Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

Magi ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdekaw.jpg
Magi ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

“APA boleh aku memimpikanmu?”

“Apa kau bisa mengatur mimpimu?”

“Ya, setidaknya aku bisa berharap mimpi kamu.”

“Kalau itu tentu saja. Tidak ada yang bisa melarang harap.”

Lantas kami terdiam.

Lalu dia memulai lagi.

“Menurutmu mimpi apa yang bisa aku harapkan?”

“Ha-ha…, apa saja. Jangan mau kau didikte soal harapan, termasuk olehku.”

“Aku tak mau didikte. Aku hanya ingin harapanku itu adalah harapan kita. Apakah itu tidak boleh?”

Aku terdiam. Aku tahu yang dia inginkan. Namun aku juga tahu apa yang bisa aku berikan.

“Begini,” jawabku memulai lagi sebelum dia memotong.

“Sudahlah. Tak usah berkata-kata lagi. Aku sudah tahu,” ujar dia, lantas berdiri dan berpakaian. Sandang yang juga dia pakai semalam saat kami bertemu di taman.

Adegan berikutnya aku lupa. Entah dia langsung pergi atau aku yang tertidur.

***

SEMUA stasiun TV ramai mengabarkan aksi demonstasi di Ibu Kota sejak siang hingga malam hari. Ribuan warga yang turun ke jalan menuju kantor pusat pemerintahan dipukul mundur oleh aparat keamanan. Kerumunan pun bubar.

Para demonstran lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Sebagian tertangkap dan ditahan. Sebagian berhasil menyelamatkan diri dan pulang ke kediaman masingmasing. Sebagian lagi dinyatakan hilang.

Baca juga: Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu – Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 25 Agustus 2019)

Meski begitu, hingga tengah malam belum ada pengumuman resmi siapa saja yang hilang. Mengingat banyak warga yang bergabung dengan mahasiswa, belum diketahui siapa saja yang tak kunjung pulang. Para sukarelawan kemudian mendata. Hasilnya baru diketahui keesokan hari. Namanya masuk dalam daftar.

***

“AKU akan ke Ibu Kota. Banyak kawan ikut serta.”

Dia mengirim pesan saat aku menanti matahari hilang di garis laut. Aku senang melihat matahari saat tenggelam. Suasana yang magis.

Sesaat sebelum hilang, matahari sering terlihat bundar utuh sebundar-bundarnya. Warnanya jadi jingga, membatasi batas lingkarnya dan kontras di langit biru. Setelah tenggelam, warna matahari tak hilang, tetapi justru menggantikan biru langit, meski sesaat. Sebelum semuanya menghitam.

Aku ingin percaya matahari yang bundar dengan warna jingga yang kuat itu sebenarnya tak hilang di garis batas laut, tetapi pecah. Karena itu warnanya nyiprat ke langit. Terbukti, meski matahari tak lagi terlihat, jingga matahari berpindah ke langit.

Saat-saat itulah yang kutunggu. Saat suara ombak menepi mengiringi pecahnya bundar matahari.  Saat warna matahari yang jingga berpindah ke langit.

“Aku tak tahu kapan pulang.”

Belum kubalas pesan itu, dia sudah mengirim pesan lagi. Segera saja kubalas,

“Hati hati.”

Baca juga: Teo Berubah Jadi Bebek – Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 08 September 2019)

Aku ingin mendapat balasan lagi, tetapi hingga gelap menyergap ternyata nihil. Tak ada lagi pesan dari dia. Tak hari itu, tak hari-hari berikutnya. Hingga kabar yang kukhawatirkan benar-benar datang.

***

Kampus adalah dunia baru. Sama sekali beda dari sekolah. Terlebih saat pejabat negara tengah dikecam. Aksi demonstrasi dari penghuni kampus hampir terjadi setiap hari.

Bagi mahasiswa baru, tentu menarik. Turun ke jalan, mengenakan jas almamater, acungkan kepalan tangan, teriakkan slogan-slogan. Bonusnya, bertemu senior garang tetapi menyejukkan. Itu aku saat bertemu dia.

