Cerpen Bono Emiry (Analisa, 13 Oktober 2019)

Pusara Hari Esok ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Pusara Hari Esok ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

Kaus merah bergambar wajah Thom Yorke [1] masih tergenggam di tangan Goklas. Dia mencium sekali lagi. Menghirup harum persahabatan yang masih melekat di antara benang-benang. Barang peninggalan seorang sahabat sejak kecil yang meninggal di awal tahun pertama SMA itu juga dia lepas.

“Kau juga akan mengubur dan meninggalkannya?” tanya Amani Goklas, sang bapak.

“Ya, Pak. Biarlah kutinggalkan di sini. Semuanya,” jawab Goklas tak mampu membendung tangis.

Amani Goklas mendekat dan merangkul. Meletakkan kepala si anak tunggal di dada.

“Kita kalah, Nak.”

Goklas makin terguncang melepas sesak nasib.

Tajam mata Amani Goklas mengupas jejak hari-hari. Upaya meyakinkan warga untuk pertahankan kampung gagal. Semua akhirnya pindah demi sebuah universitas swasta yang segera berdiri. Tak sampai satu kalender waktu yang dihabiskan untuk mengosongkan kampung mereka.

Enam bulan lalu manajer humas sebuah perusahaan raksasa datang. Didampingi aparat kampung, camat, utusan walikota, dua orang anggota legislatif provinsi, dan tiga orang perantau sukses. Maksud disampaikan di balai warga.

“Letak kampung ini sangat strategis di pinggiran kota. Cocok untuk proses perkuliahan,” ucap si manajer humas waktu itu.

“Sebagai rasa terima kasih kami, nantinya satu orang anak dari tiap keluarga akan mendapat beasiswa kuliah. Gratis uang kuliah juga biaya-biaya perkuliahan yang lain.”

Bisik-bisik warga terdengar.

“Begitu lulus kuliah, anak-anak kita nantinya langsung ditempatkan bekerja,” seorang anggota legislatif ikut bersuara.

“Pemilik kampus ini pasti Bapak-bapak kenal. Tuan Zaq Nji. Ya. Beliau konglomerat yang punya banyak perusahaan. Bank, asuransi, perkebunan, tambang, maskapai penerbangan, media. Setelah tamat kuliah, anak-anak kita nanti mau bekerja di perusahaan yang mana, tinggal memilih. Bukan begitu, Pak?” dia melirik si manajer humas.

Sebagian besar warga makin antusias.

“Benar yang disampaikan Bapak Anggota Dewan Yang Terhormat,” jawab si manajer humas, “Saat pembangunan kampus nantinya dimulai, Bapak-bapak dan para pemuda, jika ingin, bisa ikut menjadi pekerjanya. Dengan upah harian di atas upah rata-rata pekerja bangunan. Apalagi pembangunan akan dikerjakan perusahaan Pak Bistok.”

Si manajer humas melirik Bistok, salah seorang anak kampung yang sukses di perantauan sebagai kontraktor. Bistok tersenyum lalu menarik nafas panjang.

“Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi kampung kita. Meski di awal saya bingung dan sedih. Saya yakin, inilah pengorbanan. Kita kehilangan kampung yang kita cintai, tapi mudah-mudahan dengan pengorbanan kita, kita mendapatkan hari esok, masa depan, yang baik,” Bistok bersuara.

Beberapa warga mengangguk-anggukkan kepala. Si manajer humas bertukar pandang dengan aparat kampung, camat, utusan walikota, anggota legislatif, dan perantau. Rencana tak membentur tembok. Universitas yang didirikan sebagai tempat pencetak tenaga kerja bagi seluruh perusahaan Tuan Zaq Nji segera berdiri. Senyum mekar di wajah mereka. Tidak di wajah Amani Goklas dan tetua kampung.

Usai pertemuan, Amani Goklas berupaya meyakinkan warga agar menolak rencana pembangunan kampus. Selama empat generasi sejak kampung berdiri, serunya, kampung mampu menghidupi warga termasuk menyekolahkan hingga universitas. Banyak juga anak-anak kampung yang hidup mapan di tanah perantauan.

“Dengan rencana ini anak-anak kita punya kesempatan yang sama menjadi sarjana. Tidak hanya warga berpunya,” jawab seorang warga menyanggah Amani Goklas.

“Apalagi langsung bekerja begitu tamat kuliah,” ucap warga yang lain.

“Goklas pun sebentar lagi tamat SMA. Bisa langsung kuliah dia,” seorang warga lain menimpali.

Satu demi satu keluarga berkemas. Meninggalkan kampung bermodalkan hasil penjualan tanah. Ditambah uang pengganti modal menanam dan beternak. Masing-masing keluarga menuju tempat domisili baru. Terpencar ke seluruh arah mata angin. Gembira menggenggam harap memiliki anak sarjana dan bekerja di perusahaan ternama.

