Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam ilustrasi Koran Tempow.jpg
Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam ilustrasi Koran Tempo 

I/ Rencana Jahat Seorang Anak

Tiga hari setelah kematian Ibu, ketika setumpuk tanah yang mengubur jasadnya belum kering benar, Ayahmu bergumul begitu hebat dengan seorang perempuan-yang mengaku dari Kampung Pesisir Timur. Kau mengintipnya dari celah di balik bilik, seekor ular hitam besar keluar-masuk sarang: gesit dan cakap.

Kecuali Ayah, semua orang di Kampung Wanatirta menangisi kematian Ibu, atau paling tidak, merasa kehilangan. Dengan atau tanpa budi baik, seorang perempuan pesakitan yang mati dengan jerat mengikat leher di atas tungku perapian memang layak dikenang oleh orang-orang waras. Kau mengenang bulan-bulan terakhir sebelum ia menyerahkan diri pada simpul tali, seutas senyum di bibirnya telah dahulu mati. Ia berubah menjadi begitu pemurung. Berat badannya menyusut. Kecantikannya rontok. Ia menghabiskan satu hari penuh untuk meratap di depan tungku perapian di sisa umurnya, dan di sana pula ia mati. Lalu malam ini, Ayahmu bercinta dengan seorang perempuan asing.

Sepasang tanganmu menopang dagu di hadapan jendela. Gugusan bintang diam tapi diam-diam berkejaran di langit lapang. Kau berusaha mengalihkan perhatian. Sesungguhnya kau bisa saja membuat sepasang manusia itu menyesal. Ayahmu, dengan tubuh serupa ikan paus paling menyedihkan di muka bumi, jelas bisa kau lumpuhkan dengan satu bogem mentah.

Baca juga: Boston: Ketika Ponsel Berdering – Cerpen F. Ilham Satrio (Koran Tempo, 14-15 September 2019)

Bunyi jerit dan lenguh panjang terdengar berulang, telingamu menerima itu sebagai ujung pedang yang menghujam lamunan. Di tengah peristiwa getir semacam itu, otak manusia bekerja cukup cakap. Beberapa rencana tersusun dalam waktu yang singkat.

Kau, dengan penuh perhitungan, akan membakar rumah ini-juga kenangan pahit di dalamnya-setelah pergumulan itu selesai. Saat kedua orang itu terpejam.

 

II/ Pemuda Malang dan Katak

Jika Anda adalah penduduk Wanatirta sekaligus pengidap berbagai jenis penyakit, satu-satunya orang yang patut Anda puji segala aktivitasnya adalah Uqel. Pun jika Anda tidak lahir di Desa ini, namun memiliki masalah dengan pencernaan-atau apa saja lah, ia bisa mengobati segalanya-dan tanpa sengaja menemukan nama “Uqel” tertera di selebaran iklan yang menempel di tiang listrik, maka bersyukurlah. Sebab, separuh dari masalah hidup Anda selesai. Kelak, Anda akan mengenal Uqel sebagai saudagar obat kaya raya, dan dengan rasa haru bercampur bangga, Anda akan berseru bahwa Anda adalah mantan pasiennya.

Oleh sebab itu, perlu rasanya saya bercerita tentang satu kejadian kelam pada masa muda Uqel, yang menurut pengakuannya sendiri, tak akan pernah ia lupakan.

Kisah ini bisa Anda jadikan alat lecut semangat, bahwa proses di masa pelik begitu berarti, dan tetaplah semangat menjalani hari. Bukan begitu alasan sebagian dari Anda masih rela membaca cerita pendek di koran minggu; mencari alat pelecut semangat atau semacamnya, kan?

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Malam itu-setelah bekerja hampir empat jam-ia hanya mendapatkan dua katak berukuran kecil. Ia bisa saja mencari hingga pagi sebenarnya, tetapi ia urungkan penjelajahan ke rawa-rawa atau dasar sungai, beberapa hari lalu tetangganya meninggal dan Uqel sedikit ngeri. Konon, jenazah orang yang mati bunuh diri selalu ditolak bumi. Ia tak ingin berjumpa dengan nasib sial.

Akhirnya ia beranjak pulang, menyusuri malam gelap dengan percik api dari obor. Pohon-pohon rindang membentang sepanjang jalan. Ia kenali setiap sudut kampung juga pohonan yang setiap gelagatnya menimbulkan bunyi; desau angin menimpa dedaunan, retakan ranting kecil, cericit burung yang menumpang tidur.

Di belokan penghabisan, ia mendengar suara sepasang manusia bercinta. Hasrat bujangan timbul di dadanya, ia mengendap-endap menuju asal suara. Satu rumah dari anyam bambu, rezeki bagi pengintip, pikirnya dalam hati. Ia lekatkan matanya di celah bilik, dan mengikuti beberapa genjotan dengan khusuk.

Nahas bagi Uqel, belum sempat mencuri lihat pergumulan hingga selesai, satu katak buruannya melompat tak tentu arah, di susul katak yang lain, keduanya menghambur membelah konsentrasi. Uqel enggan kehilangan hewan keparat itu, tentu saja. Ia melompat ke tanah, berusaha memupuk kembali rezekinya, tapi nihil. Dalam keadaan gugup, kemampuannya menjangkau katak menjadi buruk. Sangat buruk malah. Ia tak lagi bernafsu pada katak itu.

Saat ia membalikkan badannya, untuk kembali mengintip persetubuhan, tampak kobaran api menjilat rumah itu begitu cepat. Ia sadar bahwa obor tak lagi dalam genggamannya, obor itu lesap persis saat penangkapan katak.

