Cerpen Ahla Jennan (Republika, 13 Oktober 2019)

Jejak Cinta Asmarandana ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.png
Jejak Cinta Asmarandana ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Napasku terengah-engah, tatapanku menyapu sekeliling, panik dan bingung menjadi satu. “Sinsang, emkoy” * apakah melihat Bobo berkacamata dan membawa tongkat lewat sini?” Tanyaku pada satpam penjaga yang selalu berkeliling di sekitar taman di bawah apartemen. Dia sudah hafal denganku karena hampir setiap pagi dan sore aku selalu mengantar dan menemani Bobo berjalan-jalan di taman ini. Untuk berolahraga atau sekadar duduk-duduk santai dengan para manula lainnya.

“Tadi aku lihat menuju ke sana!” telunjuknya mengarah ke anak tangga menuju jalan raya, yang membuat panikku semakin menjadi.

Aku langsung berlari hingga lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.

Meskipun ini bukan kali pertama Bobo, nama panggilan wanita tua berusia 75 tahun yang aku rawat selama hampir setahun ini pergi tanpa pamit. Tetap saja rasa kalut menghantuiku. Takut jika terjadi sesuatu karena dia adalah tanggung jawab pekerjaanku sebagai seorang migrant worker dengan pekerjaan sebagai perawat jompo.

Penyakit alzheimer telah menggerus semua ingatan Bobo yang kurawat. Tak satu pun yang ia kenali dan ingat tentang masa lalu, kecuali nama anak semata wayangnya “A Man” dan kota kelahirannya di Cina “Hangzhou”. Jika sedang kambuh, dia mendadak gelisah, panik, susah mengendalikan diri, dan suka berhalusinasi. Hal yang paling ditakutkan adalah seperti sekarang, ketika tiba-tiba meninggalkan rumah tanpa pamit saat aku sedang membersihkan kamar mandi. Jalannya memang masih sehat meski harus dibantu dengan tongkat.

Napasku mereda, ketika kulihat sosok tua berkacamata tengah berdiri di seberang jalan dengan tongkat kayu sebagai penopang jalannya, ia sedang berdiri di halte bus.

“Bobo a ..,” Kuteriak dan berlari mendekati dirinya.

“Mari kita pulang,” tanganku berusaha menggamit lengannya.

Namun, dia langsung menepis tanganku dan menghardik, “Siapa kamu? Ngo em sik lei. Chau a!” *

“Saya Ati yang menjagamu.” Kataku menyebut nama pemberian Nyonya Chow karena kesulitan memanggil namaku “Kinanthi”.

“Aku menunggu A Man. Sebentar lagi dia pulang kerja!”

“Emm, bagaimana kalau kita jemput dia?” Kucoba merayu sekenanya.

Dia kembali menatapku penuh selidik dan sedetik kemudian membuang muka.

Baca juga: Pedas Manis – Cerpen Daud Farma (Republika, 06 Oktober 2019)

Dia sudah beranjak ingin pergi, antara putus asa dan mencari cara, refleks bibirku membuka, menyenandungkan bait-bait Tembang Asmaradana, membiarkan orang yang berlalu-lalang dan antre kendaraan menatap aneh dengan ulahku. Beberapa orang tampak tertegun dan berhenti, mencoba mengenali lantunan senandungku yang mungkin terasa aneh di pendengaran mereka.

 

Poma-poma wekas mami, Anak putu aja lena

Aja katungkul uripe, Lan aja duwe karêman

Marang pepaes dunya, Siyang dalu dipun emut

Yèn urip manggih antaka *

 

Tampak wajah Bobo mulai mengendur, kepalanya mulai mengikuti irama tembang yang kusenandungkan.

 

Lawan aja angkuh bengis, Lengus lanas langar lancang 

Calak ladak sumalonong, Aja edak aja ngepak

Lan aja siya-siya, Aja jail parapadu

Lan aja parawadulan *

 

“Nah, Bobo sudah ingat aku sekarang?”

***

Suara televisi yang memekakkan telinga berbaur suara gaduh di apartemen atas yang sedang diperbaiki tak membuat Bobo terganggu. Jika dia berada di rumah, dipastikan televisi selalu menyala. Entah dia sedang menonton atau tidak. Biasanya aku mematikan setelah Bobo tertidur. Dia takut kesepian, jikalaupun terbangun tengah malam, dia akan bergegas ke ruang tengah dan membangunkanku untuk minta dinyalakan televisi. Dia juga suka mendengar ketika aku bekerja sembari menyanyi tembang Jawa, seperti yang tadi aku nyanyikan. Mungkin dengan adanya kegaduhan atau suara-suara ramai membuatnya merasa tak sendiri.

