Cerpen Arian Pangestu (Denpost, 20 Oktober 2019)

Jatuh Cinta adalah Cara Paling Manis untuk Menyakiti Diri Sendiri ilustrasi Ida Bagus Made Mariadi - Denpost (1).jpg
Jatuh Cinta adalah Cara Paling Manis untuk Menyakiti Diri Sendiri ilustrasi Ida Bagus Made Mariadi/Denpost 

 

“MENGHITUNG mundur usiamu bersamaku yang ringkas dan lekas. Sepagi ini kau pergi, sehijau ini kau tanggal. Sudah April yang ke tiga aku mengunjungimu. Menengok ke belakang hari lalu, sepi kupetik sunyi untuk diri sendiri,” kata pemuda itu dalam hati setelah menaburkan bunga mawar, berulang kali mencium kening nisan.

Dengan langkah lemah, dengan suara bergetar pemuda yang berusia dua puluh empat bulan Januari itu mendekati ibunya kemudian berbisik, “Ibu aku ingin sendiri di tempat ini, aku ingin berkasih dengan kekasihku, merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga bulan April. Sudah lama tak bersua, sejak aku merantau sudah tiga bulan April rindu menolak bertemu. Aku dengannya akan berkisah tentang kasih, tentang merindu dendam yang sudah lama tertahankan dan terasingkan. Di pisahkan oleh jarak yang merentang, juga oleh waktu yang terkutuk busuk.”

Ibunya tak menjawab, hanya cucuran air mata yang tampak. “Ibu tak usahlah menangis. Sebelum matahari kuncup terbenam dan mewariskan kemilau cahayanya pada rembulan, jemputlah aku di tempat ini,” ujarnya lagi.

Ibunya hanya menganggukkan kepala. Tangannya sibuk menyeka air mata yang jatuh melintasi pipinya. Kemudian suaminya yang berdiri di sampingnya menjemput tangannya, membimbingnya pergi meninggalkan anaknya berkasih dengan sunyi, menjemput mimpimimpinya yang tidur dalam kubur, menghidupkan kembali pengharapan cita cintanya yang direnggut maut.

Sepanjang jalan pulang perempuan itu tidak berhenti menangis. Air matanya jatuh mengiringi langkah kakinya. Bahkan, air matanya tidak pernah habis, barangkali matanya adalah laut yang tak pernah surut. Yang lebih menyedihkan perempuan itu menangisi anak kesayangannya itu setiap saat. Sebab, anaknya adalah satu-satunya pemberian dari Tuhan setelah menikah dengan suaminya. Karena satu-satunya, perempuan itu sangat menyayanginya, bahkan cintanya melebihi cinta kepada dirinya sendiri.

Air mata yang menghujani hari-harinya bermula semenjak anaknya pulang dari Jakarta dan mendapati tunangannya telah tiada. Selepas itu juga jiwanya terguncang, persaannya tercabik-cabik, hari-harinya terkoyak-moyak, masa depannya telah direnggut. Betapa tidak, tiga tahun anaknya membanting kartu nasibnya di Ibu Kota guna mencari penghasilan untuk menikahi gadis pujaannya. Ternyata takdir berkata lain, tunangannya meninggal lantaran gantung diri di kamarnya.

Sebab-musababnya ialah orang tua si gadis yang tidak setuju anaknya menikah dengan seorang penyair. “Apa yang bisa didapatkan dalam menegakkan rumah tangga bila bersuamikan seorang penyair yang kepandainnya hanya merangkai kata. Betapa banyak pengalaman yang dipertontonkan oleh kehidupan kisah para penyair yang hidupnya melarat dan sengsara.” Begitulah khotbah orang tua si gadis pada anaknya.

Karena satu alasan itulah orang tua si gadis hendak mengembalikan lamarannya. Namun, sehari sebelum hal itu terjadi, si gadis memilih untuk mengakhir hidupnya dengan cara gantung diri di dalam kamar tidurnya. Sebelum mengakhiri hidupnya, si gadis meninggalkan puisi pendek, dalam puisi yang pendek itu tersimpan makna cinta yang panjang:

Jikalau air matamu lebih berharga dari sebuah kehidupan, maka sungguh cinta bertakhta di atas segala.

