Cerpen Yetti A. KA (Tribun Jabar, 20 Oktober 2019)

Homi ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Homi ilustrasi Tribun Jabar 

Sebuah pesawat  baru saja lepas landas. Mama duduk di salah satu kursinya dan mungkin masih menekuri buku doa. Tadi, sewaktu menuju ruang tunggu keberangkatan, berulang kali Mama mengeluh kalau ia belum pernah naik pesawat. Pada saat itulah Homi memberikan buku kumpulan doa yang selalu disimpannya di tas. Homi bukan orang yang terlalu taat menjalankan ibadah, tapi ia percaya doa dapat menyelamatkan seseorang dari kemalangan

Di mata Homi, pesawat terbang itu seperti seekor burung yang tengah melayang di ketinggian. Namun, bila naik pesawat, sebenarnya Homi lebih senang membayangkan dirinyalah yang seekor burung. Tadi ia juga mengatakan hal itu kepada Mama. Homi berkata, “Pandangi saja awan-awan itu, lalu bayangkan Mama seekor burung yang melayang di atasnya. Setelah itu Mama pasti tidak takut lagi.” Cara begitu selama ini ampuh membuat Homi nyaman dan merasa sangat dekat dengan Tuhan. Jadi apa yang perlu ditakutkan lagi jika terbang bersama Tuhan?

Akan tetapi, Mama tetap saja takut dan akhirnya Homi memberikan buku doanya itu. Untuk itu juga, Homi sengaja belum beranjak dari bandara. Mama yang meminta agar Homi tak ke mana-mana sampai pesawat itu sudah benar-benar hilang dari pandangan (Mama beralasan ingin diberi lambaian tangan sebagaimana tiap keberangkatan yang ia lakukan selama ini). Homi setuju hanya agar Mama bisa tenang. Agar Mama berpikir ada Homi di bawah sana yang memandanginya, memberi lambaian tangan yang bisa menghiburnya. Lagi pula kapan lagi ia menyempatkan diri melihat langit lama-lama dengan perasaan tertentu? Sudah lebih dari enam bulan Homi tidak melakukan perjalanan udara. Sudah selama itu pula ia bergulat dengan perasaan dan pikirannya yang kusut. Pertengkaran demi pertengkaran. Salah paham yang amat mudah memicu kemarahan. Saling sindir. Mau menang sendiri. Sampai puncaknya ia meninggalkan rumah dan menyewa tempat tinggal di apartemen. Membatalkan beberapa pekerjaan di luar kota. Meninggalkan anak perempuannya—sebab anak itu tak mau melepaskan segala yang dicintainya di dalam rumah mereka.

Anak perempuan itu, Pipi, belakangan hanya ditemuinya diam-diam di SD tempat ia bersekolah. Setiap kali Homi datang, Pipi memintanya pulang karena mengaku terus kangen, terutama di malam hari. Dengan sedih Homi tak dapat memenuhinya. Pipi belum mengerti apa-apa. Homi tak memberi tahu kalau ayah anak perempuan itu terlalu sering mengatakan kalimat, “Perempuan bodoh, perempuan tolol, perempuan tidak becus,” kepada Homi. Pipi juga belum pantas mengetahui itu semua. Biar saja Homi memendamnya sendiri. Biar ia menanggungnya. Namun, setelah sekian lama, ia memutuskan menyerah.

Satu minggu lalu, Homi yang meminta Mama datang ke Jakarta. “Aku kemungkinan akan mengurus perceraian, kami sudah pisah tempat tinggal,” katanya di telepon. “Kalau Mama ingin melakukan sesuatu untukku, datanglah ke sini secepatnya.”

“Apa yang kamu lakukan?” kata Mama marah. “Kamu terus saja seperti itu. Kamu tidak memikirkan Pipi. Kamu tidak memikirkan Mama. Selamanya kamu cuma memikirkan diri sendiri.”

Pertama kali Mama mengatakan kalimat seperti itu—bahwa Homi hanya memikirkan diri sendiri—saat Homi lulus SMP. Waktu itu Homi ingin lanjut ke sekolah menengah atas, sebaliknya Mama minta Homi ke sekolah kejuruan saja, ambil perhotelan atau tata boga. Homi tidak menyukai keduanya. Mama bilang kalau ia hanya mencemaskan masa depan Homi. Ia mau Homi segera punya keterampilan khusus. Mama takut ia tak bisa menguliahkan Homi ke perguruan tinggi.

