Cerpen Dewi Sukmawati (Radar Banyumas, 29 September 2019)

Tuan dan Domba ilustrasi Radar Banyumasw.jpg
Tuan dan Domba ilustrasi Radar Banyumas 

Naskah ini telah aku tulis bertahun-tahun. Dimulai dari pertengakaranku di musim kemarau, sampai dengan perdamaianku di musim hujan. Pemikiran gilaku selalu saja memintaku untuk menggauli kata, kalimat dan paragraf tentang dirinya. Hingga akhirnya lahirlah paragraf-paragraf kegelisahan yang aku ketik di komputer tua untuk aku kirimkan di media cetak.

Kau tak perlu menyembunyikan jati diriku. Aku hanya mengirimkan kebenaran yang terkias. Barangkali orang yang biasa memanjangkan dasinya akan paham dan mengerti. Aku menjadi mata-matanya dalam barisan wujud rupanya. Apa kini kau merasa sedikit lega? Sudahlah, jangan kau pikirkan. Aku sudah terbiasa sejak kecil seperti ini. Berperilaku baik saja kau yang berperan sebagai pembaca.

***

Setiap pagi ibunya menyajikan makanan istimewa yang dihidangkan di atas piring pecah dan segelas air keruh sumbangan dari kerajaan sampah seberang jalan. Merekapun menikmatinya bersama. Sembari memandang mobil-mobil mewah berlalu-lalang di jalan besar. Dan setelah mata juga perutnya merasa sudah muak. Mereka pun kembali bekerja mengais sampah di bawah panasnya keraguan demi menjemput mimpi dalam kotak pernasiban. Di kerajaan sampah Weni bertemu dengan Neda temannya dulu di SD. Ia putus sekolah seperti Weni karena tidak ada biaya. Tapi itu tak menyurutkan semangat hidup mereka. Mereka selalu bahagia bekerja di kerajaan sampah, demi bisa makan dan memperpanjang waktu yang telah tercatat.

“Kamu kalau besar nanti mau jadi apa? kitakan cuma lulusan SD,” tanya Neda sambil tangannya sibuk memungut sampah.

“Mau jadi penulis terkenal. Karya-karyaku akan membabat habis cerita orang-orang yang sibuk memanjangkan dasi dan melihat kita dengan sebelah mata,” ujarnya dengan menatap serius Neda.

“Oalah Weni. Kalau kamu mau menargetkan cita-cita itu berpikir dulu. Komputer aja kamu ndak punya. Jangankan komputer, uang untuk menyewa komputer di warnet aja kamu ndak punya. Mau mengetik tulisanmu pakai apa? Pakai batu sama paku? Apa pakai kertas sama pena bekas? Dasar halu. Cita-cita itu yang masuk akal, seperti cita-citaku. Aku bercita-cita menjadi bos di kerajaan sampah ini. Baguskan cita-citaku?”

Baca juga: Pintu Kamar Ibu – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Radar Banyumas, 06 Oktober 2019)

“Sampah lagi. Sampah lagi. Aku memang bahagia, Ned, dengan sampah ini. Tapi, aku tak terima bila hidup kita itu hanya untuk memperhatikan sampah. Aku ingin memperhatikan orang-orang besar itu. Yang setiap pagi berbusana rapih dan berkendara mobil mewah. Ned idemu tadi tentang buku dan pena bekas itu bagus loh. Aku akan menulis di situ. Kalau uangku cukup, aku akan pergi ke warnet untuk mengetik dan mengirimnya ke media. Terima kasih banyak idenya yah.”

“Terserah kamu, Wen. Emang otakmu sedikit tidak waras. Anak pemulung koh pengin jadi penulis.”

Semenjak itu Weni giat bekerja. Uang hasil bekerja ia tabung sedikit demi sedikit. Di malam hari sebelum tidur, ia menulis catatan hatinya di bawah cahaya bulan dan bintang juga ditemani satu lilin bekas yang ia pungut tadi siang. Weni pun tak tahu kapan ia bisa menyewa komputer di warnet. Dan kapan karyanya bisa diterima dan dipublikasikan. Ia hanya bisa berdoa setiap ia menulis di malam hari.

“Ya Tuhan, semoga tulisan ini sampai ke hatimu. Semoga hatimu luluh dan mengabulkan doaku segera. Agar bisa tulisan ini tersebar di mata banyak orang dan membebaskan kami dari kerajaan sampah ini.”

***

Kesehariannya hanya duduk di ruang berukuran 3 x 4 meter. Ia selalu disibukan dengan buku-buku dan kertas-kertas yang memenuhi meja kerjanya. Saat matanya lelah mengawasi buku dan komputer tua kesayangannya. Ia pun beralih dengan menyeruput secangkir kopi tanpa gula. Bukan ia tak suka manisnya gula. Tapi ia ingin menghayati pahitnya ekosistem para tuan dan para domba dalam naskah yang ia sedang kerjakan.

