Cerpen Iswandi Usman (Serambi Indonesia, 13 Oktober 2019)

Tujan ilustrasi Istimewa.jpg
Tujan ilustrasi Istimewa 

TUJAN menggiring kerbau jantan ke tengah arena aduan yang telah dipersiapkan sedemikian rupa di tengah sawah sehabis panen. Kerbau Tujan akan diadu dengan kerbau-kerbau jantan lainnya yang sudah siap menunggu kedatangan lawan-lawan mereka.

Kerbau Tujan dengan tanduk lurus layaknya lembing tahun lalu menjadi juara, mengalahkan kerbau Abdullah. Tanduk sebelah kiri kerbau Abdullah berhasil dipatahkan. Walaupun tahun lalu menderita kekalahan, tahun ini Abdullah kembali dengan kerbau jantan sewaan yang posturnya cukup kekar.

Abdullah menyewa kerbau andalannya itu dari seseorang di kaki Gunung Lauser. Kerbau itu sehari-hari dilatih dengan bermacam-macam balok kayu beragam ukuran, yang oleh kerbau itu balok-balok itu ditarik menuruni lereng gunung dan menaiki tanjakan bukit menuju ke pinggiran sungai demi memenuhi kepuasan tuannya, pengabdian atas nama sejumput rumput, seteguk air  dan sebongkah tungo perapian untuk menghangatkan tubuhnya di dalam kandang.

“Tujan! Abdulah! Apa kerbau kalian sudah siap untuk diadu?” tanya Toke Nek selaku juri.

“Siap, Juri!” Jawab Tujan dan Abdullah bersamaan.

“Kalau begitu mari segera kita mulai,” kata Toke Nek memberikan aba-aba tanda aduan akan dimulai. Sesaat kemudian, kedua kerbau andalan itu pun bertarung dengan sekuat tenaga mempertaruhkan jiwa dan raga mereka demi memberi sebuah kebanggaan untuk tuan mereka.

Deru debu mengiringi perkelahian dua ekor kerbau jantan yang disaksikan ribuan pasang mata. Sorak-sorai dan  tepuk tangan terdengar gegap gempita, menambah gairah sore yang mendebarkan.

“Bajil! Ayo hajar lawanmu! Jangan beri ampun!” teriak Abdulah.

“Konto! Jagoanku, seruduk lawanmu! Kalahkan musuhmu! Tunjukkan kehebatanmu!” seru Tujan.

“Aaayoooo! Tunjukkan kebolehan kalian, wahai kerbau-kerbau jagoan!” penonton dari sisi kiri yang berdiri mengerumuni gundukan tanah di areal persawahan berteriak. Gundukan tanah itu dipenuhi kuburan tempo dulu yang bertandakan nisan. Namun, tak seorang pun di kampung itu yang mengetahui kuburan-kuburan itu milik siapa.

“Mana kejantanan kalian! Tampilkan! Ayo tampilkan! Jangan ragu-ragu!” Penonton yang berdiri di sebelah kanan arena pun tak mau  ketinggalan. Mereka terus bersorak-sorai.

Kedua ekor kerbau yang sedang beradu kekuatan itu kian membabi buta. Pematang sawah tidak menjadi penghalang yang berarti. Mereka saling menyeruduk. Mengadu kekuatan tengkorak mereka yang saling berantukkan. Kedua pasang tanduk mereka saling berhantaman. Mengeluarkan bunyi trak-truk secara bertubi-tubi. Rasa sakit mereka abaikan demi tuan dan penonton.

“Nek Musa, kerbau siapa yang sudah kalah?” tanya Apa Kaoy pada lelaki tua yang tengah terduduk di bawah pohon kuda-kuda yang tumbuh merindang di tepi sawah berdekatan dengan kuburan tua di atas gundukan tanah. Apa Kaoy rupanya datang sedikit terlambat. Apa Kaoy tak sempat menyaksikan pertarungan sejak awal.

“Belum ada yang kalah. Baru saja dimulai,” jawab Nek Musa sambil membetulkan kain kuning ikatan kepalanya.

“Apa Nek Musa juga ikutan naik arena selepas ini?”

Nek Musa menjawab pertanyaan Kaoy dengan tertawa terkekeh-kekeh. Setelah acara adu kerbau, akan berlangsung perlombaan geudeu-geudeu atau gulat dan juga silat yang menghadirkan para jawara ternama di seputaran kampung Bangket Pahlawan yang tersohor ke seluruh penjuru Tanah Rencong.

“Berarti Nek Musa akan melawan para jagoan silek muda yang begitu tangguh dan hebat-hebat ilmunya?”