Homi pun melakukan pembangkangan pertamanya dengan tak menuruti permintaan Mama dan selanjutnya sekian pembangkangan lagi, dan berkali-kali pula Mama berkata, kamu hanya memikirkan diri sendiri.

***

Mama datang lewat jalan darat. Naik bus eksekutif selama satu hari satu malam. Mabuk di perjalanan. Masuk angin. Sempat kebingungan di terminal sebelum Homi datang. Mama sudah banyak berubah. Sebagian rambutnya putih. Badannya membesar dan membuat jalannya payah. Ia tak bisa lagi melihat dengan jelas tanpa kacamata.  Namun, ia tetap keras dalam segala hal, termasuk soal perceraian. “Tidak, Homi,” itu katanya waktu mereka bertemu. “Kamu tidak bisa selamanya sesuka hatimu. Kali ini kau harus dengarkan Mama.”

Homi berkata, “Dia bilang aku bodoh, tolol. Ia sering bilang aku bodoh dan tolol.”

“Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakannya,” kata Mama tak memberi kesempatan pada Homi menumpahkan seluruh emosinya. Homi tahu, Mama selalu percaya melepaskan isi hati itu ada waktu dan tempatnya. Homi hidup dengan cara segalanya mesti ia luapkan, tanpa sisa, sampai kosong, saat ini juga. Karena itu Mama dan Homi tak bisa tinggal bersama-sama. Karena itu Homi memilih kota yang jauh. Tentu alasan lainnya karena Mama itu cerewet. Suka mengatur. Tak bisa melihat baju kotor menumpuk di keranjang. Tak bisa makan masakan yang dipanaskan berkali-kali. Bagi Homi, Mama itu ribet. Bagi Mama, Homi itu pemalas. Lalu sekarang, Homi juga lari lagi. Bukan dari rumah Mama, melainkan dari rumahnya sendiri.

***

“Bagaimana bisa kau hidup di tempat seperti ini?” kata Mama setelah mereka sampai di apartemen dan naik ke lantai 20. “Kau tidak punya tanaman apa pun,” kata Mama lagi sambil berkeliling ruangan. “Paling tidak kau mesti menanam kaktus atau lidah mertua.” Homi tidak membayangkan membawa kedua jenis tanaman itu ke dalam apartemennya, ia tak cukup telaten untuk menyiram secara teratur. “Kau tidak mencuci piringmu berhari-hari?” tanya Mama menunjuk wastafel di dapur yang penuh peralatan makan dengan sisa makanan membusuk (Homi memang tidak mencuci piring setiap hari, terutama jika ia sedang tergesa-gesa atau banyak pekerjaan). “Kelak bisa-bisa tempat tinggalmu dipenuhi belatung,” sembur Mama.

Homi menarik lengan Mama dan memaksanya duduk di sofa untuk beristirahat. “Mama pasti capek kan?” kata Homi. Ia memijiti lengan Mama. Lembek dan bergelambir. Bintik-bintik cokelat makin banyak. Homi jadi berpikir, Mama pasti lelah sekali. Puluhan tahun mengerjakan semuanya. Menahankan segalanya. “Sebentar lagi Mama bisa mandi,” kata Homi, “biar segeran.”

Mama makin mengenyakkan badannya dan tubuh besarnya itu seperti akan lesap ke dalam sofa. “Aku bisa mati lama-lama berada di tempat seperti ini, Homi,” kata Mama.

Homi tergelak santai dan beranjak untuk menyiapkan peralatan mandi. Handuk baru. Sikat gigi. Sabun dan sampo sudah ada di kamar mandi. “Mama tinggal mengatur kerannya jika mau mandi air dingin atau panas,” kata Homi.

“Di sini seakan tak ada udara,” kata Mama.

“Mama akan segera terbiasa,” timpal Homi, “Sekarang sebaiknya Mama mandi dulu.”

