Cerpen Muram Batu (Serambi Indonesia, 06 Oktober 2019)

Tahi Kecoa ilustrasi Istimewa.jpg
Tahi Kecoa ilustrasi Istimewa

BEGITU tahi keluar dari perut, kecoa-kecoa itu langsung muncul tinggalkan sarang. Mereka tak lagi malu-malu merayap, menyelinap, atau sembunyi di balik lubang lantai dan dinding kamar mandi. Mereka bergaya. Mereka jual aksi. Mereka pun menebar gidik bagi siapa pun yang sedang mengangkangi jamban.

Tak peduli yang sedang merokok, kecoa-kecoa itu mendekat. Beramai-ramai. Mengeroyok. Lalu, ketika sang pengeluar tinja tak tanggap, mereka langsung menyergap.

Bagi yang antikecoa, calon pembuang tinja pasti langsung terburu cebok —  asal menyiram anus — begitu melihat antena binatang itu muncul. Pun, pergi terbirit tanpa sempat menutup pintu. Bersyukurlah sempat menyiram jamban, kalau tidak kecoa itu teriak. Menari suka-suka. Melahap apa yang tersedia di sana. Tapi, menyiram jamban juga bukan penyelesaian. Kecoa-kecoa itu sudah cukup senang ketika sang pembuang tinja enyah dari kamar mandi. Mereka akan bebas menjelajahi segala hal yang bisa dimakan. Sabun. Ceceran pasta gigi. Bahkan, sisa daki yang menempel di dinding. Kalaupun semua dalam keadaan bersih, mereka bisa masuk ke lubang jamban dan mengejar tinja segar yang baru masuk ke lubang pembuangan itu.

Menjijikan? Tidak. Kecoa-kecoa itu punya kekuatan. Bakteri dalam tubuh mereka mampu mengubah sampah menjadi sari makanan. Menjijikan? Ya, bagi manusia yang tak mau mendaur ulang makanan.

“Terlalu berlebihan kau analogikan penglaju sebagai kecoa.”

“Tergantung dari mana melihatnya. Yang jelas, sejak pagi penglaju itu kan mengambil apapun yang bisa diambil di kota ini dan sore harinya mereka kembali ke rumah mereka di daerah pinggiran sana. Beristirahat sambil menikmati pendapatan mereka. Persis kecoa. Kau pikir, di mana tempat tinggal kecoa itu? Bukan di kamar mandi, tapi di celah-celah kamar mandi yang gelap!”

Baca juga: Angkot Tua – Cerpen Hilwa Fitri (Serambi Indonesia, 21 Juli 2019)

“Terserahlah. Yang jelas, penglaju muncul setelah ada kota yang berkembang pesat. Itu baru. Tidak butuh proses sampai menahun.”

“Persis! Kecoa juga bergerak setelah ada kamar mandi atau apa pun ruang yang memang menyediakan makanan untuk mereka.”

“Tidak begitu Sayang, kecoa itu binatang purba. Sejak 350 juta tahun dia sudah ada!”

“Sama, penglaju juga sudah ada sejak kehidupan tercipta.”

“Kecoa menjijikkan!”

“Sama!”

Ketika dua manusia itu berdebat soal jijik atau tidak jijik, apakah kecoa berhenti bekerja? Tidak. Kecoa tetap mengintip, menangkap segala rangsangan yang tertangkap sensor mereka: dua di antena atas kepala dan dua lagi di kaki paling bawah. Pun ketika dua manusia tadi mendadak melihat kehadiran mereka, kecoa itu telah lenyap. Kecepatan mereka tentu tak selihai dua manusia itu mencari sendal, sapu, atau apa pun yang bisa menjadi senjata pembunuh. Juga, ketika kecoa itu naas hingga berhasil dipijak manusia, apakah dia akan mati? Jangan cepat puas, kecoa tanpa kepala pun masih bisa hidup untuk waktu yang lama!

Maka, jangan salahkan kecoa ketika hadir saat tahi-tahi keluar dari dubur atau makanan tersedia tanpa tertutup. Jangan salahkan kalau binatang itu peka, bahkan terlalu peka untuk menikmati sesuatu yang berhubungan dengan manusia.

“Jangan salahkan penglaju! Dia ada karena kota ada!”

“Ya sudah, jangan salahkan kecoa, sama saja!”

“Terserah!”

“Terserah juga!”

***

Zainal. Putra kota asli. Dia pandang spanduk yang baru dia pasang. Bertali panjang. Terikat di tiang listrik dan pohon palem. Di gerbang kota. Pada arus hilir mudik ke luar masuk.

