Cerpen Daud Farma (Republika, 06 Oktober 2019)

Pedas Manis ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Pedas Manis ilustrasi Rendra Purnama/Republika

K awan, aku punya sudut pan dang yang berbeda soal merdeka. Kutahu bah wa merdeka yang ka mu maksud hari ini ada lah merdeka dari jajahan Belanda atas negeri kita Indonesia dan aku pun mengakui dan bahagia dengan kemer dekaan kita.

Akan tetapi, ini adalah soal individual. Sampai hari ini, aku belum merdeka karena belum mampu meyakinkan ibuku. Aku ingin sekali menikah. Ingin punya istri dan keturunan. Namun, kata ayah dan ibu, aku mesti selesai kuliah minimal strata satu.

Hal ini tentu tidak sesuai dengan ke ada an dan hasratku yang ingin segera menikah, pa dahal aku sendiri ‘merasa’ yakin, sanggup lahir dan batin. Aku yakin aku bisa meng hidupi rumah tanggaku nantinya.

Setiap aku menelepon ke kampung, aku coba menyakinkan ayah dan ibu. Sebenar nya ayah dan ibu setuju kalau aku menikah dengan sesegera mungkin, malah mereka senang kalau memang aku benar-benar mampu. Namun, yang membuat mereka tidak setuju adalah aku menikah dengan gadis Jawa pilihanku.

“Janganlah orang Jawa, nanti dia tidak mau tinggal di Aceh Tenggara. Nanti kamu ditahan mertuamu di tanah Jawa. Aku tidak mau di usia senja kamu tidak ada di kam pung. Sudahlah waktu muda jauh, saat tua ber jauhan pula. Mak tidak setuju!” Ibu mengkhawatirkan itu, sementara ayah pu nya alasan yang lain.

“Bang, telepon ke nomor Mamak. Ada yang ingin Mamak bicarakan.” Aku sangat ba hagia membaca pesan dari adikku itu. Karena husnuzanku adalah ibu sudah se tuju berkat bantuan Bambkhu-ku (adikku). Ah, tidak sia-sia aku minta tolong pada Bam bkhu. Aku pun menelepon ibu. Setelah aku jawab salam dari ibu, kukira kata-kata setuju menghampiri telingaku, eh tahunya:

“Musa, dengar Mak baik-baik ya, mau presiden yang kamu suruh datang ke rumah untuk menyakinkan Mak, tidak mempan, Musa, tidak mempan!”

Setelah menelepon, aku murung, me nyen diri, menyepi, memojok di kamarku. Sudah tidak mempan lagi aku menyakinkan ibu.

Sepekan kemudian, aku turun dari lan tai empat untuk membeli buah-buahan. “Ku   rus sekali sekarang ya, Musa” saha bat ku heran melihat mukaku yang lesu. Ba danku kurus kering.

Baca juga: Arajang – Cerpen Khrisna Pabichara (Republika, 31 Januari 2010)

Niatku beli buah-buahan ialah agar badanku kembali segar dan kuat. Kawanku ini sudah punya anak satu. Dia juga istrinya bukan orang Aceh. Istrinya orang Kaliman tan. Dia sudah punya anak satu, perem puan. Aku pun curhat pada sahabatku itu.

“Aku bukan sengaja diet. Ini semua karena aku ingin menikah.”

“Kalau mau menikah yang banyak-ba nyaklah makan. Makan sup daging, beli daging unta.”

“Gimana mau makan daging? Semen tara ibuku saja belum setuju?”

“Loh kenapa?”

“Masalah keluarga, akhi.”

“Oh gitu, saran ana, antum banyakin doa, sedekah, dan Tahajud. Supaya hati ibu luluh. Percayalah, doa dapat menembus penghalang apa pun, apalagi hati.”

