Cerpen Sam Edy Yuswanto (Radar Banyumas, 06 Oktober 2019)

Pintu Kamar Ibu ilustrasi Radar Banyumasw.jpg
Pintu Kamar Ibu ilustrasi Radar Banyumas

Pintu kamar ibu kini tertutup. Rapat. Serapat tanah basah tempat jasad beliau terkubur kini. Ibu memang telah tiada. Namun kenangan-kenanganku saat bersama ibu tak akan pernah lekang dari kerak ingatan. Tak akan pernah. Terlebih bila aku mengingat kembali jasa-jasa beliau semasa hidup. Benar-benar tak bisa dilupakan sampai kapan pun.

Aku selalu ingat pesan Mbah Diro, kiai sepuh yang biasa mengimami salat lima waktu di langgar dekat rumah, agar jangan pernah sekali pun menyakiti hati ibu. Waktu itu, Mbah Diro datang ke rumah untuk membesuk ibu yang tengah terbaring lemah di ranjang kamar ibu (nyaris tiap hari beliau membesuk, menyemangati atau memotivasi ibu agar jangan menyerah menghadapi penyakitnya).

Telah nyaris dua bulan ibu hanya mampu tiduran di ranjang, tepatnya sejak beliau terserang stroke. Aku, sebagai anak bungsu yang belum menikah, digadang saudara-saudaraku yang lain agar berada di garda depan dalam menjaga ibu. Terlebih, kata saudara-saudaraku, pekerjaan sehari-hariku sebagai penulis lepas di berbagai media massa katanya hanya duduk di depan laptop. Jadi, kata mereka, lebih mudah memantau kondisi (sekaligus menyiapkan segala keperluan) ibu.

Ah, tanpa diminta pun, tentu aku tak akan pernah mengabaikan ibu yang tak lagi bisa beraktivitas normal. Apalagi sampai tebersit pikiran ingin pergi meninggalkan beliau. Aku pastikan itu tak akan pernah terjadi. Kecuali Allah berkendak lain atas takdirku, misalnya memanggilku terlebih dahulu. Bukankah tak ada satu pun yang mengetahui batasan umur manusia?

“Wan, jangan pernah menyakiti hati Ibu. Jasa seorang Ibu begitu besar terhadap anak-anaknya. Dia telah mengandung selama 9 bulan bahkan terkadang lebih, dengan susah payah. Kamu ingat nggak Wan, saat kecil, entah telah berapa ratus kali kamu mengencingi Ibumu, tapi dia nggak pernah marah, alih-alih dia malah bergegas membopongmu ke kulah (kamar mandi), lalu mencebokimu dengan telaten dan penuh kasih sayang, lalu dengan sabar menyucikan celanamu yang belepotan air kencing,” ucap Mbah Diro lirih dan pelan (mungkin agar tak terdengar oleh ibu) tanpa ada sedikit pun raut menggurui. Seolah-olah beliau berbicara untuk dirinya sendiri.

Baca juga: Tobat – Cerpen Melvi Yendra (Republika, 25 April 2010)

Entah mengapa ucapan Mbah Diro langsung mengingatkan sekaligus membuat aku merasa sangat malu. Jadi pada saat itu, aku sedang membersihkan kotoran ibu yang tercecer di lantai dekat ranjang. Jujur saja, aku merasa jijik dan ada rasa kesal dalam hati yang (tentu saja) berusaha tak kutampakkan di depan ibu. Padahal hanya sesekali saja ibu buang hajat tanpa sepengetahunku dan aku yakin itu tanpa kesengajaan (mungkin saat itu ibu hendak buang hajat yang sudah tak tertahankan, sementara aku tengah berada di luar rumah sehingga tak bisa mendengar suara ibu memanggil namaku). Sementara saat kecil, entah telah berapa ratus kali ibu membersihkan kotoranku (kencing dan berak) tanpa rasa jijik, apalagi mengeluh. Ucapan Mbah Diro memang benar. Sangat benar. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang belum mampu berbakti sepenuh hati pada orangtuaku.

“Iya, Mbah,” aku tersenyum, mengangguk takzim.

“Yang sabar, Wan,” Mbah Diro tersenyum lembut seraya menepuk bahu dan kemudian merangkul pundakku.

Damai sekali rasanya saat Mbah Diro memperlakukan aku seperti ini. Layaknya anak sendiri. Sempat tebersit pikiran semacam ini: apa karena beliau tak dikaruniai anak sehingga selalu memperlakukan aku seperti anak kandungnya sendiri? Entahlah. Yang aku tahu, beliau adalah sosok yang sangat peduli dengan kesedihan dan penderitaan orang lain.