Nek Musa kembali terkekeh-kekeh. Dia lalu membalut rokok kesukaannya. Bakong cokelat dengan daun nipah.

“Geurutram…truk…tram…uuuuwwwaaaaaakkkkkk…waaaakkkkk…uuwaakkkk….”

Deru debu yang tebal menghalangi pemandangan para hadirin. Semua orang tercengang keheranan mendengar suara hantaman yang cukup keras itu disusul suara jeritan panjang dari kerbau yang memohon pertolongan.

Sejenak suasana menjadi hening. Orang-orang menyimpan tanda tanya sambil berusaha terus menunggu deru debu yang mengepul itu benar-benar sirna dibawa angin yang berembus. Dan kemudian… “Ooooooo….” Teriakan dari orang-orang yang berjingkrak-jingkrak keriangan saat debu tak lagi menghalangi pandangan mereka. Mereka kegirangan karena kerbau jantan berbulu jagat berdiri kekar di samping lawan tandingnya yang terkapar menindih tanah. Kerbau Tujan andalan mereka berhasil merobohkan lawannya yang disewa dari lereng Gunung Lauser.

Tujan segera menarik ujung tali hidung kerbaunya dan menggiringnya menjauhi Abdullah dan kerbau sewaannya itu yang kedua tanduknya berderak keras, sedangkan leher berputar berlawanan arah. Tulang leher kerbau milik Abdullah ternyata patah.

Nek Musa tiba-tiba terlihat membawa lari sebilah parang kesayangannya yang mengkilap terkena cahaya matahari yang cerah. Nek Musa segera meletakkan mata parangnya itu ke tenggerokan Bajil yang terlihat pasrah. Dengan mulut komat-kamit seperti sedang membaca sesuatu, lalu jago silat itu pun dengan cepat memotong tenggorokan  Bajil hingga ke urat-urat lehernya.

“Grooohhhhh….” suara terakhir Bajil terdengar pelan. Kemudian darahnya bermuncratan membasahi rerumputan dan jendrang dalam sawah.

“Untung Nek Musa ligat. Jika tidak si Bajil Abdullah akan mati sia-sia di tanduk si Konto Tujan,” seseorang mengomentari.

“Nek Musa, tolong perlakukan si Bajil sebagaimana biasanya. Semua daging dan belulangnya kuserahkan untuk kenduri di kampung kita besok malam,” kata Abdullah sambil berlalu pergi.

Nek Musa dan orang-orangnya segera memperlakukan Bajil dengan selayaknya.

“Uwaaaakkkkk…”

Suara uwak si Konto terdengar kembali. Orang ramai mengerumuni si Konto dan tuannya. Tujan dielu-elu. Pujian terhadap keberhasilan Konto melumpuhkan lawannya terdengar di mana-mana. Terucap dari mulut ke mulut.

“Tujan! Tujan! Tujan!” Orang-orang menyebut-nyebut nama Tujan sambil merangkul tubuh Tujan dan mengangkat-ngangkatnya. Suasana kian gegap gempita menyambut kemenangan. Semua orang larut dalam kepuasan. Tapi, ketika suasana itu kian bertambah semarak dengan kehadiran orang-orang yang berduyun datang mengerumuni, tiba-tiba Konto kegirangan. Konto segera berlari kencang ke arah sang tuannya yang dimuliakan atas nama sejumput rumput dalam palung, seteguk air dalam ember dan sepotong tungo untuk perapian di dalam kandangnya. Konto segera menyeruduk pantat tuannya, lalu mengangkat tubuh cebol itu melayang ke udara. Dengan sigap dan tangguh, Konto segera menyambut tubuh sang tuan yang melesat kembali ke bawah. Tampaknya Konto tak ingin tubuh majikan yang telah berbaik hati padanya selama sepuluh tahun  menimpa tanah. Konto menyambut tubuh Tujan gesit dan lincah, sehingga membuat ribuan mata terkesima memandangnya. Namun malang, tubuh Tujan terpacak di kedua ujung tanduk Konto dengan isi perut terburai. Darah segar pun bermuncratan ke segala arah. Orang-orang berlarian menjauh. Sorak-sorai dibungkam. Tapi Konto tak peduli, dia berjalan santai membawa tubuh majikannya. Konto tak menghiraukan perasaan cemas pendukungnya, yang kini mereka, pendukungnya, sibuk memikirkan cara mengambil mayat Tujan yang tertancap pada tanduk kerbau itu.

“Bagaimana ini? Nek Musa, apa yang harus kita lakukan?” tanya Kaoy yang berdiri dengan lutut gemetar.