Aku pun mulai mengamalkan anjuran dari sahabatku itu, dan saran dari calon istriku Nadia. Dua-duanya menyarankan pa daku agar banyak berdoa. Aku jadi ingat keistiqamahan Nabi Ibrahim yang berdoa berpuluh-puluh tahun kepada Allah, “Rabbi habli minasshalihiin” agar dikaruniai se orang anak yang saleh. Akhirnya istrinya yang divonis mandul bisa memberinya ke turunan juga. Begitulah hebatnya doa. Aku pun mulai banyak berdoa di setiap sujud.

Saat ziarah ke Masjid Sayyidina Husain, aku bertawasul lewat makam cucu baginda Rasul, kuutarakan niatku agar Allah melunakkan hati ibu. Aku mulai banyak bersedekah, hampir tiap pengemis dan tu na wisma, kuberi sepeser dua peser pound yang aku punya, tak lupa kuminta doa pada mereka.

“Tolong doakan agar hati ibuku lunak, aku ingin menikah.”

“Amin.” Jawab para pengemis di pinggir jalan itu. Aku shalat Hajad, Tahajud, dan Dhuha. Aku banyak beshalawat, berzikir demi mendapat ridha ibuku. Karena kalau ibuku ridha, tentu Allah juga ridha.

Semuanya adalah melalui dan minta pada Allah. Aku tak kenal lelah. Satu bulan ke mudian aku pun memberanikan diri me nelepon ke ibu. Setelah shalat Tahajud, aku mencabut handphone-ku dari charger. Sebab kalau di Mesir jam setengah tiga, berarti di Indonesia sudah setengah de lapan. Tentu ibuku sudah selesai masak pagi dan sedang santai di depan rumah atau di ruang tamu.

“Apa kabar kamu anakku, Musa? Sudah lama tidak menelepon. Ada apa? Ibu rindu kamu, nak.”

“Ya, Mak, Musa juga rindu. Musa sehat, Mak.” Belum sempat aku memulai topik tentang menikah, ibuku sudah memulainya.

Baca juga: Sura dan Perempuan – Cerpen Handoko F Zainsam (Republika, 17 Januari 2010)

“Pulanglah, Nak. Ayo kita melamar Nadia calon menantu, Mamak.”

“Hah? Mamak serius?”

“Cepatlah pulang selagi hati Mak sedang lunak.”

“Alhamdulillah Ya Alllah. Terima kasih, Mak. Baiklah minggu depan aku pulang, mumpung sekarang musim panas dan kami libur panjang.

“Sungguh bukan main senangnya aku! Seakan dunia ini adalah milikku seorang!

Seakan aku baru merdeka dari jajahan Belanda atas Indonesia! Tidak dapat ku gam barkan kebahagiaanku yang sebentar lagi jadi pengantin dan meminang gadis Ja wa. Soal kenapa aku suka gadis Jawa? Ti dak lah sesingkat aku mengenal Nadia ka rena buku. Namun, memang sejak aku ma sih kelas satu SMP dulu, sejak aku sudah umur belasan, aku telah kagum pada gadis Jawa.

Ada bebarapa faktor. Pertama, karena us tazah-ustazahku yang dari Jawa kulihat ciri kecantikannya berbeda. Ada manis-ma nis nya saat mereka tersenyum, persis seperti Nadia saat mengunggah fotonya di akun Instagram. Kedua, karena tutur kata nya yang menurutku amat lembut, tidak te rasa keras dan kasar seperti orang Sumatra pa da umum nya, meskipun memang orang Su mat ra adalah kebanyakan Melayu. Kami orang Kuta Cane, Aceh Tenggara, jugalah mi ripmirip cara bertutur kata orang melayu.

Ketiga, karena memang aku ingin ber beda dengan abang-abangku yang semua nya menikah dengan satu daerah, desanya dekat-dekat pula. Aku sendiri ingin punya istri orang jauh. Dulu tahun pertama sam pai di Al-Azhar Mesir, aku ingin sekali istri ku orang Mesir. Namun, sulit untuk di mungkinkan karena orang Mesir seleranya tinggi! Aku penuh kekurangan, hitam, ku rus, dan pesek.