Tapi, apakah mungkin api tersulut secepat itu? Ia tak peduli. Ia segera menjauh dari rumah itu, tenggelam pada cahaya bulan di separuh malam.</p>

 

III/ Beberapa Pertanyaan

Kau menutup kelambu dengan cermat, memastikan tak ada nyamuk yang terperangkap di dalamnya. Sepasang lengan merengkuh tubuhmu, meloloskan pakaian yang kau kenakan, ia melakukannya dengan begitu sigap. Kau bahkan belum sempat merebahkan punggungmu di atas dipan, sepasang tangan yang lihai, datang tanpa aba-aba. Lelaki ini sangat buas. Seseorang mungkin bisa selamat saat terperangkap dalam perut paus, tapi laki-laki bisa lebih menakutkan dan mencekam saat setan membangunkan ular dalam sangkarnya.

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

“Apa kita akan menikah setelah ini?” kau bergumam. Bibirnya memagut bibirmu. Perlahan tubuhnya masuk, dan kau terperangkap. “Apakah ini tidak terlalu cepat?” Kau kembali bertanya. Kau selalu bertanya semenjak ia datang, dan ia tak pernah memberi jawaban.

Kau masih belia, lebih cocok dengan anak lelakinya, tentu saja. Kalau bukan karena utang yang melilit keluargamu, kau enggan meninggalkan Kampung Pesisir Timur. Nun di sana, kau adalah manusia. Di tempat ini, persis di atas ranjang ini, kau adalah gugus awan tanpa bintang, dan lelaki itu teropong seorang pelaut-yang bebas menerawang lekuk tubuhmu.

Sudah tiga atau empat-kau tak cukup cakap berhitung-ular itu mematuk tubuhmu, menancapkan taringnya. Beberapa hari lalu, kau masih seorang perawan yang kerap menghabiskan hari-hari dalam kurungan kamar. Di rumah ini, kau tetap terkurung di dalam kamar, bukan karena perawan, tetapi karena kau enggan mendengar cemooh tetangga saat ia melihat batang hidungmu. Beberapa dari mereka menganggap kau sebagai penyihir, beberapa lain menganggap kau menggunakan susuk. “Tak mungkin laki-laki yang baru kehilangan istrinya langsung tersengat perempuan lain, kecuali dengan bantuan iblis,” pikir para tetangga.

“Apakah kau mendengar suara katak itu?” kau kembali mengajukan tanya. Ia tak acuh. Ia lebih senang mengguncangkan tubuhnya. Kau tiba pada puncak gunung es, begitu tinggi dan dingin. Kau ingin melompat dan berteriak sekencang mungkin. Kau membeku dalam hitungan detik. “Hei, lihat api itu?” Kau tak pernah tahu, ini adalah pertanyaan terakhir yang meluncur dari bibirmu.

Api itu menjalar dari bilik menuju lemari, dari kelambu menuju kasur, berkejaran begitu cepat. Kau tak bisa menghindar. Lelaki itu menancapkan tubuhnya semakin dalam. Dalam sekali.

 

IV/ Malam Keparat bagi Penjaga Makam

Dua lubang galian telah rampung saya kerjakan. Pertengahan malam tadi terjadi kebakaran, tiga orang tewas dalam keadaan mengenaskan. Tentu itu biasa saja, maksud saya, setiap orang yang mati dilalap api sudah barang tentu beroleh tubuh ringsek atau gosong, dan menggunakan kata “mengenaskan” untuk menggambarkan nasib jenazah korban kebakaran sungguh terdengar rancu.

Saya belum melihat jasad ketiganya, tapi menurut pengakuan tetangga saya, kebakaran terjadi begitu dahsyat, “Api seolah-olah mengamuk, dan hanya berpusing di rumah itu. Tidak menyebar ke rumah kami.” Saya tentu tak percaya, toh ini musim kemarau dan api begitu mudah muncul. Saya tak peduli benar, tugas saya adalah mempersiapkan kubur.

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

Matahari sebentar lagi menampakkan wujudnya. Saya menenggak segelas kopi, membakar sebatang kretek, mengambil jeda barang sebentar.

Kau tahu, acap ada orang mati pada tengah malam, saya dituntut untuk bekerja dengan kantuk. Setiap keluarga meminta pekerjaan saya rampung sebelum pagi tiba, sebelum jenazah siap dimakamkan. Oh, alangkah senangnya saya jika malaikat maut berhenti bekerja pada malam hari.

Sesaat setelah keringat tak lagi mengalir deras, dan rokok beserta kopi berhasil saya tandaskan, saya menyambar cangkul dengan gegas. Lubang ketiga akan segera saya garap, dengan senang hati, tentu saja.

Saat lubang ketiga telah mencapai kedalaman satu kaki, bola api perlahan muncul tepat di atas kepala. Saya menengadahkan mata ke arah cahaya itu berasal, dengan langkah yang gesit dan teratur, lompatan kecil membawa saya keluar dari galian.

Setelah berpuluh tahun, Banaspati kembali muncul di desa ini, keluar dari makam seorang perempuan yang baru saja meninggal. Saya mempercepat langkah, meski tak pernah tahu hendak menuju mana. Banaspati terus mengekor langkah saya. Sepertinya, ia tak ingin saya merampungkan lubang ketiga, sepertinya ia yang membakar rumah dan tiga orang itu, sepertinya ada yang meleleh di antara pori-pori dan kedua mata saya. 

 

Serang, September 2019.

Muhammad Nanda Fauzan, cerita pendek dan puisinya dimuat di media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Soedirman30, bermukim di Serang, Banten.

Advertisements