Cerpen Maya Sandita (Fajar, 20 Oktober 2019)

Dermaga yang Mengandung Anak Perahu ilustrasi Syahrizal - Fajar (1)
Dermaga yang Mengandung Anak Perahu ilustrasi Syahrizal/Fajar

Baginya Tuhan sangat baik, menciptakan dirinya sebagai dermaga. Ia mereguk jingga ketika senja tiba, ia bermandikan cahaya bulan ketika purnama, dan menjadi jalan bagi siapa saja yang tiba. Selain itu, ia juga dengan berbahagia menjadi tempat perahu-perahu yang berhenti dan menambatkan tali di pancang kayu kokoh yang menjadi kaki untuk berdiri.

Para nelayan akan duduk di pinggir dermaga melepas lelah setiap subuh dengan anginnya yang riuh. Anak-anak mereka akan berenang dengan perasaan senang setiap siang sampai petang. Istri-istri akan berdiri dan melambaikan tangan sebagai doa selamat jalan bagi suaminya yang berlayar, bersama ataupun sendirian. Kadangkala seorang perempuan muda akan menikmati senja sembari menghitung jarak dan waktu dalam bentuk angka. Membiarkan angin menerbangkan rambutnya juga harapan kembalinya sebentuk cinta. Kembali ke pulau Sumatera.

Ia selalu sempat ke dermaga sebelum azan terdengar dari musala. Hanya demi melihat apakah ada seseorang yang dulu pergi dengan angin darat, kembali padanya dalam keadaan sehat dan segunung rindu yang hebat. Tapi tak ada yang datang.

Suatu ketika, musim hujan pada November di tanggal muda, angin dan laut menghantarkan sesuatu ke dermaga. Sebuah perahu dengan seorang pemuda di atasnya. Dermaga berbahagia menyambut kedatangannya. Perahu menjadi teman dari petang untuk menikmati ombak dari air laut yang pasang. Mungkin hanya sampai pagi datang.

Pemuda naik setelah tali tambang diikatkannya di pancang dermaga. Perahu terombang-ambing dibawa ombak dari laut yang baginya tak lagi asing. Dermaga melihatnya tanpa maksud apa-apa. Ia berharap perahu memulai sapa dan mengajaknya bicara. Menanyakan apa saja yang bisa jadi bahan pembicaraan. Tapi malam terlalu dingin dan angin tak terlalu ramah ketika menjamah.

Sebentar kemudian ombak seolah hendak menyeret perahu ke tengah. Seperti berpegangan pada dermaga, tali tambang menarik kakinya. Dermaga bertahan seperti biasanya. Pada malam dengan angin yang kencang yang dingin, mereka bercengkerama dengan dewasa. Perahu punya puisi purnama dan dermaga adalah pendengar setia yang menahan kantuknya. Khawatir ia jika nanti angin berhembus lebih kencang dan perahu membentur karang lalu bocor di beberapa sisi dan dan tak bisa berlayar kembali.

Malam bernyanyi lewat siulan angin, deburan ombak, dan suara perahu yang bertabrakan dengan dermaga sekian lama. Hingga pagi tiba dan pemuda kembali untuk membawanya pergi.

Baca juga: Lelaki di Bawah Lampu Jalan – Cerpen Maya Sandita (Kompas, 26 Januari 2020)

Dermaga mengulang rasa sepi. Tapi ia tetap di sana, sembari menunggu perahu tadi kembali. Ia tak ingin perahu lain menambati pancangnya. Terkadang bisa ia menolak dengan menggoyahkan kaki. Hingga nelayan atau pengunjung lain memilih untuk menambatkan perahu di tanaman bakau yang cukup kokoh tumbuhnya di samping dermaga. Nelayan juga berusaha memperbaiki agar dermaga bisa digunakan lagi. Namun setiap kali pancang diganti, dengan mudah ia patah kembali. Akhirnya nelayan menyerah. Mereka mengadu ke pemerintah dan dijanjikan akan dibuatkan dermaga yang lebih kuat dan megah.

Setelah sekian lama, dermaga belum jadi diganti.

Suatu senja yang cahayanya tidak jingga tapi merah serupa saga, seorang perempuan datang dan dengan berani berjalan sendirian. Ujung dermaga ia jadikan tujuan. Angin berhembus, menerbangkan pakaiannya yang halus, menampakan lekuk tubuhnya yang tidak begitu kurus. Sebuah pemandangan seperti rembulan tampak dari perutnya. Ia hamil tujuh bulan.

Terdengar suara dari warga sekitar yang memintanya kembali, “Taufan pergi berlayar. Kau tunggu saja ia dengan sabar. Kenapa harus berdiri di dermaga? Sudah lapuk ia!”

Perempuan acuh saja. Dibelainya perut dan dipandangnya jauh ke ujung laut, senja menelan mataharinya. “Taufan mengirimkan kabar, bahwa ia sudah temukan dermaga lain untuk perahunya bersandar. Lalu buat apa aku masih menunggunya dengan sabar? Padahal selama ini aku berusaha menerima kata-kata kasarnya yang luar biasa. Menerima perlakuannya yang tak sedikitpun pernah kuduga.”

Langit benar-benar hitam dan membuat seluruh isi langit jadi karam. Angin kencang datang, mendadak berang.

“Nak! Sebentar lagi badai! Kau kembalilah! Pancang dermaga itu sebentar lagi akan patah!” teriak seorang istri nelayan di pangkal dermaga.

Perempuan diam saja. Dibiarkannya angin yang kencang berhembus ke dalam hatinya yang bimbang. Ia rela jika nanti harus tumbang dan ditelan laut serta badai yang panjang. Ia dengar kaki dermaga berderak. Papan yang ia injak bergerak. Satu persatu pancang patah. Dermaga rebah. Perempuan pasrah.

Seperti dermaga yang setia, seperti senja yang takkan jadi pelupa, seperti udara yang menjadi kenangan bagi  perempuan itu dan Taufan, seperti itu jugalah yang terjadi pada perahu dan dermaga.

“Aku mengandung anakmu, dan kau tak pernah tau itu,” gumam dermaga bersamaan dengan air mata yang dijatuhkan perempuan malang-yang rebah bersamanya. Malam di dermaga semakin panjang. *

 

Batusangkar, 23 Mei 2019

Maya Sandita, lahir di Pekanbaru pada 02 Mei 1994. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019).