Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

Menembak Mati Tujuh Orang ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Menembak Mati Tujuh Orang ilustrasi Hangga/Suara Merdeka 

Dar menyalamiku dengan genggaman kuat, lalu berbalik dan melangkah pergi. Dia bilang mau pulang ke Jakarta, ke redaksi sebuah berkala ternama. Namun sesaat kemudian dia menoleh ke belakang, bahkan kembali mendekatiku.

“Sekali lagi, kamu tetap yakin apa yang aku lakukan dulu adalah takdir bagiku?” Dar bertanya, wajahnya bersungguh.

Aku tersenyum sambil menggeleng kepala. Pertanyaan itu sudah sering kali dia ajukan kepadaku, ya setiap bertemu. Dua menit yang lalu pun pertanyaan itu baru saja kujawab.

“Mengenai tindakanmu menembak mati tujuh orang sekaligus itu? Berapa kali aku harus menjawab? Peristiwa itu sudah terjadi lima puluh empat tahun lalu. Apa pun yang telah terjadi, itulah yang bernama takdir,” jawabku, juga bersungguh.

“Jadi kamu tetap yakin?”

“Sangat.”

Dar menatapku, tetapi dengan pandangan masih menyisakan bimbang. Kemudian dia memutar badan yang tinggi besar. Sayang dia meninggalkanku dengan langkah yang sungguh tidak segagah sosoknya. Kukira Dar terlalu gemuk. Dan seperti aku, dia juga sudah beruban. Tentu saja, lima puluh empat tahun yang lalu Dar dan aku sama-sama sudah kelas III SMA.

Baca juga: Tawa Gadis Padang Sampah – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 21 Agustus 2016)

Hari ini kami berpisah di halaman sebuah warung makan. Tadi Dar minta nasi rawon dengan minyak mengambang di atas kuah santan yang berkilau oleh lemak sapi.

***

Dar menyambut bola voli yang diumpankan dengan gebrakan dua detik lebih cepat daripada perkiraan regu lawan di seberang jaring. Bola menusuk bidang lawan tak teradang. Gempita meledak, terutama dari para siswa perempuan yang menonton. Hampir semua gadis SMA sekolah kami selalu menjagokan Dar di lapangan voli, dan mungkin juga di luar. Dar kembali menjadi pusat perhatian ketika dia siap serving. Namun kali ini tertunda karena ada orang memanggilnya keluar lapangan. Terdengar suara gerutu dari kelompok siswa perempuan. Orang yang memanggil Dar sudah kami kenal. Orang itu bersama dua teman sering memberi kami pelajaran baris-berbaris dengan disiplin keras. Mereka juga mengajari kami tata cara pengerekan dan penurunan bendera. Bahkan khusus kepada beberapa murid, termasuk Dar yang bertubuh tinggi, pelatih itu juga mengajari cara merayap. Bukan sembarang merayap, tetapi merayap sambil membawa bedil dan menggigit pisau komando. Gagah betul. Itu gaya merangsek ke daerah musuh. Juga bongkar-pasang senjata. Yang satu itu membuat kami yang bertubuh kecil dan pendek merasa iri dan kurang berarti dibandingkan dengan Dar.

Masih di pinggir lapangan voli, pelatih itu menyerahkan sebuah bedil tanpa magasin kepada Dar. Pelatih itu lalu memberi salut dengan gagah. Wajah orang itu keras. Kemudian seperti tercipta suasana beraroma kepahlawanan. Kami jadi makin iri kepada Dar. Dan saya kira anak-anak perempuan makin mengagumi dia yang bertubuh jangkung itu. Apalagi Dar kemudian tampil menyandang bedil, meski belum bermagasin.

Baca juga: Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 04 Desember 2016)

Kami tahu dari cerita Dar, bedil itu senjata otomatis bernama Kalashnikov atau AK-47 buatan Rusia. Tembakan beruntun senjata itu secara mendatar, kata Dar, bisa merubuhkan batang pisang dengan luka seperti tebasan parang; tembakan satu magasin peluru secara vertikal bisa membelah batang pisang dari pucuk sampai pangkal, dengan luka seperti sayatan dengan parang. Ya, cerita Dar tentang bedil yang hebat itu selalu membuat kami makin kurang berarti. Dan kami percaya Dar yang masih seperti kami, anak SMA, sungguh-sungguh telah melakukan semua apa yang dia ceritakan.

Lapangan voli telah ditinggalkan si pahlawan. Kami seperti kehilangan semangat. Apalagi para siswa perempuan juga perlahan menyingkir. Saya tetap teringat Dar. Wah, tentu dia akan mendapat latihan lebih lanjut dan lebih hebat. Kata Dar, orang yang melatih meminta dia nanti masuk akademi. Jadi harus cukup latihan badan. Dar mengiyakan saja apa kata pelatih karena perasaan tidak enak hati. Padahal seperti dia katakan kepadaku, Dar sesungguhnya ingin jadi pelukis.

***

Dar bertanya kepada orang yang menjemputnya, “Mau ke mana?” Karena, perjalanan mereka memasuki hutan jati.

Dar mendapat jawaban, “Di depan sana ada tugas besar menanti kamu. Hanya pemuda hebat yang bisa mendapat kesempatan menunaikan tugas sebesar itu. Bahkan aku sendiri pun tidak.”

Baca juga: Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 05 Februari 2017)

Sebenarnya Dar belum puas atas jawaban itu. Namun dia merasa enggan minta kejelasan.

