Cerpen Tissha Said (Rakyat Sultra, 14 Oktober 2019)

Inaku ilustrasi Istimewa
Inaku ilustrasi Istimewa 

INAKU, tidak seperti ibu-ibu lain di desa ini. Bagiku, ia adalah ibu paling cerdas sebab segala keterampilan hidup ia punyai. Bukan berarti aku menganggap bodoh ibu-ibu lain, tapi aku memang lebih mengaguminya ketimbang apa pun. Ia berprofesi sebagai penjahit, barangkali untuk menjahit hatinya yang terluka. Setiap hari, ia sulam impianku dengan jarum dan benang di tangannya. Barangkali ia sedang menutup resah yang menggumpal di dadanya, dada yang sanggup menahan segala sesak.

Aku akui, ayah adalah sosok yang mampu membuat inaku bisa bersaing dengan ibu-ibu lain meski tanpa melalui sekolah formal. Segala yang ia punya, ia limpahkan pada inaku. Mulai dari bagaimana cara seorang perempuan mempercantik diri, menjahit, melayani suami, memasak, baca buku bahkan sampai hal-hal di luar kerumahtanggaan telah ia kuasai. Bahkan ina mampu menjadi seseorang pendamping sekaligus sekretaris pribadi ayah ketika masih menjadi kepala perusahaan jambu mete terbesar di desa ini. Namun, di balik segala kesempurnaannya, ternyata ada hal yang dengan keras ia coba bungkam.

Inaku adalah istri kedua Ayah. Ayah tertarik pada kelihaiannya menerima dan melayani tamu kantor ketika menjadi staf perusahaan. Bukan karena paras dan tubuhnya yang aduhai, tetapi karena ina punya sisi istimewa dibanding istri pertama Ayah. Ya, inaku cerdas dan tak keras hati.

Sampai tiba di suatu masa, usiaku masih sangat belia, usia yang amat membutuhkan bahu seorang Ayah. Tujuh tahun umurku, ayah mulai sakit-sakitan di usia yang cukup renta. Semua anak ayah dikumpulkan. Istri dan dua orang anak dari istri pertama, inaku, juga aku. Aku tidak tahu persis duduk perkaranya, namun seolah aku rasakan sekat-sekat penghalang antara kami. Kami hanyalah orang asing. Ayah merangkulku, lalu berkata pada beberapa orang yang kurasai asingnya, “Ini Alina, adik kalian. Jika kelak aku mati, tolong jaga dia sebagaimana kalian menjagaku.” Dan kurasai wajah-wajah bengis itu tajam menatapku. Kupeluk erat tangan ayah, “Yah…aku takut.”

Semakin hari, kesehatan ayah semakin menurun, ingatannya mulai memburuk. Dalam ruang rawat, yang ia sebut hanya namaku, Alina, gadis kecil kecintaannya. Sontak, semua anak dan sanak saudara pun berdatangan. Semua menjadi begitu genting tak bertahan tenggelam dalam kasak-kusuk kedukaan. Sambil menggandengku, ina berlari tak karuan menuju kamar 105 A, tempat ayah dirawat. Suasana menjadi begitu menegangkan, ayah tak henti memanggil namaku. Aku berlari memeluknya, sambil menangis seolah kecemasan terbesar yang kumiliki adalah tak akan lagi mendapatkan permen dari ayah setiap kali menangis. Namun, ada banyak kecemasan yang coba dipendam oleh ina dengan mata berkacakaca, “Jaga adikmu, Alina. Berikan ia juga permen kalau ia rewel,” demikian kata ayah. Setelahnya, napasnya pun mulai tersengal, lantunan kalimat syahadat mulai dilantunkan… Asyhadu Allah ilaaha illallah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah.  Ayah telah pergi. Suasana tenggelam oleh air mata haru, sedih. Aku, Alina, gadis kecil kecintaannya itu, ina tak kuasa membendung kesedihan melihat jasad sang suami.

Ibu, istri pertama ayah, geram campur api di matanya. Sontak ia caci maki ina dengan menggunakan perkataan yang teramat kejam, “Pergi kau perempuan jalang, tak tahu diuntung, pelakor, semua gara-gara kau! Suamiku meninggal gara-gara kau racuni. Pergi…!!!

Ina memelukku, tak kuasa mendapat perkataan menyayat hati saat suasana sedih kepergian sang suami. Ia terusir sebelum sempat memeluk sejenak jasad suaminya. Ia pergi dengan air mata membanjiri semestanya yang tiba-tiba gulita.

Inaku menjadi begitu pendiam sejak kepergian ayah. Entah kenapa seperti ia merasa akan berjuang sendirian sejak awalnya, membesarkan dan merampungkan impiannya padaku.

