Cerpen Rizka Amalia (Medan Pos, 06 Oktober 2019)

Wajah yang Berbeda ilustrasi Medan Posw.jpg
Wajah yang Berbeda ilustrasi Medan Pos

Kuberikan hadiah spesial padanya. Namun, sorot matanya justru sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahagia. Aneh. Kemudian dia mulai menangis. Jujur, dalam posisi seperti ini sebagai laki-laki aku bingung.

Aku berusaha romantis, tetapi dia malah menangis. Bila aku banyak bicara, maka aku akan dituduh banyak mencari alasan atau membela diri. Akan tetapi, bila aku diam, maka aku dianggap bersalah. Aku jadi serba salah. Karena itu kuputuskan untuk diam saja sampai dia kembali bicara. Biar saja. Biar dia menganggap aku salah. Karena bila aku teruskan, aku takut tak bisa menahan diri.

Setelah beberapa menit lamanya, wanita di hadapanku mulai angkat bicara. Dia sudah bisa bercerita. Katanya bahwa selama ini aku sengaja berlagak romantis untuk menutupi aibku. Dalam benaknya, aku telah berselingkuh.

Dia ungkapkan berbagai bukti bak detektif di televisi. Aku dengarkan segala penjelasannya. Begitu panjang dia bercerita. Tak kupotong sama sekali sebab aku berusaha menjadi laki-laki sejati yang pintar mendengar istri.

***

Kecurigaan istriku bermula ketika kami sedang berada di sebuah rumah makan mewah. Saat itu aku memiliki rencana untuk menyenangkan hatinya. Aku ingin memberi kejutan spesial bagi ibu dari anak-anakku itu. Sudah sejak lama aku berpikir bahwa makan malam romantis semacam itu harus dilakukan. Kupikir, kapan lagi hendak membahagiakan wanita berparas ayu ini. Setelah seharian mengurusi keperluan orang rumah dan segala tetek bengek-nya, aku mengajak istri pergi ke sebuah restoran yang terkenal dengan sebutan ‘jagonya makanan’. Aku memesan ruang VIP agar aku dapat berdua saja dengannya.

Baca juga: Pertemuan Impian – Cerpen Suri Kharimah Asdi (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Dalam sebuah ruangan mewah ditambah alunan musik nan lembut, makan malam kami mendadak berubah layaknya film drama Korea yang super romantis. Ini seperti mimpi, mengingat aku tak pernah bisa begini. Tak berhenti di situ, aku siapkan kumpulan bunga dengan aroma dan warna yang memesona. Aura cantik istri semakin terpancar dengan senyum di wajah. Langit tampak cahaya bintang. Lampu ruangan perlahan memudar dan kurasakan surga kecil di ambang batas angan-angan.

Kurasakan getar-getar seperti saat kami bertemu pandang. Lampu kembali terang hingga aku merasa tak nyaman karena getar handphone di saku celana. Aku lupa meletakkannya di meja dan memasang mode pesawat. Kupikir siapa. Kuambil handphone dalam saku dan memastikan bahwa tak ada panggilan. Namun ternyata ada panggilan masuk berulang kali dari nomor yang tak dikenal. Istri melihat perubahan raut muka pada diriku dan bertanya, “Siapa, Mas?” Aku hanya tersenyum dan bilang bukan siapa-siapa.

Sementara dari jauh terdengar teriakan orang-orang. Istri panik. Aku berusaha menenangkannya. Aku merangkul istri dan mengajaknya ke sebuah tempat yang tak jauh dari restoran mewah sebelumnya. Tempat ini aman senyaman dekapanku katanya.

***

Untuk sesaat istriku merasa tenang. Kumanfaatkan situasi ini supaya kami dapat menikmati kebersamaan malam ini. Kumatikan lampu kamar dan hanya menyalakan lilin yang tersedia.

Tak tahu kapan dia pergi ke kamar mandi, tahu tahu aku melihatnya keluar dari kamar mandi dengan rambut terurai. Kuamati ternyata tubuhnya tak mengalami perubahan yang berarti pasca kelahiran ketiga anak kami. Maklum saja, kami menikah di usia muda. Setelah satu tahun menikah, kami dikaruani anak pertama, lalu berlanjut hingga ketiga, yang jaraknya tak jauh. Ruang kamar mendadak berubah dingin. Tubuhku menggigil, tetapi istri berhasil meredakannya.

