Cerpen Robbyan Abel R (Denpost, 06 Oktober 2019)

 

Di Sekitar Lukisan Bermata Kelabu ilustrasi Agus Sudiarta - Denpost (1)
Di Sekitar Lukisan Bermata Kelabu ilustrasi Agus Sudiarta/Denpost

 

NIRWAN selalu cemburu manakala para pengunjung berdiri di hadapan lukisan itu. Lukisan Perempuan bergaun hijau lengkap dengan mahkota bak seorang ratu. Mata Perempuan dalam lukisan itu kelabu, seolah-olah kesedihan sedang menggenang di lapisan matanya. Lukisan itu menjadi satu-satunya lukisan yang dikoleksi museum. Tidak diketahui siapa yang menciptakannya. Hanya saja, saat pertama kali ditemukan, lukisan itu tersimpan dalam sebuah peti kuno yang tertimbun lumpur di bekas sumur tua peninggalan penjajah

Nirwan sudah bekerja sebagai penjaga museum selama lima tahun. Selama itu pula, setiap harinya, Nirwan tidak pernah tidak menatap lukisan yang dikaguminya itu. Sering ia merasa hanyut ke mata Perempuan dalam lukisan itu. Baginya, hanya Perempuan itulah yang menerima tatapannya sampai berlama-lama. Apalagi di museum memang tidak ada hiburan lain. Adapun Nirwan dapat menonton televisi hanya bila kembali ke indekos atau saat sedang membeli kopi di sebuah warung dekat museum. Bisa dikatakan lukisan itu menambah semangat Nirwan bekerja di sana.

Pada sebuah pagi, pagi sekali: dan museum baru saja dibuka. Segerombolan remaja berseragam sekolah berkunjung ke museum. Mereka berkeliling sambil tertawa-tawa, berbicara keras serta mengejek patungpatung purba seolah-olah benda yang mereka lihat adalah sesuatu yang tidak berharga. Mereka juga menirukan pidato para pahlawan dengan nada kerdil. Dan yang paling membuat Nirwan geram, mereka memandangi Perempuan dalam lukisan itu seperti sedang menggoda seorang lonte. Satu di antara mereka bahkan seperti hendak melakukan onani di hadapannya. Nirwan pun menegur mereka. Meski diam sebentar, Nirwan tahu, sambil berbisik-bisik mereka sedang membicarakan dirinya.

Menjelang siang, para remaja itu meninggalkan museum. Tidak lama kemudian sepasang kekasih datang berkunjung. Mereka sepertinya sudah bertunangan, terlihat saat bergandengan tangan keduanya mengenakan cincin dengan model kembar. Mereka langsung menuju arah lukisan itu dan berdiri cukup lama di sana. Mereka memejamkan mata seperti hendak berdoa pada bintang jatuh. Bibir mereka semacam melafalkan mantra. Mata mereka terkatup-katup. Selang beberapa saat, mereka berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan museum. Ketika berjalan keluar, Nirwan tak sengaja mendengar potongan percakapan sepasang kekasih itu:

“Apa lukamu sudah sembuh?”

“Berdarah. Tapi tidak sakit.”

Percakapan ganjil yang membuat Nirwan memeriksa kembali Perempuan di dalam lukisan itu. Sesaat ia berpikir, “siapa gerangan Perempuan ini”. Sebab selama Nirwan mengaguminya, itu hanya karena warna kelabu di bola matanya. Warna itu memberi kehangatan tersendiri dalam kehidupan Nirwan yang sepi. Nirwan tidak peduli, apakah Perempuan yang disayanginya itu adalah seorang ratu yang bisa mengabulkan segala permintaan atau Perempuan biasa yang kebetulan sedang berpenampilan bagai seorang ratu saat dilukis.

Menjelang sore, Nirwan diminta bersiap-siap untuk menyambut sekelompok orang bertubuh buncit. Kecuali satu di antara mereka yang kelihatan kurus dan berpenampilan sederhana dengan kemeja berwarna merah darah. Dia adalah Panji. Sebagai seorang politikus, Panji telah menguasai sebagian besar dari kota ini. Baik rakyat maupun apa yang dimiliki oleh rakyat. Sekarang ia adalah orang yang paling dijaga-jaga kehadirannya. Nirwan pernah melihat Panji di televisi saat sedang membeli kopi—di dalam sebuah siaran berita tepatnya—Panji tampil bagai nabi di tengah kerumunan pasar.

