Cerpen Aljas Sahni (Solo Pos, 06 Oktober 2019)

PAITUA ilustrasi Solo Posw.jpg
PAITUA ilustrasi Solo Pos

“Suami saya kencing di antara pohon bakau, saat kembali ia tak bisa bicara lagi. Kata tetangga, suami saya dimasuki roh paitua,” tutur Ua Iche pada dukun bernama Mbah Doreng. Ua Iche terlihat panik. Keringat mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. Ua Iche bergidik ngeri, apabila mengingat kejadian yang menimpa suaminya.

Suaminya dirangkul temanteman senelayan malam itu. Firasat buruk Ua Iche terbukti, sebelumnya gelas lepas dari tangannya lantas terpecah belah. Ua Iche menangis histeris mendapati suaminya yang membatu dan membisu. Suaminya tak bisa berbicara lagi kendati dipaksa. Dalam mata suaminya, Ua Iche melihat ketakutan yang amat sangat. Perihal itu membuat Ua Iche meremang, bulu-bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya. Menurut penuturan teman senelayan suaminya, perihal itu terjadi setelah suaminya kencing di antara pohon bakau.

Semua orang tahu pohon bakau itu memang angker. Orang-orang percaya, dalam pohon bakau itu terdapat roh penjaga air payau. Paitua sebutan roh itu. Menurut gambaran sesepuh, paitua mempunyai jenggot lebat, mata merah, dan kulit gelap. Tak hanya suami Ua Iche, beberapa orang juga pernah mengalami perihal yang serupa. Kejadian-kejadian buruk itu akan terjadi, kala seseorang mengusik roh paitua. Roh paitua takkan berulah macam-macam bila tak diganggu. Sebenarnya mengencingi pohon bakau memang sebuah pantangan. Namun apalah daya, Suami Ua Iche mungkin sedang lupa atau memang sengaja.

Ua Iche telah membawa suaminya ke beberapa dokter yang ada di kampung. Namun mustahil, dokter tak menemukan penyakit dalam tubuh suaminya. Ua Iche sengaja membawa suaminya ke dokter, sebab ia ingin menghindari dan tak mau mempercayai mitos-mitos yang beredar di kampungnya.`Namun ia juga tak tega, apabila melihat suaminya harus terbaring tanpa sepatah kata seperti patung saban waktu. Selain itu, Ua Iche kerap didatangi roh paitua di dalam mimpinya. Di dalam alam bawah sadarnya, paitua itu tampak geram. Lidah paitua menjulur panjang menjilati suaminya. Ua Iche juga melihat suaminya meronta-ronta hendak melepaskan diri. Namun Ua Iche tak bisa berbuat apa-apa, sebab itu hanya mimpi. Ua Iche dihantui mimpi-mimpi buruk saban malam, menjadikannya enggan untuk menutup mata.

Baca juga: LELAKI YANG MENGGALI SERIBU LAHAD – Cerpen Tiqom Tarra (Solo Pos, 29 September 2019)

Tetangga Ua Iche telah menyarankan berkali-kali untuk dibawa ke dukun saja. Namun, baru kali ini Ua Iche mengikuti saran tersebut. Mungkin Ua Iche sudah putus asa. Ua Iche tak bisa menolak lagi, kalau sebenarnya suaminya memang dimasuki roh paitua. “Saya mohon Mbah, sembuhkan suami saya. Tolong usir roh paitua dalam diri suami saya,” ujar Ua Iche dengan kecemasan yang amat sangat.

Asap kemenyan di hadapan Mbah Doreng mengepul. Asapnya nyaris membuat Ua Iche batuk-batuk. Namun ia tahan, demi menghormati Mbah Doreng. Mata Mbah Doreng menatap lekat-lekat raut wajah Ua Iche. Mbah Doreng melihat kegamangan yang amat sangat dalam diri Ua Iche. Mbah Doreng mengetahui kecemasan Ua Iche melewati raut itu.

“Paitua. Roh itu sukar diajak bicara bila kadung marah,” Mbah Doreng mulai menanggapi. Kerutankerutan di wajahnya dan rambutnya yang beruban, menandakan dirinya sudah berumur. Orang bilang, sepanjang hidupnya Mbah Doreng mengabdi sebagai dukun perantara manusia dan roh halus. Mbah Doreng sudah pengalaman berbicara dengan roh halus. Bahkan, ia juga berpengalaman bertarung dengan roh halus. “Paitua bukan nama roh itu. Paitua adalah roh penjaga laut, darat, udara dan gunung.”

Darah Ua Iche mendesir mendengarkan kata-kata Mbah Doreng. Bulu-bulu kuduknya yang tadinya sudah terlelap, kembali berdiri dengan sendirinya. Baju Ua Iche basah, sebab keringat yang kian deras. Di ruang kecil yang hanya diterangi lampu teplok

yang temaram, Mbah Doreng merapalkan mantra-mantra.

Tangan Mbah Doreng bergerakgerak menyerupai pesilat yang ingin memulai petarungan. Bibirnya komat-kamit membaca mantra yang sukar dimengerti. Mata Mbah Doreng merem-melek, meradang entah pada siapa. Tubuh Mbah Doreng menggeliat seperti perut ulat. Ua Iche yang menyaksiksan perihal itu, hanya dapat melongo terheran-heran.

Entah dari mana datangnya angin ribut? Ua Iche bergidik ngeri, saat melihat tirai melambai-lambai, lampu teplok bergoyang-goyang. Sedangkan Mbah Doreng, masih dengan gerakan dan komat-kamitnya.