Baca juga: Renjana Rindu Datang Memburu – Cerpen Miftachur Rozak (Medan Pos, 25 Agustus 2019)

Setengah jam berlalu, kulihat istri tertidur di sebelahku. Kulihat jam menunjukkan pukul 22.30. Aku menelepon anak pertamaku untuk memastikan bahwa dia dan kedua adiknya aman di rumah. Aku juga memberitahu bahwa kami juga baik-baik saja. Kukatakan pada anak lelakiku bahwa mungkin aku dan ibunya takkan pulang. Anak lelakiku menggoda dengan berkata, “Yah, tambah adek yang cantik, ya?” Aku pun tertawa mendengar perkataan anak lelakiku itu.

“Anak zaman sekarang ada ada saja…”

Istri mendengar percakapanku dan terbangun.

“Mas, jam berapa ini?” tanyanya halus.

“Masih belum pagi, Dek. Tidurlah! Kau kelelahan. Besok pagi baru kita pulang.”

“Bagaimana dengan anak-anak, Mas?”

“Anak-anak di rumah baik-baik saja. Aku barusan meneleponnya.”

Istriku kembali tidur. Aku menyalakan handphone. Kulihat ada panggilan masuk lagi. Sama seperti tadi dari nomor yang tak dikenal. Namun, kali ini ia juga mengirim pesan. Dalam pesannya ia menulis, “Halo, Sayang…”

Aku terkejut. Siapa sebenarnya yang mengirim pesan dan menelepon aku seperti ini. Apa ada orang yang ingin mengganggu rumah tangga kami? Hemm…

***

Beruntung aku bisa bangun pagi sehingga aku bisa sampai di kantor tepat waktu. Sebelum berangkat ke kantor dan mengantarkan istriku, aku dan istri sarapan pagi di hotel. Menu makanan di hotel amat lezat. Akan tetapi masih lebih nikmat masakan ibu dan istri.

Setelah memilih dan mengambil beberapa makanan yang kusuka, kucarikan tempat makan yang nyaman untuk kami berdua. Aku duduk di meja pojok dekat dengan jalan menuju lobi hotel. Istri pamit ke belakang. Sambil menunggu dia kembali, aku membuka handphone. Untunglah tak ada telepon ataupun pesan dari nomor yang tak dikenal lagi. Hanya saja itu menggangguku. Ibarat teror, aku dibuat was-was. Khawatir jika hal itu akan mengganggu pekerjaan dan keluargaku. Aku juga takut membuat keluargaku cemas. Karena itulah tak kuceritakan tentang apa yang sedang kualami ini. Bahkan dengan istri.

Baca juga: Elegi di Suatu Pagi – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Istriku belum juga kembali, perutku sudah lapar, tetapi berusaha kutahan agar kami bisa sarapan bersama. Saat menunggunya, di sampingku lewatlah seorang perempuan yang masih muda. Dengan warna lipstik merah yang merona, perempuan itu nampak menarik. Kuperhatikan sesekali perempuan itu, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

Muskil, aku tak mengira. Setelah kuamati lagi, perempuan itu adalah adik kelasku semasa kuliah. Sudah lama aku tak pernah melihatnya. Sontak, kusapa dirinya. Dia batuk-batuk, lalu menunjuk ke arah cangkir kopiku. Aku pun memberikannya dan diminumlah kopi dari cangkirku.

“Terima kasih…,” katanya.

Setelah itu, ia langsung pergi karena orang yang ditunggunya telah datang. Aku memang tak banyak berbincang, tetapi adik kelasku ini memang selalu menjadi incaran.

Istriku kembali. Ia hanya diam ketika melihat bekas lipstik di cangkir kopiku. Entah apa yang ada dalam benak ibu dari anak-anakku. Namun, saat ini ketika menjelang pergantian tahun, aku melihat wajah yang berbeda. Di balik diam dan senyumnya, sesungguhnya ia menyimpan luka dan segala prasangka. Kami pun bermuhasabah.

 

Rizka AmaliaPengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Alumnus Unesa-Sastra Indonesia.

Advertisements