Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

Insiden di Jalan Kirik ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Insiden di Jalan Kirik ilustrasi Suara Merdeka

Malam begitu pekat ketika ia melangkahkan kaki meninggalkan warung makan 24 jam tempat ia dan teman-teman biasa nongkrong. Dua jam lebih mereka habiskan untuk main gim daring melalui gawai masing-masing. Sudah lewat tengah malam, beberapa teman mengajak dia membeli dua botol ciu untuk menandaskan malam Minggu hingga fajar merekah, tetapi ia menolak.

“Perutku mulas, mungkin diare,” ujarnya sembari mengeluarkan kunci sepeda motor dari kantong jaket denim belel yang sobek di sana-sini.

Tanpa mengindahkan gelak tawa karena olokan teman-teman, ia terus melangkah, lalu mengangkangi sepeda motor butut bermesin mungkin lebih tua dari usianya.

Sepeda motornya melaju tepat saat embun dini hari jatuh menaburi langit. Di antara Jalan Pegasin-Ringroad, tampak lampion begitu remang. Dia sempat berpikir ingin menikmati kesyahduan malam yang sunyi. Namun tidak, perutnya serasa bergejolak seperti diadukaduk.

“Aku harus mengambil jalan pintas,” celotehnya keras-keras.

Tangan kirinya memelintir bawah perut untuk menahan hajat.

Sambil mengendarai sepeda motor, ia terus menceracau apa saja yang terlintas di pikiran. Mulutnya mengeluh dan serapah mengucur seperti semburan air keran. Ia menduga, beberapa temannya telah mencampurkan pil oplosan ringan ke dalam kopi pahitnya. Perutnya mulas tak terkira. Ia agak menyesal kenapa tidak sekalian buang hajat di toilet rumah makan tadi. Karena tidak tahan untuk segera sampai di rumah, ia memutuskan mengambil jalan pintas lewat Jalan Kirik.

Untuk kepentingan cerita, kita harus mengetahui deskripsi singkat tentang Jalan Kirik. Jalan Kirik merupakan jalan tikus kecil yang hanya bisa dilewati dua motor berpapasan. Di kanan-kiri jalan berdiri tembok rumah-rumah tua dan bangunan bekas zaman Belanda. Ia tak tahu kenapa dinamakan Jalan Kirik. Menurut kebiasaan, nama jalan disematkan berdasar hal-hal baik. Bisa juga karena romantika sejarah atau karena jasa seseorang yang dianggap layak dikenang. Kirik dalam bahasa Jawa berarti anjing. Bisa jadi, dengan penyematan nama Jalan Kirik (atau Jalan Anjing), memang dahulu benar-benar ada anjing yang telah mengangkat harkat dan martabat anjing di seluruh dunia dan akhirat.

Baca juga: Menembak Mati Tujuh Orang – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

Namun ia tidak peduli sama sekali atas penamaan jalan. Yang ia tahu pasti, sejak beberapa lampu tiang listrik di sekitar jalan itu dicuri, penerangan di jalan itu hanya mengandalkan cahaya tiga lampu 10 Watt yang dipasang berjejer milik satu bangunan lawas yang kabarnya telah ditinggalkan sang pemilik.

Ketika akan memasuki jalan itulah, ia merasa kuduknya meremang. Udara dini hari terasa dingin mencekik tulang. Ditambah keredupan cahaya jalan, seakan lengkap menjadikan wilayah yang hendak dia lewati seperti tak memiliki kehidupan.

***

Kondisi jalan yang cukup menyeramkan dan kuduk yang meremang membuat ia agak melupakan perut mulas yang memberontak. Sepanjang jalan, ia menahan napas. Keseraman jalan tak berhenti di sana. Ia tahu, selepas ujung bangunan terakhir, ada sebatang pohon beringin rimbun yang dianggap angker. Tak jarang, berdasar kabar burung yang tersiar, sering terdengar suara ringkik kuda di tengah kerimbunan daun dan dahan beringin yang lebat bercabang-cabang. Saat mendengar cerita itu, ia tak percaya. Namun kini bulu romanya berdiri saat membayangkan seandainya suara ringkik kuda itu benar-benar ada.

Terbersit penyesalan kenapa mengambil jalan pintas melalui jalan tikus itu. Namun tak ada pilihan lagi. Ia telanjur meluncurkan sepeda motor melalui Jalan Kirik. Jika memutar balik, ia harus menempuh rute makin jauh. Apalagi ia baru sadar bahan bakar kendaraannya tersisa sedikit dan tak cukup untuk menempuh rute panjang. Ia tak ingin mendorong sepeda motor karena kehabisan bensin pada dini hari yang sepi.

Tak apalah; ia menenangkan diri. Untung, di pengujung jalan, selain suara sepeda motornya, ia menangkap suara anak muda bercengkerama di bawah pohon beringin. Jika menilik suara itu, mungkin ada tujuh atau delapan remaja tanggung nongkrong di sana. Ia mengembuskan napas lega sembari memelankan kendaraannya.