Jip berjalan lambat dan merayap di bawah bayang-bayang pepohonan. Lalu berhenti di titik tempat jalan sempit itu melintasi tubir tebing sangat curam. Ada beberapa lelaki tidak bersenjata berdiri berkerumun di tempat itu. Di bawah sana hanya berjarak beberapa meter mengalir sebuah sungai dengan air mengalir deras. Matahari sudah di barat. Maka mata Dar dan yang lain sering disambar pantulan cahaya amat menyilaukan yang berkilat dari permukaan sungai.

Lelaki pelatih memberikan satu magasin penuh peluru dan Dar menerima dengan kegagahan. Dia langsung memasang dengan amat sigap pula. Dari mulut magasin tampak peluru-peluru berkepala tembaga, runcing, berwarna kemerahan sebesar jari. Melalui cerita Dar saya tahu, kepala peluru itu akan pecah begitu menyentuh sasaran. Andaikan menyasar punggung seseorang, lukanya akan berupa bolongan besar seperti punggung kuntilanak. Itu cerita Dar kepada semua teman SMA-nya, lima puluh empat tahun lalu.

Lelaki pelatih tersenyum sambil mengacungkan jempol kepada Dar yang kemudian juga tersenyum. Ketika pelatih itu memberi salut dengan gaya amat sigap, dia pun membalas dengan semangat sama. Kemudian Dar dan pelatih turun tebing beberapa langkah. Kira-kira lima meter di depan sana terlihat sehelai anyaman bambu berdiri dengan dua pancang di kiri-kanan. Di tengah lembar anyaman itu ada garis putih tebal, mendatar, sepanjang kira-kira dua meter.

Baca juga: Alkisah Sal Mencari Kang Mad – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 12 Maret 2018)

Dar merasa berhadapan dengan sesuatu dan suasana yang belum dia mengerti. “Semua ini apa?” tanya dia.

Dan jawaban lelaki pelatih amat datar. “Kamu akan saya uji soal ketepatan. Silakan tembak garis putih itu sampai pelurumu habis. Ayolah, jagoan!”

Wajah Dar menghangat karena merasa tertantang. Dia menarik napas dalam, memajukan kaki kiri dan badan condong ke depan. Mencekal AK 47, kedua telapak tangan Dar terasa basah. Dengan sadar dia ambil posisi menembak secara gagah. Telunjuk kanan ketat di pelatuk. Tret.t.t.t.t.t.t.t.t.t.t.t.t.t.t. Dalam sekejap garis putih tebal di lembar anyaman bambu itu nyaris lenyap oleh semburan peluru.

Satu detik yang lengang sempurna. Dalam detik itu Dar hampir bersorak girang karena merasa telah jadi jago tembak yang hebat. Namun dalam detik kedua dia sudah terjebak dalam kebingungan amat sangat. Dia tergagap ketika melihat ada setitik darah merembes dari bekas tembakan di anyaman bambu di depan sana. Dia juga mendengar sesuatu rubuh. Maka dia lemparkan AK-47 itu dan lari untuk melihat ada apa di sebalik dinding. Dar melihat beberapa tubuh terkulai bermandi darah, dua di antaranya terguling ke arah sungai, dan kemudian dua kali suara byurr. Air sungai langsung menjadi merah. Mata Dar mendadak berkunang, limbung, lalu pingsan.

***

Aku dan Dar bertemu lagi beberapa bulan kemudian di sebuah warung makan, juga saat Dar mau balik ke Jakarta. Perutnya sudah gendut. Aku menegur, “Kurangi makanmu. Kalau tidak, umurmu bakal pendek.”

Baca juga: Lelaki yang Menderita bila Dipuji – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 07 Oktober 2018)

Dar berkilah, “Sebenarnya aku mengalami linglung seumur-umur karena dulu aku menembak mati tujuh orang. Ketika makan aku bisa lupa bahwa aku linglung. Itulah, aku tidak akan berhenti doyan makan. Juga akan terus bertanya kepadamu, apakah kamu tetap yakin apa yang kulakukan dulu adalah takdir.”

“Ya. Itu takdir! Itu luka parah! Itu kebrengsekan kita!” Aku menjawab agak keras. Namun ucapan itu membuat kulitku merinding. Air mataku tak tertahan.

***

Mungkin kilah Dar benar; bahwa dengan sering makan dia bisa melupakan luka batin yang berkepanjangan. Namun mengapa harus makan rawon lagi dan rawon? Setelah menghabiskan satu mangkok besar nasi rawon, Dar berdiri. Rupanya dia mau mengambil posisi yang nyaman untuk bersendawa. Aku juga berdiri, bukan untuk bersendawa, melainkan untuk mengelus perut Dar. “Kamu harus menjaga perutmu agar tidak bertambah besar. Itu bila kamu tidak ingin cepat mati.”

Baca juga: Mereka Mengeja Larangan Mengemis – Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 15 September 2019)

Sungguh. Itu sekadar senda-gurau. Maka aku dan Dar sama-sama tertawa. Namun sial atau apa, karena kemudian terbukti ucapanku sama sekali bukan gurauan. Beberapa hari sesudah itu aku mendengar berita Dar terkena stroke. Tentu aku ingin segera menengok dia di Jakarta. Namun sebelum aku berangkat datang berita kedua. Dar meninggal dunia.

Ya, Tuhan, lima puluh empat tahun lalu Dar menembak mati tujuh orang. Hari ini Dar meninggal. Namun aku bisa bilang apa? Tentu, tak perlulah aku memohonkan ampunan buat Dar karena Engkau Mahatahu. (28)

 

Ahmad Tohari, penulis novel trilogi Ronggeng Duku Paruk,tinggal di Tinggarjaya, Banyumas.

Advertisements