Baca juga: Pertemuan Ketujuh – Cerpen S. Agustina (Serambi Indonesia, 04 Agustus 2019)

“Matilah di kota ini atau jangan lagi mengambil nasi kami!”

Zainal tersenyum melihat tulisan di spanduk itu. Seruan tak biasa. Sangat berbeda dengan kalimat-kalimat standar. Yang mengajak hidup bersama. Yang sibuk mengimbau kebersamaan. Dan, yang penuh basa-basi. “Penglaju sama juga benalu…” katanya, seperti berbisik. Dia pun meninggalkan tapal batas itu. Dia pulang. Dia siapkan semangat untuk menanti esok.

Besok, jika spanduk itu tak berefek, maka saatnya parang bicara!

Seperti diduga. Tak ada penglaju yang hentikan langkah. Mereka malah tak memandang spanduk itu. Kalaupun ada yang melihat, mereka mencibir. Bibir mereka miring. Sesaat saja. Setelah itu, mereka lupa. Mereka jalani semangat tanpa terganggu. Mereka parkir sepeda motor mereka di dekat terminal. Di rumah toko yang disulap menjadi tempat penyimpanan kendaraan. Setelah itu, mereka menyetop angkutan kota. Beraktivitas seperti biasa.

Ada pula yang bermobil; yang tak perlu tempat penitipan kendaraan di dekat terminal. Mereka melintasi spanduk itu. Mereka tertawa keras, sekeras musik yang menghentak. Musik dangdut. Musik remix. Musik dugem. “Putra daerah tahi!” kata mereka menutup tawa yang panjang.

Hal berbeda dirasakan Zainal. Spanduk di tapal batas itu malah jadi masalah. Tetua kota memanggilnya. Menceramahi soal adab. Soal tata cara sikap. “Jangan tunjukkan kalau kita kalah bersaing dengan mereka! Bodoh! Cabut itu spanduk!”

Zainal bergeming. Bukan karena takut. Dia malah sangat berani melawan amarah itu. Tetua kota hanya monumen. Yang dirawat. Yang dipamerkan. Yang ujung-ujungnya dipantati. Tetua kota pun hanya segelintir orang. Yang tak memikirkan perut. Yang tak memikirkan kehidupan anak istri. Yang mendapat santunan. Yang ujung-ujungnya dianjingi pendatang; jadi budak demi kenyamanan kota; tanah mereka sendiri.

“Aku tak mau. Bukan karena aku tak punya kerja, tapi para penglaju itu sudah kelewatan. Lintah! Benalu!” balas Zainal dengan urat leher yang menegang.

“Aku tak menolak pendatang. Ratusan tahun kota ini telah didatangi beragam jenis manusia. Aku pun biasanya ramah. Tapi, penglaju itu bukan pendatang, mereka penghisap!” tambahnya.

Baca juga: Para Penganggur – Cerpen Tin Miswary (Serambi Indonesia, 28 Juli 2019)

Tetua kota memejamkan mata. Dia paham maksud Zainal. Sangat paham. Tapi, seiring perkembangan kota, mana mungkin menahan penglaju. Lahan terbatas. Kesempatan terbuka. Kota manapun tak akan mampu! Daerah satelit malah yang menjadikan kota semakin kota. Ya, meski kekayaan tersedot ke daerah itu.

“Jadi, apa maumu Zainal?”

“Aku mau mereka semua pindah ke kota ini.”

“Mana mungkin. Kota kita tak selebar yang ada dalam otakmu!”

“Jika tidak bisa, luaskan saja kota ini.”

“Itu sulit Zainal. Butuh waktu panjang. Butuh banyak izin dan lobi-lobi…”

“Ya, sudah. Jangan pernah mereka masuk ke kota ini lagi,” tegas Zainal sembari berlalu.

Dia pergi. Dia marah. Dia memaki dalam hati. Dia pulang. Dia ambil parang. Dia ke tapal batas. Dia duduk di sisi spanduknya. Dia kawal. Dia tak akan biarkan ada orang yang menurunkan kain bertulis itu. Dan, dia sangat fokus. Saking seriusnya dia malah lupakan penglaju. Dia konsentrasi pada orang yang mungkin saja suruhan tetua kota. Ya, manusia yang diupah untuk menurunkan spanduk itu.

Sebuah mobil dengan musik keras meminggir. Sangat dekat dengan posisi Zainal. Hari telah petang, mendekati magrib; masa kala penglaju pulang. Lelaki dengan parang itu siaga. Sementara orang yang turun dari mobil tertawa.

“Santai saja, Bang, aku cuma capek nyetir. Mau merokok dulu. Istirahatlah. Abang mau?” katanya.