Aku tahu kenapa ina menjadi begitu murung, lewat surat-surat ayah yang pernah meluluhkan hatinya yang beku. Ya, Inaku adalah bunga desa pada masanya. Sebagai seorang istri kedua, ina tentu tahu diri dan tahu batas untuk tidak mencampuri urusan ibu yang begitu kejam terhadapnya. Gaji, tunjangan, dan kekayaan ayah tak ia sisihkan untuk kami melanjutkan hidup. Itulah barangkali kenapa ina seolah menjahit luka dan mimpinya di sini, di mesin jahit yang diberikan ayah sebagai hadiah ulang tahun ina.

Lewat surat-surat masa lalu ayah kepada ina yang sempat kubaca, aku jadi tahu bagaimana cinta mampu mengobrakabrik hati seseorang, hati seorang ina yang cukup rapuh untuk menanggung segala beban yang sebenarnya tak sanggup ia bendung sendiri.

“Dunia ini akan seterusnya mencetak perjalanannya. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Dan ia tidak akan pernah menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang tertinggal. Andaikan ia mampu berbahasa maka ia akan berkata: berjalanlah dengan seribu khayalanmu.”

Melalui kutipan surat itu, ayah seolah menguatkan ina untuk terus melanjutkan hidup meski ayah tak lagi di sisinya.

***

Aku beranjak dewasa, perlahan aku mulai sadar bahwa aku adalah satu-satunya harapan ina di dunia ini. Aku sudah terbiasa hidup berdua dengan ina. Hari-hari yang kami jalani cukup menderita tanpa apa pun yang ditinggalkan ayah kepada kami. Inaku masih setia dengan mesin jahit pemberian ayah, merampungkan impiannya pada jarum dan benang itu, ya, aku adalah impian ina.

Dengan segala sesak yang kutanggung sejak kepergian ayah, aku bertekad untuk menemukan jati diriku,menemukan segala apa yang hilang, menemukan saudaraku, anak dari istri pertama ayah. Barangkali mereka mengingatku, bukan sebagai adiknya tetapi sebagai pesan ayah yang harus ia laksanakan.

Hari ini, tepat aku berusia 18 tahun, usia di mana seorang anak gadis sepertiku sedang dalam masa pencarian jati diri. Aku pun sudah dinyatakan lulus dari bangku SMA. Dengan segala ketegaran hati, ina mengatakan bahwa aku harus melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, meskipun sedari dulu aku sudah bercita-cita untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi aku sadar dana tak ada untuk melanjutkan impian itu. Namun ina mengatakan harus.

Hari-hari sebelum keberangkatan menuju kota, aku dengan kuatnya membantu segala pekerjaan ina, memasak, cuci piring, menyapu halaman bahkan sampai mencucikan bajunya. Aku teringat kemanjaan yang sejak lama itu tak pernah mampu mengerjakan hal-hal sedemikian gampang ini, tetapi karena aku sadar, akan lama lagi untuk berjumpa dengan ina ketika nanti aku telah berada di kota.

Senja meredup, hari semakin pekat, azan dikumandangkan lalu anak-anak berlomba berkejaran menuju masjid untuk salat dan mengaji. Beginilah suasana paling syahdu di kampung ini. Rasanya sulit untuk berpikir meninggalkan kebiasaankebiasaan yang sering terlihat ini. Anakanak berlarian menari dalam sajadah.

Malam ini aku cepat tidur, sebab esok pagi-pagi sekali aku akan berangkat ke kota Kendari. Sebab pagi sekali mobil damri yang biasa lewat di jalan poros kampung kami, maka aku harus bangun sepagi mungkin. Dalam tidur yang tidak begitu lelap, seperti kudengar dengan samar suara ina, ia lantunkan alunan kabanti untuk mengantarkan tidurku seperti malam-malam yang telah lalu. Aku terisak, lalu mengubah posisi tidur menelungkup dan menutup tubuhku dengan selimut, agar isakku tak terdengar oleh ina. Sedih, sebab malam ini adalah malam terakhir bersamanya sebelum aku berangkat ke kota.

Pukul 02.00 dini hari, aku belum juga tidur, tubuhku terbaring tetapi pikiran melayang jauh. Ina berucap sebuah nasihat seolah tahu bahwa aku belum tidur.

“Nae wine, yanaku nakumalamo wae kandari, ae latemo semie-mieku  miinamo bae mieya. Paenoafa’a taamaka feulai masa depanmu ka’asi ee, baebaemo ao aho a menderita, asal naetaa namisimu, naetaa sikolamu, sikola fekata-taa, koe meyangkafi mie humangkaaya mina bhae fekirindo so dhasumikola’a, fekataa niacimuaa maka akumahadha soo kasikola’amu bhae kafomaa’amu.”

