.

***

Pulang ke kampung kali ini memberi nuansa rasa yang berbeda. Aroma gabah yang dijemur mampu membangkitkan eforia, meramu ingatan menyambangi bulir-bulir kenangan masa lalu. Masa ketika cerita silat serial Wiro Sableng atau Pendekar Rajawali Sakti masih menjadi bacaan favorit remaja kala itu.

Di depanku berjajar berbagai novel serial yang masih tersusun rapi di meja yang dulu aku tempati untuk belajar. Kuakui ibu cukup telaten merawat barang-barang pribadiku. Salah satu novel kutarik secara sembarangan. Kubaca sekilas. Neraka Lembah Tengkorak, serial Pendekar Kapak Maut 212. Di balik sampulnya tertera sebuah nama. Aku tersenyum sekaligus tergugu dalam hati.

Baca juga: Inaku – Cerpen Tissha Said (Rakyat Sultra, 14 Oktober 2019)

Dari dialah aku sering mendapat pinjaman buku secara cuma-cuma dan diam-diam. Bukan apanya, aku akan kena marah Bapak jika ketahuan menerima pinjaman buku dari teman pria. Mungkin untuk ukuran pergaulan muda-mudi di kampung kami, hal semacam itu dianggap tabu sehingga kurang berkenan di hati Bapak. Tapi, kami selalu saja punya cara untuk bertemu dan bertukar buku. Mengingatnya berarti memasrahkan jiwa tersedot dalam pusaran waktu yang memerihkan.

***

Hari sudah beranjak siang ketika aku berjalan menyusuri pematang sawah sambil menjinjing termos berisi air panas. Di belakang, Bapak mengikuti langkah kakiku dengan sabar. Di atas bahunya bertengger sepotong bambu yang masing-masing ujungnya berfungsi untuk mencantolkan barang-barang bawaan. Sepoi angin bertiup menguapkan keringat yang mulai membanjiri wajah dan tubuhku. Sambil tetap menjaga keseimbangan badan, sesekali kusentuh daun dan bulir-bulir padi menguning yang menjulur seakan meminta untuk dibelai. Aroma khas tanaman yang masuk dalam famili Poaceae itu kembali menyentil-nyentil memori yang ingin kukubur jauh ke dasar bumi paling dalam.

Terus kulangkahkan kaki mencoba menepis godaan masa lalu yang mencoba mampir dalam ingatanku. Kualihkan pandang melihat hamparan padi menguning yang dari jauh tampak bergelombang tertiup angin. Beberapa orang secara berkelompok sedang sibuk memotong padi. Ada pula yang sedang duduk melepas lelah di pinggir pematang. Kami terus saja melangkah melewati petak-petak sawah menuju dangau milik Bapak. Satu dua orang berteriak menyapa kami. Bahkan ada yang sengaja berolok-olok melihatku datang di persawahan.

“Weh, ada orang kota pergi sawah.”

“Awas nanti tergelincir,” seru lainnya.

Aku tertawa menanggapi gurauan mereka. Melambaikan tangan sambil terus melangkah menuju dangau. Sebagian besar dari mereka adalah tetangga kami di kampung. Bahkan ada pula teman sekolah aku ketika di SD maupun SMP.

***

Di sinilah aku sekarang. Di tempat yang sama, 20 tahun berlalu. Meresapi tiap lirik elong [2] pemujaan bagi Sangiangserri [3]. Lirih merintih. Sebesar harapan petani akan panen yang ruah, sebesar itu pula kenangan tentangnya silih berganti hadir begitu nyata dalam benakku.

Baca juga: Payung Merah – Cerpen Adinda Febriana Putri Pangerang (Rakyat Sultra, 09 Oktober 2019)

Ketika itu, pulang sekolah adalah saat-saat yang mendebarkan. Setiap tiba musim maddongi [4], kami, para anak petani, sepulang sekolah menggantikan tugas orang tua kami menjaga padi dari serangan pipit. Dulu, dangau ini menjadi tempat berkumpulnya teman-teman untuk bermain kartu ataupun sekadar ngobrol saat jelang sore. Beberapa yang punya bacaan atau teka-teki silang biasanya membawanya serta untuk mengatasi rasa jenuh. Bahkan kami saling barter bacaan.