Baca juga: Magi – Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

Ia memicingkan mata, menatap kumpulan orang yang bergerombol itu. Di balik keremangan lampu bangunan, ia melihat bara api rokok yang mereka isap. Bara api yang meletik dan bergerak-gerak itu menandakan ada beberapa orang sedang merokok. Di depan sosok-sosok itu berjejer sepeda motor; beberapa tampak telanjang karena bagian luar telah dipereteli. Meskipun tak bisa melihat wajah-wajah tersembuyi di balik keredupan cahaya itu, ia tahu orang-orang itu sedang menatapnya. Sebab, suara cengkerama dan obrolan keras mereka seketika terhenti. Ketika ia lewat, hanya terdengar suara kendaraannya.

Ia kini menyadari telah berada pada waktu dan tempat yang salah.

“Sialan!” desisnya, menyumpah sembari memelintir gas sepeda motor.

Ia baru mengetahui orang-orang yang nongkrong itu merupakan komplotan geng. Seketika ia tersadar, geng itu musuh geng sekolahnya. Ia melajukan sepeda motor. Kendaraannya menggerung dan meluncur cepat, meninggalkan kumpulan orang itu.

“Hoooii! Musuh, musuh, musuh!”

Ia masih mendengar teriakan di belakangnya dan suara orang-orang berlarian serta sepeda motor yang dihidupkan buru-buru. Terdengar raungan amarah meledak-ledak. Ia memacu sepeda motor lebih cepat.

Satu orang berhasil menjejeri, lalu menendang bagian samping sepeda motornya. Ia meringis, tak bisa menguasai kendaraan yang hilang kendali. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan melompat. Sial, ia terjerembap jatuh. Sepeda motornya berguling-guling di tengah jalan sepi dan memercikkan debu api ketika bergesekan dengan aspal.

Baca juga: Sayup Tifa Mengepung Humia – Cerpen Massha Guissen (Suara Merdeka, 29 September 2019)

Belum sempat berlari, ia merasa satu pukulan menghantam kepala. Lalu susul-menyusul bagian-bagian tubuhnya dihantam pukulan dan tendangan: pipi, pelipis, dada, kaki, perut, tulang rusuk, paha, hingga selangkangan. Ia tak sempat berpikir lagi, kecuali menahan nyeri yang berdenyut-denyut memenuhi sekujur tubuh.

Rasa sakit akibat hantaman pukulan dan tendangan terasa sepanjang abad. Ia tak pernah menyangka malam tinggal abadi dalam dirinya.

“Sudah, sudah! Berhenti!” teriak salah seorang dari belakang. Suara itu cukup keras. Satu demi satu pukulan menyurut. Itu menandakan, si pemilik suara tampaknya pemimpin geng karena kata-katanya seketika dituruti.

Ia hanya bisa merintih-rintih memohon ampun.

“Diam, kau, Anjing Buduk!”

“Bangsat, dia ngompol dan boker!” teriak seorang pemuda dengan jijik ketika mencium bau kotoran menguar tipis-tipis dari celananya.

Bau pesing juga tercium seiring cairan panas mengucur, membasahi celana jins dan merembes keluar.

“Dasar anak setan!” Sepotong kaki menghantam kepalanya. Ia limbung dan berkunang-kunang.

Satu orang menghidupkan senter di telepon genggam dan menyoroti wajahnya.

“Aku tahu anak ini,” ujar suara yang tadi menyuruh berhenti. “Dia anak SMA Residen. Dia ikut tawuran bulan lalu di barisan depan. Aku dengar juga dia pandai menghasut dan selalu jadi provokator,” lanjut suara itu.

Baca juga: Mayat Gugat – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 22 September 2019)

Kemudian salah seorang pemuda datang menghampiri. Dari balik baju, dia  mengeluarkan pisau kecil berkilat-kilat.

“Dekatkan ke sini senternya!” tujunya kepada pemegang senter.

Lalu langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Ia hanya meringis nyaris pingsan. Tenaganya seperti menguap dan seluruh tulang di tubuhnya seakan dilolosi satu per satu. Bahkan ia tak kuasa menggerakkan tangan.

Rupanya bukan hanya satu senter didekatkan. Beberapa orang juga menghidupkan senter telepon masing-masing. Ketika cahaya itu makin benderang, tampaklah badannya yang babak belur dan lunglai mirip barang rongsokan.

“Potong saja lidah provokatornya!” terdengar teriakan.

Pemuda yang membawa pisau menyerigai, kemudian mengangakan mulutnya. Dia menarik paksa lidahnya ditarik. Antara sadar dan tidak, ia ingin berteriak, tetapi yang keluar dari mulut hanya lenguh mirip sapi disembelih.

Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Di tengah kesakitan yang berdenyut-denyut, terasa matanya basah. Mungkin ia masih sempat mendengar suara pisau menggurat lidah di dalam mulutnya atau darah mengucur, kemudian bercampur genangan cairan kencingnya. Ia ingin berteriak, tetapi tentu tak pernah ada seorang pun mendengar jerit kesakitan di dalam hatinya yang tak ada duanya di dunia ini.

 

Kaliurang, September 2019

 

*Deskripsi tentang Jalan Kirik teramu dari cerita Gunawan Tri Atmodjo tentang penamaan Jalan Anjing.

 

Abdul Hadi, mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta. Cerpennya “Perempuan dan Anjing” terpilih jadi cerpen terbaik Asia Tenggara pada Pekan Bahasa 2017 Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Advertisements