“Segeralah kau beri tahu para jawara geudeu-geudeu. Suruh mereka berkumpul. Biar aku kumpulkan para jawara silat. Kita harus bersatu dalam menjinakkan si Konto,” perintah Nek Musa. Kaoy pun segera pergi.

Langit kian memerah di langit barat.

Dalam waktu singkat, para jawara itu pun telah berhasil dikumpulkan dan berbaris  di hadapan Nek Musa.

“Kita musti ligat dan berhati-hati. Konto itu sangat besar dan kuat. Tapi kita harus mengalahkannya dengan cara apa pun,” sedikit pengarahan dari Nek Musa. Para jagoan itu pun bergerak mengikuti arah jejak Konto yang berjalan santai menuju kubangan.

Perlahan Konto mulai menuruni lubang bundar yang berlumpur. Sebelum Konto merebahkan tubuh kekarnya dan melumuri dengan lumpur, Nek Musa berhasil menarik tali hidung Konto, sehingga Konto pun sedikit terkendali. Para jawara silek dan geudeu-geudeu melakukan apa yang semestinya dilakukan berdasarkan perintah Nek Musa.

“Bantu tarik talinya, meuruwa! Pegang yang kuat. Giring dia ke darat.”

Hentakan tali dan lemparan tanah ke arah Konto yang dilakukan oleh para jawara tersebut ternyata memancing kemarahan si kerbau. Konto segera berlari ke arah mereka. Menyeruduk apa yang ada di hadapannya dengan beringas. Para jawara kewalahan menghadapi tenaga kerbau juara itu. Termasuk Nek Musa sendiri yang hampir saja mengalami nasib naas di tengkorak oleh tanduk Konto yang tajam. Namun Nek Musa berhasil berkelit ke kiri dan ke kanana sambil melakukan salto berjumpalitan.

“Haayyyyaaapppppp….Heup. Heup.”

Kembali Nek Musa memperagakan jurus Kunyuk Menangkap Buah, ketika Si Konto hendak menyeruduk punggungnya yang bungkuk. Namun Nek Musa mati langkah dan terjatuh. Kuda-kudanya meucarueh dengan jendrang. Konto yang sedang kesetanan terus menyeruduk ke arah Nek Musa tanpa memberi ampun dan batas waktu sejengkal pun. Nek Musa kelagapan dan sekarang dia panik. Kali ini Nek Musa terpaksa harus menggunakan senjata andalannya, mengguling-gulingkan tubuhnya di atas tanah di antara jendrang, menghindari serangan Konto yang kian gencar dan mematikan. Hingga pada akhirnya Nek Musa berhasil berdiri. Nek Musa mundur beberapa depa ke belakang. Parang sigap di tangan kanannya. Erat dan kuat ia genggam. Nek Musa mulai komat-kamit, seperti sedang membaca sesuatu yang cukup sakral dalam ajaran agamanya. Namun, Konto tak peduli. Konto segera bersiap, lalu  berlari sekencang badai membangun serangan berbahaya ke arah Nek Musa yang terlihat sudah cukup siap dengan kejadian apapun.

“Bismillahh…Allahhuakbar…Hayyyyyyyyaaaaaap…”

Begitu Konto menyeruduk dari arah yang cukup dekat, Nek Musa bergerak secepat kilat sambil memutarkan mata parangnya ke atas dan menyelipkannya ke balik tenggorokan konto dengan kekuatan penuh.

“Hehhhhhhh…heup…yaaakkkkk…”

Parang Nek Musa terpental ke udara dengan mata bengkok, setelah berhasil tertanam ke dalam daging leher Konto dan memutuskan apa pun yang ada di sana, menjadikan luka pada leher Konto dengan nganga yang dalam mencapai belulang tengkuknya. Konto tampak berdiri dengan gerak tertatih. Matanya merah. Tubuhnya bergetar hebat, lalu roboh bersimbah darah. Disusul sebuah kepala yang tersangkut pada ujung tanduk kiri Konto juga ikut terjatuh dan menggelinding  bagai bola boling menimpa tanah, ikut terkayau mata parang Nek Musa yang kehilangan kendali.

Nek Musa kehabisan tenaga. Ia tersungkur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya atas nama kepala Tujan yang terjatuh.

 

Iswandi Usman, kelahiran Matang Panyang-Seunudon, 5 Februari 1981. Sehari-hari bekerja sebagai guru PNS pada SDN 8 Muara Batu Aceh Utara dan pedagang kaki lima pada hari pekan Kutablang. Menetap di Blang Mee, Bireuen.

Advertisements