Cerpen Hodland JT Hutapea (Analisa, 16 Oktober 2019)

Cinta Tak Pernah Salah ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Cinta Tak Pernah Salah ilustrasi Alwie/Analisa 

Pada berbagai kesempatan, diam-diam Tiwi suka memerhatikan lelaki tampan berwajah simpatik itu. Tiwi suka mengamati bibirnya yang bergerak-gerak ketika berbicara. Bibir itu manis, dihiasi kumis tipis. Semakin lama memandangnya, Tiwi merasa ada yang istimewa dengan lelaki itu. Ada kehangatan yang ia rasakan setiap kali berada di dekatnya.

Jonas nama lelaki itu. Dia lebih suka dipanggil Bang Jonas. Lelaki berusia 40 tahun itu memang memiliki karisma, murah hati, ringan tangan dan memiliki senyum yang luar biasa. Sebagai manajer, dia disukai oleh semua anak buahnya, khususnya wanita.

Jonas selalu tampil menyenangkan, bahkan saat mengkritik kinerja anak buahnya. Jika ia menemukan kesalahan, ia akan menegurnya dengan sopan, tanpa menyinggung perasaan mereka. Kalau ada yang minta traktir, dia bayari makan. Kalau ada yang minta diantar, Jonas pun tak keberatan. Ketika ada yang berkeluh-kesah, Jonas siap jadi pendengar yang baik, lalu memberikan nasihat-nasihat yang menenteramkan. Kadang, kalau ada yang meminjam uang karena sangat butuh, Jonas pun dengan ringan mengulurkan bantuan. Jonas baik ke semua orang.

Awalnya Tiwi hanya ikut-ikutan dalam grup makan siang bersama dengan Jonas dan teman-teman lainnya. Kalau sedang makan atau pergi ramai-ramai, bila yang lain larut dalam tawa dan canda, Tiwi biasanya cuma ikut-ikutan senyum sambil sesekali memerhatikan senyum Jonas. Entah mengapa, ia suka takjub melihat senyum khas lelaki itu. Senyum yang selalu tulus, dari kedalaman hati yang ikhlas.

“Aku ‘kan sudah pernah bilang, jangan suka jalan bersama dia, lama-lama kamu bisa jatuh cinta. Dia itu baik, menawan dan tampan. Pokoknya dia tipikal lelaki idaman semua wanita. Hati-hati lho, kamu bisa tenggelam dalam auranya,” begitu kata Rina sahabatnya ketika Tiwi curhat sehabis jam kantor.

“Tapi, aku tidak bisa melupakannya…,” keluh Tiwi seperti putus asa.

“Coba deh untuk dua bulan ke depan kamu nggak makan ramai-ramai bareng dia. Toh kamu bisa bawa bekal dari rumah seperti aku,” terang Rina mencoba memberikan solusi. “Dulu aku juga hampir terjebak, menyukai lelaki tampan itu. Padahal aku tahu dia telah memiliki istri dan dua anak. Tapi kemudian aku mencoba menghindar setiap kali bertemu dia. Ya dengan cara itu, nggak ikut acara makan siang ramai-ramai bareng dia….”

Meskipun dengan berat hati, Tiwi mencoba melakukan apa yang disarankan Rina. Dua-tiga hari Tiwi membawa bekal sendiri dan makan berdua saja dengan Rina. Tapi hari selanjutnya…? Tiwi tidak bisa mendustai hati kecilnya. Ia didera rindu yang amat sangat pada lelaki bertubuh tegap itu. Ia kangen pada senyumnya, kangen pada canda tawanya. Lelaki itulah yang mampu membuat hidupnya lebih hidup, meletupkan binar-binar gairah yang tidak terbatas. Tetapi lelaki itu pula yang membuatnya putus asa dan tak berdaya. Tuhan, salahkah aku mencintai lelaki yang telah beristri? tanya batinnya miris.

Tidak tahan didera rindu, Tiwi memutuskan untuk kembali bergabung dengan grup makan siang yang ikon-nya adalah Jonas. Tiwi larut lagi dalam kegelisahan hatinya memendam cinta terlarang dengan atasannya, Jonas.

Memandangi sosok Jonas yang berwibawa, Tiwi jadi suka sedih. Ia tiba-tiba ingat ayah kandungnya.