Setibanya di museum, Panji langsung menerbitkan senyum secara sembarangan. Begitu juga sekelompok orang bertubuh buncit yang mengiringinya. Tidak hanya itu, di sekitar museum sudah banyak mata kamera yang bersiap menyorot kehadirannya.

Nirwan bertugas untuk mengkondisikan museum, supaya Panji bisa berkeliling tanpa gangguan. Sehingga, sepanjang matanya memandang, ia hanya akan memandang apa yang hanya ingin ia pandang. Akan tetapi, semua dugaan Nirwan ternyata keliru. Panji langsung menghadap ke lukisan yang Nirwan sayangi selama ini. Panji seperti sedang menjelaskan sesuatu. Dan rombongan yang mengelilinginya selalu manggut-manggut manakala ia mengatakan hal yang terkesan serius.

Menjelang malam, Panji bersiap pergi. Nirwan mengikuti langkahnya sampai mulut museum. Tubuh Panji terbenam ke dalam sebuah kendaraan yang telah ditancapkan setangkai mawar merah pada bagian ujungnya. Sebelum benarbenar pergi, Panji mengatakan sesuatu melalui jendela kendaraan yang telah dibukanya sedikit: “Saya tidak berbahaya. Hehehe…” ia berkata demikian kepada semua mata yang sedang melihatnya.

Panji semakin sering tampil di televisi. Semakin banyak kamera yang menyorot aktivitasnya. Dari memancing ikan sampai acara menggaruk punggung. Sejak kedatangannya pula, museum mulai ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai penjuru. Dan lukisan itu pun tak luput dari perhatian mereka yang berkunjung. Sementara, Nirwan merasakan, Perempuan bermata kelabu dalam lukisan itu menatapnya. Tatapan yang kerap kali membuat Nirwan hanyut ke pusar kehangatan. Dan semakin lama ia bertatapan, Nirwan merasa ada yang lain, Nirwan berkata pelan, “tatapan Perempuan itu semakin sedih, lebih sedih dari biasanya.”

Hingga tiba pada suatu hari terjadi kericuhan di kota. Museum turut menjadi sasaran amuk massa. Beruntung sejumlah barang termasuk lukisan itu berhasil diamankan. Diketahui kericuhan terjadi akibat perilaku bumi yang tiba-tiba menjadi aneh. Anak-anak kecil yang semulanya senang bermain layangan, sekarang tidak berani keluar rumah lantaran langit dipenuhi hujan petir. Petani berdatangan dari desa, tanah di sawah mereka berubah menjadi lapisan duri. Para lansia memakai pelindung di hidungnya sebab udara mengantarkan bau anyir entah dari mana. Semua orang menyalahkan semua orang. Mereka beradu mulut, saling membenturkan kepala, dan para bandit menjarah apapun yang dianggapnya berharga.

Di tengah kericuhan yang terjadi. Semua orang tiba-tiba dihimbau agar segera menghadap televisi. Kabar itu seperti tumpah dari langit: Panji ingin berkabar melalui siaran langsung.

Sekelompok orang bertubuh buncit berdiri di belakangnya. Pertama-tama ia tersenyum ke arah kamera, memamerkan gigi-giginya yang besar, kemudian Panji berkata: “Harap tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terlebih saya tidak berbahaya. Hehehe…” Ungkapan ini lalu disambut meriah oleh para penonton. Mereka bertepuk tangan, mereka bersukacita, dan semua orang memaafkan semua orang.

***

Seminggu sesudah terjadinya kericuhan. Suasana kembali tenteram. Tidak ada lagi kejadian mengerikan yang menimpa kota. Barang-barang di museum kembali dirapikan dan diletakkan pada posisi semula. Hanya saja, Perempuan dalam lukisan yang dikagumi Nirwan, tidak lagi memiliki mata kelabu. Nirwan merasa sedih karena warna mata Perempuan itu berubah menjadi merah darah. Dan Nirwan semakin sedih lantaran tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.

“Kota telah menjadi dingin dan sepi.” Kata Nirwan sambil terus menatap lukisan yang disayanginya itu dengan murung. []

 

Robbyan Abel R lahir di Mataram, 5 Januari 1998. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya. Juga turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen-cerpennya telah terbit di berbagai media cetak maupun digital.

Ilustrasi cerpen karya Agus Sudiarta, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni Rupa, IKIP PGRI Bali.