Zainal kendurkan awas. Lelaki yang turun dari mobil itu hanya seorang. Tak perlu dikhawatirkan. “Aku punya,” balas Zainal sembari mengeluarkan rokoknya. Membakarnya dan menghisapnya.

“Keren spanduknya Bang. Sumpah…”

Baca juga: Tikus Bermata Merah – Cerpen Azharul Husna (Serambi Indonesia, 30 Juni 2019)

Mata Zainal sesaat bersinar bangga. Tapi dia tak mau goyah. Terbayang kecoak yang selalu mengganggunya saat di kamar mandi. Penglaju tahi!

“Tapi kurang sedikit Bang. Kami tak lagi mencari nasi di kota ini. Nasi sudah sangat tersedia di daerah kami. Malah, nasi kamilah yang sering dikirim ke kota ini.”

“Itu hanya istilah! Maksudnya kau pasti tahu…”

“Aku tahu. Persis ketika daerah kami dianggap sebagai bagian dari kota ini. Ayolah Bang, bandara ada di daerah kami, kenapa disebut sebagai bandar udara kota, Abang? Lalu, kampus-kampus itu, tetap saja memakai nama kota Abang, padahal jelas-jelas dia di daerah kami kan?”

“Itu bukan mau kami, kalianlah yang selalu menempel!”

“Sudahlah Bang, sudah satu batang. Sudah habis juga lelahku. Permisi, Bang,” kata lelaki itu.

Zainal tak menjawab. Dia melihat parangnya mengkilap. Dia memandang mobil melaju. Dia berdiri mematung. Di sisi spanduknya. Di dalam amarah yang tertahan. Dia pulang. Meninggalkan spanduk dan parang yang menempel di pohon palem.

Besoknya, beberapa penglaju, malah sebagian besar, menghindar. Parang di pohon palem itu sebuah sinyal. Ada khawatir yang mengemuka. Mereka yang bersepeda motor memilih mulai naik bus antarkota atau menumpang mobil rekan. Tak ada yang sendiri. Pengendara mobil dengan musik keras tak lagi hingar-bingar. Musik dimatikan, diganti dengan suara radio berisikan berita kota. Pelan. Sekadar cukup untuk telinga. “Putra daerah memang payah! Atas nama amarah, mereka mau gadaikan apa saja…” kata lelaki dalam mobil itu.

Baca juga: Nur Peudawa – Cerpen Miswari (Serambi Indonesia, 23 Juni 2019)

Tiga temannya yang lain tersenyum. “Kalau mereka masuk ke daerah kita kan tinggal kita balas…” sambut seorangnya.

Mereka tertawa. Tidak keras. Sekadar terdengar di telinga saja.

***

Tujuh bangkai kecoak berserak di lantai kamar mandi. Zainal mulai mengangkangi jamban. Menghisap asap tembakau. Memandangi pecahan badan binatang menjijikkan itu dengan tersenyum.

“Aku tak akan capek. Keluarlah, biar langsung kupijak!”

Di luar rumah, di kota, aktivitas masih seperti biasa. Tetap ramai. Pembangunan seperti tak berhenti. Malah, perumahan-perumahan baru menyerbu daerah-daerah sekeliling. Pusat kota tak lagi menawarkan komplek perumahan. Pencakar langit menjamur. Kediaman tanpa halaman. Tanpa pagar. Tanpa tegur. Rumah adalah kotak, membuat warga semakin kecil, terkucil di lahan yang sejatinya besar.

Warga kota yang tak bisa melawan akhirnya menyingkir. Membeli rumah di perumahan-perumahan itu. Yang ada halamannya. Yang ada pagarnya. Yang ada gotong royongnya. Menetap di sana. Bekerja di kota. Tanpa mengubah tanda kependudukan. Di daerah satelit itu mereka menanam tahi-tahi. Menimbun sampah-sampah. Membangkitkan kecoa-kecoa baru. Yang menjijikkan. Yang meresahkan.

Zainal lain muncul. Di daerah itu. Memasang spanduk di dekat perumahan. Dia pandangi kain bertuliskan “Bawa tahimu keluar dari daerah sini!” itu. Dia bangga. Seruan tak biasa. Sangat berbeda dengan kalimat-kalimat standar. Yang mengajak hidup bersama. Yang sibuk mengimbau kebersamaan. Dan, yang penuh basa-basi. “Kalau tak berefek, biar parang yang bicara!” katanya, seperti berbisik.

 

Muram Batu, pengarang kumcer Hujan Kota Arang (basabasi, 2018) dan naskah drama Lena Tak Pulang (DKJT; 2006). Masa SD dan SMA diselesaikan di Langsa, kemudian merantau ke Jogja. Kini menetap di Medan.

Advertisements