Apalah daya dirinya yang hanya bekerja sebagai budak kata. Menjual ramai untuk saling berceloteh, demi mengadu hitam yang menjarah putihnya nasib perdamaian. Setiap bekerja, ia selalu teringat kedamaian kecilnya. Ketika malam tiba, ia di waktu kecil sering sibuk menulis cita-cita yang kini telah dipegangnya. Saat selesai, ia terbaring di atas gerdus bekasnya. Menikmati harta bendanya yang bergelantungan di langit sembari menunggu penjarah hitam menggusur dan mengusir diri kecil yang dulu.

Baca juga: Surat yang Tak Terbalas – Cerpen Anju Lubis (Analisa, 08 September 2019)

Tapi, ia tak akan berhenti. Walau pun para tuan dan para domba masih pula tak tersadarkan diri.  Sungguh dirinya dendam pada tuan dan domba. Ini terjadi setiap ada pergantian kepala di wilayah-wilayah duka. Di situ para tuan menggembala domba dengan rapihnya. Diarahkannya secara terstruktur. Mulai dari domba murah, sedang, sampai yang mahal. Jauh sebelum pemilihan kepala dilaksanakan. Para tuan memberikan asupan suap pada domba-dombanya sesuai dengan kastanya. Domba berkasta bawah ia berikan rumput kering. Domba berkasta tengah ia berikan rumput layu. Dan domba berkasta atas ia berikan rumput hijau dan segar.

Ekosistem tuan dan domba memang sudah dipelihara sejak dulu. Dan temannya sering menertawakan cita-citanya untuk memutus ekosistem itu. Ekosistem yang selalu mengumbar janji tentang putihnya perdamaian dan kesejahteraan. Tapi nyatanya, masih banyak orang menjadi budak di kerajaan sampah seperti dirinya dulu. Tapi setidaknya ia bangga. Ia dan teman-teman yang dulu tak menjadi domba para tuan itu. Domba-domba yang mungkin dulu saat lahir kepalanya terbentur dan otaknya sedikit bengkok sehingga mau saja di jadikan boneka para tuan. Dan parahnya, mau saja digembala ke padang rumput api.

Saat ia terdiam, tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu. Dan ia langsung terbangun dari imajinya yang membaca masa lalu. Dia berdiri dan mengapus pikirannya yang buruk dan melangkah kakinya menuju pintu. Saat membuka pintu ia terkejut. Sangat terkejut. Orang yang mengetuk pintunya adalah dua orang bertubuh besar dan kekar dengan borgol dan pistol di tangan mereka.

***

Aku bahagia tinggal di istana besi ini. Walau sebenarnya aku tak pernah bercita-cita tinggal disini. Sambil duduk bersandar di tembok yang banyak coretan kata-kata buruk, aku kembali membaca masa lalu. Diriku yang kecil dulu telah tinggal di kerajaan sampah. Saat besar tinggal dan bekerja di ruang 3 x 4 meter. Dan sekarang aku tinggal di istana besi. Sungguh aku sangat bangga. Terima kasih para tuan dan domba. Membuatku di sini dan menyadarkanku ekosistemmu memang begitu kuat. Sekarang aku tak bisa memutusnya. Mungkin esok setelah kunjunganku dari istana besi ini, aku akan membuat komunitas anti tuan dan domba. Atau aku ikut saja denganmu agar hidupku makmur lalu dibenci Tuhan.

Baca juga: Kupanggil Dia Wesa – Cerpen Uniawati (Rakyat Sultra, 21 Oktober 2019)

Saat itu orang bertubuh besar dan kekar kembali mengagetkanku. Menggedor pintuku dan berkata.

“Ini makan siangmu. Cepat makan,” sambil menyodorkan piring yang berisikan nasi, sayur kangkung dan mendoan kesukaanku.

“Tuhan tak pernah mengajarkan makan dengan cepat. Dan aku tak akan makan dengan cepat. Karena aku bukanlah domba yang dibudak oleh tuan yang memanjangkan dasi. Aku ingin bertanya padamu. Kamu tuan atau domba? Atau magnet yang selalu tunduk pada sang besi dan tak pernah melihat jujur dan baiknya sang kayu?”

Orang bertubuh besar dan kekar itu hanya terdiam melihatku dengan mata penuh tanda tanya. Akupun memakan makanan yang diberikannya sembari memandang polisi yang masih menatapku. Sampai makanku selesai pun polisi itu masih memandangku. Mungkin ia terkesima pada kucelnya pemikiranku ini.

“Ini makanannya sudah habis. Terima kasih. Silahkan Anda menjauh dariku. Sebelum aku lontarkan naskah yang aku susun untuk para budak besi.”

 

Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam. Dia aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto. Beberapa karyanya dimuat antologi dan media massa. Alamat di Desa Tambakreja Rt 02 Rw 01, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Email: sukmawatid608@gmail.com.