Hanya satu modalku, yaitu tinggiku. Sepekan kemudian aku pun pulang ke Aceh Tenggara. Aku disambut keluargaku begitu is timewa sehingga rumah kami penuh. Sepertinya ibu mengundang satu desa ke ru mah. Sedangkan aku tidak bawa oleh-oleh apa pun, hanya bawa badan dan pakaianku dalam tas rensel. Padahal ini adalah hari pulang pertama kali setelah tiga tahun belajar di Mesir. Dua hari di rumah, aku, ayahku, ibuku, bambkhuku datang ke Jawa untuk melamar Nadia.

“Kenapalah jauh kali ke Jawa jodohmu, Musa?”

“Mak, usahlah ditanya lagi. Katanya Mamak sudah setuju.”

“Ya Mamak sudah setuju, tapi kenapa mesti orang Jawa? Orang Kuta Cane kan banyak Nak?”

“Banyak, tapi tidak seperti Nadia, Mak.”

“Apanya yang tidak seperti Nadia?”

Baca juga: Subuh Mak’ke – Cerpen Ida Ahdiah (Republika, 24 Januari 2010)

“Rupanya, alisnya, senyumnya, putihnya, hidungnya, matanya,”

“Emang kamu pernah ketemu dengan Nadia sebelumnya?”

“Belum pernah, tapi kan aku sudah tunjukkan fotonya ke, Mamak.”

“Nak, zaman sekarang masih percaya sama foto. Sekarang ini semuanya palsu, tidak ada yang asli. Memanglah fotonya yang cantik pula dia pilih untuk dikirim ke kamu agar kamu tergoda.”

“Mak, tidak boleh buruk sangka, kuya kin aslinya lebih cantik, Mak.”

Tiba-tiba kudengar suara ayahku dari kursi duduk belakang. “Udah, Mamakmu me mang begitu, usah disahuti. Nanti kalau dia sudah bosan mengomel dia akan ber henti sendiri.” Kami pun tiba di Bandara Abdurrahman Saleh, kulihat ibu diam.

Ibuku mengikuti jejak langkah kami. Walaupun senyumnya belum manis. Aku mengikuti rute sesuai dengan yang Nadia berikan. Benar memang, aku belum pernah ketemu Nadia, tapi aku yakin dia tidak berbohong, soal lamaranku ini sudah aku pastikan akan diterima ayahnya 100 persen. Karena memang Nadialah yang memaksaku agar segera menikahinya dan dia sudah memberi tahu ayahnya terlebih dahulu.

Awal mengapa aku bisa kenal dengan Nadia adalah karena buku. Dia meresensi bu kuku yang diadakan oleh penerbit. Dia lah juara satunya. Mengapa aku bisa ja tuh cin ta padanya? Karena dia adalah kriteria ku. Dia suka membaca dan dia jugalah suka me nulis, dan satu lagi dia kuliah kedokteran.

Ingin sekali aku punya istri seorang dok ter. Alasan mengapa dia suka padaku? Hus nuzanku adalah karena dia suka tulisanku. Kedua, karena aku kuliah di Al-Azhar. Na mun, aku sering beralasan lain saat dia ta nya mengapa aku bisa jatuh cinta padanya.

Tidak berapa lama kami pun sampai di Kampung Pakis, taksi yang kami tumpangi tiba di depan rumah Nadia yang di pinggir jalan. Kami disambut oleh keluarga Nadia. Sambutan yang luar biasa, santun, ramah, indah, dan bahagia. Ayah dan bambkhuku du duk di ruang tamu. Aku dan ibu diper silakan masuk ke dalam kamar kosong yang sudah disediakan. Ibu lelah dan ia baringan, tiba-tiba ibu bicara setelah kian lama ia membisu sejak dari bandara tadi.

“Ramah betul orang Jawa, Nak. Tidak sia-sia kamu cari istri orang Jawa.” Alhamdulillah, komentar pertama ibuku begitu mantap.