Kami sering bertemu di lembaga mahasiswa yang kerap menggalang aksi bersama buruh, petani, atau warga yang rumahnya tergusur. Cinta kemudian datang, meski seingatku kami tak pernah mengucapkan.

“Kalian serasi. Satu jago orasi, satu pandai baca puisi,” ujar seorang rekan.

Dia memang selalu mendapat waktu untuk berorasi pada setiap aksi. Orang-orang tua pernah menyebut Bung Karno sebagai orator ulung. Bagiku dan mahasiswa baru yang lain, dia mungkin titisan Bung Karno. Caranya melontarkan kata demi kata, gayanya saat berbicara, dan tentu saja tatapannya. Ah, siapa tak jatuh cinta.

Baca juga: Mayat Gugat – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 22 September 2019)

Sementara aku hampir selalu mendapat jatah baca puisi. Aku senang membaca, tetapi tidak untuk menulis. Entah mengapa. Mungkin karena menurutku sudah banyak puisi yang ditulis tetapi sedikit yang membaca. Maka pilihanku adalah membacakannya.

Kesukaanku pada puisi mungkin sama dengan cintaku pada pantai. Barangkali karena itu aku selalu ingin tinggal di sana. Di antara pohon kelapa dan ditemani suara ombak yang menepi.

***

“KAU bahagia tinggal di sini?”

Pertanyaan yang langsung kujawab dengan anggukan dan senyuman. Dia tiba-tiba muncul di halaman rumah, di tepi pantai berpasir putih yang berada di teluk sebelah utara. Aku langsung menyambut dengan pelukan. Namun belum puas memeluk, dia melontarkan pertanyaan itu.

Aku melepas pelukan untuk memastikan dia melihat langsung anggukan jawabanku. Aku ingin dia bertanya lagi, tetapi itu tak terjadi. Dia justru membalikkan badan dan berjalan keluar. Meninggalkanku, meninggalkan pantai, menjauh dari pohonpohon kelapa.

Aku ingin mengejar, tetapi tubuhku tak bisa kugerakkan. Aku ingin memanggil, tetapi suaraku tiba-tiba hilang. Aku terbangun.

Itu mimpi.

Aku ingin itu menjadi nyata, hanya sampai saat dia bertanya. Aku bersumpah, tak akan melepas pelukanku hanya untuk menjawab pertanyaan itu dengan anggukan dan senyuman. Aku berjanji akan selalu memeluk agar dia tak meninggalkan pantai dan pohon-pohon kelapa.

Itu khayalan.

Baca juga: Sayup Tifa Mengepung Humia – Cerpen Massha Guissen (Suara Merdeka, 29 September 2019)

Lebih 20 tahun aku menanti. Namanya masih dalam daftar orang hilang. Itu nyata. Senyata laut, ombak, pantai, pohon-pohon kelapa, dan matahari yang pecah sebelum malam. Mereka semua kini menemaniku bersama angin, bintang, dan pasir putih.

Namun aku masih sepi. Aku rindu suaranya saat menyanyikan lagu-lagu Leo Kristi. Aku ingin berdebat dengan dia tentang arti kemerdekaan. Aku ingin bertemu dia, meski dalam mimpi. Namun orang bilang, mimpi tak pernah berulang.

***

AKU sedang menghitung hari pada tahun ke-20 ini, saat sebuah pesan masuk ke gawai.

“Mama, aku ikutan aksi ke Ibu Kota ya. Ini berangkat sama mahasiswa baru yang lain. Eh, juga ada senior yang ikut. Yang satu keren. Doakan, nanti sepulang dari Ibu Kota, dia sudah jadi pacarku.” (28)

 

Jomblang-Bondo-Tambakrejo, September 2019

Adhitia Armitrianto, jurnalis, bermain teater, menulis puisi dan cerpen

Advertisements