Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 06 Oktober 2019)

Lisa dan Percakapan dengan Hantu-hantu ilustrasi Pontianak Postw.jpg
Lisa dan Percakapan dengan Hantu-hantu ilustrasi Pontianak Post

Perempuan cantik itu mati dengan cara yang mengenaskan. Motor yang dia kendarai meluncur deras memotong jalan, tanpa peduli dengan truk bermuatan material bangunan yang melaju dari arah selatan. Sopir truk tak sempat mengerem laju kendaraan. Benturan tak terelakkan. Motor hancur. Tubuh perempuan cantik itu apalagi.

Seperti biasa. Tabiat masyarakat jika terjadi sebuah kemalangan di jalan raya. Semua menghambur tanpa ada sedikitpun upaya untuk menolong. Mereka berkelompok, menyemut, sibuk dengan ponsel pintar masing-masing sembari berdecak dan sejenak kemudian memalingkan muka lantaran ngeri bercampur dengan sedikit rasa jijik.

Lisa yang berada tak jauh dari tempat kejadian, pun ikut menghambur. Namun, Lisa tak menuju tempat terlemparnya jasad si perempuan cantik yang sudah jadi mayat. Lisa justru berlari menuju pohon akasia yang teduh, yang tumbuh tak jauh dari tubuh wanita cantik yang tak lagi utuh. Lisa mengeluarkan ponsel pintar dari saku celana, menekan hurufhuruf di layar, seolah-olah tengah sibuk mengetik pesan untuk dikirimkan ke seseorang.

“Mengapa kau membunuhnya?” tanya Lisa sembari tangannya masih berpura-pura sibuk mengirim pesan.

“Hei, kau bisa melihatku?”

Lisa dongkol setengah mati, “Kau ini bicara apa? Tentu saja aku bisa melihatmu. Makanya aku tanya, mengapa kau membunuhnya?”

“Iya… tapi… aku kan…”

“Kau hantu tolol dan aku baru ketemu hantu bodoh sepertimu hari ini. Untuk pertama kali!”

“Lancang sekali. Hei, kau bertanya mengapa aku membunuhnya? Dia memang sudah waktunya mati. Itu saja!”

Baca juga: Datuk Muara Sungai – Cerpen E. Widiantoro (Pontianak Post, 20 Januari 2019)

“Kalau kau tidak mendorong motornya sedemikian kencang, dia tidak akan mati. Dasar bodoh!” sahut Lisa sengit.

“Justru karena dia sudah waktunya mati, makanya aku mendorong motornya tepat di saat truk bermuatan batu itu lewat. Dia memang sudah ditakdirkan mati dengan cara itu.”

“Kau ini hantu atau malaikat pencabut nyawa? Atau kau ini memang diperintah malaikat pencabut nyawa untuk membunuh perempuan itu?”

“Sebaiknya kau tak perlu tahu soal itu. Sekarang pergilah. Dua hari lagi kita ketemu. Dan… o iya, nanti malam akan ada tamu yang berkunjung ke kamarmu. Tunggu saja. Pukul dua belas pas.”

Lisa celingukan. Usai berkata begitu, si hantu lenyap. Lisa mengumpat, “Dasar hantu bodoh!”

Lisa menatap ke arah kerumunan orang-orang. Jasad si wanita cantik dusah dievakuasi. Sirene ambulans menjerit-jerit seperti hendak mengabarkan telah terjadi peristiwa yang mengerikan di sini. Truk yang terparkir di tepi jalan sebelah kiri dan motor si perempuan cantik yang remuk sudah dikelilingi pita kuning milik polisi. Di bekas korban rebah, darah masih basah. Pekat merah. Polisi meminta supaya disitu segera ditimbun dengan pasir atau tanah. Supaya jangan kejadian ada yang takut, jijik, apalagi sampai muntah.

Lisa pulang dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Pikirannya masih tersangkut kepada hantu bodoh yang semenamena mencabut nyawa. Lisa menggumam; siapa dia?