Suatu hari, temanku Samsinar menyodorkan sebuah surat berwarna secara tak terduga.

“Surat untuk kamu.”

“Dari siapa?” tanyaku penasaran.

Wangi surat itu membuat hatiku sedikit berdebar menerimanya.

Dasar Samsinar. Dia hanya senyum-senyum mengejekku sambil melihat ke sekeliling.

“Cepat buka!”

Selembar foto menyertai surat itu. Terlihat menarik, bahkan mampu membuat jantungku berdebar kesenangan. Namun, aku sama sekali tidak mengenalnya.

“Sepupunya Edi,” kata Samsinar.

“Kau kenal di mana?” selidikku.

“Tetangganya nenekku. Dia pernah liat kamu waktu sama ki pergi di rumahnya nenekku.”

Itulah awal perkenalan aku dengan dia. Tanpa aku sadari, sebelumnya dia juga tiap hari ke sawah menemani Edi menjaga sawah bapaknya. Kami makin akrab dengan kesamaan hobbi masing-masing. Hampir tiap hari aku dipinjamkannya buku. Hari-hari maddongi pun menjadi waktu yang menggairahkan.

Pernah suatu waktu dia mengajariku membuat poni-poni, alat musik sederhana dari batang padi yang dapat berbunyi saat ditiup. Sayangnya, poni-poni buatanku selalu saja gagal mengeluarkan bunyi.

“Supaya bisa bunyi, buatnya harus pakai rasa.”

Entah seperti apa rona wajahku saat itu. Debar jantungku terasa sangat kuat menggedor dadaku. Kulirik dia sedang menatapku serius, namun segera kualihkan pandang. Tatapnya seakan menyimpan banyak makna. Sesaat aku terdiam canggung.

“Rinaaa… dongi tee….” [5]

Baca juga: Segelas Air yang Mirip Perasan Lemon – Cerpen Priyo Handoko (Rakyat Sultra, 16 September 2019)

Tersentak, tanpa sadar segera aku tarik tali yang terikat di tiang dangau. Bunyi kerontang kaleng yang digantungkan di atas pajo-pajo [6] seketika riuh mengagetkan serombongan pipit yang sedang memakan padi.

Spontan kami tertawa melihat rombongan pipit itu terbang menjauh mencari tempat yang aman untuk mereka singgahi.

***

Bulir-bulir padi kian menguning menandakan tidak lama lagi musim panen akan tiba. Tidak seperti biasanya, cuaca sore hari itu agak mendung. Bahkan di bagian barat, awan terlihat lebih gelap. Beberapa orang bahkan telah berteriak-teriak mengajak segera pulang karena khawatir akan terhalang hujan. Aku pun tergesa. Namun, baru saja akan turun dari dangau, hujan seketika turun begitu deras. Angin bertiup keras disertai petir menyambar-nyambar membuat hatiku kecut. Kulihat teman-temanku berlindung di dangau masing-masing. Tak satu pun dari kami yang jadi pulang karena terhalang hujan.

“Blaaarr…duaarrr…”

Bunyi guntur demikian keras mengagetkanku. Sebatang pohon kelapa tumbang tersambar petir. Aku gemetar cemas seorang diri. Aku menangis ketakutan. Dari kejauhan tampak seseorang sedang berlari menuju ke tempatku. Tidak jelas terlihat karena pandanganku terhalang air mata dan air hujan. Aku kembali menelungkupkan kepala, menangis.

“Kau tidak apa-apa ji?” teriak seseorang membuat jantungku seperti ingin loncat.

Di depanku, sesosok tubuh berdiri menatapku cemas. Tubuhnya kuyup tersiram hujan. Segera kuhapus air mataku.

“Tidak ji. Aku hanya takut kalau dengar suara guntur.”

“Jangan takut, aku akan temani. Nanti kalau hujan reda, aku antar kamu pulang. Biasanya air sungai akan pasang kalau hujan begini.”

