Cerpen Pangerang P. Muda (Tribun Jabar, 06 Oktober 2019)

Sanrego ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Sanrego ilustrasi Tribun Jabar

Dari langkan samping, tempatnya berdiri, butuh lima puluh kayuh langkah untuk mencapai kandang kudanya. Berpegangan pada jerjak, ia menajamkan tatap ke sana, dan hanya bisa melihat remang lampu istal itu, seakan ikut menahan kantuk di dini hari. Tadi ringkik kuda yang membuatnya terlonjak bangun, dan ia masih duduk termangu di tepi tempat tidur, ketika terdengar derap kaki-kaki kuda berlari, dan itulah yang menggegaskan ia ke langkan samping.

“Subuh-subuh begini, Odding sudah melatih kuda? Untuk apa?” Ia bertanya saat lantai papan di belakangnya berderit. Kedua abdinya tak bisa menjawab, hanya menguapkan kantuk ke dalam dingin udara subuh.

Ia menuju tangga turun. Kedua abdinya tergopoh mengikuti. Sejejer dengan istal, ada rumah panggung agak kecil tempat perawat dan pelatih kudanya tinggal. Mengetahui pintu kandang ternyata tidak lagi berpalang, ia menyerukan nama perawat kuda itu.

Karena tak ada jawaban, seorang abdi bergegas menaiki anak tangga ke atas rumah. Mendorong pintu depan, menyerukan pula nama pelatih kuda itu, tapi tidak juga terbalas sahutan.

“Tidak biasanya dia melatih kuda subuh-subuh begini,” ia merutuk, hendak melanjutkan tapi tersela suara istrinya dari rumah induk, yang serupa lolong, “Ooh … Icita….”

Sejak anak sulung mereka tidak tinggal lagi bersamanya, tidak ada lagi anaknya yang suka berkuda. Baik anak gadisnya maupun si bungsu yang lelaki, malah tidak berani menunggang kuda. Makanya ketika kembali ke rumah, ia mendongak ke arah istrinya, terheran-heran menyeru tanya, “Icita yang belajar berkuda sesubuh ini?”

“Bukan belajar naik kuda….” Derai tangis istrinya menjadi. “Ooh … anak kita lari dengan Odding….”

Seakan ada yang memompa tenaganya, ia melompati beberapa anak tangga sekaligus. Istrinya telah luruh ke lantai kayu. Bara dari dalam bola matanya menyambar, mendengar serak ujar istrinya, “Kamarnya kosong….”

Baca juga: Prabowo dan Jokowi – Cerpen Matdon (Tribun Jabar, 27 Mei 2018)

Ia buang tatap ke kebun di samping rumah. Dalam kesiur angin, jejeran pohon mangga bagai sebarisan monster hitam, bergerak samar didekap kelam dini hari. Hatinya remuk, saat istrinya kembali terguguk, “Siapa lagi yang menemaninya melarikan kuda itu, kalau bukan Odding? Ooh….”

Segera ia menyeru kepada abdinya yang masih berdiri di bawah, “Kuda mana yang dia bawa?”

Agak panik, seorang abdi menyahut, “Hanya kandang Sanrego yang kosong.”

***

Pagi mulai sempurna. Dengus tiga kuda yang tersisa dari dalam istal bagai mewakili dengus kemarahan Mannang. Dalam pedih, ia teringat pada Odding, perawat dan pelatih kudanya. Ia merasa telah memperlakukan anak itu dengan baik. Dibuatkan rumah di dalam areal tanahnya, diberi gaji memadai, dan ikut makan setiap hari di rumah induk. Namun, anak itu malah nekat membawa lari putrinya. Dengan kuda Sanrego pula!

“Ini persekongkolan!” Emosinya pecah. “Politik licik! Pihak mereka memperalat anak bodoh itu. Gaji dan fasilitas yang saya kasi, ternyata tetap saja membuatnya tega berkhianat.”

“Aduh … tidak usahmi menghubungkan larinya anak kita dengan mereka,” seraya terisak, istrinya menyela, mengekori Mannang yang kembali ke istal.

“Kamu tidak paham kotornya politik, Timang. Odding bodoh itu saya tahu memang lari dengan anak kita, tapi kenapa mesti Sanrego yang dia pilih untuk dibawa? Karena ini persekongkolan! Jelas ada titipan perintah dari sana.” Reguk jakunnya naik-turun lebih cepat. “Huh, mereka melakukan segala cara mengalahkan saya!”

“Tidak sepersis itu kejadiannya.” Kepala Timang menggeleng. Dia tahu suaminya sedang kalap. Menyeka air mata, dia berusaha menjelaskan, “Icita memang telah bercerita, bahwa mereka saling mencintai. Sa-sudah menasihati, mengingatkan sekuat yang sa-bisa, bahwa itu akan menjadi masalah. Sudah sa-bilang, bapakmu dan juga paman-pamanmu tidak mungkin merestui, tidak mungkin keluarga besar kita bisa bersepakat menerima Odding sebagai suamimu. Kalian itu berbeda, segalanya; sudah sa-ingatkan seperti itu. Tapi dasar anak kita keras kepala, nasihat hanya masuk di telinga kanan, kemudian keluar lagi ke telinga kirinya.”

Baca juga: Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah – Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 18 Maret 2018)

Ukuran bola mata Mannang membesar. Tahu akan ada sembur amarah susulan, lekas istrinya menyambung penjelasan, “Selama ini sa-merahasiakan, karena sa-berusaha menempuh cara halus: pelan-pelan membujuk anak kita agar menyadari posisinya, menyadari garis keturunannya, dan berharap suatu saat dia paham, lalu mau memutuskan hubungan.”