***

Di kamar, Lisa tak dapat tidur. Bukan lantaran gelisah atau takut sebab pesan yang disampaikan oleh hantu bodoh tadi siang, tapi memang seringkali dia seperti ini. Insomnia parah. Lisa kerap terlelap menjelang pagi dan tidur hanya dua jam. Setelahnya, dia akan terbangun dan segar bugar, seperti sudah tidur delapan jam lamanya.

Baca juga: Titisan Arwah Mbah Kubro – Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 01 September 2019)

Pukul dua belas pas. Lampu di kamar Lisa tiba-tiba padam. Dua detik kemudian, kamarnya kembali benderang, lalu padam lagi. Begitu terus menerus sampai sekitar satu menit lamanya. Lisa gemas sendiri.

“Aku tidak menunggumu. Tapi jika kau ingin bertemu denganku, masuklah. Aku sedang tidak bisa tidur.”

Daun jendela di kamar Lisa terbuka lalu terbanting dua kali. Angin kencang menerpa tirai yang berterbangan berkibarkibar. Perlahan mulai tercium bau daging terbakar. Bukan… ini bukan daging binatang. Ini bau daging manusia, batin Lisa penuh dengan rasa yakin. Tatapan mata Lisa tak lepas dari ambang jendela yang terbuka. Ditunggunya siapa yang datang. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tak ada yang berkunjung. Lisa menghembuskan napas panjang lalu merebahkan diri. Begitu tubuhnya rebah ke tilam, baru Lisa sadari jika di sebelahnya juga sudah rebah sosok perempuan dengan wajah yang rusak dan seringai yang mengerikan. Bola mata perempuan itu lepas sebelah. Sebelah lagi melotot seperti hendak lepas juga. Kulit pipinya gosong. Keriput yang acak-acakan.

“Aku datang hanya untuk mengabarkan kepadamu bahwa lusa kau akan mati!”

Lisa bangkit dari rebahnya. Ditatapnya sebujur tubuh yang menebarkan bau hangus di sebelahnya itu. Sedikitpun tak ada rasa ngeri apalagi takut di diri Lisa. Lisa pernah bercakapcakap dengan hantu yang lebih mengerikan dari hantu gosong ini. Lisa tersenyum.

“Tadi siang ada hantu bodoh yang mengajakku berjumpa dua hari lagi. Dia baru saja membunuh seorang perempuan cantik. Barangkali kau kenal dengan hantu bodoh itu?”

“Dia yang akan membuatmu mati dua hari lagi!”

“O ya? Apakah… hei… aku belum selesai bertanya! Ah, dasar bodoh!” Lisa mengumpat. Hantu bertubuh tercabik-cabik dan berbau hangus di sebelahnya mendadak lenyap. Jendela kamarnya juga sudah kembali rapi serapi sebelum si hantu hangus itu datang dan tak ada lagi aroma daging manusia terbakar. Kamar kembali harum aroma bunga krisan kesukaan Lisa.

Baca juga: Hikayat Kunang-kunang di Kepala Seno – Cerpen Kak Ian (Pontianak Post, 28 Juli 2019)

Lisa membanting tubuhnya ke tilam. Pikirannya mendadak jadi kalut. Lisa merasa benci dengan kondisi seperti ini. Sungguh tidak adil. Hantu-hantu itu bisa datang dan pergi sesuka mereka, namun Lisa tak diberi kemampuan untuk mendatangi mereka seperti mereka yang bisa memunculkan diri sesuka hati. Lisa sungguh tidak suka dengan kondisi tidak adil seperti ini.

***

Di bawah rindang akasia. Lisa berdiri dengan sedikit resah. Baru kali ini dia merasakan ada yang aneh. Ucapan hantu perempuan gosong itu ternyata punya efek. Pagi ini, Lisa berdiri dengan degup jantung yang tidak biasa. Tak dipedulikannya kendaraan yang lalu-lalang di depannya. Lisa juga tak peduli bahwa pesta kerja sudah sedemikian sibuk sepagi ini.

