Cerpen Andri Lestari (Serambi Indonesia, 20 Oktober 2019)

Ibumu ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Ibumu ilustrasi Serambi Indonesia 

LELAKI kurus itu tak memalingkan wajah sedikit pun. Ia memantau ibunya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Menjaga sang ibu yang sedang berbasah-basahan di sungai. Tampak wanita yang sudah ringkih itu masih mengenakan pakaian lengkap, penutup kepala pun belum dilepas. Namun, sekujur tubuhnya berulang kali ia ceburkan ke sungai yang tidak terlalu dalam. Kondisi air sungai agak keruh karena hujan yang tak kunjung reda beberapa hari ini.

Saat wanita tua tersebut melihat ke arahnya, maka lelaki muda itu akan bersembunyi di balik tembok jembatan tinggi. Ia tidak mau sang ibu menjadi murka karena kehadirannya. Sudah sejak tadi ia mengintai, tidak terlihat tanda-tanda jika ibunya akan beranjak. Ia masih asyik berendam, malah sekarang kain penutup kepala itu sudah terbuka, memperlihatkan rambutnya yang sudah mulai kelabu.

Sesekali ia berdendang, kadang asik berbincang entah dengan siapa. Sambil sibuk menyikati pakaian miliknya, kemudian membilas satu persatu. Tak lama kemudian dia sikat lagi dan membilasnya lagi. Begitu saja terus  berulang hingga ia bosan dan berhenti. Lelaki muda berjambang tipis itu sudah kepanasan di dekat jembatan. Setelah merasa jika ibunya telah cukup lama berendam, akhirnya ia memaksa diri untuk turun ke bawah.

“Ibu, ayo kita pulang. Ini sudah hampir siang,” panggil Rahman lembut.

Wanita beruban itu kaget. Baju yang tadi ia kenakan, kini  hanya melilit dari bagian dada hingga paha. Melihat hal itu, Rahman segera mendekat bermaksud ingin membetulkan baju sang ibu. Namun, ibunya berteriak histeris. Dia berpikir jika Rahman akan menyakitinya.

“Mau apa kamu? Pergi! Jangan ganggu aku!” Wanita itu terus saja berteriak. Kedua tangannya mencakar-cakar ke depan. Mata memerah menahan amarah. Tak cukup sampai di situ, ia pun mulai memungut batu-batu yang ada di dekatnya, kemudian dilemparkan ke arah Rahman.

“Ibu, istighfar, Bu. Istighfar! Ingat Allah!”

Rahman menjauh dari sana. Usaha untuk mengajak ibunya pulang sia-sia. Selalu begitu, Mak Rahmah tidak pernah baik dengan anak-anaknya. Wajar, karena dia sudah lama gila. Entah apa penyebabnya. Puluhan tahun yang lalu suaminya pun pergi meninggalkannya.

Baca juga: Tujan – Cerpen Iswandi Usman (Serambi Indonesia, 13 Oktober 2019)

Berasal dari keluarga tidak mampu, Mak Rahmah tidak mendapatkan perawatan khusus. Ketiga anaknya yang perempuan juga ikut mengasingkan diri setelah kesehatan jiwa sang ibu semakin menurun. Mereka tidak mau mengurus dan lepas tanggung jawab, apalagi sudah bersuami dan masing-masing sudah punya anak. Berbeda dengan Rahman, si bungsu inilah yang terus merawat ibunya siang malam. Tak kenal lelah dan kebal dari serapah yang Mak Rahman lontarkan. Ia tetap melayani sang ibu dengan sangat baik dan lemah lembut.

Mak Rahmah tinggal di sebuah rumah kayu tidak berpelita. Pernah dulu Rahman menarik listrik dari PLN agar ibunya senang. Bukannya bahagia, malahan sang ibu menolak dan menghancurkan semua bola lampu serta meteran listrik. Sejak saat itu rumah pun kembali gelap. Rahman diusir tidak boleh tinggal bersamanya. Ia merasa anak itu hanya mengganggu. Sehingga Rahman memilih tidur di masjid desa. Letak masjid tidak terlalu jauh dari rumah tampat ibunya tinggal, sehingga dia bisa menjenguk sang ibu kapan saja ia mau.