Baca juga: Setelah Hari Celaka – Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 22 September 2019)

Pyar! Lampu teplok jatuh. Ruangan menjadi gelap gulita. Dada Ua Iche menderu-deru. Samar-samar Ua Iche dapat melihat wajah Mbah Doreng yang diterangi bara dupa. Mbah doreng tampak kelelahan. Napasnya terengahengah, dan keringat membasuh mukanya. Mbah Doreng berdiri. Ia berdiri dan berjalan menembus kegelapan, ke belakang. Dada Ua Iche kian bergemuruh, ia waswas bila ditinggal pergi oleh Mbah Doreng. Namun, Ua Iche hanya membisu; tak berkomentar apa-apa. Tak berselang lama, Mbah Doreng kembali dengan membawa lampu teplok yang baru.

“Paitua menolak keluar dari tubuh suamimu. Saya tadi sudah memaksanya. Akan tetapi roh bajingan itu terlalu kuat,” Mbah Doreng mengawali pembicaraan.

Kata-kata itu seperti pisau belati yang menikam hati Ua Iche. Perih rasanya, Ua Iche seperti kehilangan harapan untuk menyembuhkan suaminya. Ua Iche berusaha menghilangkan perasaan itu, ia percaya pasti ada cara lain. “Saya mohon Mbah. Tolong carikan cara lain, agar suamiku dapat sembuh dan bicara lagi.”

Dahi Mbah Doreng berkerut. Ia tampak berat untuk memutuskan tindakan. Namun tak berselang lama, bibirnya kembali terbuka ,“Bisa.” Sedikit harapan muncul di benak Ua Iche. Mbah Doreng berdiam sejenak untuk melanjutkan kata-katanya. “Roh itu akan lebih mudah dilawan apabila ada di luar.”

“Jadi kita harus memancingnya keluar, Mbah?!” Ua Iche menanggapinya cepat.

“Iya. kamu kuncinya.”

“Maksud Mbah doreng?!” Ua Iche masih belum mengerti. “Apa pun itu, saya akan lakukan demi suami saya.” Ua Iche meneruskan kata-katanya, seolah-olah ia sudah mengerti tentang ucapan Mbah Doreng.

“Pegang tengan saya, pejamkan matamu, dan konsentrasilah,” Mbah Doreng memberi perintah. Tanpa banyak pikir lagi, Ua Iche menurut. Tak ada yang dapat dilakukannya lagi, selain cara ini.

Baca juga: Muslihat Seekor Domba – Cerpen Adam Yudhistira (Solo Pos, 08 September 2019)

Mbah Doreng kembali merapalkan mantra-mantra. Jiwa Ua Iche seperti ditarik-tarik. Entah bagaimana cara kerjanya, Seketika Ua Iche mendapati tubuhnya sudah berada di ruang yang berbeda. Seperti mimpi yang kerap muncul, Ua Iche melihat suaminya merontaronta hendak melepaskan diri. Bedanya, di samping Ua Iche kini ada Mbah Doreng. Tak berselang lama bayangan hitam muncul. Melesat membabi buta mengarah Ua Iche. Mbah Doreng juga tak kalah cepatnya, tubuhnya juga melesat menghempas bayangan itu. kini dalam pandangan Ua Iche, dua bayangan saling membentur satu sama lain. Terakhir, satu bayangan terpelanting jauh lantas lenyap.

Seketika mata Ua Iche terbuka. Ua Iche kembali ke ruangan Mbah Doreng. Dalam hatinya sangat girang, ia merasa Mbah Doreng sudah mengalahkan roh paitua itu.

***

Menembus malam, Ua Iche berjalan di jalanan becek dan berbatu. Ua Iche setengah berlari, ia tak sabar ingin melihat suaminya yang sudah sembuh. Angin menyelusup ke dalam bajunya, aura dingin menemaninya pulang. Suara-suara binatang malam tak henti-henti berbunyi di perjalanan. Binatang itu seperti bernyanyi di hati Ua Iche.

Ua Iche tersenyum mengingat perihal barusan. Ia setengah tak percaya, pada kejadian-kejadian yang dialaminya di rumah Mbah Doreng. Semua terasa seperti mimpi. Ua Iche mengingat betul, bibir keriput Mbah Doreng yang merapalkan Mantra, lampu teplok yang tibatiba jatuh, dan bertemunya ia dengan roh paitua di alam yang gelap gulita.

Malam semakin larut. Keringat dan letihnya terbayar lunas setelah rumahnya terdapat dalam pandangan. Kaki berlumpur tak ia gubris. Semangatnya lebih membara dari pada pegalnya ia melangkah.

Baca juga: Prahara di Ujung Renjana – Cerpen Zhyla Ismi (Solo Pos, 15 September 2019)

Betapa senangnya hati Ua Iche. Ia melihat suaminya berdiri di beranda rumah. Suamiku telah sembuh, pikirnya. Ua Iche berlari dan langsung memeluk tubuh suaminya. Tempo lalu, Suaminya masih terbaring di kasur tanpa bicara. Ya, beberapa jam lalu suaminya masih kemasukan roh paitua. Ia senang dapat memeluk tubuh suaminya sekarang.

“Kamu tak bisa memaksaku keluar dari tubuh ini,” ujar suaminya untuk yang pertama kalinya. Ada yang lain dengan suara itu. Suara itu terasa berat dan menyeramkan. Suara itu bukan suara suaminya. Sontak ingatan tentang Mbah Doreng, bergentayangan di kepala Ua Iche. Sampai Ua Iche pergi, Mbah Doreng tak bicara apa-apa. Lebih tepatnya, Mbah Doreng tak bisa bicara lagi. Mendadak tangan Ua Iche menjadi dingin, bulu kuduknya berdiri, darah mendesir, dadanya menderu-deru, seperti ada sesuatu yang janggal. Setetes air mata pun jatuh dari mata Ua Iche.

 

Aljas Sahni H, Lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Advertisements