“Kalau saja ayahku seperti dia, alangkah bahagianya,” bisik hatinya yang tidak menyadari sebutir air bening jatuh dari sudut matanya.

Ayah Tiwi ada di Bandung sana, setelah berpisah dengan ibunya belasan tahun lalu. Ia tidak tahu apa penyebab perpisahan kedua orang tuanya itu. Namun yang jelas, setelah berpisah, ayahnya sangat jarang menelepon. Berkirim surat atau sms pun tak pernah. Sebelas tahun sudah Tiwi tidak berjumpa dengannya.

Pernah sekali Tiwi ditugaskan ke Bandung selama seminggu. Tiwi ingin sekali bertemu dengannya. Tiwi sudah membuat janji akan bertemu dengan ayahnya di suatu tempat. Namun karena ibu tirinya selalu curiga, Tiwi akhirnya membatalkan pertemuan itu. Bukan apa-apa, Tiwi tidak ingin terjadi pertengkaran di antara ayah kandungnya dengan ibu tirinya itu.

Di Pekanbaru, Tiwi tinggal bersama ibu kandungnya, ayah tirinya dan dua adik tirinya. Tiwi bersekolah hingga kuliah di kota itu. Selesai kuliah, Tiwi memilih bekerja di Medan. Kebetulan ada perusahaan yang menerimanya bekerja di bidang periklanan. Gajinya memang tidak seberapa, tapi Tiwi sangat bersyukur karena bisa keluar dari rumah yang selalu dianggapnya neraka itu. Tiwi kost di daerah Padang Bulan, dekat kampus USU, bersama teman-teman sekantornya.

Sesungguhnya Tiwi sangat merindukan sosok seorang ayah yang ideal, seperti Bang Jonas. Ayah tirinya sangat kejam karena suka memukul, bahkan sangat kasar meski pada anak perempuan.

“Aku tidak suka melihat wajah kamu!” kata ayah tirinya sinis suatu saat dalam kemarahan yang memuncak. Waktu itu Tiwi pulang terlalu malam karena kelamaan menunggu angkutan kota. Akhirnya Tiwi pulang dengan menumpang ojek. Meski Tiwi telah memberikan alasan sejujurnya, tetap saja ayah tirinya yang ‘sok disiplin’ itu melayangkan tamparan keras ke pipi Tiwi. Bukan tamparan yang membuat merah pipinya itu yang menyebabkan hati Tiwi sangat sakit, tapi hinaan ayah tirinya yang menyebut dirinya seperti ‘ayam kampus’ atau ‘perek murahan’.

Sungguh sangat sakit. Menusuk-nusuk hingga ke jantung. Selain suka main tangan, kata-kata yang meluncur dari mulut ayah tirinya sangat kejam. Lebih kejam dari mulut seorang wanita paling cerewet sekalipun. Ketika akhirnya Tiwi bisa lepas dari cengkeraman ‘singa tua’ itu, Tiwi merasa menemukan kemerdekaannya. Bahkan Tiwi tidak merasa sedih ketika harus berpisah dengan ibu kandungnya. Sebab ibu kandungnya sendiri tidak berdaya melakukan pembelaan pada dirinya.

Bagi Tiwi, kehadiran Jonas di antara peliknya hubungannya dengan kedua orang tuanya terasa bagai hujan di musim kemarau. Jonas terlalu berarti baginya, meski Tiwi menyadari sepenuhnya bahwa rasa cintanya kepada Jonas adalah sebuah kesalahan. Tiwi merasa bahagia sekaligus menderita memendam asmara kepada lelaki yang telah beristri. Namun derita itu tetap dipelihara dan dinikmatinya karena memang ia butuh. Benar kata orang, cinta itu buta. Cinta bisa membuat orang lupa diri.

“Selamat ulang tahun ya, Tiwi. Semoga panjang umur, tetap semangat dan sukses selalu,” kata Jonas pagi itu sembari memberikan sebuah kado kecil pada Tiwi.

“Terima kasih, Bang Jonas…,” Tiwi tercekat dalam keharuan mendapat surprise dari atasannya. Hari itu memang ulang tahunnya yang ke-22.