“Kukira kita akan berjumpa agak sore atau menjelang malam. Supaya kau bisa menikmati hari ini dengan bahagia dan sedikit lebih panjang.”

“Lisa tersentak kaget. Kali ini dia betul-betul kaget, “Kau… sejak kapan kau di situ?”

“Rumahku di sini. Di pohon ini. Sebentar lagi kau akan melihatnya. Tunggulah. O iya, katakan padaku, kau mau mati dengan cara apa? Baru kepadamu aku bertanya soal ini. Tak terhitung manusia yang sudah aku bunuh dengan semenamena, tanpa lebih dulu bertanya dia mau mati dengan cara apa. Kau istimewa, Lisa!”

“Kau tahu namaku?”

“Bahkan aku tahu jam berapa kau mandi dan warna pakaian dalam kesukaanmu. Hei… kau ini kenapa? Biasanya kau tidak segugup ini?”

Baca juga: Rahasia Kayu Bakar – Cerpen Dodi Goyon (Pontianak Post, 03 Februari 2019)

Lisa meremas ujung kemejanya. Di belakangnya, sebuah bus antarkota antarprovinsi membunyikan klakson. Lisa tersentak. Keringat dingin di pelipisnya mengucur.

“Kau bukan malaikat pencabut nyawa. Aku tidak akan mati di tanganmu!” selesai berkata begitu, Lisa membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan pohon akasia yang teduh di belakangnya. Lisa berlari. Lisa tak mau mati dengan cara yang menyakitkan. Tidak seperti perempuan cantik yang mati tertabrak truk dua hari yang lalu. Tidak.

Lisa menoleh kebelakang. Hantu bodoh itu tidak terlihat membuntutinya. Tapi… Lisa baru tersadar bahwa mereka, termasuk hantu bodoh itu, bisa saja membuntuti tanpa harus menunjukkan wujud. Lisa semakin benci dengan sesuatu yang aneh dan tidak adil ini. Benci sekali.

Cukup jauh rasanya Lisa berlari. Kerongkongannya kering. Lisa memutuskan untuk singgah ke kedai. Ada es kelapa di situ. Lisa memesan segelas. Tak kuasa menahan haus, diteguknya isi gelas sampai tandas. Lisa lega dan menarik napas. Masih ada sisa. Dihabiskannya dengan segera. Air, daging buah kelapa, dan beberapa bongkah kecil es batu dia telan dengan tergesa. Sampai pada bongkah es batu, Lisa tertelan satu.

Es batu itu tak segera meluncur ke perut, tapi berhenti di leher. Lisa terbatuk-batuk berusaha memuntahkannya kembali. Lisa gagal. Es batu menyumbat di situ. Lisa megapmegap. Lidahnya terjulur dan matanya besar membulat. Kali ini, bahkan untuk batuk pun Lisa tak kuat. Lisa tumbang setelah terdengar suara batuk yang sumbang.  Seperti terkena penyakit batuk yang parah dan nyaris seperti hendak muntah. Lisa bangkit dan seketika merasa heran lantaran jasadnya tak ikut berdiri bersamanya.

“Bahkan untuk membunuhmu dengan cara yang kejam pun aku tak punya wewenang. Kau sudah ditakdirkan mati dengan cara demikian, Lisa.”

Baca juga: Desa yang Menangis – Cerpen Sriwiyanti (Pontianak Post, 27 Januari 2019)

Di tengah rasa herannya, Lisa terperanjat, “Kau ini siapa sebenarnya?”

“Sebaiknya kau tak perlu tahu soal itu. Sekarang, aku tak bisa lagi bersembunyi darimu. Kita sudah sama.”

Lisa tertegun. Di sebelahnya, orang-orang riuh mengerubungi jasadnya yang terbaring di bangku panjang. Lisa beranjak dari duduknya. Dia berjalan menjauh dari kerumunan. Berjalan yang sekarang sudah terasa sangat ringan. (*)

Advertisements