Cerpen Pensil Kajoe (Kedaulatan Rakyat, 06 Oktober 2019)

Perempuan Hybrid ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Perempuan Hybrid ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

USIANYA memang hampir mendekati kepala lima, kerutan di wajah dan kulit tangannya ditutupi dengan bedak bermerk kw. Di kalangan teman-temannya dia terkenal sebagai sang pesolek.

Yuliana menjalani profesinya sudah hampir empat tahun, teman-temannya tak terlalu tahu seluk beluk hidupnya. Menurut pengakuan yang keluar dari mulutnya, dia terpaksa terjun ke dunia penjaja kenikmatan untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah pernikahannya kandas. Dia bercerita kalau keluarganya dulu sangat harmonis, mesra namun, pada suatu ketika datanglah prahara menghantam bahtera rumah tangga mereka, pecah dan para penumpangnya tercerai berai. Anak-anak tak ayal turut menjadi korban.

Telepon selularnya berdering ada panggilan masuk dari seorang laki-laki, orang itu membutuhkan jasanya.

“Aku tunggu kau malam ini di tempat biasa.”

Senyumnya merekah, matanya berbinar, tampak raut wajah sumringahnya. “Ikan kakap untuk makan malam,” mulutnya menggumam lirih.

Perempuan itu lalu bersolek seeksotis mungkin, pipi dan bibirnya tak luput dari sapuan perona merah dan gincu tebal merah menyala. Untuk menyamarkan kerutan kakinya dibungkus stocking warna pastel. Parfumnya menyengat.

“Laki-laki biasanya suka yang wangiwangi. Biarlah parfum murah ini menghilangkan bau khas di badanku,” kilahnya jika ada orang berkomentar.

Kelelawar menjatuhkan sisa buah mangga mengenai kepalanya.

“Sialan, sialan. Untung saja kepalaku enggak benjol,” mulutnya menceracau latah.

Baca juga: Durna Edan – Cerpen Yus R. Ismail (Kedaulatan Rakyat, 15 September 2019)

Angin musim kemarau menggugurkan daun-daun kering dan debudebu berhamburan.

Debu dan dirinya tengah bersenyawa di setiap hari-hari yang dilaluinya.

“Akulah sebutir debu di antara debudebu kosmik jagat rayaMu, Tuhan,” bisiknya lirih.

Dia sadar, setiap gerak tubuh ada dalam pengawasan dzat yang Maha Tinggi meski dia seringkali menanggalkan kepatuhannya.

“Aku tahu Kau di atas segalanya, Kau dzat paling agung, aku tahu kaulah sang pengampun dan maha pemberi rezeki. Jalan rezekiku seperti ini, maafkanlah.”

Keyakinannya pada Tuhan memang tak pernah hilang dari dalam hatinya.

Bagi sebagian orang, profesi dia saat ini adalah pekerjaan yang menjijikkan, laknat dan bakal kena azab dari Tuhan. Akan tetapi ada juga orang-orang yang membutuhkan keberadaannya, mencarinya dan memakai jasanya demi menyalurkan naluri tak terkendali. Begitu instant, tanpa harus mengurus tetek bengek yang membuat seseorang menunda untuk melaksanakannya.

“Tuhan tidak tidur, Tuhan pasti maklum dengan apa yang kuperbuat,” dalihnya.

Azan Maghrib berkumandang dari masjid di belakang rumah membawa ingatan pada masa kecil; dia terkenal anak yang rajin mengaji. Hapalan suratsuratnya paling baik di antara teman-teman ngajinya.

Baca juga: Lelaki Berdasi –  Cerpen Suroso (Kedaulatan Rakyat, 08 September 2019)

Beberapa tropi dan medali terpampang di dinding, tanda bahwa dia pernah menjadi juara. Semua kenangan manis bersliweran dalam benaknya. Peristiwa penyebab awal retaknya biduk rumah tangga yang dia kayuh bersama kekasih hatinya terbelah, terantuk karang besar.

“Lima ratus ribu,” ucapnya sambil mengibas-ibaskan uang yang baru didapat sebagai pelayanan yang dia berikan pada seorang pelanggan.

Di depan cermin buram, dia mengelap bekas bedak dan lipstick dari bibirnya sambil memonyongkan mulutnya.

“Dengan mulut ini aku bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, terima kasih Tuhan,” gumamnya.

Tetiba tubuhnya gemetaran, keringat dingin keluar dari kening yang sudah tampak kerutannya. Butiran-butiran keringat berwarna kuning karena bercampur  bedak luntur. Napasnya tersengal.

“Tuhan, jangan dulu ambil nyawaku. Masih banyak orang di luar sana yang membutuhkanku,” gumamnya.

Teleponnya berdering ada panggilan masuk.

PAK BOSS memanggil…

Sebuah nama muncul di layar telepon selularnya. Dengan sisa tenaganya, dia memencet tombol penjawab telepon, lalu terdengar suara seorang laki-laki di ujung telepon.

“Manisku, sp me, please…” terdengar suara laki-laki memanggilnya. Dia tak menjawab. Hanya terdengar napas seraknya terengah-engah. Laki-laki yang meneleponnya terus saja mengganggunya, merayu dengan panggilan sayang.

Baca juga: Tiga Perempuan Senja – Cerpen Ulfatin Ch (Kedaulatan Rakyat, 25 Agustus 2019)

“Maaf Pak Boss,” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya kemudian hening.

Terdengar bunyi benda jatuh. Ponselnya menghantam lantai, pecah menjadi beberapa bagian. Tubuhnya terhuyung dan jatuh tertelungkup di lantai.

***

Tercium bau busuk menyengat dari rumah kontrakannya mengundang kecurigaan orang-orang di sekitarnya.

“Oh, ternyata dia itu Kang Yulinato?”

“Bukankah dulu dia pergi transmigrasi ke Sumatera?”

“Kasihan, padahal dia dulu terkenal orang yang rajin beribadah.”

Orang-orang terperangah ketika mengetahui siapa dia sebenarnya. Buku hariannya menjadi jawaban tentang rahasia kenapa dia memilih merubah jenis kelaminnya. ❑- e

 

Ajibarang, 23092019

Pensil Kajoe atau Didit Kristanto, lahir dan dibesarkan di Tumiyang, Kabupaten Banyumas. Menulis 16 Buku tunggal dan 18 buku antologi bersama.

 

Advertisements