Jonas mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu teman-temannya yang lain ikut mengucapkan selamat ulang tahun seraya menyalami Tiwi. Meski akhirnya Tiwi harus merelakan setengah bulan gajinya untuk mentraktir makan teman-temannya, tapi Tiwi sangat bahagia. Terutama karena Jonas memberikan sesuatu yang spesial untuknya. Sebuah pulpen cantik berwarna pink, warna kesukaan Tiwi. Secarik kartu kecil membungkus pulpen cantik itu, bertuliskan: Tetap semangat menghadapi hidup. Masa depan ada di tanganmu. Salam. Bang Jonas….

Bagi Jonas, memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahun sudah menjadi kebiasaannya. Itu dilakukannya kepada rekan-rekannya yang masih muda. Sebagai orang yang pernah belajar ilmu manajemen, ia selalu mendorong semangat mereka agar tumbuh matang dan profesional dalam bekerja.

Tapi bagi Tiwi, itu adalah sebuah bentuk perhatian dari seorang Jonas, lelaki yang dikaguminya. Apalagi ketika tadi tangan kekar lelaki itu menjabat tangannya lebih lama. Ada kehangatan yang mengalir dari tangan itu. Seandainya ia mendekapku…, harap hati Tiwi.

Sore harinya sepulang kerja, Tiwi minta diantar pulang berdua saja dengan Jonas. Jonas menyanggupinya. Dengan hati berdebar Tiwi duduk di sebelah Jonas yang sedang menyetir. Hmm, mungkinkah lelaki ini menjadi milikku kelak? Tanya hati Tiwi di antara bahagia dan rasa bersalah.

“Kita mampir dulu ya di toko buku,” sahut Jonas sambil mengarahkan mobilnya memasuki halaman parkir sebuah mal.

Tiwi sangat senang. Berarti ia punya waktu lebih lama untuk berdua saja dengan Jonas. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Setelah membeli beberapa buku tentang manajemen, Jonas menuntun tangan Tiwi memasuki sebuah restoran siap saji.

“Sambil menunggu jam macet berlalu, kita makan dulu. Oke?” kata Jonas yang langsung antre memesan makanan.

Sungguh sebuah berkah yang luar biasa membahagiakan bila di hari ulangtahunnya kali ini Tiwi diperlakukan bak seorang putri oleh Jonas. Tiwi merasa Jonas telah menjadi miliknya sendiri tanpa perlu kuatir diganggu teman-temannya yang lain.

Pulangnya, mereka berjalan ke tempat parkir melalui gang sempit yang penuh orang. Jonas sesekali merangkulnya, menghindari tabrakan dengan orang-orang yang berjalan berdesakan. Tiwi senang diperlakukan seperti itu. Itulah yang diinginkannya selama ini. Bukan hanya sekedar dirangkul. Tiwi ingin dipeluk, ingin didekap erat. Tiwi ingin dicium, ingin dicumbu. Bahkan lebih. Hati Tiwi kian terperangkap. Tersandera perasaaan cintanya yang teramat besar pada Jonas. Tiwi ingin itu tiap hari terjadi.

Kemarin Tiwi mendapat telepon dari ibu tirinya, mengabarkan bahwa ayahnya sedang sakit keras. Kalau bukan karena ayahnya selalu mengigau memanggil-manggil nama Tiwi, ibu tirinya tentu tidak akan mau mengabari kondisi ayahnya.

“Tengoklah ayahmu, beliau pasti sangat berharap kamu hadir di sampingnya,” kata Jonas ketika Tiwi menceritakan kondisi kesehatan ayahnya.

Tiwi mengangguk sedih sembari menyeka air matanya.

“Antar saya ke bandara ya, Bang Jonas?” pinta Tiwi.

“Jam berapa pesawatmu berangkat?”

“Jam tujuh malam, Bang….”

“Oke. Nanti aku jemput ke kontrakanmu,” Jonas menyanggupi. “Kamu harus tabah, ya….”

Jonas ikut membawa koper kecil milik Tiwi ke dalam ruang tunggu bandara. Masih sejam lagi pesawat yang akan membawanya ke Jakarta akan diberangkatkan. Sesampai di bandara Soekarno-Hatta nanti, Tiwi akan langsung naik bus Damri yang akan membawanya ke Bandung.