Baca juga: Air Mata Jingga – Cerpen Azwim Zulliandri (Republika, 29 September 2019)

Sementara Bobo menonton, diriku sedang melipat kertas-kertas hingga membentuk seperti origami menyerupai emas batangan sebagai persiapan untuk sembahyang pada April nanti. Nyonya Chow telah mengirimkan kemarin. Dia adalah kerabat sekaligus penanggung jawab Bobo setelah wafatnya Tuan A Man, anak semata wayang Bobo tiga tahun silam karena kecelakaan kerja. Dia tinggal di lain distrik bersama suami dan anaknya. Hanya sekali waktu datang jika ada hal penting atau di awal bulan untuk mengantarkan gajiku. Jika aku libur, sementara Bobo akan dititipkan di panti jompo dan aku akan menjemputnya setelah pulang dari libur. Karena Bobo tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil, di daerah Tsuen Wan.

Sungguh sangat menyedihkan nasibnya. Selain suami dan anak semata wayangnya telah mendahului, memori ingatan tak ia miliki. Hidupnya ibarat kertas kosong tanpa coretan. Alzheimer bak virus ganas yang menyerang dan menggerogoti kedalaman komputer, menyebabkan kerusakan, dokumen hilang, dan harus instal ulang.

“Kuhangatkan sup ikan kesukaanmu,” kataku sembari mendekatkan semangkuk sup, dan beberapa butir obat untuknya di meja.

“Aku sudah makan,” jawabnya.

“Tadi sarapan, sekarang makan siang,” jawabku membujuknya.

Aku dan Bobo ibarat dua manusia yang sama. Telah kehilangan sosok berharga dalam hidup. Inilah yang menguatkan dan membuatku bertahan untuk merawatnya.

“Kamu tidak bernyanyi?”

Aku tersipu, “Kamu minum sup, aku menyanyi, bagaimana?”

Dia mengangguk, lalu aku senandungkan lagi tembang kesukaannya “Asmaradana”, merupakan salah satu jenis tembang Jawa kuno anak dari Tembang Macapat, dengan bait-bait syairnya lebih berisikan nasihat cinta kasih kepada sesama, kepada Tuhan, juga kepada alam. Sayang sekali tembang-tembang ini sudah jarang diajarkan dan nyaris punah di kalangan anak muda sekarang.

Baca juga: Kemarau dan Emas Merah – Cerpen Bahagia (Republika, 15 September 2019)

Bagiku, setiap kali aku melantunkan tembang ini, tanpa sadar bulir air mataku menetes, dadaku penuh sesak dengan kerinduan yang membuncah dan berdarah pada sosok Simbah, nenek sekaligus penggganti orang tuaku.

***

5 April 2018, hari ini adalah Ching Ming Festival. Sesuai kepercayaan masyarakat Cina tradisional, Ching Ming identik dengan upacara memperingati keluarga dan leluhur yang sudah meninggal dengan melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, mengantar sesajen, dan berdoa. Hari ini warga Hong Kong tumpah ruah di permakaman.

Ini pertama kalinya aku pergi ke permakaman. Nyonya Chow telah membantu segala persiapan dari uang kertas yang akan dibakar, makanan dan buah sesajen, juga dupa, serta mengingatkan agar membawa kursi roda sebagai persiapan jika Bobo kelelahan di perjalanan karena lokasi permakaman berada di perbukitan dan harus berjalan lumayan agak panjang dan menanjak.

Dengan menggunakan taksi umum, kami bertiga berangkat menuju permakaman yang berada di Diamond Hill. Nyonya Chow mengatakan, selain berkirim doa ke makam Tuan A Man, juga ke makam suami Bobo yang sudah meninggal lama.

Kami tiba di tempat makam Tuan A Man. Kubantu Nyonya Chow membersihkan, mengelap batu nisan yang tampak berdebu.

Baca juga: Sirri Gus Sabri – Cerpen Jadid Al Farisy (Republika, 08 September 2019)

“Maafkan kami Koko *, kita tidak bisa menguburkanmu secara layak karena keterbatasan harta, sehingga kamu harus dikremasi. Walaupun itu tidak sesuai dengan kepercayaan yang kita anut. Semoga engkau tenang dan berbahagia di sana, bersama anak dan istrimu yang telah mendahuluimu.” Ratap Nyonya Chow.

“Seandainya peristiwa itu tidak terjadi, pasti kamu tidak di sini dan hidupmu bahagia bersama anak dan istrimu. Kasihan ibumu, sangat kesepian setelah kepergianmu.”

“Kamu tahu tidak Ati a, Tuan A Man ini jika putrinya masih hidup pasti seusia denganmu. Berapa usiamu?”

“Hampir dua puluh tiga tahun, Nyonya.”

Nyonya Chow kembali mengangguk seolah merasa terkaannya benar. “Tuan A Man dan Bobo dulu pernah tinggal di Indonesia. Di kota emm …. Ah, aku lupa di mana tepatnya. Tuan adalah seorang pengusaha.”