Mama berdiri—dengan sedikit susah payah. Ia berjalan ke arah jendela dan tegak di sana. Pandangan matanya menembus kaca jendela dan mendapati gedung-gedung di luar, yang seperti kotak-kotak bertebaran. Seperti mainan Homi waktu kecil. Kota yang dibangun dari kertas. Dan di kota seperti itulah Homi sekarang berada. Rumah di dalam sebuah gedung tanpa halaman sendiri. Tanpa sebuah pagar pembatas dengan pintu besi berkarat yang menyimpan banyak kenangan tentang tangan para tetangga yang pernah memegangnya. Tanpa gang-gang kecil tempat anak-anak kucing liar sering ditemukan dalam keadaan kelaparan. Atau anak-anak bermain layang-layang. “Apa yang kau rasakan tinggal di tempat begini? Kau tidak takut berada di tempat seperti ini? Kau punya rumah, Homi,” kata Mama.

“Mama.” Homi menyenderkan kepalanya di punggung Mama. Lelaki itu boleh bilang apa saja, tapi aku tidak tahan dibilang bodoh dan tolol, Ma, pikir Homi.

Mama masih memandangi gedung-gedung di luar. Entah di bagian mana Pipi berada, pikirnya. Bagaimana bisa Homi tak memikirkan itu? Bagaimana bisa Homi tidur di tempat seperti ini sementara entah di bagian mana Pipi tinggal, bocah itu meringkuk memeluk bonekanya?

“Ma, sebaiknya lekas mandi,” bisik Homi mengingatkan lagi.

***

“Dengar, Homi,” kata Mama malam itu, “tak ada pernikahan yang mudah. Kau kira pasangan yang tampak berbahagia itu sungguhan bahagia? Tidak, Homi, tak ada yang seperti itu. Di mana pun kau cari, tak akan menemukannya. Semua orang mengalami rasanya sakit atau bosan. Begitu juga Mama.”

“Mama tidak bahagia sama Papa?” tanya Homi.

“Kau kira Mama hidup dengan mudah? Kalau bukan karena abangmu dan kau, sudah lama Mama meninggalkan papamu.”

Di mata Homi, Mama dan Papa itu pasangan paling serasi. Mama tipe perempuan konservatif, penurut. Papa, sebagaimana kebanyakan lelaki, menjadi kepala keluarga yang memegang kendali semuanya—kecuali urusan rumah; masak dan bersih-bersih. Ketika Papa meninggal dunia—waktu itu Homi kelas dua SMP—berhari-hari Mama hanya menangis, sekali dalam seminggu mendatangi kuburan Papa, bertahun-tahun lamanya, bahkan mungkin sampai sekarang.

“Papamu menyimpan perempuan lain,” kata Mama tenang.

Homi menatap Mama, lekat-lekat. Homi tidak percaya Papa seperti itu. Saat kecil, di mata Homi, Papa itu lelaki paling hebat dibanding papa-papa orang lain. Papa yang senang menggendong Homi bila mereka ke kebun binatang dan menunjuk burung merak atau ular raksasa dan Homi menempelkan sebelah pipi di pundak lebarnya dan merasa aman di sana.

“Ketika kamu kelas dua dan abangmu lulus SD, perempuan itu datang menemui Mama. Tapi Mama tidak bisa membicarakannya pada siapa pun. Mama hanya menyimpannya, hingga sekarang, Mama memberitahumu. Biar kau tahu, setiap pernikahan itu tak ada yang mudah. Tak ada, Homi. Namun, setiap orang harus punya alasan untuk bertahan.”

***

Pesawat yang membawa Mama sudah lama menghilang di langit. Namun, Homi belum beranjak dari tempatnya. Ia ingat pembicaraan terakhir pada malam sebelum kepulangan Mama. Mereka menangis berdua di atas sofa. Saling berpelukan. “Pipi itu manis sekali, Homi, itulah alasanmu untuk pulang,” ucap Mama.

Homi mengangguk—maksudnya, ia tahu betapa manis bocah perempuannya itu, mulutnya yang tak henti berkicau, matanya yang bulat, poni singkat di keningnya.

Akan tetapi, ia tak bisa pulang dan kembali bersama lelaki yang tak pernah merasa bersalah telah menyebutnya bodoh, tolol, tidak becus. Ia tak bisa. Yang dapat ia lakukan, segera menemui Pipi, memastikan anak itu tak akan kehilangan apa-apa yang dicintainya. Seharusnya memang itu yang dilakukannya selama ini. Seharusnya saat ini Pipi ada bersamanya dan mereka melihat langit dan ia akan menunjuk jauh-jauh, dan berkata: di sanalah nenekmu sekarang berada, mungkin ia sudah berhasil menjadi seekor burung, begitu juga kita, tak lama lagi.[]

 

Rumah Kinoli, 2019