Setelah melakukan check-in, Tiwi memilih duduk di sudut ruang tunggu.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Jonas yang melihat Tiwi terus berurai air mata.

“Aku takut kehilangan Ayah…,” keluhnya lirih.

“Kamu jangan berpikir sejauh itu. Berdoalah terus agar kesehatan ayahmu dapat pulih kembali,” kata Jonas lembut.

Tiwi mengangguk sambil menyeka air matanya.

Sayup-sayup terdengar panggilan dari pengeras suara, mempersilakan para calon penumpang menaiki pesawat.

Tiwi berdiri memegangi koper kecilnya. Nanar matanya menatap Jonas. Tiba-tiba Tiwi menghambur. Memeluk Jonas erat sekali, lalu menciumnya….

Jonas sangat terkejut, namun dengan cepat ia dapat menguasai diri. Perlahan ia melepas pelukan Tiwi dan dengan kikuk bergeser ke pintu keluar.

“Hati-hati, ya…,” sahut Jonas datar.

“Terima kasih, Bang Jonas…,” balas Tiwi sendu, hampir tak terdengar.

Kesehatan ayah Tiwi berangsur pulih. Ternyata sang ayah sangat merindukan Tiwi. Merasakan kehadiran putrinya di sisinya, semangat hidup sang ayah untuk sembuh bangkit kembali. Baru sekali ini Tiwi melihat rona bahagia di wajah ayahnya. Tiwi pun pamit setelah ayahnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

Setelah seminggu di Bandung, hari itu Tiwi kembali ke kantor. Ketika bertemu Jonas, Jonas kelihatan berubah. Jonas tidak lagi bebas seperti biasanya. Ia rikuh, bingung harus berbuat apa. Ingin riang, ia kuatir nanti dianggap gembira berjumpa lagi dengan Tiwi.

“Bagaimana kabar ayahmu?” akhirnya tanya Jonas.

“Sudah baikan, Bang,” jawab Tiwi menunduk. Entah mengapa kali ini ia tidak berani menatap mata Jonas yang teduh. Ia sendiri ikut rikuh setelah apa yang dilakukannya di bandara ketika itu. Ia jadi malu.

Ketika jam makan tiba, Tiwi memilih tetap di kursinya. Kebetulan ia membawa kotak makanannya sehingga tidak perlu turun ke kantin di lantai bawah. Sejak turun dari pesawat tadi malam, hati Tiwi diliputi rasa bersalah yang amat dalam. Hatinya gelisah dan ingin meminta maaf pada Jonas.

Sesungguhnya Jonas pun tampak gelisah. Ia makan siang dengan hati sedikit gusar. Hari ini ia tak banyak bicara atau tertawa seperti biasanya. Ketika ia kembali ke meja kerjanya dan membuka laptopnya, pikirannya tetap pada Tiwi. Ah, mengapa jadi begini? keluh hatinya. Kami ‘kan hanya bersahabat. Persahabatan jadi cinta, mestinya tak boleh terjadi. Bukankah ini cinta terlarang? Apalagi Tiwi yang umurnya terpaut 18 tahun dengannya….

Jonas membuka file catatan hariannya. Dibacanya lagi curahan hatinya yang semalam diketiknya.

Aku menyukainya, gadis belia bernama Tiwi itu. Tapi…, pantaskah aku mencintainya? Gadis itu pendiam, seperti memendam ribuan masalah besar di pikirannya. Ingin rasanya aku ikut menanggung bebannya itu. Tapi pantaskah? Tuhan, ciumannya waktu itu sungguh membuat aku lupa diri. Ampunilah hambaMu ini, yang tak pantas mencintainya karena aku telah beristri dengan dua anak yang manis-manis….

Jonas merenung lagi. Menimbang-nimbang lagi, sebelum akhirnya dengan sedikit gemetar ia menyorot kalimat-kalimat itu, lalu men-delete-nya. Seketika kalimat-kalimat curahan hati itu lenyap dari layar monitor laptopnya. Jonas mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Semoga ini keputusan yang tepat, semoga tidak ada yang terluka…, bisik hatinya. Tiwi, maafkan Abang…… ***

Advertisements