Angin dan kesunyian menguasai kampung. Kehendak perusahaan raksasa menancap sempurna. Memaksa keluarga Goklas ikut berkemas dan pindah. Batas akhir telah tiba. Sebelum menyingkir, Goklas menggali lubang di kamar tidurnya. Mengubur semua benda penyimpan kenangan.

“Aku belajar menuruti takdir, Pak,” suara Goklas lirih.

Amani Goklas melepaskan dekapan. Tatapannya berpindah ke mata Goklas.

“Tidurlah setelah pekerjaanmu selesai,” Amani Goklas tersenyum lalu beranjak menuju kamar. Menunggui istri yang bersimpuh di tepi ranjang menaikkan doa-doa kepada Sang Pencipta.

Goklas melihat sekali lagi kaus di tangannya sebelum membentangkan menutupi barang-barang lain yang sudah disusun di lubang. Sepeda, koleksi mainan masa kanak-kanak, sepasang seragam SD dan SMP yang selama ini disimpan, Katekismus Kecil [2] lusuh milik almarhum opung boru [3] yang di­wariskan kepadanya. Jam tangan pemberian almarhum opung doli [4] sebagai hadiah kelulusan SMP, piagam anggota paskibra, tropi kejuaraan bulutangkis dan raket kemenangan, buku-buku, serta album foto.

Cangkul di tangan terayun menimbun semua kebanggaan. Seiring dentang jam di ruang tamu, Goklas menggeser ranjang kembali ke posisi semula. Tepat di atas makam kenangan. Goklas lalu berbaring. Pejamkan mata. Pasrahkan diri pada langkah malam menuju pagi.

Pada lelapnya mimpi mekar. Di mimpinya, kampung, sawah, kebun, kolam-kolam ikan, dan sungai berganti lapangan luas. Berlapis tanah timbunan disesaki alat-alat berat proyek. Para pekerja hilir mudik tunaikan isi kontrak. Di tengah gerak mereka, sebuah tunas dari makam kenangan menembus tanah. Tumbuh diam-diam. Lepas dari pandangan.

Seorang pekerja tanpa sengaja melihat tunas lalu mencabutnya. Seketika dia berteriak memegangi dada. Lantas terhempas ke tanah. Meninggal. Tunas kembali muncul. Tumbuh membesar menaklukkan waktu. Menyerupai hariara [5]. Dari dedaunannya meruap bau mayat. Para pekerja terguncang.

Bistok memerintahkan tebang. Para pekerja ciut. Tak seorang pun berani mati. Bistok kalap. Proyek harus tuntas. Dia berlari menuju buldozer. Menyalakan mesin dan menabrakkan buldozer ke hariara. Bistok tercampak ke depan menghantam setir buldozer. Terlempar ke tanah. Mengerang sebentar sebelum tewas. Suasana kacau memenuhi kompleks pembangunan kampus.

Ahli-ahli botani dari perusahaan perkebunan turun tangan. Hariara harus musnah, tapi mereka tak temukan cara. Begitu pula orang-orang pintar yang didatangkan kemudian. Hariara semakin membesar. Pada reranting satu demi satu muncul buah-buah berbentuk janin.

Bau mayat semakin menyengat. Menyebar mengikut gerak angin yang tak henti bertiup di atas kota sejak tunas hariara muncul. Mengundang ratusan burung bangkai dari segala arah menyerbu buah-buah. Kota riuh. Jalanan dipenuhi warga yang mual ditusuk bau. Semua panik menebak-nebak fenomena. Menduga-duga pertanda. Lantas mengadu pada tagar di media sosial.

Berminggu-minggu kemudian mimpi Goklas mewujud nyata.

 

PS Tuan, September 2019

 

Catatan:

[1] Thom Yorke (bernama lengkap Thomas Edward Yorke) adalah vokalis band Radiohead asal Britania Raya yang dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup.

[2] Katekismus Kecil adalah ringkasan doktrin agama Kristen dalam bentuk tanya-jawab yang ditulis Martin Luther dan diterbitkan tahun 1592 untuk mendidik anak-anak. Katekismus Kecil membahas tentang 10 perintah Allah, pengakuan Iman Rasuli, doa Bapa Kami, pengakuan dosa, dan perjamuan kudus.

[3] Nenek

[4] Kakek

[5] Hariara dikenal sebagai pohon filosofis masyarakat Batak. Pohon ini mirip beringin tapi berdaun lebih lebar dan buahnya lebih besar. Dalam budaya mukim orang Batak, sebelum menetapkan suatu tempat sebagai lokasi kampung yang baru, di tempat itu ditanam tunas pohon hariara. Jika setelah tujuh hari tunas itu bertahan hidup, maka lokasi itu dianggap tepat sebagai perkampungan.

Advertisements