Berbulan-bulan lelaki berkulit gelap itu tinggal di masjid. Ia banyak membantu aktivitas di sana. Setiap malam mengajar mengaji gratis untuk anak-anak desa. Rahman tidak pernah mengeluh. Jika lelah dan putus asa mendera, berulang kali ia mengingat bagaimana kisah Rasul dulu dalam berjuang mempertahankan Islam. Rahman sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah. Kerinduan itu sedikit terbayar saat ia berusaha melakukan tiap kebaikan.

Pagi hingga sore hari, ia bekerja menjadi pengaduk semen. Saat pulang, tidak lupa ia singgahkan makanan untuk ibunya. Baik itu berupa roti atau buah-buahan. Sengaja ia mengantar saat Mak Rahmah tidak di rumah. Jika saja ketahuan, maka roti-roti tersebut akan dibuang.

Demi ibunya, Rahman rela untuk tidak jadi menikah, saat calon istrinya mengetahui ibu Rahman adalah orang tidak waras. Saat itu calon istri Rahman yang berasal dari kampung lain dibawa Rahman ke rumah. Karena melihat orang asing, sang ibu pun mengamuk hingga menyakiti dirinya sendiri. Perempuan tersebut kaget bercampur takut sehingga ia  berlari ke jembatan tinggi. Orang heboh karena ulah Mak Rahmah. Ia mengamuk hebat. Dia mencakar tubuhnya sendiri hingga berdarah. Siapa saja yang mendekat, maka akan terkena cakaran dan tendangan. Mak Rahmah tidak bisa dikontrol. Rahman mencoba mendekat dan menenangkan sang ibu. Wanita itu meronta sambil berteriak-teriak. Ia meraung serta mencaci. Kadang tertawa bahkan menangis. Meskipun wajah dan tubuhnya perih menahan cakaran sang ibu, akan tetapi Rahman tetap berusaha untuk sabar dan  tidak bertindak kasar sedikit pun.

Baca juga: Tahi Kecoa – Cerpen Muram Batu (Serambi Indonesia, 06 Oktober 2019)

“Mak, ingat Allah. Jangan turuti apa yang badan Mak katakan. Ingat Allah, Mak. Istighfar.” Rahman meraup wajahnya kasar. Melihat kondisi ibu tercinta, kesedihan membalut hati lelaki itu. Hati mana yang tidak luluh, melihat orang tua sendiri menjadi gila. Seorang ibu adalah rumah tempat sebuah keluarga pulang. Melabuhkan segala rindu, melimpahkan segala resah. Tempat bercerita tentang  segala hal, mengadu apa saja yang dirasakan. Ibu selalu ada dan berdiri di garis paling depan saat anaknya sedang menghadapi ketakutan. Ia adalah wanita yang akan membela keluarganya mati-matian. Ibu lah segala-galanya. Memang pantas jika di kakinya terletak surga. Wanita mulia yang telah mempertaruhkan hidup serta nyawa untuk permata jiwa.

Bagi Rahman, ibu adalah segala-galanya. Wanita pertama yang harus merasakan bahagia. Seorang ibu yang telah merelakan rahimnya selama sembilan bulan untuk ditempati. Bersusah payah tak kenal lelah mengurusi buah hati. Meskipun kini wanita itu tidak lagi seperti dulu. Walaupun kewarasannya telah lama pergi, tapi Rahman tidak seperti kakak-kakaknya yang membenci dan memilih pergi meninggalkan sang ibunda. Surga Rahman tetap ada di kaki sang ibu. Susah payah lelaki itu ingin meraihnya.

Setelah berhasil menenangkan Mak Rahmah, Rahman bergegas mengejar calon istrinya tadi. Wanita muda itu masih berdiri di jembatan ditemani oleh beberapa ibu tetangga Rahman. Wajahnya tidak lagi pucat seperti tadi. Ujung jilbabnya melambai-lambai tertiup angin. Ia melihat Rahman yang sedang berjalan ke arahnya.

“Kamu mau pulang?” tanya Rahman tidak enak hati. Baru pertama membawa calon istri, tapi pengalaman buruk yang ia dapatkan.

“Betul kamu ingin menikah denganku?”

Tidak menjawab pertanyaan Rahman, perempuan dengan tubuh mungil itu malah balik bertanya, “Jika kamu memang ingin menikah denganku. Tinggalkan wanita tua gila itu. Aku tidak mau mati karena ulahnya yang tidak waras!” Sorotan tajam tersirat jelas dari mata sang calon istri.