Kematian seorang gadis yang terkenal kecantikannya yang gemilang, itu pun dengan cepat menyebar dari satu mulut ke mulut yang lain hingga akhirnya sampai juga ke telinga kekasihnya, pujangganya, calon suaminya di Kota Jakarta.

***

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Pemuda yang juga sang penyair itu jatuh sakit. Sang penyair tergolek berbulan-bulan lamanya di atas ranjang pengantinnya. Entah sudah yang ke berapa orang pintar didatangkan guna menyembuhkan penyakitnya. Namun, jawabannya seragam dan sewarna. Katanya, “Penyakit anak muda itu tidak mudah untuk disembuhkan. Bila luka di badan mudah untuk dicarikan obatnya, tapi bila yang terluka adalah jiwanya, maka hanya Tuhan yang tahu obat mujarabnya.”

Setiap bulan April pemuda itu mendatangi makam kekasihnya, calon istrinya, bunga jiwanya. Di bulan Aprillah kekasih jiwanya lahir, di bulan April juga cinta mereka dipersatukan, dan di bulan April pula keduanya berikrar akan melangsungkan hari pernikahannya. Menurutnya, bulan April adalah bulan bunga, bulan cinta, bulan di mana dunia diharumkan oleh wangi-wangi musim bahagia. Setidaknya hal itu berlaku bagi keduanya yang sudah dimabukkan oleh anggur-anggur cinta.

Sekarang tepat bulan April, seperti dua bulan April sebelumya, sang penyair muda berziarah ke makam bunga jiwanya. Entah, apa yang dilakukan di makam itu. Tapi, menurut beberapa orang yang kebetulan melihatnya, yang dilakukan sang penyair adalah menulis puisi dan membacakannya tepat di nisannya, setelah itu sang penyair menangis meraung-raung dan mencakar-cakar makamnya. Namun, ada pula yang mengatakan, bahwa yang dilakukan sang penyair ialah berbincang dengan dirinya sendiri, seperti sedang berkisah tentang kasih dengan seseorang layaknya anak muda yang bercumbu di taman.

***

Lampu di jalan raya menyala sebagai tanda, seperti tak punya kata untuk mengecupkan sampai jumpa pada senja. Seperti bulan April sebelumya, saat petang menjelang, orang tua si penyair akan datang ke makam untuk menjemput anaknya pulang, juga untuk mengantarkan bunga mawar yang masih wangi dan segar.

“Nak, hari sudah petang mari pulang nanti gerimis ini membuatmu sakit,” kata ibunya.

“Sebelum sakit itu datang ke tubuhku, aku sudah terlebih dahulu merasakan sakitnya. Tak ada yang melebihi rasa sakit dari sebuah luka bagi seorang anak muda yang ditanggal pergi bunga jiwanya untuk selamanya,” jawabnya.

“Kau masih muda, Nak, tak adakah cinta yang lain?”

“Sesuatu yang terpaut dalam jiwa tak akan terkikis oleh pergantian siang dan pertukaran malam. Cintaku padanya seperti bunga yang mencintai musim semi. Berdosalah seseorang yang memadamkan nyala cinta yang dihidupkan Tuhan di dalam hatinya. Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri.” Lagi-lagi ibunya hanya menangis mendengar jawaban haru-biru anaknya yang malang itu.

“Bu,” ujarnya dengan suara bergetar. “Esok bila aku mati, kuburkanlah aku di sisi makam bunga jiwaku. Dan setiap bulan April tiba, taburilah makamku dengan makam bunga jiwaku dengan taburan mawar dan segenap doa. Sebagaimana permintaan bunga jiwaku yang berbisik di telingaku saat rembulan memberikan mimpinya. Kelak kisah kasihku dengannya akan menjadi cerita bagi mereka yang hatinya dipenuhi akan cinta. Mereka yang melintasi makam ini akan berkata, di sinilah sepasang kekasih bersemayam, berpeluk mesra di taman mawar.” Sekali lagi, ibunya hanya menangis mendengar perkataan anaknya itu seakan-akan kematian sedang melambaikan tangannya. []

 

Arian Pangestu merupakan nama pena Ade Mulyono. Menulis fiksi dan nonfiksi. Artikelnya dimuat di berbagai media cetak. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018). Kini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Ilustrasi cerpen oleh Ida Bagus Made Mariadi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), IKIP PGRI Bali.