Aku terisak lagi, dengan kuat kututup mulut dan hidungku dalam selimut, hatihati jangan sampai didengar ina. Aku pun memaksa diri untuk terlelap, tetapi tak bisa. Rasanya aku ingin menangis sambil memeluk ina. Hari semakin pagi, azan subuh berkumandang, inaku membangunkanku dalam tidurku yang pura-pura. Aku bangun dengan mata yang sembab, ia tahu aku menangis, tetapi pura-pura tak tahu agar ia tak ikut bersedih dan menangis juga di hadapanku. Aku tahu ina sedih.

Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah bersiap, ina sudah menyiapkan teh hangat dan roti donat “Mama Arisi”, menu sarapan paling legendaris di kampungku. Tiba-tiba ina keluar dari kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu ia baru saja menyeka air matanya. Ia sodorkan amplop putih ke tanganku.

“Ini uang untuk bayar kos dan uang spp nanti, jangan lupa beli sama perabot dapur dan makanan, bisa juga kamu beli sama baju untuk kuliahmu, insyaallah dia lebih dari cukup ini uang, simpan bae-bae, hati-hati jangan sampai dicopet, jangan boros itu ana.”

Aku kemudian mengambil amplop dan memasukkannya ke dalam tas, mataku berkaca-kaca, rasanya  seperti tak sanggup lagi meneguk teh hangat dan menelan donat.

Waktu sudah menujukkan pukul 06.30 pagi, masih satu jam lagi untuk menunggu damri akan tiba, tetapi ina dengan bergegas mengangkat tasku dan mengantarku menuju jalan poros tempat untuk menaiki mobil damri. Dari kompleks pesisir menuju jalan poros di depan rumah waina Aida kami berjalan. Ina berbicara terus memberi nasihat seolah waktu berbicaranya akan segera habis, padahal kita akan bisa saling mengabari lewat telepon genggam.

Ina bilang, “Nanti kalau sudah mau habis uangmu, telepon saja Ina, nanti saya kirimkan di rumahnya Ibu Hanifa. Nanti tiba di Kendari, kamu langsung buat rekening tabungan..ee, supaya gampang Ina mengirim.”

“Iya, Ina,” jawabku singkat seolah tidak sanggup.

Ternyata kebutuhan hidupku semakin besar, bukan lagi sekadar kagola-gola atau es tom-tom yang biasa lewat di depan rumah.

Tiba di depan rumah Waina Aida, aku langsung duduk di godhe-godhe. Tetapi ina tidak duduk, ia berdiri di pinggir jalan menantikan damri, ia takut jangan sampai kami lupa menyetop damri. Ina sibuk memperhatikan dan menghitung kendaraan yang lalu lalang.

“Tidak lamami dia lewat damri, karena sudah banyak kendaraan, pasti sudah tiba feri dari Baubau tempat naiknya itu damri.”

Tidak lama, damri yang dinanti pun tiba, Ina melambaikan tangan memberi isyarat kepada sopir damri untuk menghentikan mobil. Ina mengangkat tasku dan menggandeng tanganku, mengantar sampai ke dalam mobil, mencarikan tempat duduk yang dirasa nyaman untukku, dekat jendela. Sebelum turun, aku mencium punggung tangan ina, memeluknya erat. Mataku berkaca lagi. Ina melepas tanganku dan turun, lalu melambai dengan senyum hangatnya. Senyum yang membuat hatiku serasa terpukul pagi ini.

Mobil pun mulai bergerak, aku dari balik jendela kaca melihat ina yang masih juga melambai dengan penuh harap meski matanya lebih berkaca-kaca dari aku. Aku tidak kuasa menahan tangis, memandangi kampung halaman yang penuh tawa masa kecil, di balik jendela mobil.

Sampai jumpa, nantikan aku dalam keadaan yang lebih baik dari ini, ucapkan dalam hati sambil kulanjutkan lagi tangisanku.

Aku seperti merasakan lelah, mungkin karena semalaman tidak tidur. Kupandangi deretan pepohonan yang kami lewati sepanjang perjalanan. Aku membayangkan ina tersenyum sambil melambaikan tangan. Mataku seketika berkaca-kaca lagi. Kututupi wajah dengan jaket agar penumpang lain tak tahu bahwa aku sedang menangis. Aku menahan tangisku sendiri hingga akhirnya mulai merasakan kantuk. Aku tertidur dengan air mata di pipiku. ***

 

Tissha Said, lahir di Gu, daerah pesisir bagian tengah Buton pada 21 Juni 1997. Mahasiswa jurusan Kajian Budaya, Universitas Halu Oleo. Ia suka puisi dan cerita. Aktif di organisasi GMNI dan saat ini sedang mengembangkan komunitas seni “Roemah Merdeka”.

Advertisements