Angin pagi mati. Gerah memerangkap, membulirkan keringat Mannang.

***

Ke rumah kebunnya Mannang melarung nestapa. Dukanya berkelindan dengan buncah amarah. Sosok Baddo sejak tadi berkelebat, sangat mengusiknya. Di turnamen balap kuda, ajang dua tahunan yang selalu disesakriuhi penonton, memang hanya namanya dan nama Baddo yang berpendar dalam elu-elu perbincangan. Hanya kuda-kuda milik keduanya yang selalu melesat di urutan terdepan. Dan dalam menghadapi pemilihan kepala desa mendatang, juga hanya nama keduanya yang maju saling menantang. Baddo memang rival sejatinya!

Begitu teringat Odding, serta merta Mannang menyembur ludah. Ia yakin anak itu memilih kuda Sanrego dibawa lari sudah direncanakan, dan yang mengatur pasti Baddo. Odding adalah kemenakan dari perawat kudanya Baddo. Tidak sulit bagi rivalnya itu menitip pesan rahasia membawa lari Sanrego, agar ia tersisih sebelum turnamen dimulai. Kuda-kudanya yang lain belum ada yang selaju larinya Sanrego. Ia yakin ini strategi awal Baddo memurukkan kepopuleran namanya, menenggelamkan keterkenalannya, sebelum menyingkirkannya dalam persaingan di pemilihan kepala desa.

Simpul pikiran itu melilit kepala Mannang, hingga jelang siang, sampai kemudian abdinya datang melapor, “Sanrego ada di pasar kuda, tapi….”

Mannang sampai lupa ini hari pasar kuda. Para penggemar kuda tidak akan abai untuk mengunjungi hari pasar yang hanya sekali dalam dua pekan itu. Di ajang itu kuda-kuda terbaik dari berbagai pelosok desa didatangkan dan dipajang di sana untuk diperjualbelikan.

Segera ia menyergah, “Kita ke sana, sebelum kuda itu ada yang beli.” Ia berlekas ke istal, hendak mengeluarkan salah seekor kudanya untuk ia tunggangi ke pasar, tapi urung ketika abdinya kembali tergagap, “… tapi … Sanrego sudah dibeli Baddo….”

Baca juga: Dua Tokoh Kesedihan yang Diciptakan Haruki Murakami – Cerpen Risda Nur Widia (Tribun Jabar, 11 Februari 2018)

Menghela napas panjang, abdi itu mengimbuh, ”Yang menjual kuda kita itu, ternyata tinggal di wilayah tambak garam. Saya sudah tanyai, dia mengaku mendapatkan kuda itu dengan cara ditukar. Katanya tiga hari lalu sepasang anak muda datang menukarkan kuda itu dengan ketinting. Pasti itu Odding.”

***

“Jika Baddo beriktikad baik,” sergah Mannang, “dia tidak akan membeli kuda itu. Dia tahu persis, berapa pun harga yang diajukan orang, kuda itu tidak akan saya lepas. Malah segampang itu dia membelinya!”

Kepal tangannya ia tepuk-tepukkan. “Dengan berkuda, kedua anak itu memang bisa memotong jalan-jalan setapak dan perkebunan. Dan dengan menaiki ketinting, mereka bisa menghindari jalan-jalan darat, bahkan bisa jadi telah nekat menyeberang ke salah satu pulau di luar sana. Pantas kita sulit menemukan.” Parasnya kian memerah. “Urusan kita sekarang menjadi dua: mengambil Sanrego dari rumah Baddo, dan terus mencari kedua anak bodoh itu!”

***

Baru saja hendak mengundang kerabat dekat untuk kembali berembuk, ketika terdengar ringkik dan derap kaki-kaki kuda mendekat. Kuda itu masih di luar pagar halaman, penunggangnya baru hendak turun dari pelana, dari atas rumah Mannang sudah menyeru, “Sanrego!”

Bergegas ia turun dari rumah panggungnya. Orang yang membawa kuda itu mengangguk canggung, membimbing Sanrego masuk ke halaman. “Minta maaf-ka’,” ujarnya, “saya disuruh mengembalikan kuda-ta’ ini. Kuda-ta’ ini dibeli tuan kami, semata agar tidak ada orang lain yang beli, dan akan sulit lagi diambil.”

Tak sabar, Mannang menyela, “Berapa ganti rugi untuk menebus kuda saya ini?”

“Tuan Baddo tidak meminta tebusan.” Tamu itu mengatur napas. “Tuan kami bilang, kalau kuda-ta’ ini tidak ikut dalam lomba, maka gengsi turnamen itu ikut pula turun. Tuan kami ingin kudanya juara dengan mengalahkan Sanrego, setelah tiga turnamen berturut-turut kuda miliknya hanya di urutan kedua. Tuan kami ingin memboyong piala tahun ini dengan terhormat, sebagai penakluk Sanrego, yang telah juara tiga kali berturut-turut.”

Baca juga: Yang Menghancurkan Patung-patung di Kota Kami – Cerpen Artie Ahmad (Tribun Jabar, 24 Desember 2017)

Kilap tegang paras Mannang mulai susut; tapi saat tamunya menambahi, “Tuan Baddo ingin pula membantu, mencari kedua….” tangannya segera mengibas seraya menghardik, “Tak usah menyebut-nyebut kedua anak bodoh itu!”

Dengan gerak kikuk, ia mendekati kudanya, menepuk-nepuk rahang kuda itu dan berbisik, “Kita tidak akan membiarkan lawan mengalahkan kita, Sanrego. Kita tetap pemenang!” ***

 

Pangerang P. Muda. Menulis cerpen di beberapa media. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit: Menghimpun Butir Waktu (2016), Svetsna (2018), dan yang terbaru: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Advertisements