Dulu, tepatnya sepuluh tahun silam, ketika ayah sakit parah dan akhirnya meninggal dunia, Mbah Wiro juga rajin membesuk ayah. Tak hanya sekadar membesuk, tapi beliau juga selalu berusaha menyemangati dan memotivasi ayah agar sabar dan tegar dalam menghadapi apa pun keputusan yang telah ditetapkan Tuhan. Pun dengan para tetangganya lainnya, bila suatu hari sedang terkena musibah (sakit atau mengalami kecelakaan misalnya), biasanya Mbah Diro selalu menjadi orang pertama yang datang berkunjung untuk memberikan semangat kepada mereka.

Baca juga: Sang Kolonel Menembak Seto dan Membuat Pikun Istrinya Sendiri – Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 25 April 2010)

Selain itu, Mbah Diro juga dikenal sebagai sosok yang mampu meneduhkan jiwa masyarakat sekitarnya lewat pengajian-pengajiannya. Ketika memberikan tausiyah, beliau sama sekali tak terdengar seperti sedang berceramah, melainkan mirip orang yang sedang bercerita kepada dirinya sendiri. Mbah Diro, meskipun tiap malam bakda Magrib dan Subuh selalu rutin memberikan tausiyah di langgar miliknya. Bahkan pada momen-momen tertentu juga kerap diundang untuk mengisi ceramah di berbagai hajatan di kampung ini. Akan tetapi beliau selalu menolak ketika ada warga yang memanggilnya kiai. Beliau meminta agar warga memanggil “Mbah” saja. Beliau juga selalu menarik tangannya lekas-lekas saat ada orang yang hendak mencium tangannya ketika tengah bersalaman dengannya.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan sebagian pemuka agama yang raut wajahnya akan langsung terlihat masam dan memerah ketika ada orang yang memanggilnya tanpa embel-embel kiai dan enggan mencium punggung telapak tangannya ketika bersalaman. Pokoknya, di mataku, Mbah Diro adalah sosok yang sangat spesial. Istimewa. Sosok panutan sejati. Beliau itu berbeda dengan kiai-kiai lainnya. Sangat berbeda.

***

Aku masih ingat, pagi pertama setelah ibu tiada, aku mengira ibu masih ada di dalam kamar. Biasanya, tiap pagi, ibu yang paling awal bangun. Sebelum azan Subuh berkumandang dari langgar kecil Mbah Diro, ibu sudah terjaga lalu berwudu dan menunaikan salat Tajahud. Setelah itu, sambil menunggu waktu Subuh datang, biasanya ibu membaca Alquran sejenak lantas menuju kamar tamu untuk menonton televisi. Beliau memang rutin menyaksikan program pengajian di televisi.

Baca juga: Sarpakenaka – Cerpen Gunawan Maryanto (Jawa Pos, 18 April 2010)

Pada saat itulah aku terbangun karena mendengar suara volume televisi yang agak kencang. Kebetulan posisi kamar tamu bersisian dengan kamarku. Kadang aku juga terbangun gara-gara mendengar suara ibu tengah melantunkan shalawat nabi. Salah satu kebiasaan ibu memang begitu, selalu ikut melantunkan shalawat saat kiai atau ustaz yang sedang berceramah di televisi memulai dan mengakhiri tausiyahnya dengan bacaan shalawat bersama para jemaahnya. Bahkan, saat sang kiai membacakan doa pun biasanya ibu ikut mengangkat kedua tangan seraya mengaminkan.

Nah, pada waktu itu tumben. Aku sama sekali tak mendengar suara televisi seperti biasa-biasanya. Pagi itu aku terbangun saat azan Subuh bergema dari corong langgar Mbah Diro. Merasa ada yang aneh, aku pun segera bergegas ke belakang. Menuju kamar ibu yang masih terlihat gelap dan tertutup pintunya. Di depan pintu aku baru tersadar kalau ibu telah tiada. Tubuhku seketika terasa layu. Di depan pintu kamar ibu, aku bersimpuh. Tergugu. ***

 

Puring Kebumen, 31 Oktober 2018.

Sam Edy Yuswanto. Lahir dan mukim di Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional, antara lain: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Jateng Pos, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Percakapan Kunang-kunang, Kiai Amplop, dan Impian Maya.

Advertisements