Baca juga: Zahra – Cerpen Rina Mahfuzah Nst (Republika, 28 Februari 2010)

Itu adalah pertanda hatinya makin lunak karena terkesan dengan tutur kata keluarga Nadia, itulah kesan pertama ibu. Aku pun langsung menelepon Nadia, aku belum melihatnya, padahal aku sudah ada di dalam rumahnya. Tadi waktu di taksi aku chating-an dengannya minta diarahkan ke alamat rumahnya, sebenarnya sopir taksi sudah tahu. Teleponku tidak dia angkat.

“Dik, kamu di mana? Aku sudah sampai di rumahmu.” Pesanku via Whatsapp.

“Ini aku di kamarku, Mas. Persis di samping kamar yang Mas tempati.”

“Keluarlah kalau begitu.”

“Aku malu, Mas.”

Keluarga Nadia adalah gologan me ne ngah atas dari segi ekonomi. Rumahnya luas dan mewah, tapi aku datang kemari bukan karena ekonominya, tapi memang karena cinta. Dia adalah Nadia. Namun, bukannya disambut, dia malah bersembunyi.

Timbul dalam hati ada niat ingin menghukumnya nanti kalau sudah suamiistri. Seperti hukuman: harus membuat kanku minuman jus selama seminggu. Ka rena memang mestinya kalau ada tamu ha ruslah dia yang menghidangkanku minum an. Oh iya, mungkin karena belum halal, jadi dia punya alasan untuk bersembunyi.

Setelah satu jam istirahat, acara lamar an pun digelar di ruang tamu. Aku dan ke luar gaku sudah berada di ruang tamu, de mi kian juga keluarga Nadia. Terkecuali Na dia yang belum hadir. Sebelum pembica ra an dimulai, ibunya memanggilnya dan Na dia pun keluar dari kamarnya. Kulihat, ma sya Allah, bukan main indahnya ciptaan Allah.

Dia keluar dengan pakaian jilbaber, ke rudung cokelat, tampak ayu! Foto cantik yang dia kirim dikalahkan dengan yang aslinya. Sekarang aku makin mengakui kecantikan gadis Jawa yang satu ini! Yang sebentar lagi bakal jadi calon istriku! Ibuku langsung berdiri, memeluk dan mencium kedua belah pipi Nadia calon menantunya. Kulihat pipi Nadia mulai memerah, padahal ibuku tidak memakai lipstik. Entah karena malu atau saking putihnya, sepertinya di sen tuh angin pun akan memerah.

“Duh, cantiknya kamu, Nak!” komentar kedua ibuku sewaktu mencium Nadia.

“Astaghfirullah..” ucapku menyadarkan lamunanku karena menatap wajahnya. Bu kan main indahnya! Tidak patut kuse but kan dan kugambarkan bentuk kecantikan perempuan salehah yang jadi istriku ini sehingga aku berpikir ingin menyuruhnya bercadar, agar aku tidak cemburu sepanjang waktu karena akan banyak lelaki yang memandang wajahnya!

Baca juga: Tukang Cerita – Cerpen Benny Arnas (Republika, 21 Februari 2010)

“Kami rasa tidak perlu lagi acara khit bah, langsung saja menikah. Jadi, keluarga dari mempelai laki-laki tidak repot pulang pergi ke Aceh.” Begitu saran terbaik ke luarga Nadia.

“Kami senang dan setuju.” Sahut ibuku dengan segera.

Aku peluk ibuku, aku sujud syukur men de ngar komentar ibuku. Bukan main se nang nya hati ini. Hari itu aku merasa be nar-benar merdeka. Kau tahu, Kawan? Merdeka bagiku adalah saat aku mampu menyakinkan ibuku, saat aku mampu merangkul dua pulau; Jawa dan Sumatra, saat kedua keluarga kami tidak lagi merasa asing dan berselisih soal adat dan suku, saat aku bisa menyatukan dua rasa; pedas dan manis. Merdeka itu adalah saat aku akhir nya menikah denganmu duhai kekasihku, istriku, Nadia.

 

Darrasah-Kairo Kamis, 2 Agustus 2018.

Daud Farma adalah mahasiswa Al Azhar University, Kairo, Mesir. Cerpen “Pedas Manis” meraih Anugerah Sastra VOI RRI 2019.

Advertisements