Aku terperangah, “Benarkah?”

Nyonya Chow belum pernah bercerita di bagian ini.

“Peristiwa yang menyedihkan, rumahnya dibakar habis. Dia tidak bisa menolong anak dan istrinya yang ikut menjadi korban kebakaran. Tragis sekali, mereka mati terbunuh. Tahun itu yat kau kau pak *, dua puluh tahun yang lalu, pernahkah kamu mendengar sejarah itu?” Tanya Nyonya Chow.

Baca juga: Mustajab dan Pak Bupati – Cerpen Sigit Widiantoro (Republika, 22 September 2019)

Aku mengangguk antara shock dan kebingungan. Jantungku tiba-tiba berdetak hebat, keringat dingin menyergap sekujur tubuhku, tak mampu berkata-kata, itu mirip kisah Bibi Mar. Jangan-jangan…

Yima *, mari kita berdoa untuk Koko A Man,” kata Nyonya Chow mengalihkan percakapan sambil mengeluarkan segepok dupa dan membakarnya, lalu mengulurkan sebagian kepada Bobo.

“Baiklah, berdoa untuk siapa?” Bobo kembali bertanya.

“Untuk A Man, putramu.”

“A Man, di mana dia sekarang? Tolong telepon dia untuk segera menjemput, di sini banyak orang. Aku takut.” Nadanya mulai gelisah dan panik.

“Jangan takut, ada saya. Bobo berdoa dulu, ya?” ujarku masih dengan hati tak menentu, seraya mengarahkan posisi Bobo berjajar dengan Nyonya Chow.

Sementara aku membelakangi punggung mereka berdua, hanya bisa menatap batu nisan Tuan A Man dengan perasaan campur aduk, menatap kembali fotonya dalam-dalam. Mencoba mengeja garis wajahnya, mata oriental, hidung lancip, bibir, dan rahangnya. Namun, semakin kupandang, yang kurasakan pandanganku semakin kelu, mengabur, dan airmata tak mampu kubendung, meski telah berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Hanya menatap dalam diam, berdoa jika benar dia adalah jawaban jejak pencarianku selama ini.

***

Dengan hati-hati dan tak sabar kubuka daun pintu kamar warna putih. Kamar Tuan A Man, yang berseberangan dengan kamar Bobo sekaligus kamarku. Selama ini aku hanya masuk untuk membersihkannya, tapi kali ini aku memasukinya dengan berjuta kemelut untuk membuka misteri tentangnya.

Baca juga: Proyek Pencabut Nyawa – Cerpen Restu Ashari Putra (Republika, 25 Agustus 2019)

Kubuka lemari baju miliknya, beberapa helai pakaian masih tergantung rapi di dalamnya, selebihnya adalah tumpukan selimut, handuk, mungkin milik Bobo. Kemudian, kubuka satu per satu laci di dalamnya, tidak kutemukan. Beberapa album foto tua tak luput dari koreksiku. Kubuka satu per satu di halamannya. Masa muda Tuan A Man beserta Bobo suami ketika berada di Indonesia. Memang benar mereka pernah tinggal di Indonesia.

Sebuah dompet tua kutemukan, membukanya perlahan dan membuatku nyaris menjerit. Kubungkam rapat bibirku, tangisku pecah melihat foto itu. Foto yang sama persis dengan yang tergantung di dinding ruang tamu rumah Simbah, ibuku sedang menggendong diriku. Namun, di foto ini selain aku dan ibuku, ada Tuan A Man berdiri di samping ibuku.

“Ayah…,” bibirku gemetar, dadaku penuh sesak dan tangisku pecah menyebut namanya. Akhirnya kutemukan jejaknya meski hanya gambaran wajah terbingaki dalam foto, meski tak sempat mendengar suaranya, tak sempat berbicara dengannya, karena dia telah damai bersama ibu dan Simbah di alam yang berbeda. Namun, rasa lega seperti sudah mendapatkannya kembali.

“Ati a, kamu di mana?”

“Saya di sini, Bobo.” Jawabku, buru-buru berbenah dan mengusap air mata dan mendatangi arah suara di kamar.

“Kamu jangan pergi, aku takut sendiri.”

“Tidak Bobo, tidak akan. Aku akan menjaga dan merawatmu selalu. Aku akan menyanyi untukmu setiap hari.” Kataku sambil memeluknya erat dan hangat.

Dia membalasnya dengan mengusap rambutku, “Kwai la,”

Kutemukan jejak kehangatan cinta dan kasih ada pada dirinya.

 

Lohas Park, 30 Mei 2018

Ahla Jennan adalah seorang pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Ia  aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Sejumlah karyanya diterbitkan dalam buku antologi cerpen. Cerpen “Jejak Cinta Asmaradana” merupakan pemenang Guratan Pena VOI Sastra Award 2019.

Advertisements