Hujan reda. Kami bergegas pulang. Meniti pematang sawah yang cukup licin. Tanganku sesekali dipegangnya ketika menuruni pematang agar tidak tergelincir.

Tiba di bibir sungai, beberapa temanku berkumpul. Bingung campur cemas semuanya melihat air pasang. Jalan satu-satunya untuk pulang ke rumah hanya dengan menyeberangi sungai itu. Menunggu air surut masih memerlukan waktu yang lama, sementara sore kian rembang.

Baca juga: Ustaz Abidin dan Corong Masjid – Cerpen Yudik W (Rakyat Sultra, 26 Agustus 2019)

Di tengah kecemasan kami, terdengar teriakan dari seberang sungai. Rupanya orang-orang tua kami tak kalah cemasnya. Seseorang terlihat melemparkan tali ke arah kami, namun lebar sungai tak cukup memungkinkan membuat tali itu sampai di tempat kami. Berulang kali dicoba, namun tetap tak berhasil.

Dia lalu meminta izinku. Pelan ia berjalan masuk ke dalam air menunggu tali dilemparkan ke arahnya. Saat tali kembali dilemparkan, ia berhasil menangkap ujung tali itu. Namun, belum sempat dipegangnya dengan kuat, sebatang kayu besar hanyut menerjang keras ke arahnya. Ia limbung. Keseimbangannya hilang. Tali yang dipegangnya pun turut terlepas. Ia terjerembab. Dicobanya bangkit dan berenang ke pinggir, namun derasnya arus menggulung tubuhnya. Sangat cepat. Tangan dan kepalanya timbul tenggelam dari dalam air berusaha melawan derasnya arus yang terus menyeret tubuhnya kian jauh ke hilir.

Aku dan teman-teman menangis berteriak memanggil namanya. Beberapa orang tua bahkan nekat terjun ke dalam sungai hendak menyelamatkannya. Namun, kekuatan alam benar-benar bukan tandingan manusia. Dia hanyut membawa bulir-bulir rasa yang baru saja tersemai.

***

Dua puluh tahun berlalu sejak peristiwa nahas itu. Selama itu pula sebuah teka-teki besar tak kunjung mendapatkan jawabannya.

Ada di mana dia?

Satu yang pasti, kepergiannya membuka ruang bagi langgengnya berbagai mitos di kampung kami. Para tetua menemukan kembali arenanya. Puja dan dupa diterbangkan bersama kekuatan mantra. Ritus kian subur: mencipta dialog, melayat leluhur, dan menyenggamai alam. Lontarak pun dibentangkan. Menyuntuki berbagai petuah lewat lantunan passurek. ***

 

Yogyakarta, 7 Oktober 2019

 

Catatan:

[1] Sejenis bagor, hanya terbuat dari bahan plastik berukuran lebar yang biasanya digunakan oleh petani menjemur gabah.

[2] Nyanyian; salah satu jenis kesusastraan Bugis.

[3] Dewi Padi yang dipercaya oleh Masyarakat Bugis sebagai penguasa padi.

[4] Menjaga padi di sawah agar tidak dimakan oleh burung-burung.

[5] “Rinaaa…awas burung….”

[6] Sejenis orang-orangan yang dipasang dipinggir atau di tengah sawah untuk menakut-nakuti burung agar tidak hinggap memakan padi.

 

 Uniawati, perempuan Bugis yang mencintai sastra. Alumni Universitas Negeri Makassar dan Universitas Diponegoro. Pernah mengikuti program penulisan esai yang diselenggarakan oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada tahun 2013. Menulis beberapa buku cerita anak, di antaranya berjudul Ngkaa-Ngkaasi dan Putri Raja Babi, Putri Satarina dan Tujuh Bidadari, dan Waeruwondo dan Sepatu yang Hilang. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam antologi bersama dan di media lokal, seperti Kendari Pos dan Rakyat Sultra. Alamat posel: uni.uniawati@gmail.com Facebook: Uniawati Fadlan.

Advertisements