Tubuh Rahman menegang. Tangannya mengepal. Emosi menguasai dirinya. Rasa panas menyerang hingga ke ubun-ubun. Tidak boleh satu orang pun menghina ibunya. Siapa saja boleh mencaci dirinya, ia akan terima. Namun, jika omongan buruk ditujukan untuk wanita yang telah bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia ini, maka jangan harap ia akan menerima itu semua.

Baca juga: Rencong Pusaka – Cerpen Nab Bahany As (Serambi Indonesia, 22 September 2019)

“Demi Allah dan Rasulullah. Ibuku lebih berharga dari segala-galanya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di dalam hati ini. Biar pun dia telah menjadi gila, dia tetaplah ibuku. Hanya dia hartaku satu-satunya di dunia ini. Apa pun yang dia minta akan kupenuhi, meskipun mengorban nyawaku sendiri. Tak terbalas jasanya untukku hingga aku bisa hidup hingga sekarang. Ibuku adalah surgaku. Dia yang sedari dulu mendoakanku dengan linangan air mata. Jika aku juga ikut pergi, siapa lagi yang akan menjaganya?” Ada getar dalam tiap kata yang ia ucapkan. Matanya memerah menahan tangis. Ia menatap tajam ke arah calon istrinya. Perempuan itu menunduk, takut melihat Rahman yang emosinya sedang  meledak.

“Satu lagi ingin kutegaskan! Aku tidak butuh pendamping hidup sepertimu. Seorang wanita yang tega ingin memisahkan seorang anak dengan ibunya. Jika kamu malu dengan kondisi ibuku, maka pergilah. Aku membatalkan rencana pernikahan kita,” sambung Rahman.

Ia berlalu meninggalkan kerumunan ibu-ibu di jembatan. Rasa khawatir akan ibunya di rumah membuat langkah kaki Rahman bergerak cepat. Belum cukup apa yang ia lakukan untuk membalas jasa sang ibu. Dengan kondisi seperti itu, dialah yang sangat dibutuhkan oleh ibunya.

Sesampai di rumah, Rahman memeluk tubuh ringkih sang ibu. Air matanya tumpah membasahi pipi. Pelipisnya dipenuhi keringat akibat panas terkena matahari saat berjalan tadi. Wanita tua itu risih dipeluk oleh anaknya sendiri. Ia masih meronta, tapi tidak sehebat tadi. Sesekali Mak Rahmah bersenandung dan tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan.

Imam masjid menghampiri Rahman yang sudah terduduk di dekat kaki ibunya. Lelaki berpeci itu mengelus punggung Rahman. Ia merasa terharu melihat Rahman yang begitu menyayangi ibu tercinta.

“Sudah bulat keputusanmu untuk membatalkan rencana pernikahan, Nak?” tanya imam masjid tersebut.

Rahman mengangguk dan menjawab, “Lebih baik aku melajang hingga akhir usia, daripada harus meninggalkan ibu seorang diri. Lihatlah kondisinya, siapa lagi yang akan mengurus jika aku juga ikut pergi? Bukankah surga dan rida Allah untukku ada dalam genggaman ibu? Aku takut Allah akan murka jika aku meninggalkannya. Tidak banyak harta yang kumiliki, apalagi amalan untuk bekal akhiratku nanti. Biar saja aku menghabiskan usia untuk terus bersama ibu. Semoga syafaat Rasulullah mengalir untukku dan Allah akan mempertemukanku dengan kekasih-Nya itu kelak di surga.”

Baca juga: Ia Menangis Bersama Malaikat – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 15 September 2019)

Begitu besar pengorbanan seorang ibu. Seperti sebuah hadis Nabi saat seseorang datang kepada beliau dan menanyakan kepada siapakah dia harus berbakti pertama kali. Rasulullah Muhammad SAW menjawab ibu tiga kali. “Ibumu!” Orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi pun menjawab, “Ibumu!” Dia  bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu!” Seseorang tersebut tak lelah dan bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab, “Kemudian ayahmu.”

Kebaikan seorang  ibu sangatlah luas dan tak pernah dapat tergantikan dengan apa pun. Seberapa banyak harta kekayaan, tak akan pernah bisa lunas untuk membayar kebaikan ibu. Maka, buatlah beliau tersenyum bahagia selama ia  masih hidup di dunia. Carilah syafaat Nabi dengan cara memuliakan sang bunda.

 

Aceh, 10 Juli 2019

Andri Lestari, tinggal di Singkil. Novelnya yang telah terbit Suamiku Psikopat (Karos Publisher, 2019).

 

Advertisements